Sasana LTK Silaturahim, Terapi dan Silaturahmi (Oleh H. Yudhi).

Sasana LTK Silaturahim, Terapi dan Silaturahmi (Oleh H. Yudhi). Kesehatan adalah harta paling mahal sedunia. Oleh sebab itu kita harus menjaganya. Salah satunya dengan gerak olah raga. Yang akan dibahas adalah Terapi Ling Tien Kung, salah satu olah raga terbaik saat ini. Tempat latihan atau Sasana yang dibahas kali ini adalah Sasana LTK Silaturahim. Lokasi Sasana LTK Silaturahim berada di Lapangan Parkir SD Silaturahim, tepatnya berada di belakang Gedung Radio Silaturahim yang Notabene merupakan Radio Dakwah dan Syiar, di Kelurahan Jatikarya, Kecamatan Jatisampurna, Kota Madya Bekasi, Propinsi Jawa Barat. Di Sasana ini bukan hanya Terapi saja tapi bisa juga ada esensi Silaturahmi. Karena Sasana LTK Silaturahim merupakan anak dari Radio Silaturahim yang sangat kental dengan Silaturahminya. Berikut adalah definisi Silaturahmi menurut situs internet. (https://islam.nu.or.id/tasawuf-akhlak/makna-luas-silaturahmi-hindari-salah-kaprah-memahami-TrjqR). Di bulan Ramadhan, umat muslim dianjurkan untuk saling memaafkan dan menjaga hubungan baik kepada saudara, kerabat, teman dan lain sebagainya. Di Indonesia, kita biasa menyebut tali hubungan macam ini dengan silaturahmi. Silaturahmi merupakan konsep yang mendalam dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Istilah ini dalam KBBI diartikan sebagai ‘tali persahabatan atau persaudaraan’, sedangkan bersilaturahmi artinya ‘menjalin kembali tali persahabatan’. Dalam teks-teks hadits kita mendapati banyak anjuran dan pesan Nabi saw akan urgensi silaturahmi. Misalnya beliau bersabda bahwa silaturahmi dapat membuka pintu rejeki. Beliau bersabda: “Siapapun ingin dilapangkan pintu rezeki untuknya dan dipanjangkan umurnya hendaknya ia menyambung tali silaturrahmi.” (HR Al-Bukhari). Hadits di atas setidaknya menjadi landasan anjuran bagi kita untuk menjalin tali silaturahmi. Meskipun demikian, sebagian kita menganggap bahwa silaturahmi merupakan aktivitas kunjungan dan pertemuan semata, baik kepada keluarga maupun teman. Dampaknya jika memaknai silaturahmi sesempit itu, jika suatu saat aktivitas kunjungan dan pertemuan tidak lagi atau jarang dilakukan, sering disimpulkan bahwa hubungan persaudaraan atau pertemanan telah terputus, padahal realitanya belum tentu demikian. Sebab itu, tentunya kita harus mengetahui hakikat makna silaturahmi secara definitif berikut bagaimana pemahaman para ulama dalam memandang silaturahmi. Pertama secara bahasa, silaturahmi dalam bahasa asalnya, yaitu bahasa Arab terdiri dari dua kata, silah yang artinya adalah pemberian atau hubungan yang menyambungkan antara dua orang atau bahkan lebih. Kemudian yang perlu dipertegas bahwa ‘rahmi’ dengan ‘rahim’ merujuk kepada kantong selaput dalam perut seorang ibu di mana janin dikandung selama kurang lebih sembilan bulan. Sehingga dapat dimaknai bahwa tali persaudaraan dalam silaturahmi berlaku pada saudara yang memiliki hubungan nasab. Jika disebut secara spesifik sedemikian rupa bahwa silaturahmi merupakan tali hubungan antarsaudara, maka hubungan dengan teman dan sahabat tidak masuk ke dalam istilah ini. Keterangan ini diperkuat dengan keterangan Sa’di Abu Habib dalam kamusnya Al-Qamus al-Fiqhi Lughatan washTilahan, ia menyebutkan: “Dalam hadits disebutkan, "Tidak masuk surga orang yang memutuskan silaturahmi." Yang dimaksud dalam hadits tersebut adalah hubungan dengan kerabat, terutama mereka yang memiliki hubungan nasab, baik yang diwarisi maupun yang tidak, serta dengan mahram atau bukan." Jika demikian maknanya, maka anggaplah silaturahmi sebagai istilah khusus untuk hubungan antarsaudara, sehingga ruang lingkupnya tidak begitu luas. Meskipun secara realita, suatu istilah dapat saja bergeser makna dan fungsinya di suatu masyarakat. Mengutip Ida Nursida dalam artikel jurnalnya yang berjudul “Perubahan Makna, Sebab dan Bentuknya” Sebuah Kajian Historis”, terdapat beberapa faktor yang menjadikan suatu istilah mengalami pergeseran makna. Faktor-faktor tersebut misalnya perkembangan sosial dan budaya di tengah masyarakat, perbedaan bidang dalam pemakaian istilah, perkembangan teknologi, penggunaan analogi, kiasan hingga bahasa metaforis terhadap kata tertentu di tengah masyarakat hinga faktor emotif di dalamnya. Sementara lain, silaturahmi sendiri biasa diartikan oleh para ulama sebagai perbuatan baik kepada para kerabat, baik dengan harta atau bantuan atau kunjungan atau bahkan hanya dengan ucapan salam. Keterangan ini disebutkan An-Nawawi dalam Syarhu Shahih Muslim: “Silaturahmi adalah perbuatan baik kepada kerabat sesuai dengan kondisi hubungan yang terjalin antara yang menjalin silaturahmi dan yang menerima silaturahmi. Kadang-kadang dilakukan melalui pemberian materi, kadang melalui bantuan, atau dengan berkunjung atau juga menyapa, dan lain sebagainya.” Pemahaman Imam An-Nawawi di atas menekankan bahwa silaturahmi tidak hanya terbatas pada pertemuan saja. Silaturahmi bisa jadi berarti memberi bantuan berupa finansial, memberi bantuan, berkunjung dan lain sebagainya. Pandangan yang luas semacam ini penting dipahami supaya makna silaturahmi tidak terbatas hanya pada kunjungan antar individu maupun kelompok semata, meskipun tidak dapat dinafikan bahwa pertemuan yang diadakan secara sering akan membuat suasana menjadi cair. Namun, lagi-lagi hal ini relatif. Memasuki era di mana perangkat digital telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari, maka silaturahmi pun kini dapat dilakukan bahkan hanya melalui gawai masing-masing. Orang tua dan anaknya, kakak dan adiknya, hingga suami dan istri dapat tetap terhubung satu sama lain dengan mudah melalui perangkat digital masing-masing, meskipun jiwa dan raga mereka bahkan sedang berada di belahan dunia yang berbeda. Pertemuan dengan keluarga melalui media sosial pun pada hakikatnya tetap mengandung esensi dari silaturahmi, yaitu menjalin ikatan emosional dan sosial yang menghubungkan hati dan pikiran, terlepas dari medium yang digunakan. Mengutip Ibnus Shalah dalam Adabul Mufti wal Mustafti, beliau menyatakan jika seorang anggota keluarga tidak bisa bertemu secara langsung, akan tetapi ia dapat mengirim surat agar tali persaudaraan tetap terjalin maka seyogyanya tetap dilakukan. Ibnus Shalah berkata: “Masalah tentang hukum dalam menjalin silaturahmi yang disebutkan dalam hadits, serta apakah wajib bagi seseorang yang memiliki hubungan kekerabatan untuk menulis surat jika tidak mampu menemui mereka atau tidak. Ibnus Shalah menjawab, yang dinamakan silaturahmi adalah ketika seseorang tetap berhubungan dengan kerabat dan orang-orang terdekatnya, sehingga ikatan yang kuat dalam hubungan keluarga terjaga. Hal ini dilakukan untuk menghindari terjadinya perasaan saling menjauh dan memutuskan hubungan, dan jika hal tersebut dapat dilakukan dengan menulis surat kepada keluarga yang tidak dapat ia jangkau, maka sudah cukup. Simpulannya, pada hakikatnya istilah silaturahmi secara fungsi merujuk kepada tali persaudaraan antarorang yang memiliki kekerabatan. Keterangan ini merujuk kepada asal makna dalam kata berikut paparan penjelasan yang tertera di atas. Adapun bentuk silaturahmi, apalagi di era modern maka tidak terbatas hanya pada bertemu dan berkunjung saja, sehingga jika aktivitas ini hilang kesalahpahaman terhadap simpulan bahwa silaturahmi telah terputus pun sering terjadi. Makna luas silaturahmi secara substantif adalah menjalin hubungan baik dengan cara berbuat baik kepada saudara dan kerabat, baik dengan memberi hadiah, bantuan finansial hingga berkunjung untuk bercengkrama hingga pertemuan dan komunikasi digital sebagaimana umumnya. Di Sasana LTK Silaturahim, tidak hanya terapi saja yang dilakukan. Sikap Silaturahmi yang dikemukakan diatas dilakukan secara rutin. Sehingga instruktur dan anggota semakin akrab hubungannya. Berikut adalah defisini terapi menurut situs internet (https://www.halodoc.com/kesehatan/terapi?srsltid=AfmBOooZ3q1UgwBzreqwV_cYZI5Wx43tKEQtR9uR0875xTnBTgabHdrW). #Apa Itu Terapi?# Terapi merupakan serangkaian tindakan profesional yang bertujuan untuk membantu individu atau kelompok dalam mengatasi masalah fisik, emosional, atau perilaku. Terapi mencakup berbagai pendekatan, termasuk psikologis, fisioterapi, dan okupasi. Dalam konteks yang lebih luas, terapi dapat mencakup penggunaan obat-obatan, perubahan gaya hidup, atau kombinasi dari berbagai metode. #Tujuan Terapi# Tujuan terapi sangat beragam, tergantung pada jenis terapi dan masalah yang dihadapi pasien. Beberapa tujuan umum meliputi: • Mengurangi gejala penyakit atau gangguan. • Meningkatkan fungsi fisik dan kognitif. • Mengembangkan keterampilan mengatasi masalah. • Meningkatkan kualitas hidup secara keseluruhan. #Jenis-Jenis Terapi# Ada berbagai jenis terapi yang tersedia, masing-masing dengan fokus dan pendekatan yang berbeda. Beberapa jenis terapi yang umum meliputi: • Psikoterapi: Berfokus pada masalah emosional dan perilaku. Contohnya termasuk terapi perilaku kognitif yang efektif untuk depresi dan kecemasan. • Fisioterapi: Membantu memulihkan fungsi fisik setelah cedera atau penyakit. Pahami lebih dalam tentang Fisioterapi – Jenis, Manfaat, Prosedur, dan Informasi Lengkap di sini. • Terapi Okupasi: Meningkatkan kemampuan individu untuk melakukan aktivitas sehari-hari. • Terapi Wicara: Membantu individu dengan masalah komunikasi. • Terapi Musik: Menggunakan musik untuk meningkatkan kesehatan mental dan fisik. #Manfaat Terapi# Manfaat terapi sangat luas dan beragam, tergantung pada jenis terapi dan kondisi individu. Beberapa manfaat umum meliputi: • Pengurangan stres dan kecemasan. • Peningkatan suasana hati dan kualitas tidur. • Peningkatan kemampuan mengatasi masalah. • Peningkatan hubungan interpersonal. • Pemulihan dari cedera atau penyakit. #Kapan Seseorang Membutuhkan Terapi?# Seseorang mungkin membutuhkan terapi jika mengalami salah satu dari kondisi berikut: • Mengalami kesulitan mengelola emosi. • Mengalami masalah dalam hubungan interpersonal. • Mengalami gejala depresi atau kecemasan. • Mengalami kesulitan mengatasi stres. • Memiliki riwayat trauma atau kekerasan. • Mengalami masalah kesehatan fisik yang memengaruhi kualitas hidup. #Efektivitas Terapi# Efektivitas terapi merujuk pada sejauh mana suatu bentuk pengobatan atau intervensi kesehatan mampu menghasilkan hasil yang diharapkan dalam kondisi nyata, bukan hanya di uji klinis. Ini berbeda dari “efikasi”, yang biasanya merujuk pada keberhasilan terapi dalam kondisi ideal atau penelitian. Sejumlah faktor yang memengaruhi efektivitas terapi, antara lain: 1. Evaluasi dan Penyesuaian Rutin. Terapi yang efektif memerlukan evaluasi berkala, termasuk pemeriksaan lanjutan, penyesuaian dosis, atau bahkan perubahan pendekatan jika terapi awal tidak memberikan hasil optimal. 2. Diagnosis yang Akurat. Terapi hanya akan efektif jika didasarkan pada diagnosis yang tepat. Kesalahan diagnosis bisa membuat terapi tidak memberikan hasil, atau bahkan memperburuk kondisi pasien. 3. Kesesuaian Jenis Terapi. Pemilihan metode terapi yang tepat, baik farmakologis (obat-obatan), psikologis, bedah, atau alternatif harus sesuai dengan jenis penyakit, tingkat keparahan, dan kondisi pasien. 4. Kepatuhan Pasien (Adherence). Efektivitas terapi sangat bergantung pada seberapa patuh pasien menjalankan pengobatan, termasuk jadwal konsumsi obat, pola makan, atau perubahan gaya hidup yang direkomendasikan. 5. Kondisi Medis Pendukung. Adanya penyakit penyerta (komorbiditas) seperti diabetes, gangguan imun, atau depresi dapat menurunkan efektivitas terapi utama karena pengaruhnya terhadap respons tubuh. 6. Faktor Psikososial. Dukungan keluarga, kondisi mental pasien, dan faktor sosial-ekonomi juga memengaruhi hasil terapi. Misalnya, pasien dengan dukungan sosial yang baik cenderung memiliki hasil terapi yang lebih baik. Nah, berikut contoh efektivitas terapi dalam berbagai kondisi: • Terapi Kognitif Perilaku (CBT) untuk gangguan kecemasan telah terbukti efektif dengan tingkat keberhasilan tinggi bila dilakukan secara konsisten. Ini yang perlu kamu ketahui soal Terapi Perilaku – Tujuan, Jenis, dan Prosedurnya berikut ini. • Terapi antiretroviral (ARV) untuk HIV dapat menekan jumlah virus hingga tidak terdeteksi jika dikonsumsi rutin. • Terapi insulin sangat efektif dalam mengontrol kadar gula darah pada pasien diabetes tipe 1, asalkan digunakan dengan benar dan dibarengi pola makan sehat. Terapi adalah alat yang ampuh untuk meningkatkan kesehatan mental dan fisik. Dengan berbagai jenis dan pendekatan yang tersedia, terapi dapat disesuaikan untuk memenuhi kebutuhan individu. Terapi Ling Tien Kung adalah terapi yang sudah dijelaskan panjang lebar diatas. Yang tujuan utamanya adalah menyembuhkan berbagai penyakit. #Ling Tien Kung# Berikut adalah penjelasan Ling Tien Kung yang didapat dari AI Google (https://www.google.com/search?q=ling+tien+kung&sca_esv). Ling Tien Kung adalah senam terapi olah tubuh dengan gerakan perlahan yang bertujuan untuk meningkatkan energi internal, keseimbangan, dan kesehatan secara keseluruhan. Senam ini berfokus pada gerakan yang melibatkan pusat energi tubuh ("titik nol"), seperti jinjit-jinjit dan melatih area anus, untuk tujuan penyembuhan dan peremajaan. Gerakannya sederhana dan direkomendasikan untuk berbagai usia, termasuk lansia, karena relatif aman dan tidak membutuhkan banyak energi. Apa itu Ling Tien Kung? • Terapi olah tubuh: Ling Tien Kung lebih bersifat sebagai terapi kesehatan dan penyembuhan daripada olahraga biasa, meskipun sering disebut sebagai senam. • Fokus pada "titik nol": Gerakan utamanya terpusat pada area energi antara pusar dan anus, yang diyakini sebagai sumber energi kehidupan. • Gerakan sederhana: Gerakannya melibatkan gerakan yang lambat dan lembut seperti jinjit-jinjit, jongkok, dan melipat pinggang, yang sering diiringi musik yang tenang. • Gerakan spesifik: Beberapa gerakan yang menjadi ciri khasnya adalah jinjit-jinjit, gerakan "empet-empet anus", jongkok pocong, dan jalan bebek. • Gerakan tambahan: Selain gerakan dasar, ada juga gerakan lain seperti membuka jendela langit, mengetuk kepala, menempelkan tangan ke ginjal, kocok-kocok tangan, dan gerakan untuk bagian atas dan bawah tubuh. #Manfaat Ling Tien Kung# • Meningkatkan fleksibilitas dan mencegah cedera. • Mengurangi stres dan ketegangan mental serta fisik. • Memperbaiki sirkulasi darah dan energi dalam tubuh. • Menyeimbangkan energi fisik dan emosional. • Meningkatkan kesehatan umum dan kekebalan tubuh. • Membantu perbaikan beberapa kondisi kesehatan seperti gula darah, tekanan darah, dan kolesterol (jika dilakukan secara rutin). #Siapa yang bisa melakukannya?# • Cocok untuk semua usia, dari anak-anak hingga lansia. • Disarankan bagi orang yang ingin menjaga kesehatan dan kebugaran tubuh secara keseluruhan. Oleh sebab itu bagi siapapun yang belum mencoba terapi Ling Tien Kung, silahkan ikut serta, terutama di Sasana LTK Silaturahim. Terimakasih. NB: Blog ini dibuat dengan tujuan untuk menambah ilmu si Pembaca, tidak ada keuntungan Ekonomi sedikitpun yang diperoleh dari Pembuat. Tulisan diatas merupakan gabungan beberapa artikel dan ditulis juga sumbernya.

Comments

Popular posts from this blog

Ling Tien Kung dan Syari'at Islam (Oleh H. Yudhi)

Kedamaian di Perumahan Cibubur City (Oleh H. Yudhi)

Abu Bakar Siddiq RA (H. Yudhi)