Radio Hot FM, Memutar Lagu Enak (Oleh H. Yudhi)
Radio Hot FM, Memutar Lagu Enak (Oleh H. Yudhi)
Mendengar
radio adalah salah satu hobi yang mnyenangkan. Salah satu stasiun radio yang
mempunyai banyak pendengar adalah Radio Hot FM Jakarta yang ada pada frekuensi
93.2 FM. Di Radio ini pendengarnya dikenal dengan istilah Manhot. Pemancar
radio Hot FM ada di Menara Imperium Lantai P7, Metropolitan Kuningan Super
Blok, Kavling No.1, Jl HR Rasuna said, Jakarta, 12980. Radio ini tergabung
dalam Mahaka Radio Integra/ MARI. Radio Hot FM menyiarkan music dangdut dan
pop.
Selanjutnya
kita akan menjelaskan apa itu definisi Musik Dangdut yang diambil dari situs
internet (https://id.wikipedia.org/wiki/Dangdut).
Dangdut merupakan salah
satu dari genre musik populer tradisional asal Indonesia hasil dari
perpaduan musik dari film India dengan Melayu dan musik rok dari
Barat. Perpaduan gaya musik ini digunakan pertama kali di Jakarta pada
sekitar penghujung tahun 1960-an yang di dalamnya terkandung unsur-unsur
musik Hindustani (India Utara), Melayu, dan Arab. Dangdut memiliki
ciri khas pada dentuman tabla (alat musik
perkusi India) dan kendang. Dangdut juga
sangat dipengaruhi dari lagu-lagu musik
tradisional India dan Bollywood. Lagu dangdut
dikarangkan, baik dalam bahasa Indonesia dan Jawa, maupun dalam bahasa
lainnya.
Awalnya musik dangdut dikenal dengan nama "Orkes Melayu".
Perubahan musik Melayu oleh M. Mashabi dan Munif Bahasuan bersama Orkes Kelana Ria pada
dasawarsa 1960-an dengan beberapa lagunya seperti Ya Mustafa, Ya
Mahmud dan Patah Kasih yang dianggap sebagai
"proto-dangdut" dan dilakukan merintis bentuk dangdut seperti yang
dikenal sekarang. Kemudian, dangdut dipengaruhi musik India melalui film
Bollywood yang dibawakan oleh Ellya Khadam dengan
lagu Boneka dari India, sehingga terlahir sebagai Dangdut pada
tahun 1968 dengan tokoh utama, "raja dangdut" Rhoma Irama. Dalam evolusi
menuju bentuk musik kontemporer,
sekarang masuk pengaruh unsur-unsur musik India (terutama dari penggunaan
tabla) dan Arab (pada cengkok dan harmonisasi). Perubahan
arus politik Indonesia pada akhir tahun 1960-an membuka masuknya pengaruh musik
barat yang kuat dengan masuknya penggunaan gitar listrik dan juga bentuk
pemasarannya. Sejak tahun 1970-an dangdut boleh dikatakan telah matang dalam
bentuknya yang kontemporer. Sebagai musik populer, dangdut sangat terbuka
terhadap pengaruh bentuk musik lain, mulai dari keroncong, langgam, degung, karawitan, gambus, rok, reggae, pop, disko, rap, bahkan musik dansa
elektronik (tekhno, house dll). Dangdut elektro (e-Dut,
Dansdut) sudah sepenuhnya menghilangkan tabla dan alat musik tradisional
lainnya. "Dangdut rohani" dapat dianggap sebagai arah lirik
khusus (contohnya, album-album Hak Azazi, Judi, Haji dan Haram oleh
Rhoma Irama).
Pengaruh India juga sangat kuat di dalam genre musik
dangdut ini, melainkan dari gaya harmoni dan instrumen, juga dipopulerkan
dengan lagu-lagu dangdut klasik yang bertema India yang dinyanyikan oleh
penyanyi-penyanyi dangdut populer seperti Rhoma Irama dengan lagunya yang
berjudul Terajana, Mansyur S. dengan
lagunya yang berjudul Khana, Ellya Khadam dengan
lagu Boneka India dan Via Vallen dengan
lagu berjudul Sayang menjadikan
musik dangdut lebih dikenal lagi saat ini. Beberapa penyanyi yang mendapat
julukan sebagai ratu atau diva dangdut
ialah Elvy Sukaesih, Camelia Malik, Rita Sugiarto, Iyeth Bustami, Kristina, Ikke Nurjanah, Via
Vallen, Ayu Ting Ting,
dan Lesti.
Dangdut sebenarnya telah menjadi musik rakyat di
Indonesia dan mengungguli aliran musik lain dalam popularitas: orang-orang
suka menyanyikan lagu-lagunya dengan karaoke, baik untuk diri
sendiri maupun saat perayaan se-keluarga, pegawai di kantor-kantor pemerintahan
pusat melakukan senam dengan musiknya sebelum mulai bekerja, dan sebagainya.
Panggung kampanye partai politik juga tidak ketinggalan memanfaatkan
kepopuleran dangdut untuk menarik massa. Selain di Indonesia dangdut cukup
popular pula di Malaysia,
meliputi sejumlah nama pedangdut dari Indonesia.
Asal istilah
Penyebutan nama "dangdut" merupakan onomatope dari suara
permainan tabla (yang dalam
dunia dangdut disebut "gendang"),
yaitu dari bunyi gendang yakni dang dan dut.
Awalnya musik dangdut dikenal dengan nama "orkes Melayu" (OM)
setelah perubahan musiknya oleh M. Mashabi dan
lain-lain.
Sebetulnya istilah dangdut pernah
diterapkan pada orkes Melayu oleh Rhoma Irama dengan
dirilisnya album dengan judul yang sama Dangdut pada
tahun 1971, mana dia memasukkan unsur musik rok kedalam
musik orkes Melayu.
Nanti nama "dangdut" disematkan pada
"Orkes Melayu" oleh Putu Wijaya dalam
majalah Tempo tanggal
27 Mei 1972 bahwa lagu Boneka dari India adalah campuran lagu
Melayu, irama padang pasir, dan "dang-ding-dut" India. Sebutan
ini selanjutnya diringkas menjadi "dangdut" saja, dan oleh majalah
tersebut digunakan untuk menyebut bentuk lagu Melayu yang
terpengaruh oleh lagu India.
Pengaruh
dan perkembangan
Musik Melayu Deli tahun 1940
Musik Melayu Deli
lahir sekitar tahun 1940 di Sumatera Utara bersama Husein Bawafie dan Muhammad Mashabi, kemudian
menjalar ke Batavia dengan berdirinya Orkes Melayu.
Irama Amerika Latin tahun 1950
Pada tahun 1950, musik latin Amerika
masuk ke Indonesia oleh Xavier Cugat dan Edmundo Ros serta Perez Prado, termasuk
Trio Los Panchos atau Los Paraguayos. Irama
latin ini kemudian lekat dengan orang Indonesia. Kemudian berbagai lagu Minang juga
muncul bersama Orkes Gumarang dan Zainal Combo.
Dangdut
kontemporer telah berbeda dari akarnya, musik Melayu, meskipun orang masih
dapat merasakan sentuhannya. Pada tahun 1950-an dan 1960-an banyak berkembang
orkes-orkes Melayu di Jakarta yang memainkan lagu-lagu Melayu Deli dari
Sumatera (sekitar Medan).
Dari musik Melayu Deli tahun 1940 ke Dangdut tahun
1968
Orkes Melayu (biasa
disingkat OM, sebutan yang masih sering dipakai untuk suatu grup musik dangdut)
yang asli menggunakan alat musik seperti gitar akustik, akordeon, rebana, gambus, dan suling, bahkan gong. Musik Melayu Deli awalnya tahun
1940-an lahir di daerah Deli Medan, kemudian musik melayu deli ini juga
berkembang di daerah lain, termasuk Jakarta. Musik Minang
modern adalah juga cikal bakal dangdut bersama musik Melayu.
Pada masa ini mulai masuk eksperimen masuknya unsur India dalam musik Melayu.
Perkembangan dunia sinema pada masa itu dan politik anti-Barat dari
Presiden Sukarno menjadi pupuk
bagi grup-grup ini. Dari masa ini dapat dicatat nama-nama seperti P. Ramlee (dari Malaya), Said Effendi (dengan
lagu Seroja), Ellya Khadam (dengan
gaya panggung seperti penari India, pencipta Boneka dari India kira
1957), Husein Bawafie (salah
seorang penulis lagu Ratapan Anak Tiri), Munif Bahasuan (1935–2021, penyanyi
dan pencipta Beban Asmara), serta M. Mashabi (pencipta
skor film "Ratapan Anak Tiri" yang sangat populer pada tahun 1970-an).
Perubahan musik Melayu oleh M. Mashabi dan Munif
Bahasuan bersama Orkes Kelana Ria pada
dasawarsa 1960-an dengan beberapa lagunya seperti Ya Mustafa, Ya
Mahmud dan Patah Kasih yang, menurut etnomusikolog
Andrew N. Weintraub, dianggap sebagai "proto-dangdut" dan dilakukan
merintis bentuk dangdut seperti yang dikenal sekarang.
Gaya bermusik masa ini masih terus bertahan hingga
1970-an, walaupun pada saat itu juga terjadi perubahan besar di kancah musik
melayu yang dimotori oleh Soneta Group pimpinan Rhoma Irama. Beberapa nama
dari masa 1970-an yang dapat disebut adalah Mansyur S., M. Lutfi, Ida Laila, A. Rafiq, serta Muchsin Alatas. Populernya
musik Melayu dapat dilihat dari keluarnya beberapa album pop Melayu oleh
kelompok musik pop Koes Plus pada
masa jayanya. Dangdut modern, yang berkembang pada awal tahun 1970-an sejalan
dengan politik Indonesia yang ramah terhadap budaya Barat, memasukkan alat-alat
musik modern Barat seperti gitar listrik, organ
elektrik, perkusi, trompet, saksofon, obo, dan lain-lain untuk meningkatkan
variasi dan sebagai lahan kreativitas pemusik-pemusiknya. Mandolin juga masuk
sebagai unsur penting. Pengaruh rok (terutama pada permainan gitar) sangat
kental terasa pada musik dangdut. Tahun 1970-an menjadi ajang 'pertempuran'
bagi musik dangdut dan musik rok dalam
merebut pasar musik Indonesia, hingga pernah diadakan konser 'duel'
antara Soneta Group dan God Bless. Praktis
sejak masa ini musik Melayu telah berubah, termasuk dalam pola bisnis
bermusiknya. Pada paruh akhir dasawarsa 1970-an juga berkembang variasi
"dangdut humor" yang dimotori oleh OM Pancaran Sinar
Petromaks (PSP). Orkes ini, yang berangkat dari gaya musik
melayu deli, membantu diseminasi dangdut di kalangan mahasiswa. Subgenre ini
diteruskan, misalnya, oleh OM Pengantar
Minum Racun (PMR) dan, pada awal tahun 2000-an, oleh Orkes Pemuda Harapan Bangsa (PHB).
Pada tahun 1978, untuk peduli terhadap nasib para
pemusik, beberapa pedangdut membentuk Lembaga Artis Musik
Melayu-Dangdut Indonesia yang dipimpin oleh Munif Bahasuan (kemudian
menjadi Persatuan Artis Musik Dangdut
Indonesia (PAMDI) yang dipimpin oleh Rhoma Irama).
Interaksi dengan musik lain
Dangdut sangat elastis dalam menghadapi dan memengaruhi
bentuk musik yang lain. Lagu-lagu barat populer pada tahun 1960-an dan 1970-an
banyak yang didangdutkan. Genre musik gambus dan kasidah perlahan-lahan hanyut
dalam arus cara bermusik dangdut. Hal yang sama terjadi pada musik tarling dari Cirebon sehingga yang
masih eksis pada saat ini adalah bentuk campurannya: tarlingdut. Musik rok,
reggae, pop, disko, hip-hop/rap, musik dansa
elektronik (tekhno, house dan lainnya yang
dipopulerkan oleh Ria Amelia, Melinda dan Lolita) bersenyawa dengan
baik dalam musik dangdut. Aliran campuran antara musik dangdut dan rok secara
tidak resmi dinamakan Rokdut (Nita Thalia dan
lainnya). Demikian pula yang terjadi dengan musik-musik daerah seperti jaipongan, degung, tarling, keroncong, langgam Jawa (dikenal
sebagai suatu bentuk musik campur sari yang
dinamakan congdut,
dengan tokohnya Didi Kempot),
atau zapin. Mudahnya dangdut
menerima unsur 'asing' menjadikannya rentan terhadap bentuk-bentuk pembajakan,
seperti yang banyak terjadi terhadap lagu-lagu dari film ala Bollywood dan
lagu-lagu latin. Kopi
Dangdut, misalnya, adalah "bajakan" lagu yang populer dari Venezuela. Pada era
2000-an, dari mutasi musik dangdut dengan musik daerah Jawa dan Sunda muncul
dangdut koplo yang dicirikan
dengan tempo cenderung cepat, pola kendang khas Jawa seperti mincid, dan nuansa
enerjik untuk joget. Aliran koplo
dipopulerkan oleh sejumlah orkestra yang gunakan sebutan lama orkes Melayu dengan
singkatan OM dalam namanya, misalnya OM Adella, Monata, New Pallapa, Sagita, Sera, dan Sonata. Tokoh-tokoh dangdut elektro atau e-Dut
dan Dansdut sudah sepenuhnya menghilangkan tabla dan alat musik tradisional
lainnya, seperti lagu-lagu dari Cita Citata, iMeyMey atau Zaskia Gotik. Dan
tandem penulis lagu Tjahjadi Djajanata dan Ishak telah memberikan sumbangan yang
signifikan bagi dangdut kontemporer elektronik.
Bangunan
lagu
Lagu-lagu dangdut dapat menerima berbagai unsur musik
lain secara mudah, meskipun demikian bangunan sebagian besar lagu dangdut
sangat konservatif. Sebagian besar lagu dangdut tersusun dari satuan
delapan birama 44. Jarang
sekali ditemukan lagu dangdut dengan birama 34,
kecuali pada beberapa lagu masa 1960-an seperti Burung Nuri dan Seroja.
Dangdut dalam budaya kontemporer dan pro-kontra
Dangdut sebenarnya mulai dari tahun 1990-an
menjadi "musik
rakyat" usia berapa pun di Indonesia dan mengungguli
sembarangan aliran musik lain dalam popularitas, mempunyai radio serta acara
televisi sendiri. Selain di Indonesia dangdut cukup popular pula di
Malaysia, meliputi sejumlah nama pedangdut dari Indonesia.
Panggung kampanye partai politik juga tidak ketinggalan
memanfaatkan kepopuleran dangdut untuk menarik massa. Isu dangdut sebagai
alat politik juga menyeruak ketika Basofi Sudirman, pada saat
itu sebagai fungsionaris Golkar,
menyanyi lagu dangdut. Walaupun dangdut diasosiasikan dengan masyarakat
bawah yang miskin, bukan berarti dangdut hanya digemari kelas bawah. Di setiap
acara hiburan, dangdut dapat dipastikan turut serta meramaikan situasi. Panggung
dangdut dapat dengan mudah dijumpai di berbagai tempat. Tempat hiburan
dan diskotek yang khusus
memutar lagu-lagu dangdut banyak dijumpai di kota-kota besar. Stasiun radio
siaran yang menyatakan dirinya sebagai "radio dangdut" juga mudah
ditemui di berbagai kota.
Sejumlah film dan sinetron musikal dikhususkan untuk
dangdut, umpamanya Raja Dangdut, Mendadak Dangdut, Mimpi Manis, dan Kampung Dangdut.
Dangdut koplo lahir
di Indonesia lahir sejak tahun 2000 yang dipromotori oleh kelompok-kelompok
musik Jawa Timur. Namun
saat itu masih belum menasional seperti sekarang ini. 2 tahun kemudian, variasi
atau cabang baru bagi musik dangdut ini semakin fenomenal, setelah area
'kekuasaannya' meluas ke beberapa wilayah seperti di Daerah
Istimewa Yogyakarta dan beberapa kota di Jawa Tengah. Salah satu
hal yang membuat genre ini sukses dalam memperlebar daerah 'kekuasannya' adalah
VCD bajakan yang begitu mudah dan murah didapatkan masyarakat sebagai
'alternatif' hiburan masyarakat dari VCD/DVD original artis-artis/selebritas
nasional yang dinilai mahal. Kesuksesan VCD bajakan tersebut juga dibarengi
dengan fenomena "goyang ngebor" Inul Daratista.
Fenomena itulah yang sebenarnya membuat popularitas
koplo semakin meningkat di se-antero Indonesia. Apalagi setelah goyang ngebor
inul itu tercium oleh beberapa media-media televisi swasta nasional. Oleh
karenanya, masyarakat Indonesia semakin mengenal dangdut Koplo dan juga Inul
itu sendiri.
Dangdut rohani
"Dangdut rohani" dapat dianggap sebagai arah
lirik khusus. Tatkala sebagian besar lagu dangdut ada menceritakan tentang
hubungan dengan pacar, karya rohani tertuju pada Tuhan. Sumbangan utama
munculnya dangdut rohani dibuat oleh Rhoma Irama (album-album Hak Azazi, Judi, Takbir Lebaran, Haji, Haram, Baca, dan Shalawat Nabi) yang
menjadikan dangdut sebagai alat berdakwahnya dan musik rohani, yang terlihat
dari lirik-lirik lagu ciptaannya serta dari pernyataan yang dikeluarkannya
sendiri.
Contoh rohani lainnya adalah lagu-lagu bagaikan: Doa
Suci oleh Elvy Sukaesih maupun Imam S. Arifin; Bersimpuh dan Hasbunallah oleh Kristina; Rezeki
Takkan Tertukar oleh Bebizie; Surga
Dunia oleh Dewi Perssik; Taqwa dan Semesta oleh Fitri Carlina; Ramadhan dan Cintaku
Karena Allah oleh Zaskia Gotik; Astagfirullah oleh Siti Badriah; Tobat
Maksiat oleh Zaskia Gotik serta Siti Badriah; Berikan
HidayahMu oleh Susi Ngapak; Hidayah dan Takdir oleh Dinda Permata; Kehidupan
Ini Memilihku oleh Cita Citata; Mari
Bertaqwa dan Nabi Muhammad Mataharinya Dunia oleh Nella Kharisma; dan
album-album Sabar dan Ikhlas oleh Inul Daratista dan Do'a oleh Gita KDI,
dll. Unsur-unsur batin juga diisi dengan sebuah sub-aliran dangdut, yakni jaranan dangdut, contohnya
lagu Kidung Wahyu Kolosebo oleh Eny Sagita. Telah ada
beberapa lagu rohani dalam bentuk musik dansa elektronik, misalnya Suratan
Diri oleh Ria Amelia, Ajari
Aku Tuhan oleh Zaskia Gotik, dan Bersyukurlah oleh
Cita Citata.
Kontroversi
Akan tetapi, fenomena dangdut bukan berarti tak ada
masalah. Bagai yang dicatat oleh para peneliti, dangdut adalah genre yang
paling kontroversial dalam kaitannya dengan moralitas Islam di
Indonesia dan sedikit genre musik populer di seluruh dunia yang
lebih fokus pada tubuh wanita dibandingkan dangdut.
Hal ini menjadi salah satu pemicu polemik di Indonesia
pada tahun 2003, akibat protesnya terhadap gaya panggung para penyanyi dangdut
koplo, antara lain Inul Daratista (yang,
sementara ini, memiliki salah satu dari jumlah lagu rohani terbesar di antara
para pedangdut), yang goyang ngebor-nya yang dicap dekaden serta
"merusak moral". Jauh sebelumnya, dangdut juga telah mengundang
perdebatan dan berakhir dengan pelarangan panggung dangdut dalam perayaan Sekaten di Yogyakarta. Perdebatan
muncul lagi-lagi akibat gaya panggung penyanyi (wanita)-nya yang dinilai
terlalu "terbuka" dan berselera rendah, sehingga tidak sesuai dengan
misi Sekaten sebagai suatu perayaan keagamaan. Dangdut memang disepakati banyak
kalangan sebagai musik yang membawa aspirasi kalangan masyarakat kelas bawah
dengan segala kesederhanaan dan kelugasannya. Ciri khas ini tecermin dari lirik
serta bangunan lagunya. Gaya pentas yang sensasional tidak terlepas dari napas
ini. Liriknya sering menggambarkan wanita sebagai objek seksual.
Sang "raja dangdut" Nusantara, Rhoma Irama
adalah seniman dangdut senior pertama yang nyata-nyata menentang Inul karena
goyang ngebornya itu. Munculnya Inul dengan ciri goyangan tersendiri itu
ditentang Rhoma karena berbau pornografi yang mengakibatkan dekadensi moral.
Tak hanya itu, sang Raja juga khawatir jika hal ini dibiarkan saja, akan
tumbuh-tumbuh goyangan porno model lain yang dilakukan penyanyi-penyanyi di
daerah untuk ikut-ikutan 'mengekor' si ratu goyang ngebor itu.
Penentangan Rhoma terhadap aksi Inul dan beberapa tokoh
dangdut lain ternyata mendapat 'sambutan' dari para pembela Inul. Baik itu
masyarakat umum atau seniman-seniman Indonesia lain (dan bahkan melibatkan
pakar hukum). Sejak itulah pro-kontra terhadap Inul menjadi headline news di
media-media di Indonesia dan bahkan beberapa media-media internasional
seperti BBC News.
Pro-kontra dan kontroversi itu ternyata semakin
mempopulerkan Inul itu sendiri, Dangdut Koplo dan artis-artis dangdut lain.
Benar kata sang Raja, karena munculnya Inul tersebut diikuti oleh munculnya
artis-artis pendatang baru yang juga membawa identitas goyangan, seperti goyang
ngecor ala Uut
Permatasari dan goyang patah-patah ala Anisa Bahar. Hal tersebut
membuat sang Raja dan para penentang lain semakin sedih. Munculnya artis atau
penyanyi Dangdut baru karena kontroversi itu juga semakin mempopulerkan dangdut
Koplo. Berturut-turut setelah Uut dan Anisa Bahar, muncul nama lain
seperti Dewi Persik, Julia Perez, dan Shinta Jojo waktu
itu.
Di sisi lain, dangdut sedang berbenah melalui
Kongres Persatuan Artis Musik Melayu-Dangdut Indonesia (PAMMI)
untuk memilih calon ketua baru. Dalam kesempatan itu, Rhoma kembali terpilih
sebagai ketua PAMMI. Salah satu pernyataan yang cukup menghebohkan juga adalah
bahwa Rhoma secara terang-terangan melarang dan menggunakan embel-embel Dangdut
karena telah menyimpang dari pakem Dangdut sehingga seharusnya aliran tersebut
berdiri sendiri. Salah satu alasannya yang populer adalah karena Dangdut Koplo
melahirkan penyanyi Dangdut dengan goyangan erotis dan penampilan vulgar.
Sayang,
pernyataan dia seperti tak pernah didengarkan oleh para pelaku dangdut terutama
penyanyi. Justru hal itu seolah semakin mengeksiskan Dangdut Koplo itu sendiri
disamping produktivitas Dangdut non koplo yang sepi dan kalah bersaing dengan
peredaran VCD/DVD bajakan yang semakin meluas. Di sisi lain, penyanyi pendatang
baru juga semakin membludak, baik itu yang bersifat lokal atau nasional, begitu
juga dengan grup-grup dangdut koplo juga semakin banyak, ata grup yang tadinya
beraliran klasik atau rokdut, berganti haluan menjadi dangdut koplo.
Mungkin masyarakat Indonesia sudah banyak yang tahu
artis-artis pendatang seperti Melinda, Ayu Ting Ting, Siti Badriah, Zaskia Gotik (sosok
kontroversial juga), Wika Salim, Trio Macan dan
sebagainya, atau grup dangdut koplo Jawa timuran yang semakin populer di
Indonesia. Itu semua justru terjadi karena kontroversi-kontroversi tersebut.
Saking hukum nasional, para pemain dangdut mencari
keseimbangan antara persepsi tentang kewanitaan, seksualitas, dan moralitas.
Selanjutnya
kita akan menjelaskan apa itu definisi Musik Dangdut yang diambil dari situs
internet (https://id.wikipedia.org/wiki/Musik_pop)
Musik pop adalah
sebuah genre musik populer yang
berasal dari bentuk modernnya di Amerika Serikat dan
Inggris pada pertengahan 1950-an. Istilah "musik populer" dan
"musik pop" sering digunakan secara bergantian, meskipun yang pertama
menggambarkan semua musik yang populer dan mencakup banyak gaya yang beragam.
"Pop" dan "rock"
adalah istilah yang hampir identik dengan musik pop sampai akhir 1960-an,
ketika keduanya menjadi semakin berbeda satu sama lain.
Meskipun banyak dari musik yang muncul di tangga lagu
rekaman dipandang sebagai musik pop, genre ini dibedakan dari musik tangga
lagu. Musik pop sering meminjam elemen dari gaya lain seperti urban, dance, rock, Latin, dan country; meski demikian,
terdapat banyak elemen inti yang menentukan musik pop. Faktor-faktor
pengidentifikasian jenis musik ini meliputi umumnya lagu yang ditulis dengan
durasi pendek hingga sedang dalam format dasar, serta penggunaan
pengulangan paduan suara,
nada melodi, dan kait yang umum.
Definisi dan etimologi
David Hatch dan Stephen Millward mendefinisikan musik
pop sebagai "badan musik yang dapat dibedakan dari musik populer, jazz, dan
musik folk". Menurut Pete Seeger, musik pop
adalah "musik profesional yang mengacu pada musik rakyat dan musik seni
rupa".[3] Meskipun
musik pop dipandang hanya sebagai musik tangga lagu rekaman, tidak semua musik
jenis ini merupakan musik tangga lagu. Tangga lagu musik berisi lagu-lagu dari
berbagai sumber, termasuk klasik, jazz, rock, dan lagu-lagu baru.
Sebagai sebuah genre, musik pop terlihat ada dan berkembang secara terpisah. Oleh
karena itu, istilah "musik pop" dapat digunakan untuk menggambarkan
genre yang berbeda, yang dirancang untuk menarik semua orang, sering ditandai
sebagai "musik berbasis singel instan yang ditujukan untuk remaja"
berbeda dengan musik rock sebagai "musik berbasis album untuk orang
dewasa".
Musik pop terus berkembang seiring dengan definisi
istilah tersebut. Menurut penulis musik Bill Lamb, musik populer didefinisikan
sebagai "musik sejak industrialisasi pada 1800-an yang paling sesuai
dengan selera dan minat kelas menengah perkotaan." The term "pop
song" was first used in 1926, in the sense of a piece of music
"having popular appeal". Hatch dan Millward menunjukkan bahwa
banyak peristiwa dalam sejarah rekaman pada tahun 1920-an dapat dilihat sebagai
kelahiran industri musik pop modern, termasuk dalam country, blues, dan musik hillbilly.
Menurut situs web The New Grove Dictionary of Music and
Musicians, istilah "musik pop" "berasal
dari Britania Raya pada
pertengahan 1950-an sebagai deskripsi untuk rock and roll dan
gaya musik anak muda baru yang dipengaruhi". The Oxford Dictionary
of Music menyatakan bahwa sementara pop "makna awal berarti
konser menarik bagi khalayak luas sejak akhir 1950-an, bagaimanapun, pop telah
memiliki makna khusus mus[ik] non-klasik, biasanya dalam bentuk lagu, yang
dilakukan oleh seniman seperti the Beatles, the Rolling
Stones, ABBA,
dll." Grove Music Online juga menyatakan bahwa "
pada awal 1960-an, [istilah] 'musik pop' bersaing secara terminologis
dengan musik beat [di
Inggris], sementara di Amerika Serikat, cakupannya tumpang tindih (seperti yang
masih terjadi) dengan 'rock and roll'".
Kelebihan
dari Radio Hot FM adalah penyiarnya yang ramah, music yang diputar enak, suara
radionya jernih dan lain sebagainya. Sehingga penulis pun suka dengar radio ini
untuk hiburan. Semoga kedepan Radio Hot FM semakin jaya.
NB: Blog ini dibuat dengan tujuan untuk menambah
ilmu si Pembaca, tidak ada keuntungan Ekonomi sedikitpun yang diperoleh dari
Pembuat. Tulisan diatas merupakan gabungan beberapa artikel dan ditulis juga
sumbernya.
Comments
Post a Comment