Syekh Utsaimin RA (H. Yudhi)
Syekh Utsaimin RA (H.Yudhi)
Syaikh Abu 'Abdullah Muhammad bin Shalih bin Muhammad bin Sulaiman bin Abdur Rahman Al-'Utsaimin At-Tamimi ( 29 Maret 1925 – 5 Januari 2001), lebih dikenal dengan nama Syaikh Ibnu 'Utsaimin atau Syaikh 'Utsaimin, adalah seorang ulama era kontemporer asal Arab Saudi. Ia pernah menjabat sebagai ketua di Dewan Ulama Senior Arab Saudi. #Riwayat hidup# Syaikh Utsaimin lahir di kota Unaizah pada tahun 1928. Saat kecil, ia mulai belajar membaca Al-Qur'an kepada kakeknya (ayah dari ibunya) yaitu Syaikh Abdurrahman bin Sulaiman Ali ad-Damigh, hingga dia hafal. Sesudah itu dia mulai mencari ilmu dan belajar khat (ilmu tulis menulis), ilmu hitung, dan beberapa bidang ilmu sastra kepada kakeknya tersebut. Kemudian Syaikh Utsaimin melanjutkan belajarnya di Maktab (sekolah kecil) Syaikh Abdurrahman as-Sa'di, Syaikh Abdurrahman as-Sa’di menugaskan kepada dua orang orang muridnya untuk mengajar para junior (murid-muridnya yang masih kecil). Dua murid tersebut adalah Syaikh Ali ash-Shalihin dan Syaikh Muhammad bin Abdil Aziz al-Muthawwi'. Kepada yang terakhir ini (Syaikh Muhammad bin Abdil Aziz al-Muthawwi') dia Syaikh Utsaimin mempelajari kitab "Mukhtashar Al-Aqidah Al-Wasithiyah" dan "Minhaju Salikin fil Fiqh" karya Syaikh Abdurrahman as-Sa’di. Disamping itu, Syaikh Utsaimin juga belajar ilmu faraidh (waris) dan fiqh kepada Syaikh Abdurrahman bin Ali bin 'Audan. Sedangkan kepada guru utama dia yaitu Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di, dia mengkaji masalah tauhid, tafsir, hadits, fiqh, ushul fiqh, faraidh, musthalahul hadits (ilmu-ilmu hadits), nahwu, dan sharaf. Syaikh Utsaimin termasuk murid yang memiliki kedudukan penting di sisi Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di. Ketika ayah Syaikh Utsaimin pindah ke Riyadh di usia pertumbuhan dia, dia pun ingin ikut bersama ayahnya. Oleh karena itu Syaikh Abdurrahman as-Sa’di mengirim surat kepada dia: "Hal ini tidak mungkin, kami menginginkan Muhammad (Syaikh Utsaimin) tetap tinggal di sini agar ia bisa mengambil faidah (ilmu)." Syaikh Utsaimin berkata tentang gurunya ini: "Sesungguhnya aku merasa terkesan dengan dia (Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di) dalam banyak cara dia mengajar, menjelaskan ilmu, dan pendekatan kepada para pelajar dengan contoh-contoh serta makna-makna (yang baik). Demikian pula aku terkesan dengan akhlak dia yang agung dan utama sesuai dengan kadar ilmu dan ibadahnya. Dia senang bercanda dengan anak-anak kecil dan bersikap ramah kepada orang-orang besar. Dia adalah orang yang paling baik akhlaknya yang pernah aku lihat (selama ini)." Ketika beranjak remaja, Syaikh Utsaimin belajar kepada Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz, disini Syaikh Utsaimin mempelajari kitab Shahih Bukhari, sebagian risalah-risalah (karya tulis) Ibnu Taimiyyah serta beberapa kitab-kitab fiqh. Dia berkata: "Aku terkesan terhadap Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz karena perhatian dia terhadap hadits, dan saya juga terkesan dengan akhlak dia serta sikap terbuka dia dengan manusia." Kemudian pada tahun 1951, dia duduk untuk mengajar di masjid Jami'. Ketika dibukanya institut-institut ilmu di Riyadh, dia pun mendaftarkan diri disana pada tahun 1952. Berkata Syaikh Utsaimin: "Saya masuk di lembaga pendidikan tersebut untuk tahun kedua setelah berkonsultasi dengan Syaikh Ali ash-Shalihin dan sesudah meminta ijin kepada Syaikh Abdurrahman as-Sa’di. Ketika itu Ma’had al ilmiyyah (Riyadh) dibagi menjadi 2 bagian, yaitu umum dan khusus. Saya berada pada bidang yang khusus. Pada waktu itu bagi mereka yang ingin "meloncat" ia dapat mempelajari tingkat berikutnya pada masa libur dan kemudian diujikan pada awal tahun ajaran kedua. Maka jika ia lulus, ia dapat naik ke pelajaran tingkat lebih tinggi setelah itu. Dengan cara ini saya dapat meringkas waktu." Syaikh Muhammad bin Ibrahim Alu Syaikh (mufti pertama Kerajaan Arab Saudi) pernah menawarkan bahkan meminta berulang kali kepada syaikh Utsaimin untuk menduduki jabatan Qadhi (hakim) tinggi, bahkan telah mengeluarkan surat pengangkatan sebagai ketua pengadilan agama di Al-Ihsa (Ahsa), namun dia (Syaikh Utsaimin) menolaknya. Setelah dilakukan pendekatan pribadi, Syaikh Muhammad bin Ibrahim pun mengabulkannya untuk menarik dirinya (Syaikh Utsaimin) dari jabatan tersebut. Sesudah dua tahun belajar, Syaikh Utsaimin lulus dan diangkat menjadi guru di ma’had Unaizah al-‘Ilmi sambil meneruskan studi dia secara intishab (Semacam Universitas Terbuka) pada fakultas syari’ah serta terus menuntut ilmu dengan bimbingan Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di. Ketika Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di wafat, dia menggantikan sebagai imam masjid jami’ di Unaizah dan mengajar di perpustakaan nasional Unaizah disamping tetap mengajar di ma’had al-'Ilmi. Kemudian dia pindah mengajar di fakultas syari’ah dan ushuludin di cabang universitas Imam Muhammad bin Su’ud Al-Islamiyah di Qasim. Syaikh 'Utsaimin wafat pada tahun 2001 di Jeddah, disholatkan di Masjidil Haram, dan dimakamkan di pemakaman Al-Adl Mekkah, Arab Saudi. #Karya-karya# Talkhis Al Hamawiyah, Tafsir Ayat Al-Ahkam, Syarh Umdatul Ahkam, Musthalah Hadits, Al Ushul min Ilmil Ushul, Risalah fil Wudhu wal Ghusl wash Shalah., Risalah fil Kufri Tarikis Shalah., Majalisu Ar Ramadhan., Al-Udhiyah wa Az Zakah., Al-Manhaj li Muridil Hajj wal Umrah., Tashil Al-Faraidh., Syarh Lum’atul I’tiqad., Syarh Al-Aqidah Al Wasithiyah., Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah., Al Qowaidul Mustla fi Siftillah wa Asma’ihil Husna., Risalah fi Annath Thalaq Ats-Tsalats Wahidah Walau Bikalimatin (belum dicetak)., Takhrij Ahadits Ar Raudh Al-Murbi’ (belum dicetak)., Risalah Al Hijab., Risalah fi Ash Shalah wa Ath Thaharah li Ahlil A’dzar., Risalah fi Mawaqit Ash Shalah., Risalah fi Sujud As Sahwi, Risalah fi Aqsamil Mudayanah., Risalah fi Wujubi Zakatil Huliyyi., Risalah fi Ahkamil Mayyit wa Ghuslihi (belum dicetak)., Tafsir Ayatil Kursi., Nailul Arab min Qawaid Ibnu Rajab (belum dicetak)., Ushul wa Qowa’id Nudhima ‘Alal Bahr Ar-Rajaz (belum dicetak)., Ad Diya’ Allami’ Minal Hithab Al-Jawami’., Al Fatawaa An Nisaa’iyyah, Zad Ad Da’iyah ilallah Azza wa Jalla., Fatawa Al-Hajj., Al-Majmu Al-Kabir Min Al-Fatawa., Huquq Da’at Ilaihal Fithrah wa Qarraratha Asy Syar’iyah., Al Khilaf Bainal Ulama, Asbabuhu wa Muaqifuna Minhu., Min Musykilat Asy-Syabab., Risalah fil Al Mash ‘alal Khuffain., Risalah fi Qashri Ash Shalah lil Mubtaisin., Ushul At Tafsir., Risalah Fi Ad Dima’ Ath Tabiiyah., As’illah Muhimmah., Al Ibtida’ fi Kamali Asy Syar’i wa Khtharil Ibtida’., Izalat As-Sitar ‘Anil Jawab , l-Mukhtar li Hidayatil Muhtar., Syarh Riyadhis Shalihin, Syarh Kitabut Tauhid, Syarh Al Arba'in An-Nawawiyah, Dan lain-lain. (sumber: https://id.wikipedia.org/wiki/Muhammad_bin_Shalih_al-Utsaimin). *Pakar Fiqih di Abad Ini, Syeikh Muhammad bin Sholeh Al ‘Utsaimin*#Nasab dan Kelahiran# Nama beliau adalah Abu ‘Abdillah Muhammad bin Sholeh bin ‘Utsaimin, dari Al Wuhabah, dari Bani Tamim. Syeikh Al ‘Utsaimin –rahimahullah Ta’ala- dilahirkan di ‘Unaizah (salah satu daerah di Qasim) pada 27 Ramadhan 1347 H. Beliau lahir di tengah-tengah keluarga yang bagus dalam agama dan selalu istiqomah. Beliau hanya memiliki seorang istri dan memiliki delapan anak (lima laki-laki dan tiga perempuan). #Menuntut Ilmu dan Guru-guru Beliau# Syeikh rahimahullah betul-betul telah mengikuti petunjuk salafush sholeh dalam menuntut ilmu. Awalnya beliau memulai dengan menghafalkan Al Qur’an Al Karim di kala masih kecil. Beliau menghafalkannya kepada kakek dari ibunya yaitu Syeikh ‘Abdurrahman bin Sulaiman Ali Daamigh rahimahullah. Kemudian beliau belajar dengan Syeikh -Al ‘Allamah Ahli Tafsir – ‘Abdurrahman bin Nashir As Sa’di rahimahullah, yang dianggap sebagai guru pertama beliau. Beliau mempelajari tauhid, tafsir, hadits dan fiqih. Beliau banyak mengambil faedah-faedah ilmu melalui pelajaran Syeikh As Sa’di selama kurang lebih sebelas tahun. Syeikh Ibnu Utsaimin adalah di antara murid Syeikh As Sa’di yang paling menonjol. Di tengah-tengah Syeikh Ibnu Utsaimin mempelajari masalah syair di Riyadh, beliau sempat belajar Kitab Shahih Al Bukhari pada Syeikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz rahimahullah. Beliau juga belajar beberapa risalah Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah Ta’ala dan beberapa kitab fiqih. Syeikh Ibnu Utsaimin tidaklah melakukan perjalanan dalam menuntut ilmu selain pada kota Riyadh saja hingga dibukalah beberapa Ma’had ‘Ilmiyah pada tahun 1372 H, lalu beliau pun mengikutinya. Tatkala Syeikh ‘Abdurrahman As Sa’di rahimahullah Ta’ala meninggal dunia, Syeikh Ibnu ‘Utsaimin diangkat menjadi Imam Masjid Al Jaami’ Al Kabir di ‘Unaizah. Beliau pun mengajar di Perpustakaan Nasional ‘Unaizah, sambil mengajar di Ma’had Al ‘Ilmi. Beliau pun berpindah mengajar di Fakultas Syari’ah dan Ushulid diin, cabang Universitas Al Imam Muhammad bin Su’ud Al Islamiyah di Qoshim. Syeikh Ibnu Utsaimin pernah menjabat sebagai anggota Hai’ah Kibaril ‘Ulama di Kerajaan Saudi Arabia hingga Allah mewafatkan beliau. Di antara guru-guru beliau juga adalah Syeikh Muhammad Al Amin bin Al Mukhtar Asy Syinqithiy, Syeikh Ali bin Muhammad Ash Sholihiy, dan Syeikh Muhammad bin ‘Abdul ‘Aziz Al Mathuu’. #Murid-murid Beliau# Syeikh Ibnu ‘Utsaimin sangta memiliki perhatian dengan murid-murid beliau. Beliau memiliki banyak murid dari seluruh penjuru dunia karena beliau terkenal luas dalam ilmu dan perhatian dalam mengajar. Beliau sangat menaruh perhatian pada murid-muridnya sampai-sampai beliau menganggap mereka semua seperti anak sendiri. Di antara bentuk perhatian beliau kepada mereka adalah beliau memberikan tempat tinggal, biaya hidup, perpustakaan yang penuh banyak kitab dan manuskrip-manuskrip (perpustakaan nasional). Syeikh Al Utsaimin sering menasehati murid-muridnya untuk menaati penguasa selama itu dalam hal menaati Allah, beliau mendorong untuk mencintai mereka dan mendoakan penguasa agar dapat berhukum dan menegakkan syari’at Islam, juga agar dapat memerintahkan pada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar. #Akhlaq Beliau# Beliau nampak sebagai seorang yang berilmu dan juga ahli ibadah. Beliau pun berakhlaq sebagaimana akhlaq Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, di mana akhlaq beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah Al Qur’an. Beliau rahimahullah terkenal sebagai orang yang sangat lembut, pemurah, tenang dan berwibawa. Jika orang-orang berkumpul di sekitar beliau di mana saja beliau ditemui, pasti orang-orang akan segera mengajukan berbagai pertanyaan, mengajukan permohonan dan syafa’at (meminta beliau sebagai perantara pada orang lain agar hajat mereka dipenuhi). Beliau selalu mendengarkan setiap permintaan orang-orang tadi, beliau pun memberikan harapan dan memberikan perhatian dalam masalah ini. Beliau pun selalu melatih dirinya untuk menahan amarah mengikuti teladan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. #Pendapat ‘Ilmiyyah Beliau# Syeikh Ibnu ‘Utsaimin adalah orang yang selalu mengikuti dalil. Hal ini Nampak begitu jelas tatkala beliau memberikan penjelasan (syarh) terhadap kitab Zaadul Mustaqni’. Walaupun memang beliau banyak menguatkan pendapa-pendapat Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah dan muridnya (Ibnul Qayyim) rahimahumallah, namun terkadang beliau juga menyelisihi pendapat mereka karena alasan mengikuti dalil. Sikap beliau ini sama dengan perkataan yang telah masyhur: Istadilla qobla an ta’taqida, wa laa ta’taqid tsumma tastasdillu fatadhillu (Carilah dalil terlebih dahulu sebelum engkau meyakini sesuatu. Janganlah engkau meyakini sesuatu dulu kemudian mencari. Jika seperti ini tentu engkau akan menemui kesesatan). #Cara Mengajar Beliau# Syeikh begitu banyak menghafalkan berbagai matan (kitab kecil). Beliau pun sangat mendorong murid-muridnya untuk menghafalkannya dalam setiap pelajaran. Beliau rahimahullah begitu mencurahkan perhatiannya tatkala memberikan penjelasan dan meneliti suatu permasalahan. Beliau pun sering memberikan penjelasan manakah pendapat terkuat dari pendapat para ulama yang ada, dan beliau memilih pendapat tersebut terlepas dari dorongan hawa nafsu. Selain itu, beliau pun sering menjadi pendengar setia terhadap apa yang disampaikan oleh muridnya atau orang lain. Di samping itu, beliau pun sering memberikan sanggahan. Di tengah-tengah beliau menjelaskan sesuatu, beliau pun sering mengajukan pertanyaan dengan tujuan untuk memberikan kepahaman. Kemudian setelah itu, beliau pun memberikan jawaban dari pertanyaan yang dia ajukan kepada murid-muridnya. #Penghargaan Internasional dari Raja Faishol# Sebuah yayasan yang biasa memberikan penghargaan internasional dari Raja Faishol, pada tahun 1414 H memberikan penghargaan kepada Syeikh Muhammad bin Sholeh Al ‘Utsaimin atas pengabdian beliau yang begitu besar bagi kaum muslimin. #Sakit di Akhir Hayat Beliau# Di akhir hayat, Syeikh rahimahullah menderita penyakit kanker. Beliau pun didesak oleh penguasa untuk berobat di luar negeri yaitu di Amerika Serikat. Dan di sana ketika beliau diobati, beliau pun diminta untuk mencukur rambut kepalanya. Kemudian Syaikh bertanya, “Apakah jenggotku juga ingin dipotong?” Para dokter mengatakan, “Iya.” Beliau pun menjawab, “Aku tidak suka jika harus bertemu Rabbku dalam keadaan tidak berjenggot.” Lalu Syeikh pun kembali ke Saudi Arabia, lalu beliau dirawat di rumah sakit Raja Faishol. Kemudian beliau keluar dari rumah sakit dan beliau pun kembali mengajar pada 9 Ramadhan di Masjidil Harom. Namun ketika itu, beliau hanya menggunakan pengeras suara dari sebuah ruangan khusus. Beliau pun masih sempat menjawab beberapa pertanyaan, namun beliau enggan untuk dibesuk. Lalu beliau meninggalkan rumah sakit dan kondisi beliau kembali membaik. Namun keadaan beliau beberapa saat kemudian kembali memburuk sehingga beliau pun meninggal dunia. #Wafat Beliau# Beliau meninggal dunia pada jam enam waktu Maghrib pada hari Rabu, 15/10/1421 H. Umur beliau ketika itu adalah 74 tahun, 18 hari. Semoga Allah selalu merahmati dan memberikan kehidupan terbaik bagi beliau. (sumber: https://rumaysho.com/568-pakar-fiqih-di-abad-ini.html). *Biografi Ringkas Syaikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin* Berikut biografi ringkas Syaikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin rahimahullah, semoga apa yang kami sajikan ini bermanfaat untuk Anda. #Nasabnya#
Beliau adalah Abu Abdillah, Muhammad bin Sholih Al Utsamin, Al Wuhaibi, At Tamimi. #Kelahirannya# Beliau dilahirkan di kota ‘Unaizah pada tanggal 27 Ramadhan tahun 1347 H. #Pertumbuhannya# Beliau belajar al-Qur’an pada kakeknya dari jalur ibunya, Abdurrahman bin Sulaiman Alu Damigh rahimahullah, kemudianmenghafalnya. Setelah itu beliau mulai belajar khat (menulis), ilmu hitung, dan sebagian cabang ilmu sastra. Syaikh Abdurrahman bin Naashir As Sa’di mengangkat dua orang muridnya untuk mengajar penuntut ilmu yunior yaitu syaikh Ali As Shalihi dan syaikh Muhammad bin Abdul ‘Aziz Al Muthawi’ rahimahullah. Kepadanya syaikh Utsaimin belajar kitab Mukhtashar al Aqidah Al Wasithiyah karya Syaikh Abdurrahman As Sa’di, kitab Minhaj as Salikin fil Fiqh karya syaikh Abdurrahman As Sa’di, Kitab Al Ajrumiyah dan al Alfiyah. Beliau belajar faraid (ilmu waris) dan fiqih kepada Syaikh Abdurrahman bin ‘Ali bin ‘Audan. Beliau belajar kepada Syaikh Abdurrahman bin Naashir As Sa’di yang beliau anggap sebagai syaikh pertamanya. Beliau bermulazamah kepadanya, belajar ilmu Tauhid, Tafsir, Hadits, Fiqih, Ushul Fiqih, Faraid, Musthalah al Hadits, Nahwu dan Sharaf.
Beliau memiliki kedudukan yang khusus di sisi Syaikh As Sa’di, sehingga ketika orang tua beliau pindah ke Riyad, orang tuanya menginginkan agar beliau ikut pindah padahal saat itu adalah awal perkembangannya, maka Syaikh Abdurrahman As Sa’di rahimahullah, menulis surat kepada orang tuanya yang di antara isinya, “Hal ini tidak mungkin, kami ingin agar Muhammad tinggal di sini supaya tetap belajar.” Syaikh Muhammad bin Shalih al Utsaimin mengatakan, “Sungguh, saya banyak terpengaruh dengan beliau dalam metode pengajaran, pemaparan ilmu, serta pendekatannya terhadap penuntut ilmu dengan memberikan contoh-contoh dan makna-makna. Demikian juga saya terkesan terhadap beliau dari sisi akhlaknya, beliau memiliki akhlak yang mulia, beliau memiliki kedudukan yang tinggi di dalam hal ilmu dan ibadah, beliau mencandai anak-anak kecil serta tertawa kepada yang besar. Beliau termasuk di antara orang yang paling baik akhlaknya yang pernah saya lihat.” Syaikh Utsaimin juga belajar kepada Syaikh Abdul ‘Aziz bin Baz yang beliau anggap sebagai syaikhnya yang kedua. Beliau memulainya dengan belajar Shahih Bukhari, sebagian risalah Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dan beberapa kitab fikih. Beliau mengatakan, “Aku terkesan dengan Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz Hafizhahullah tentang perhatiannya terhadap hadits, akhlaknya serta kelapangan jiwanya terhadap orang lain.” Pada tahun 1371 H beliau mengajar di masjid Jami’. Ketika Ma’had ‘Ilmiyah didirikan di Riyadh beliau memasukinya pada tahun 1372, beliau mengatakan, “Saya memasuki ma’had ‘Ilmi pada tahun kedua, saya memasukinya atas saran dari syaikh ‘Ali as Shalihi setelah saya meminta izin kepada Syaikh ‘Abdurrahman As Sa’di, semoga Allah merahmatinya. Pada waktu itu ma’had ‘ilmi terbagi menjadi dua bagian yaitu khusus dan umum, sedangkan saya masuk pada bagian khusus. Pada waktu itu juga siapa saja yang menginginkan maka bisa ‘melompat’, demikian mereka menyebutnya, maksudnya seseorang belajar pelajaran kelas tingkat di atasnya pada waktu liburan kemudian mengikuti ujian pada awal tahun kedua, jika ia lulus ia boleh pindah ke kelas di atasnya sehingga dengan demikian masa studi bisa lebih singkat. Setelah dua tahun beliau lulus dan ditetapkan sebagai pengajar di Ma’had ‘Unaizah al ‘Ilmi sambil melanjutkan kuliah jarak jauh pada fakultas syari’ah serta melanjutkan menuntut ilmu pada Syaikh ‘Abdurrahman As Sa’di. Ketika Syaikh ‘Abdurrahman as Sa’di rahimahullah meninggal dunia beliau diangkat menjadi imam Masjid Jami’ al Kabir di ‘Unaizah dan mengajar di Perpustakaan Nasional di samping mengajar di Ma’had ‘al ‘Ilmi. Kemudian beliau pindah untuk mengajar di fakultas syari’ah dan ushuluddin Universitas Imam Muhammad bin Su’ud al islamiyah cabang Qosim. Selain sebagai anggota Haiah Kibarul ‘Ulama di kerajaan Arab Saudi, beliau memiliki semangat dan aktivitas yang besar dalam berdakwah kepada Allah ‘azza wa jalla dan membimbing para da’i di berbagai tempat. Beliau juga memiliki perjuangan yang berharga pada medan dakwah. Sehingga sangat layak untuk disebutkan juga bahwa syaikh Muhammad bin Ibrahim rahimahullah pernah menawari bahkan mendesak beliau untuk menjadi qodhi(hakim) bahkan telah mengeluarkan Keputusan dengan menetapkan beliau hafizhahullah sebagai kepala Mahkamah Syari’ah di Ihsa’ namun beliau meminta untuk dibebaskan tugaskan dari tugas tersebut. Setelah adanya pertimbangan-pertimbangan dan pendekatan personal dari Syaikh maka beliau diizinkan untuk dibebaskan dari jabatan sebagai hakim. #Karya-Karyanya# Beliau memiliki tulisan yang banyak mencapai 40 berupa kitab dan risalah yang akan dikumpulkan –insya Allah– dalam Majmu al Fatawa wa ar Rasail. (Sumber: https://muslim.or.id/53-biografi-ringkas-syaikh-muhammad-bin-sholih-al-utsaimin.html). Blog ini dibuat dengan tujuan untuk menambah ilmu si Pembaca, tidak ada keuntungan Ekonomi sedikitpun yang diperoleh dari Pembuat. Tulisan diatas merupakan gabungan beberapa artikel dan ditulis juga sumbernya.
Comments
Post a Comment