Zaid bin Haritsah RA (H. Yudhi)
Zaid bin Haritsah RA (H. Yudhi). Zaid bin Haritsah (lahir tahun 47 sebelum hijrah (ca 581) - mati 8 H (629, usia 48)) adalah sahabat Nabi Muhammad dan di antara pemeluk Islam yang paling awal dari kalangan bekas budak Nabi Muhammad. Dia adalah satu-satunya sahabat Nabi yang disebutkan dalam Alquran secara eksplisit, yaitu di Surah al-Ahzab ayat 37. #Biografi# Nama lengkapnya adalah Zaid bin Haritsah bin Syarahil (atau Syurahbil) bin Ka'ab bin Abdil-Uzza bin Yazid bin Imri’il-Qais bin Amir bin an-Nu‘man. Ibunya bernama Su’da binti Tsalabah yang berasal dari daerah Thayy. Zaid bin Haritsah berasal dari Banu Kalb yang menghuni sebelah utara jazirah Arab. Pada masa kecilnya, ia dibawa ibunya berkunjung ke keluarganya, dalam perjalanan ditangkap oleh sekelompok penjahat yang kemudian menjualnya sebagai seorang budak di pasar Ukaz Madinah. Kemudian ia dibeli oleh Hakim bin Hizam keponakan dari Khadijah. Oleh Khadijah, ia diberikan kepada Nabi Muhammad yang kemudian memerdekakan Zaid bin Haritsah di usia 8 tahun. Ia adalah salah satu orang yang pertama dalam memeluk agama Islam. Zaid menjadi sahabat serta pelayan yang setia Nabi Muhammad.Zaid pada awal Islam mendapat nisbah nama kepada Nabi, sehingga dia menamai dirinya Zaid bin Muhammad. Namun, Allah di kemudian hari menurunkan wahyu-Nya berupa Surah al-Ahzab ayat 5 yang menerangkan bahwa anak-anak angkat tetap harus dipanggil dengan nama ayah kandung mereka, bukan ayah angkatnya. Setelah itu, Zaid mengatakan, "Aku adalah Zaid bin Haritsah." Hal ini dianggap menurunkan Zaid dari derajat mulia yang disandangnya sebelumnya. Oleh karena itu, Allah memuliakan Zaid dengan menurunkan ayat di atas yang secara eksplisit menyebutkan namanya. Zaid bin Haritsah memiliki tampang dan perawakan yang biasa. Pendek dengan kulit cokelat kemerah-merahan, dan hidung agak pesek. Ketika dewasa, Nabi menikahkan Zaid dengan Zainab binti Jahsy. Namun karena ketidakcocokkan, mereka kemudian bercerai setelah Pertempuran Khandaq, lalu Zainab menikah dengan Nabi. Setelah bercerai dari Zainab, Zaid menikahi Ummu Kultsum binti Uqbah bin Abu Mu’ith. Namun, perkawinan ini pun tidak berlangsung lama. Zaid bercerai lagi. Setelah itu, ia menikahi Ummu Ayman. Dari pernikahan ini ia dikaruniai seorang putra, yaitu Usamah ibn Zaid. Ia mengikuti hijrah ke Madinah serta mengikuti setiap pertempuran dalam membela Islam. Zaid termasuk sahabat yang mahir berkuda. la juga dikenal sebagai pemberani. Jika Nabi berperang, dia selalu mengangkat Zaid sebagai pemimpin salah satu pasukan. Siti Aisyah pernah berkata, “Tidaklah Rasulullah mengutus Zaid bin Haritsah dalam satu peperangan kecil kecuali dia mengangkatnya sebagai pemimpin pasukan. Seandainya dia masih ada, pasti dia akan meminta Zaid menggantikannya setelah dia wafat.” Zaid pernah memimpin pasukan dalam beberapa perang kecil (sariyah), di antaranya Pertempuran al-Hajum, Pertempuran al-Tharf, Pertempuran al-‘Ish dan Pertempuran Husma. Satuan perang Zaid bin Haritsah ke Al-Ish pada bulan Jumadil Ula 6 H, bersama 170 orang pengendara. Dalam peristiwa itu mereka bisa merampas kafilah dagang milik Quraisy yang dipimpin Abul Ash, menantu Nabi yang belakangan masuk Islam. Nabi mengutus Zaid bin Haritsah bersama 500 orang untuk pergi ke Judzam di belakang Wadil Qura'. Zaid melancarkan serangan gencar ke Judzam akibat sekelompok penduduknya merampok utusan Nabi yang bernama Dihyah al-Kalbi saat bertugas ke Damaskus. Zaid bertempur hebat, hingga akhirnya dia memperoleh kemenangan. Dia mendapatkan rampasan cukup banyak, berupa 1.000 ekor onta, 5.000 ekor domba, 100 tawanan wanita dan anak-anak. Zaid ditugaskan oleh Muhammad untuk membunuh seorang wanita tua bernama Ummu Qirfa, karena Ummu Qirfa merencanakan membunuh Muhammad dengan 30 pasukan yang dikumpulkannya, dimana sebelumnya pasukannya berhasil membunuh 9 dari 12 orang satuan Zaid bertugas memata-matai mereka di Wadil Qura. Kaki wanita itu diikat ke dua unta, dan unta bergerak sampai tubuhnya dilepas. Kepalanya yang terpenggal kemudian diarak di jalan-jalan Madinah. Dalam Pertempuran Mu'tah, Zaid dipilih sebagai salah satu dari panglima perang dan mati dalam pertempuran ini. Nabi berkata, “Kalian harus menaati Zaid bin Haritsah, jika terjadi sesuatu pada Zaid maka taatilah Ja‘far bin Abu Thalib, jika rerjadi sesuatu pada Ja‘far maka taatilah Abdullah bin Ruwahah.” Ia terbunuh dengan tombak pasukan Romawi Bizantium pada 8 H di usia 55 tahun. #Namanya dalam Alquran# Dan (ingatlah), ketika engkau (Muhammad) berkata kepada orang yang telah diberi nikmat oleh Allah dan engkau (juga) telah memberi nikmat kepadanya, "Pertahankanlah terus istrimu dan bertakwalah kepada Allah," sedang engkau menyembunyikan di dalam hatimu apa yang akan dinyatakan oleh Allah, dan engkau takut kepada manusia, padahal Allah lebih berhak engkau takuti. Maka ketika Zaid telah mengakhiri keperluan terhadap istrinya (menceraikannya), Kami nikahkan engkau dengan dia (Zainab) agar tidak ada keberatan bagi orang mukmin untuk (menikahi) istri-istri anak-anak angkat mereka, apabila anak-anak angkat itu telah menyelesaikan keperluannya terhadap istrinya. Dan ketetapan Allah itu pasti terjadi.
#Keistimewaan Zaid Bin Haritsah# Berikut di antara keistimewaan Zaid bin Haritsah: 1. Satu-satunya sahabat yang namanya termaktub dalam Al-Qur'an. Allah berfirman: Maka ketika Zaid telah mengakhiri keperluan terhadap istrinya (menceraikannya), Kami nikahkan engkau dengan dia (Zainab) agar tidak ada keberatan bagi orang mukmin untuk (menikahi) istri-istri anak-anak angkat mereka, apabila anak-anak angkat itu telah menyelesaikan keperluannya terhadap istrinya. Dan ketetapan Allah itu pasti terjadi (AL Ahzab: 37). 2. Termasuk kedalam golongan assabiqunal Awwalun, atau kelompok yang pertama kali masuk Islam, bahkan termasuk orang kedua setelah khadijah yang masuk kedalam Islam. 3. Dipilih Muhammad saw sebagai panglima perang Mut'ah. Bahkan Aisyah berkata, "Setiap Rosulallah sholallahu alaihi wasallam mengirimkan suatu pasukan yang disertai Zaid, ia selalu diangkat Nabi jadi pemimpinnya. Seandainya ia masih hidup sesudah Rosulallah sholallahu alaihi wasallam, tentula ia akan diangkatnya sebagai Khalifah". 4. DIjuluki sebagai sahabat kesayangan Muhammad saw. 5. Merupakan Anak angkat Muhammad saw. Muhammad saw bersabda, "Saksikanlah oleh kalian semua, bahwa mulai saat ini, Zaid adalah anakku yang akan menjadi ahli warisku dan aku menjadi ahli warisnya". Meskipun dalam hal waris mewarisi ini di luruskan oleh Allah azza wajalla dalam surah Al Ahzab: 5, bahwa anak angkat tidak sama dengan anak kandung. Tetap hal ini semakin menunjukkan kemuliaan Zaid bin Haritsah. (sumber: https://id.wikipedia.org/wiki/Zaid_bin_Haritsah). *Kisah Zaid bin Haritsah: Sahabat Nabi yang Namanya Disebut dalam Al-Qur'an* Zaid bin Haritsah merupakan seorang Sahabat Nabi yang sangat spesial. Ia merupakan satu-satunya sahabat yang diambil sebagai anak angkat (mutabanna) oleh Rasulullah SAW. Ia juga tercatat menjadi satu-satunya Sahabat Nabi yang namanya diabadikan oleh Allah SWT dalam Al-Qur'an, yakni surat Al-Ahzab ayat 37: Artinya: "(Ingatlah) ketika engkau (Nabi Muhammad) berkata kepada orang yang telah diberi nikmat oleh Allah dan engkau (juga) telah memberi nikmat kepadanya, “Pertahankan istrimu dan bertakwalah kepada Allah,” sedang engkau menyembunyikan di dalam hatimu apa yang akan dinyatakan oleh Allah, dan engkau takut kepada manusia, padahal Allah lebih berhak untuk engkau takuti. Maka, ketika Zaid telah mengakhiri keperluan terhadap istrinya (menceraikannya), Kami nikahkan engkau dengan dia (Zainab) agar tidak ada keberatan bagi orang mukmin untuk (menikahi) istri-istri anak-anak angkat mereka, apabila mereka telah menyelesaikan keperluan terhadap istri-istrinya. Ketetapan Allah itu pasti terjadi." Mengapa Zaid bin Haritsah Menjadi Anak Angkat Rasulullah? Nama lengkapnya ialah Zaid bin Haritsah bin Syarahil bin Ka’ab bin Abdul ‘Uzza bin Imriil Qais bin ‘Amir bin An-Nu’man bin ‘Amir bin Abdi Wuddi bin ‘Auf bin Kinanah bin Bakr bin ‘Auf bin Udzrah bin Zaid Al-Lati bin Rufaidah bin Tsaur bin Kalb bin Wabrah. Ibunya bernama Su’da bin Tsa’labah. Tidak ada satu riwayat yang tegas menyebutkan kapan Zaid dilahirkan. Satu hal yang pasti, ketika ia masih kecil, ibunya mengajak ia untuk pergi ke perkampungan Bani Mu’in yang merupakan suku asli Zaid bin Haritsah. Kunjungan tersebut bertepatan dengan serbuan sekawanan tentara berkuda dari Bani Al-Qin bin Jusr. Mereka kemudian menawan Zaid bin Haritsah yang kemudian mereka jual sebagai budak. Hakim bin Hizam bin Khuwailid kemudian membeli Zaid untuk dihadiahkan kepada bibinya, yakni Sayyidah Khadijah bin Khuwailid. Saat itu Sayyidah Khadijah telah menikah dengan Nabi Muhammad yang belum diangkat menjadi Rasul. Saat Nabi melihat Zaid, beliau meminta agar Sayyidah Khadijah menghadiahkannya kepada beliau. Sayyidah Khadijah lantas menuruti kehendak Nabi dan menghadiahkan Zaid kepada beliau. Beliau lantas memerdekakan Zaid dan mengangkatnya sebagai anak. Sejak itu, dikenal nama Zaid bin Muhammad. Selang beberapa waktu, kemudian ayah Zaid, yakni Haritsah bin Syarahil berhasil menemukan Zaid yang kini telah menjadi anak angkat Nabi Muhammad. Zaid kemudian diberi pilihan oleh Nabi apakah hendak mengikuti ayahnya atau tetap bersama Nabi. Baca Juga: Kisah Sahabat Nabi Sulaiman Lari dari Kejaran Malaikat Maut Sejarawan Ibnu Hisyam merekam peristiwa tersebut sebagai berikut: Artinya: “Saat ayahnya berhasil menemukan Zaid. Saat itu ia sudah berada di samping Rasulullah SAW. Rasulullah kemudian berkata kepadanya: ‘Jika engkau mau, tinggallah bersamaku, dan jika engkau mau, kau bisa berangkat ikut bersama ayahmu’. Zaid berkata: ‘Aku ingin tinggal bersamamu’. Maka Zaid tetap tinggal bersama Rasulullah SAW sampai beliau diangkat sebagai Nabi dan Rasul. Saat peristiwa itu terjadi, Zaid membenarkan beliau dan masuk Islam”. (Ibnu Hisyam, Sirah Nabawiyah [Mesir: Maktabah Musthafa al-Babi al-Halabi, 1955], j. I, h. 248) Sejarah mencatat bahwa Zaid merupakan orang ketiga yang masuk Islam sesudah Sayyidah Khadijah dan Ali bin Abi Thalib RA. Ia senantiasa membersamai Nabi saat sholat berjamaaah dan selalu memberikan dukungan terhadap dakwah Nabi sejak di awal diangkat sebagai Nabi dan Rasul. Ia pun tetap memperkenalkan dirinya sebagai Zaid bin Muhammad hingga turun ayat ke 5 surat Al-Ahzab: Artinya: “Panggilah mereka (anak-anak angkat itu) dengan (memakai) nama bapak-bapak mereka; itulah yang lebih adil pada sisi Allah”. Sejak saat itu, ia selalu menyebut dirinya sebagai: Zaid bin Haritsah. Polemik Pernikahan Zaid Sebelum ayat tersebut turun sebagai sebuah wahyu, orang Arab Jahiliyah selalu menganggap anak angkat sebagai anak asli yang terkadang bahkan lebih dicintai ketimbang anak kandung. Mereka mendapatkan hak waris dan istri-istri mereka dianggap sebagai menantu bagi ayah angkat, sekaligus menjadi haram untuk dinikah oleh ayah angkat jikapun mereka bercerai. Allah SWT kemudian membatalkan anggapan tersebut dengan menurunkan ayat 4 surat Al-Ahzab yang menegaskan bahwa hukum yang dibuat oleh manusia (semacam mengangkat anak) tidaklah lebih bisa dijadikan sebagai landasan dibanding hukum yang dibuat oleh Allah (seperti menjadikan seseorang lahir dari hasil pernikahan ayah dan ibunya): Artinya: “Allah sekali-kali tidak menjadikan bagi seseorang dua buah hati dalam rongganya; dan Dia tidak menjadikan istri-istrimu yang kamu zhihar itu sebagai ibumu, dan Dia tidak menjadikan anak-anak angkatmu sebagai anak kandungmu (sendiri). Yang demikian itu hanyalah perkataanmu di mulutmu saja. Dan Allah mengatakan yang sebenarnya dan Dia menunjukkan jalan (yang benar)”. Sebuah polemik terjadi yang mengakibatkan kontroversi di kalangan umat pada saat itu. Yakni ketika terdapat seorang perempuan yang bernama Zainab bin Jahsy dinikahi oleh Zaid bin Haritsah. Zainab yang notabenenya ialah seorang perempuan terpandang keturunan Quraisy dari suku As’ad kemudian bercerai dengan Zaid. Zainab kemudian dinikahi oleh Rasulullah SAW. Umat kemudian mempergunjingkan hal tersebut sambil menyatakan bahwa Muhammad menikahi mantan istri anaknya sendiri. Allah kemudian menegaskan bahwa Nabi Muhammad bukanlah ayah dari salah satu pun pria dari kalian. Ini untuk menegaskan bahwa Nabi tidak punya penerus lelaki sehingga mustahil ada keberlanjutan Nabi dan Rasul karena memang beliau adalah Nabi dan Rasul terakhir. Allah juga menegaskan bahwa Zaid bukanlah anak Nabi Muhammad. Ia sekadar anak angkat yang sehingga konsekuensinya secara hukum, jika ia mempunya seorang mantan istri, boleh mantan istri tersebut dinikah oleh Nabi. Allah menurunkan ayat 37 surat Al-Ahzab yang menegaskan hal tersebut yang juga menyertakan nama “Zaid” dalam ayat tersebut. Pada tahun 8 H, Zaid bin Haritsah diangkat sebagai panglima perang dalam perang Mu’tah. Pada peperangan tersebut, ia senantiasa menjadi tameng bagi Rasulullah hingga tidak ada satupun senjata yang mengenai Rasulullah sebelum senjata tersebut mengenai Zaid. Ia pun syahid dalam peperaangan tersebut. Wallahu a’lam bis shawab. (Sumber: https://www.arina.id/islami/ar-KUZ5w/kisah-zaid-bin-haritsah--sahabat-nabi-yang-namanya-disebut-dalam-al-qur-an). *Zaid bin Haritsah: Sahabat Istimewa yang Namanya Diabadikan dalam Al-Qur’an* Di tengah padang pasir yang luas dan tandus, seorang anak kecil berlari ketakutan. Matahari membakar bumi, dan suara ringkikan kuda serta teriakan para penyerang bergema di udara. Kampungnya yang damai berubah menjadi lautan api dan kekacauan. Hari itu, Zaid bin Haritsah, bocah dari suku Bani Mu’in, harus menghadapi kenyataan pahit: ia ditangkap oleh sekelompok penyerang dari Bani al-Qin bin Jusr dan dijual sebagai budak di pasar Ukazh. Di pasar perbudakan yang ramai, Zaid berdiri dalam keterpaksaan, tatapan matanya menerawang mencari harapan. Ia akhirnya dibeli oleh Hakim bin Hizam seharga 400 dirham untuk bibinya, Siti Khadijah. Takdir kemudian membawanya ke rumah seorang pria yang kelak akan menjadi pembawa cahaya bagi umat manusia—Muhammad bin Abdullah. Ketika Siti Khadijah menikah dengan Muhammad, ia menghadiahkan Zaid kepada suaminya. Alih-alih diperlakukan sebagai budak, Zaid menemukan kasih sayang dan perlindungan dalam rumah tangga Nabi. Hubungan keduanya semakin erat, hingga suatu hari, kabar tentang keberadaan Zaid sampai ke telinga ayahnya, Haritsah bin Syarahil. Dengan hati yang penuh harap, Haritsah datang menemui Muhammad, membawa tebusan demi membawa putranya pulang. Namun, keputusan ada di tangan Zaid. Dengan penuh keyakinan, ia berkata kepada ayahnya, “Aku tidak akan memilih siapa pun selain Muhammad. Aku telah melihat sesuatu dalam dirinya yang membuatku tak ingin meninggalkannya.” Terharu oleh kesetiaan Zaid, Muhammad mengangkatnya sebagai anak dan sejak saat itu, ia dikenal sebagai Zaid bin Muhammad. Tapi takdir terus bergerak. Beberapa tahun kemudian, wahyu turun yang mengubah segalanya. Allah menegaskan bahwa anak angkat tidak boleh dinisbatkan kepada orang tua angkatnya, melainkan kepada ayah kandungnya. Maka, Zaid kembali kepada nama aslinya, Zaid bin Haritsah. Meskipun demikian, kedudukannya di sisi Rasulullah tidak pernah berkurang sedikit pun. Di medan perang, Zaid membuktikan keberaniannya. Ketika Islam mulai disebarkan secara terbuka, ia berada di garis depan. Salah satu ujian terberat dalam hidupnya adalah pernikahannya dengan Zainab binti Jahsy, seorang wanita Quraisy dari keturunan bangsawan. Namun, pernikahan itu tidak berjalan baik, dan akhirnya mereka bercerai. Tak lama setelah itu, Allah memerintahkan Rasulullah untuk menikahi Zainab, menghapus tradisi jahiliyah yang melarang seorang ayah menikahi mantan istri anak angkatnya. Peristiwa ini diabadikan dalam Al-Qur’an, menjadikan Zaid satu-satunya sahabat yang namanya disebut dalam kitab suci.
Puncak pengabdian Zaid terjadi dalam Perang Mu’tah. Rasulullah menunjuknya sebagai panglima perang, memimpin pasukan Muslim melawan pasukan Romawi yang jauh lebih besar. Di medan perang yang sengit, Zaid bertempur dengan gagah berani, membawa panji Islam dengan teguh. Namun, tombak musuh menembus tubuhnya, menjatuhkannya ke tanah. Di bawah langit Syam, Zaid bin Haritsah mengembuskan napas terakhirnya sebagai syahid, meninggalkan jejak pengabdian yang abadi. Kisah Zaid bin Haritsah adalah bukti bahwa kehormatan tidak ditentukan oleh asal-usul, tetapi oleh keimanan dan pengabdian. Ia bukan hanya sahabat istimewa, tetapi juga simbol keteguhan hati dalam menegakkan kebenaran. Namanya tetap hidup, tidak hanya dalam sejarah, tetapi juga dalam firman Allah yang abadi. Dari kisah Zaid bin Haritsah, terdapat beberapa hikmah yang bisa kita ambil sebagai pelajaran hidup: 1. Kesetiaan dan Keteguhan Hati, Zaid menunjukkan kesetiaan luar biasa kepada Rasulullah SAW. Meskipun diberi kesempatan kembali ke keluarganya, ia memilih tetap bersama Nabi karena melihat kemuliaan dan kasih sayang dalam dirinya. Ini mengajarkan kita untuk setia kepada kebaikan dan kebenaran, meskipun ada pilihan lain yang mungkin lebih mudah. 2. Islam Menghapus Perbedaan Status Sosial, Zaid yang dulunya budak diangkat menjadi salah satu orang kepercayaan Rasulullah SAW. Ini menunjukkan bahwa dalam Islam, kemuliaan seseorang tidak diukur dari status sosialnya, tetapi dari ketakwaannya kepada Allah SWT. 3. Kepatuhan pada Hukum Allah, Ketika Allah menurunkan hukum yang menghapus sistem adopsi jahiliyah, Zaid dengan lapang dada menerima perintah tersebut meskipun berarti kehilangan gelar sebagai “anak Muhammad”. Ini mengajarkan kita untuk selalu menerima dan menjalankan aturan Allah dengan ikhlas. 4. Keberanian dan Pengorbanan, Zaid adalah seorang panglima yang gagah berani dalam Perang Mu’tah. Ia berjuang hingga titik darah penghabisan, menunjukkan bahwa perjuangan di jalan Allah membutuhkan keberanian dan pengorbanan. 5. Keutamaan Nama Zaid di Dalam Al-Qur’an, Allah SWT mengabadikan nama Zaid dalam Al-Qur’an, menjadikannya satu-satunya sahabat Nabi yang namanya disebut dalam kitab suci. Ini adalah bukti bahwa orang yang beriman dan berjuang di jalan Allah akan mendapatkan kedudukan istimewa di sisi-Nya. Dari kisah ini, kita belajar bahwa kesetiaan, ketaatan kepada Allah, keberanian, dan keteguhan hati adalah kunci menuju kemuliaan. Semoga kita bisa meneladani Zaid bin Haritsah dalam kehidupan kita. (sumber: https://www.nusidoarjo.or.id/zaid-bin-haritsah-sahabat-istimewa-yang-namanya-diabadikan-dalam-al-quran/2/). Blog ini dibuat dengan tujuan untuk menambah ilmu si Pembaca, tidak ada keuntungan Ekonomi sedikitpun yang diperoleh dari Pembuat. Tulisan diatas merupakan gabungan beberapa artikel dan ditulis juga sumbernya.
Comments
Post a Comment