Nasionalisme, Patriotisme, Ling Tien Kung (Oleh H. Yudhi)

 Nasionalisme, Patriotisme, Ling Tien Kung (Oleh H. Yudhi)

            Ling Tien Kung yang notabene Terapi untuk kesehatan yang sudah dilakukan banyak orang di Indonesia ini, secara tidak langsung memupuk dan membangun rasa nasionalisme, patriotisme dan cinta tanah air Indonesia. Karena Ling Tien Kung yang diciptakan oleh Warga Negara Indonesia/ WNI yang bernama Awiek Wijaya ini, juga menanamkan rasa cinta tanah air dengan membuat bangsa ini sehat wal afiat. Dengan warga negara yang sehat, maka secara otomatis Negara juga sehat dan kuat. Berikut adalah penjelasan mengenai Nasionalisme dari situs internet (https://id.wikipedia.org/wiki/Nasionalisme).

Nasionalisme adalah sebuah ide atau gerakan yang menyatakan bahwa bangsa harus selaras dengan negara. Sebagai sebuah gerakan, nasionalisme mengandaikan keberadaan dan cenderung untuk memajukan kepentingan bangsa tertentu, terutama dengan tujuan untuk memperoleh dan mempertahankan kedaulatannya (pemerintahan sendiri) atas tanah airnya yang dipersepsikan untuk menciptakan negara-bangsa. Nasionalisme menyatakan bahwa setiap bangsa harus memerintah dirinya sendiri, bebas dari campur tangan luar (penentuan nasib sendiri), bahwa bangsa adalah dasar alami dan ideal bagi sebuah pemerintahan, dan bahwa bangsa adalah satu-satunya sumber kekuatan politik yang sah. Nasionalisme juga bertujuan untuk membangun dan mempertahankan identitas nasional tunggal, berdasarkan kombinasi karakteristik sosial bersama seperti budaya, etnis, lokasi geografis, bahasa, politik (atau pemerintahan), agama, tradisi, dan kepercayaan pada sejarah tunggal bersama, dan untuk memajukan persatuan atau solidaritas nasional. Ada berbagai definisi tentang "bangsa", yang mengarah pada berbagai jenis nasionalisme. Dua bentuk utama yang berbeda adalah nasionalisme etnis dan nasionalisme sipil.

Dimulai pada akhir abad ke-18, khususnya dengan Revolusi Prancis dan penyebaran prinsip kedaulatan rakyat atau penentuan nasib sendiri, gagasan bahwa "rakyat" harus berkuasa dikembangkan oleh para ahli teori politik. Tiga teori utama telah digunakan untuk menjelaskan munculnya nasionalisme:

Primordialisme berkembang bersamaan dengan nasionalisme selama era Romantis dan berpendapat bahwa selalu ada bangsa. Pandangan ini telah ditolak oleh sebagian besar cendekiawan, yang memandang bangsa sebagai sesuatu yang dibangun secara sosial dan bergantung pada sejarah. Perennialisme, versi primordialisme yang lebih lunak yang menerima bahwa bangsa adalah fenomena modern tetapi memiliki akar sejarah yang panjang, menjadi bahan perdebatan akademis.

Teori modernisasi, yang saat ini merupakan teori nasionalisme yang paling umum diterima, mengadopsi pendekatan konstruktivis dan mengusulkan bahwa nasionalisme muncul karena proses modernisasi, seperti industrialisasi, urbanisasi, dan pendidikan massal, yang memungkinkan kesadaran nasional. Para pendukung teori ini menggambarkan bangsa sebagai "komunitas yang dibayangkan" dan nasionalisme sebagai "tradisi yang diciptakan" di mana sentimen bersama memberikan bentuk identitas kolektif dan mengikat individu bersama dalam solidaritas politik.

Etnosimbolisme menjelaskan nasionalisme sebagai produk simbol, mitos, dan tradisi, dan dikaitkan dengan karya Anthony D. Smith.

Nilai moral nasionalisme, hubungan antara nasionalisme dan patriotisme, dan kesesuaian nasionalisme dan kosmopolitanisme semuanya merupakan subjek perdebatan filosofis. Nasionalisme dapat dipadukan dengan berbagai tujuan dan ideologi politik seperti konservatisme (konservatisme nasional dan populisme sayap kanan) atau sosialisme (nasionalisme sayap kiri). Dalam praktiknya, nasionalisme dipandang positif atau negatif tergantung pada ideologi dan hasilnya. Nasionalisme telah menjadi ciri gerakan untuk kebebasan dan keadilan, telah dikaitkan dengan kebangkitan budaya, dan mendorong kebanggaan atas pencapaian nasional. Nasionalisme juga telah digunakan untuk melegitimasi perpecahan rasial, etnis, dan agama, menekan atau menyerang kaum minoritas, melemahkan hak asasi manusia dan tradisi demokrasi, dan memulai perang, yang sering disebut sebagai penyebab kedua perang dunia.

Terminologi

Secara asal kata, kata nasionalisme berasal dari kata nationalism atau nation dalam bahasa Inggris. Dalam penelitian kemaknaan, kata nation berasal dari kata dalam bahasa Latin, yaitu natio, yang berakar dari kata nascor yang berarti 'aku lahir', atau dari kata natus sum, yang berarti 'aku dilahirkan'. Dalam perkembangan maknanya kata nation merujuk pada bangsa atau kelompok manusia yang menjadi penduduk resmi suatu negara dalam mencintai tanah airnya.

Beberapa bentuk dari nasionalisme

Nasionalisme dapat menonjolkan dirinya sebagai sebagian paham negara atau gerakan (bukan negara) yang populer berdasarkan pendapat warganegara, etnis, budaya, keagamaan dan ideologi. Kategori tersebut lazimnya berkaitan dan kebanyakan teori nasionalisme mencampuradukkan sebagian atau semua elemen tersebut.

Nasionalisme kewarganegaraan (atau nasionalisme sipil) adalah sejenis nasionalisme di mana negara memperoleh kebenaran politik dari penyertaan aktif rakyatnya, "kehendak rakyat"; "perwakilan politik". Teori ini mula-mula dibangun oleh Jean-Jacques Rousseau dan menjadi bahan-bahan tulisan. Antara tulisan yang terkenal adalah buku berjudul Du Contract Sociale (atau dalam Bahasa Indonesia "Mengenai Kontrak Sosial").

Nasionalisme etnis adalah sejenis nasionalisme di mana negara memperoleh kebenaran politik dari budaya asal atau etnis sebuah masyarakat. Dibangun oleh Johann Gottfried von Herder, yang memperkenalkan konsep Volk (bahasa Jerman untuk "rakyat").

Nasionalisme romantik (juga disebut nasionalisme organik, nasionalisme identitas) adalah lanjutan dari nasionalisme etnis di mana negara memperoleh kebenaran politik secara semulajadi ("organik") hasil dari bangsa atau ras; menurut semangat romantisme. Nasionalisme romantik adalah bergantung kepada perwujudan budaya etnis yang menepati idealisme romantik; kisah tradisi yang telah direka untuk konsep nasionalisme romantik. Misalnya "Grimm Bersaudara" yang dinukilkan oleh Herder merupakan koleksi kisah-kisah yang berkaitan dengan etnis Jerman.

Nasionalisme Budaya adalah sejenis nasionalisme di mana negara memperoleh kebenaran politik dari budaya bersama dan bukannya "sifat keturunan" seperti warna kulit, ras dan sebagainya. Contoh yang terbaik ialah rakyat Tionghoa yang menganggap negara adalah berdasarkan kepada budaya. Unsur ras telah dibelakangkan di mana golongan Manchu serta ras-ras minoritas lain masih dianggap sebagai rakyat negara Tiongkok. Kesediaan dinasti Qing untuk menggunakan adat istiadat Tionghoa membuktikan keutuhan budaya Tionghoa. Malah banyak rakyat Taiwan menganggap diri mereka nasionalis Tiongkok sebab persamaan budaya mereka tetapi menolak RRT karena pemerintahan RRT berpaham komunisme.

Nasionalisme kenegaraan ialah variasi nasionalisme kewarganegaraan, selalu digabungkan dengan nasionalisme etnis. Perasaan nasionalistik adalah kuat sehingga diberi lebih keutamaan mengatasi hak universal dan kebebasan. Kejayaan suatu negeri itu selalu kontras dan berkonflik dengan prinsip masyarakat demokrasi. Penyelenggaraan sebuah 'national state' adalah suatu argumen yang ulung, seolah-olah membentuk kerajaan yang lebih baik dengan tersendiri. Contoh biasa ialah Nazisme, serta nasionalisme Turki kontemporer, dan dalam bentuk yang lebih kecil, Franquisme sayap-kanan di Spanyol, serta sikap 'Jacobin' terhadap unitaris dan golongan pemusat negeri Prancis, seperti juga nasionalisme masyarakat Belgia, yang secara ganas menentang demi mewujudkan hak kesetaraan (equal rights) dan lebih otonomi untuk golongan Fleming, dan nasionalis Basque atau Korsika. Secara sistematis, bilamana nasionalisme kenegaraan itu kuat, akan wujud tarikan yang berkonflik kepada kesetiaan masyarakat, dan terhadap wilayah, seperti nasionalisme Turki dan penindasan kejamnya terhadap nasionalisme Kurdi, pembangkangan di antara pemerintahan pusat yang kuat di Spanyol dan Prancis dengan nasionalisme Basque, Catalan, dan Korsika.

Nasionalisme agama ialah sejenis nasionalisme di mana negara memperoleh legitimasi politik dari persamaan agama. Walaupun begitu, lazimnya nasionalisme etnis adalah dicampuradukkan dengan nasionalisme keagamaan. Misalnya, di Irlandia semangat nasionalisme bersumber dari persamaan agama mereka yaitu Katolik; nasionalisme di India seperti yang diamalkan oleh pengikut partai BJP bersumber dari agama Hindu.

Namun, bagi kebanyakan kelompok nasionalis agama hanya merupakan simbol dan bukannya motivasi utama kelompok tersebut. Misalnya pada abad ke-18, nasionalisme Irlandia dipimpin oleh mereka yang menganut agama Protestan. Gerakan nasionalis di Irlandia bukannya berjuang untuk memartabatkan teologi semata-mata. Mereka berjuang untuk menegakkan paham yang bersangkut paut dengan Irlandia sebagai sebuah negara merdeka terutamanya budaya Irlandia. Justru itu, nasionalisme kerap dikaitkan dengan kebebasan.

           

Berikut adalah penjelasan mengenai Patriotisme yang diambil dari situs internet (https://id.wikipedia.org/wiki/Patriotisme). Patriotisme adalah sikap yang berani, pantang menyerah, dan rela berkorban demi bangsa dan negara. Patriotisme berasal dari kata "patriot" dan "isme" yang berarti sifat kepahlawanan atau jiwa pahlawan, atau "heroism" (heroisme) dan "patriotism" (patriotisme) dalam bahasa Inggris. Pengorbanan ini dapat berupa pengorbanan harta benda maupun jiwa raga. Berdasarkan asal katanya, patriotisme dapat dipahami sebagai suatu konsep yang menekankan kecintaan, kesetiaan, dan pengabdian kepada bangsa dan negara.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), patriotisme didefinisikan sebagai semangat cinta bangsa dan sikap seseorang yang bersedia mengorbankan apa pun demi kemakmuran dan kejayaan bangsanya. Patriotisme adalah sikap cinta tanah air yang ditunjukkan melalui kesetiaan, pengabdian, dan kesediaan untuk berkorban demi kepentingan bangsa dan negara. Patriotisme juga mencerminkan semangat untuk mempertahankan kemerdekaan, menjaga persatuan, dan berpartisipasi dalam kemajuan bangsa.

Ciri-ciri patriotisme

Patriotisme memiliki beberapa karakteristik yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, antara lain:

1.     Memiliki rasa cinta dan bangga terhadap tanah air.

2.     Bersedia berkorban demi kepentingan bangsa dan negara.

3.     Memiliki semangat untuk memajukan negara melalui tindakan yang positif.

4.     Menunjukkan sikap pantang menyerah dalam menghadapi berbagai tantangan.

5.     Mengutamakan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan pribadi maupun golongan.

6.     Berpartisipasi aktif dalam menjaga persatuan dan kesatuan bangsa.

Tujuan patriotisme

Patriotisme memiliki beberapa tujuan, yaitu:

1.     Mempertahankan kedaulatan dan integritas negara.

2.     Memperkuat persatuan dan kesatuan bangsa.

3.     Mendorong terciptanya kemakmuran dan kesejahteraan masyarakat.

4.     Menumbuhkan rasa tanggung jawab warga negara terhadap bangsa dan negara.

5.     Menciptakan kehidupan masyarakat yang aman, damai, dan harmonis.

6.     Mendukung keberlangsungan pembangunan nasional.

Penerapan patriotisme dalam lingkungan keluarga

1.     Menyaksikan film bertema perjuangan bangsa.

2.     Membaca buku yang membahas sejarah perjuangan nasional.

3.     Menghormati simbol-simbol negara.

4.     Mengibarkan bendera Merah Putih pada peringatan hari-hari nasional.

Penerapan patriotisme dalam lingkungan sekolah

1.     Mengikuti upacara bendera dengan tertib.

2.     Mempelajari sejarah perjuangan bangsa.

3.     Belajar dengan sungguh-sungguh untuk meraih prestasi.

4.     Menjaga nama baik sekolah dan menghormati guru.

Penerapan patriotisme dalam lingkungan masyarakat

1.     Mengembangkan sikap gotong royong dan kepedulian sosial.

2.     Menjaga kerukunan antarwarga.

3.     Menghormati perbedaan suku, agama, ras, dan budaya.

4.     Berpartisipasi dalam kegiatan kemasyarakatan.

Penerapan patriotisme dalam kehidupan berbangsa dan bernegara

1.     Mengamalkan nilai-nilai Pancasila.

2.     Mematuhi Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

3.     Mendukung pembangunan nasional.

4.     Menggunakan dan mencintai produk dalam negeri.

5.     Menjaga kelestarian lingkungan hidup.

6.     Berpartisipasi dalam menjaga persatuan dan kesatuan bangsa.

Penerapan patriotisme dibidang sosial dan budaya

1.     Menjaga dan melestarikan budaya lokal.

2.     Membantu sesama manusia.

3.     Menghargai keberagaman budaya Indonesia.

4.     Menerima aspek budaya asing yang baik tanpa menghilangkan identitas nasional.

Patriotisme dan Nasionalisme

Nasionalisme dan patriotisme memiliki hubungan yang erat karena keduanya mengacu pada kecintaan terhadap negara dan bangsa. Namun, istilah-istilah tersebut memiliki arti yang berbeda. Berbeda dengan nasionalisme, patriotisme lebih menekankan pada tindakan nyata, seperti pengabdian, kesetiaan, dan pengorbanan demi kepentingan negara. Dengan demikian, patriotisme dapat dipandang sebagai perwujudan semangat nasionalisme dalam kehidupan sehari-hari.

Berikut adalah penjelasan mengenai Ling Tien Kung menurut situs internet yang dikutip oleh penulis (https://www.google.com/search?q=ling+tien+kung&sca_esv). Ling Tien Kung adalah senam terapi kesehatan asal Indonesia yang berfokus pada kebangkitan energi internal dari "titik nol" tubuh. 

Pengertian dan Asal-Usul

·         Arti nama: Ilmu titik awal atau membangkitkan tenaga titik nol.

·         Pencipta: Diciptakan oleh Fu Long Swie (Awiek Wijaya), seorang mantan atlet asal Surabaya.

·         Prinsip utama: Kesehatan bersumber dari kemampuan tubuh membangkitkan daya penyembuhan dari dalam diri sendiri.

Gerakan Utama

  • Empet-empet anus (Fu Kang): Kontraksi otot di sekitar anus secara berulang untuk merangsang energi.
  • Jinjit-jinjit (Lik Thi Tien Tien): Gerakan jinjit kaki berulang kali untuk melatih otot betis dan keseimbangan.
  • Tempo lambat: Gerakan dilakukan secara santai, tidak mengutamakan keindahan estetika, melainkan efek penyembuhan pada organ.

·         Manfaat Kesehatan

  • Mengaktifkan organ: Membantu membangkitkan fungsi organ tubuh yang menurun.
  • Melancarkan peredaran darah: Meningkatkan aliran energi (chi) dan suplai oksigen.
  • Terapi mandiri: Sering dipraktikkan untuk membantu pemulihan berbagai keluhan seperti stroke, diabetes, hingga gangguan pencernaan.

Jadi disini bisa dilihat, dengan latihan Terapi Ling Tien Kung, kita semua ditanamkan rasa nasionalisme, patriotisme dan cinta tanah air Indonesia. Para instruktur Ling Tien Kung juga selalu mengajarkan kita akan rasa cinta tanah air Indonesia. Semoga Ling Tien Kung akan terus jaya.

NB: Blog ini dibuat dengan tujuan untuk menambah ilmu si Pembaca, tidak ada keuntungan Ekonomi sedikitpun yang diperoleh dari Pembuat. Tulisan diatas merupakan gabungan beberapa artikel dan ditulis juga sumbernya.

Comments

Popular posts from this blog

Lomba 17an RW 20 Cibubur City Bogor Tahun 2026. Oleh H. Yudhi

Ling Tien Kung dan Syari'at Islam (Oleh H. Yudhi)

Kedamaian di Perumahan Cibubur City (Oleh H. Yudhi)