Banser NU yang Hebat (Oleh H. Yudhi).

Banser NU yang Hebat (Oleh H. Yudhi). Di setiap Negara di dunia ini ada namanya tentara. Tujuan tentara/ militer itu dibentuk adalah untuk sebagai pertahanan bangsa tersebut apabila diserang dari dalam atau luar negeri. Selain militer, ada juga yang disebut dengan para militer. Para militer ini juga dibentuk untuk membantu militer formal yang dimiliki oleh Negara tersebut. Berikut adalah definisi para militer yang diambil dari sebuah situs internet. (https://id.wikipedia.org/wiki/Paramiliter#Jenis-Jenis_Paramiliter) Paramiliter adalah kekuatan semi-militer yang struktur, taktik, pelatihan, subkultur, dan (sering kali) fungsinya serupa dengan militer profesional, tetapi tidak dimasukkan sebagai bagian dari angkatan bersenjata formal suatu negara. Menurut KBBI, Paramiliter adalah yang berkaitan dengan pasukan keamanan yang disusun, seperti pasukan militer dan berfungsi sebagai unsur pembantu tentara, contoh kalimat; "ratusan polisi dan pasukan paramiliter mengepung tempat persembunyian pemimpin pemberontak itu". Di dalam hukum perang, sebuah negara dapat menggabungkan organisasi paramiliter atau badan bersenjata (seperti pasukan khusus kepolisian nasional dan milisi sukarela swasta) ke dalam angkatan bersenjata kombatannya. Pihak-pihak lain yang terkait tentu harus diberitahu terlebih dahulu tentang hal tersebut. Meskipun sebuah paramiliter bukanlah sebuah kekuatan militer, tetapi kekuatanya setara dengan kekuatan infanteri ringan militer dalam hal intensitas, kekuatan senjata, pelatihan dan struktur organisasi. Suatu instansi paramiliter biasanya juga bisa berada di bawah kendali komando militer, meski tidak menjadi bagian militer atau hanya berperan membantu militer pada masa perang. Contohnya di beberapa negara seperti India ada pasukan yang bernama Assam Rifles dan Border Security Force, merupakan pasukan penjaga perbatasan negara yang dibawah kendali Kementerian Dalam Negeri India (MHA) namun unsur kepemimpinanya dikendalikan oleh perwira-perwira dari Angkatan Darat India walaupun sejarahnya terbentuk sebagai pasukan kepolisian perbatasan yang dibentuk Inggris. Sama halnya di Pakistan, pasukan penjaga perbatasan Pakistan dengan India yang bernama Pakistan Rangers merupakan kepolisian paramiliter yang juga unsur kepemimpinanya dibawah naungan Angkatan Darat Pakistan namun bukan bagian dari Angkatan Darat. Di Indonesia, pasukan yang tergolong Paramiliter resmi pemerintah yaitu dari instansi Polri seperti Korps Brimob dan Densus 88, dan Badan Keamanan Laut Republik Indonesia (Bakamla), Menwa. #Jenis-Jenis Paramiliter# • Pasukan militer tidak biasa: milisi, gerilyawan, pemberontak, teroris, dan sebagainya. • Pasukan cadangan dari militer negara: National Guard, Pengawal Presiden (beberapa negara), Republican Guard, State Guard. • Pasukan kepolisian, seperti tim SWAT polisi, polisi operasi khusus, polisi anti-terror, dll. Seperti Korps Brimob dan Densus 88. • Gendarmeries, adalah kepolisian yang berasal dari instansi militer suatu negara yang memiliki tugas untuk menegakkan hukum di ranah sipil dan militer. Contohnya GIGN di Prancis dan GSG-9 di Jerman. • Penjaga perbatasan, seperti Penjaga Perbatasan Rusia, CBP Amerika Serikat, dan BSF India yang struktur organisasi berasal dari instansi kepolisian namun dilatih militer. • Intelijen Federal Amerika Serikat (FBI). • Petugas keamanan Badan Usaha Milik Negara : Satuan Pengamanan , Polisi khusus keamanan kereta api,Polisi Khusus Kehutanan dll. • Personel penegakan hukum semi-militer, seperti tim SWAT di Amerika Serikat dan Pasukan Pengendali Huru-Hara Russia (OMON). • Ormas yang bersifat militan, seperti Gerakan Pemuda Ansor, Barisan Serba Guna/ Banser, dll. Di dalam artikel ini akan dibahas secara singkat apa itu Banser NU dan apa saja tugasnya. Dengan maksud agar para pembaca bisa mengerti. Sebelumnya akan dibahas dulu sejarah Banser NU yang diambil dari Situs NU On Line. (https://www.nu.or.id/fragmen/banser-nu-sejarah-kiprah-dan-tugas-tugasnya-Hdipv). #Banser NU: Sejarah, Kiprah, dan Tugas-tugasnya. Banser NU adalah akronim dari Barisan Serba Guna NU. Ia merupakan lembaga semi-otonom dari Gerakan Pemuda Ansor, organisasi pemuda NU yang berdiri pada 1930, empat tahun setelah NU didirikan. Banser adalah barisan pemuda yang dikenal dengan penampilannya, mulai dari pakaian, sepatu, topi, hingga atribut-atribut lainnya, yang mirip dengan pasukan militer. Sebagaimana namanya, barisan serba guna, Banser menjalankan berbagai fungsi yang biasanya dijalankan oleh polisi, seperti pengaturan lalu lintas atau pengamanan sebuah acara, dan tenaga relawan dalam peristiwa-peristiwa yang membutuhkan bantuan segera seperti dalam sebuah bencana. Menurut catatan dalam Ensiklopedia NU, Banser berdiri pada 1962, atau 32 tahun setelah pendirian GP Ansor. Tujuan pendiriannya adalah untuk memberikan pengamanan pada kegiatan-kegiatan yang digelar oleh Partai NU. Namun, diyakini bahwa pendiriannya juga berkaitan dengan semakin keras dan menghangatnya persaingan politik pada waktu itu, baik di tingkat nasional dan regional maupun internasional. Di tingkat internasional, Indonesia terlibat konfrontasi dengan Malaysia yang melahirkan program politik Ganyang Malaysia, sedangkan di tingkat nasional dan regional, konflik antar-partai, yang melibatkan juga NU sebagai salah satu partai, semakin tajam dan keras. Nama Banser mencuat ketika pecah peristiwa Gerakan 30 September 1965 yang berujung pada pemakzulan Presiden Soekarno. Diyakini bahwa Banser berperan dalam penangkapan dan penumpasan para aktivis PKI dan berbagai onderbouw-nya, terutama di daerah Jawa Timur, Jawa Tengah, dan sebagian Jawa Barat. Peristiwa tersebut didahului oleh letupan-letupan kecil akibat tajamnya konflik kepentingan dan ideologi di antara kalangan kiri yang terutama diwakili oleh PKI dan golongan kanan yang diwakili oleh partai-partai nasionalis dan keagamaan, termasuk NU, di dalam sistem politik kepartaian yang liberal. Konflik ini semakin menghangat di dalam panggung politik internasional akibat pengaruh Perang Dingin di antara dua kekuatan adidaya, yaitu Amerika Serikat dan Uni Soviet. Dilaporkan ribuan hingga jutaan orang, terutama para aktivis—atau mereka yang diduga terkait dengan—PKI dan onderbouw-nya, terbunuh atau hilang tak tahu rimbanya dalam peristiwa itu. Banyak penelitian yang mengungkap peristiwa berdarah ini, tetapi pemerintah sendiri belum melakukan investigasi dan menyampaikan pengakuan yang resmi. Meski demikian, terkait dengan peran Banser NU di dalamnya, KH Abdurrahman Wahid selaku Ketua PBNU, secara rendah hati dan terbuka pernah meminta maaf kepada keluarga korban 1965 tersebut. Menurut sumber lain, Banser diyakini sudah ada jauh sebelum tahun 1960-an. Dalam Kongres Ke-2 pada 1937 di Malang, Jawa Timur, Gerakan Pemuda Ansor, atau ANU (Ansor Nahdlatul Ulama) namanya saat itu, mengembangkan sebuah organisasi gerakan kepanduan yang disebut Barisan Ansor Nahdlatul Ulama (BANU). Keberadaan BANU memperoleh lampu hijau dengan adanya pengakuan NU pada Muktamar Ke-14 di Magelang, Jawa Tengah. Pada Muktamar NU ke-15 di Surabaya, NU bahkan mengesahkan AD/ART BANU, seragam, mars resmi Al-Iqdam, atribut-atribut, serta yang paling penting diperbolehkannya mereka memainkan terompet dan genderang. Diyakini bahwa BANU inilah yang menjadi cikal-bakal Banser NU yang dikenal sekarang. Pendirian BANU merupakan respons terhadap kemunculan organisasi-organisasi kepanduan saat itu. Sifatnya yang menitikberatkan pada aspek kebangsaan dan pembelaan tanah air juga memperlihatkan respons nasionalistis NU. Jika ANU adalah organisasi pemuda, maka BANU adalah organisasi kepanduan. Kegiatan BANU, seperti banyak organisasi-organisasi kepanduan, adalah: Pendidikan baris-berbaris Latihan lompat dan lari Latihan angkat-mengangkat Latihan ikat-mengikat (pioner) Fluit Tanzim (belajar kode atau isyarat suara) Isyarat dengan bendera (morse) Perkampungan dan perkemahan Belajar menolong kecelakaan (Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan atau PPPK) Musabaqoh fil Kholi (pacuan kuda) Muromat (melempar lembing dan cakram) Ketika Jepang menduduki Indonesia pada 1942, banyak anggota Gerakan Pemuda Ansor umumnya dan Banser khususnya yang direkrut dalam pelatihan militer. Laskar Hizbullah yang kemudian dikenal sebagai salah satu laskar penting dalam perang kemerdekaan diisi oleh banyak anggota Gerakan Pemuda Ansor dan Banser. Periode Jepang ini diyakini turut membentuk watak paramiliter sekaligus watak nasionalistis dari Banser. Sekarang Banser banyak berperan dalam penjagaan, pengaturan, dan pengamanan acara-acara yang digelar oleh NU dan organisasi-organisasi afiliasinya. Namun, peran ini tidak hanya terbatas di kalangan NU, mereka juga sering kali terlibat dalam penjagaan, pengaturan, dan pengamanan acara-acara keagamaan dan sosial di luar yang digelar NU. Kehadirannya ini secara umum bisa diterima karena memang diakui masih kurang dan terbatasnya aparat kepolisian dengan rasio jumlah penduduk di Indonesia. Sebagai bagian dari NU, Banser selalu menyatakan eksistensinya sebagai pembela dan benteng ulama, tetapi di pihak lain, mereka juga selalu dengan tegas menyatakan komitmen nasionalismenya untuk selalu mempertahankan NKRI. Hal ini tercermin dari komitmen mereka untuk membantu siapa pun, tanpa mengenal perbedaan agama, suku, maupun golongan. Belakangan ini Banser banyak memainkan peran sebagai relawan dalam berbagai bencana, baik bencana alam seperti banjir, gempa, letusan gunung berapi, maupun bencana yang diakibatkan oleh konflik sosial. Dalam hal ini mereka memainkan peran yang mirip dengan dan mendekati peran Search And Rescue (SAR). Menurut survei, pada akhir 1990-an, anggota Banser berjumlah sekitar 500.000. Namun, para pengurus Banser sendiri meyakini bahwa anggota mereka berjumlah tiga jutaan di seluruh Indonesia. Yang jelas, di mana ada Gerakan Pemuda Ansor maka dipastikan di situ juga ada Banser, yang merupakan organisasi semi-otonomnya. Bukan hanya membela nusa dan bangsa serta menjaga para Ulama Aswaja, Banser juga mendapat beberapa cobaan dan fitnah dari oknum-oknum/ anasir-anasir jahat di masyarakat yang tidak suka akan keberadaan Banser NU. Mereka menebar berita hoax bahwa Banser itu membubarkan pengajian dan menjaga Gereja. Padahal aslinya di lapangan tidak seperti itu. Itu hanyalah berita yang dipelintir oleh oknum yanag tidak bertanggung jawab. Untuk menghadapinya, Banser NU tidak hanya dengan melakukan konfirmasi verbal, melainkan juga dengan bukti aksi positif ke masyarakat setempat. Sehingga mayoritas masyarakat Indonesia mendukung keberadaan Banser NU yang berguna bagi bangsa dan Negara. Maju terus Banser NU, jangan pernah mundur. Semoga Banser NU semakin besar. Terimakasih. NB: Blog ini dibuat dengan tujuan untuk menambah ilmu si Pembaca, tidak ada keuntungan Ekonomi sedikitpun yang diperoleh dari Pembuat. Tulisan diatas merupakan gabungan beberapa artikel dan ditulis juga sumbernya.

Comments

Popular posts from this blog

Ling Tien Kung dan Syari'at Islam (Oleh H. Yudhi)

Kedamaian di Perumahan Cibubur City (Oleh H. Yudhi)

Abu Bakar Siddiq RA (H. Yudhi)