Syekh Nawawi al Bantani RA (H. Yudhi)

Syekh Nawawi al Bantani RA (H. Yudhi). Al-Imaam Al-'Allaamah Asy-Syekh Muhammad Nawawi bin Umar al-Jawi al-Bantani at-Tanari asy-Syafi'i atau lebih dikenal Syekh Nawawi al-Bantani (lahir di Tanara, Serang, sekitar tahun 1230 Hijriyah atau 1813 Masehi - wafat di Mekkah, Hijaz, sekitar tahun 1314 Hijriyah atau 1897 Masehi) adalah salah seorang 'ulama besar asal Indonesia bertaraf Internasional yang menjadi Imam Masjidil Haram di Saudi Arabia. Ia bergelar al-Bantani karena berasal dari Banten, Indonesia. Ia adalah seorang ulama dan intelektual yang sangat produktif menulis kitab, jumlah karyanya tidak kurang dari 115 kitab yang meliputi bidang ilmu fiqih, tauhid, tasawuf, tafsir, dan hadis. Karena kemasyhurannya, Syekh Nawawi al-Bantani kemudian dijuluki Sayyid Ulama al-Hijaz (Pemimpin Ulama Hijaz), al-Imam al-Muhaqqiq wa al-Fahhamah al-Mudaqqiq (Imam yang Mumpuni ilmunya), A'yan Ulama al-Qarn al-Ram Asyar li al-Hijrah (Tokoh Ulama Abad 14 Hijriyah), hingga Imam Ulama al-Haramain, (Imam 'Ulama Dua Kota Suci). #Biografi# Syekh Nawawi lahir di Kampung Tanara Desa Tanara, sebuah desa kecil di kecamatan Tirtayasa (dulu, sekarang Kecamatan Tanara), Kabupaten Serang, Banten pada tahun 1230 Hijriyah atau 1815 Masehi, dengan nama Muhammad Nawawi bin 'Umar bin 'Arabi al-Bantani. Dia adalah sulung dari tujuh bersaudara, yaitu Ahmad Syihabudin, Tamim, Said, Abdullah, Tsaqilah dan Sariyah. Ia merupakan generasi ke-12 dari Sultan Maulana Hasanuddin, raja pertama Banten Putra Sunan Gunung Jati, Cirebon. Ayah Syekh Nawawi merupakan seorang Ulama lokal di Banten, Syekh Umar bin Arabi al-Bantani, sedangkan ibunya bernama Zubaedah, seorang ibu rumah tangga biasa. Syaikh Nawawi menikah dengan Nyai Nasimah, gadis asal Tanara, Serang dan dikaruniai 3 orang anak: Nafisah, Maryam, Rubi'ah. Sang istri wafat mendahului dia. #Pendidikan# Sejak berusia lima tahun, Syekh Nawawi sudah mulai belajar ilmu agama Islam langsung dari ayahnya. Bersama saudara-saudara kandungnya, Syekh Nawawi mempelajari tentang pengetahuan dasar bahasa Arab, fiqih, tauhid, al-Quran dan tafsir. Pada usia delapan tahun bersama kedua adiknya, Tamim dan Ahmad, Syekh Nawawi berguru kepada K.H. Sahal, salah seorang ulama terkenal di Banten saat itu. Kemudian melanjutkan kegiatan menimba ilmu kepada Syekh Baing Yusuf Purwakarta. Di usianya yang belum genap lima belas tahun, Syekh Nawawi telah mengajar banyak orang, sampai kemudian ia mencari tempat di pinggir pantai agar lebih leluasa mengajar murid-muridnya yang kian hari bertambah banyak. Baru setelah usianya mencapai lima belas tahun, Syekh Nawawi menunaikan haji dan kemudian berguru kepada sejumlah ulama masyhur di Mekah saat itu. #Guru-Gurunya# Berikut adalah para ulama yang pernah ditimba ilmunya oleh Syekh Nawawi: 1. Syekh Umar bin Arabi al-Bantani (Ayahnya) 2. K.H. Sahal al-Bantani 3. Syekh Baing Yusuf Purwakarta 4. Syekh Ahmad Khatib asy-Syambasi 5. Syekh Ahmad Zaini Dahlan 6. Syekh Abdul Ghani al-Bimawi 7. Syekh Yusuf Sumbulaweni 8. Syekh Abdul Hamid Daghestani 9. Syekh Sayyid Ahmad Nahrawi 10. Syekh Ahmad Dimyati 11. Syekh Muhammad Khatib Duma al-Hambali 12. Syekh Muhammad bin Sulaiman Hasbullah al-Maliki 13. Syekh Junaid al-Batawi 14. Syekh Zainuddin Aceh 15. Syekh Syihabuddin 16. Syekh Yusuf bin Muhammad Arsyad al-Banjari 17. Syekh Abdush Shamad bin Abdurahman al-Falimbani 18. Syekh Mahmud Kinan al-Falimbani 19. Syekh Aqib bin Hasanuddin al-Falimbani 20. Dan lain sebagainya. #Peranan dan Perjuangan# Nasionalisme dan Pengabdian di Masjidil Haram# Setelah tiga tahun bermukim di Mekkah, Syekh Nawawi pulang ke Banten sekitar tahun 1828 Masehi. Sampai di tanah air dia menyaksikan praktik-praktik ketidakadilan, kesewenang-wenangan, dan penindasan yang dilakukan pemerintah Hindia Belanda terhadap rakyat. Tak ayal, gelora jihad pun berkobar. Sebagai intelektual yang memiliki komitmen tinggi terhadap prinsip-prinsip keadilan dan kebenaran, Syekh Nawawi kemudian berdakwah keliling Banten mengobarkan perlawanan terhadap penjajah sampai pemerintah Belanda membatasi gara-geriknya, seperti dilarang berkhutbah di masjid-masjid. Bahkan belakangan dia dituduh sebagai pengikut Pangeran Diponegoro yang ketika itu sedang mengobarkan perlawanan terhadap penjajahan Belanda (1825 - 1830 Masehi), hingga akhirnya ia kembali ke Mekkah setelah ada tekanan pengusiran dari Belanda, tepat ketika puncak terjadinya Perlawanan Pangeran Diponegoro pada tahun 1830. Begitu sampai di Mekkah dia segera kembali memperdalam ilmu agama kepada guru-gurunya. Syekh Nawawi mulai masyhur ketika menetap di Syi'ib 'Ali, Mekkah. Dia mengajar di halaman rumahnya. Mula-mula muridnya cuma puluhan, tetapi semakin lama jumlahnya kian banyak. Mereka datang dari berbagai penjuru dunia. Hingga jadilah Syekh Nawawi al-Bantani sebagai ulama yang dikenal piawai dalam ilmu agama, terutama tentang tauhid, fiqih, tafsir, dan tasawwuf. Nama Syekh Nawawi al-Bantani semakin masyhur ketika dia ditunjuk sebagai Imam Masjidil Haram, menggantikan Syaikh Achmad Khotib Al-Syambasi atau Syekh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi. Tidak hanya di kota Mekkah dan Madinah saja dia dikenal, bahkan di negeri Suriah, Mesir, Turki, hingga Hindustan namanya begitu masyhur. #Pemikiran Penting# Syekh Nawawi memegang peran sentral di tengah ulama al-Jawwi. Dia menginspirasi komunitas al-Jawwi untuk lebih terlibat dalam studi Islam secara serius, tetapi juga berperan dalam mendidik sejumlah ulama pesantren terkemuka. Bagi Syekh Nawawi, masyarakat Islam di Indonesia harus dibebaskan dari belenggu Kolonialisme. Dengan mencapai kemerdekaan, ajaran-ajaran Islam akan dengan mudah dilaksanakan di Nusantara. Pemikiran ini mendorong Syekh Nawawi untuk selalu mengikuti perkembangan dan perjuangan di tanah air dari para murid yang berasal dari Indonesia serta menyumbangkan pemikirannya untuk kemajuan masyarakat Indonesia. Selain pelajaran agama, Syekh Nawawi juga mengajarkan makna kemerdekaan, anti Kolonialisme dan Imperialisme dengan cara yang halus. Mencetak kader patriotik yang di kemudian hari mampu menegakkan kebenaran. Perjuangan yang dilakukan Syekh Nawawi memang tidak dalam bentuk revolusi fisik, namun lewat pendidikan dalam menumbuhkan semangat kebangkitan dan jiwa nasionalisme. Disamping itu, upaya pembinaan yang dilakukan Syekh Nawawi terhadap komunitas al-Jawwi di Mekkah juga menjadi perhatian serius dari pemerintahan Belanda di Indonesia. Produktivitas komunitas al-Jawwi untuk menghasilkan alumni-alumni yang memiliki integritas keilmuan agama dan jiwa nasionalisme, menjadi kekhawatiran tersendiri bagi Belanda. Untuk mengantisipasi ruang gerak komunitas al-Jawwi ini maka pemerintah Belanda mengutus penasihat pemerintah, Christian Snouck Hurgronje untuk berkunjung ke Mekkah pada tahun 1884 - 1885. Kedatangan Snouck ini bertujuan untuk meneliti lebih lanjut dan melihat secara langsung berbagai hal yang telah dilakukan oleh ulama Indonesia yang tergabung dalam komunitas al-Jawwi. #Pendapat Syaikh Nawawi Tentang Ziarah Kubur# Pada saat itu muncul kelompok yang melarang praktik ziarah kubur dengan alasan bidah, namun Syekh Nawawi tidak menentang praktik ini. Pendapat ini dilandasi temuan Syekh Nawawi tentang ketentuan hukumnya dalam ajaran Islam. Syekh Nawawi bahkan menganjurkan umat Islam untuk menghormati makam-makam orang yang berjasa dalam sejarah Islam, termasuk makam Nabi ﷺ dan para sahabat. Menurut Syekh Nawawi, Mengunjungi makam Nabi ﷺ adalah praktik ibadah yang identik dengan bertemu muka (tawajjuh) dengan Nabi ﷺ dan mengingatkan kebesaran perjuangan dan prestasi yang patut untuk diteladani. #Murid-Muridnya# Di antara murid-murid Syekh Nawawi yang menjadi ulama berpengaruh antara lain: 1. Syekh Muhammad Mahfudz at-Tarmasi 2. Syekh Kholil al-Bangkalani, Madura 3. Syekh Tubagus Ahmad Bakri as-Sampuri 4. Syekh Tubagus Muhammad Asnawi al-Bantani, Caringin, Labuan, Pandeglang 5. Syekh Arsyad Thawil al-Bantani - Pejuang Geger Cilegon 1888 dan Penyebar Islam di Sulawesi Utara 6. Syekh Hasan Mustopa al-Qoruti 7. Syekh Abu al-Faidh Abdus Sattar bin Abdul Wahhab ad-Dahlawi, Delhi, India - Pengajar di Masjidil Haram 8. Sayyid Ali bin Ali al-Habsy - Pengajar di Masjidil Haram 9. Syekh Muhammad Zainuddin bin Badawi as-Sumbawi, Sumbawa, Nusa Tenggara Barat 10. Syekh Abdul Qadir bin Mustafa al-Fathani, Pattani, Thailand 11. Syekh Abdul Haq bin Abdul Hannan al-Bantani - Cucu Syekh Nawawi 12. Syekh Sholeh Darat as-Samarani 13. K.H. Hasyim Asyari, Jombang - Pendiri Nahdlatul Ulama 14. K.H. Ahmad Dahlan, Yogyakarta - Pendiri Muhammadiyah 15. Syekh Sulaiman Arrasuli - Pendiri PERTI 16. K.H. Hasan Genggong - Pendiri Pesantren Zainul Hasan Genggong 17. K.H. Mas Abdurahman - Pendiri Mathla'ul Anwar 18. K.H. Raden Asnawi, Kudus 19. Haji Abdul Karim Amrullah, Sumatera Barat 20. K.H. Thahir Jamaluddin, Singapura 21. K.H. Dawud, Perak, Malaysia 22. K.H. Hasan Asyari, Bawean 23. K.H. Najihun, Mauk, Tangerang 24. K.H. Abdul Ghaffar, Tirtayasa, Serang 25. K.H. Ilyas, Kragilan, Serang 26. K.H. Wasyid - Pejuang Geger Cilegon 1888 27. K.H. Tubagus Ismail - Pejuang Geger Cilegon 1888 28. K.H. Arsyad Qashir al-Bantani - Pejuang Geger Cilegon 1888 29. K.H. Abdurrahman - Pejuang Geger Cilegon 1888 30. K.H. Haris - Pejuang Geger Cilegon 1888 31. K.H. Aqib - Pejuang Geger Cilegon 1888 32. Dan lain sebagainya. #Kisah Syekh Nawawi dan Murid-muridnya# K.H. Hasyim Asyari# K.H. Hasyim Asyari saat mengajar santri-santrinya di Pondok Pesantren Tebuireng sering menangis jika membaca kitab fiqih Fath al-Qarib yang dikarang oleh Syekh Nawawi. Kenangan terhadap sang gurunya itu amat mendalam di hatinya hingga haru tak kuasa ditahannya setiap kali baris Fath al-Qarib ia ajarkan kepada para santrinya. #Gelar-gelar# Di antara gelar kehormatan yang disematkan kepada Syekh Nawawi al-Bantani adalah sebagai berikut: 1. al-Sayyid al-'Ulama al-Hijaz (tokoh ulama Hijaz) atau Sayyidul Hijaz (penjaga Hijaz) 2. Nawawi at-Tsani (Nawawi kedua). Orang pertama yang memberi gelar ini pada Syekh Nawawi adalah Wan Ahmad bin Muhammad Zain al-Fathani 3. al-Imam wa al-Fahm al-Mudaqqiq (tokoh dan pakar dengan pemahaman yang sangat mendalam) 4. A'yan 'Ulama al-Qarn ar-Ram 'Asyar Li al-Hijrah (tokoh ulama abad 14 Hijriyah) 5. Imam 'Ulama Al-Haramain (Imam Ulama Dua Kota Suci) 6. Doktor Ketuhanan (orang pertama yang memberikan gelar ini pada Syekh Nawawi adalah Christiaan Snouck Hurgronje) 7. asy-Syaikh al-Fakih (disematkan oleh kalangan pesantren) 8. Bapak Kitab Kuning Indonesia (disematkan oleh para Ulama Indonesia). #Karya-Karyanya# Ulama asal Mesir, Syekh 'Umar 'Abdul Jabbar dalam kitabnya "al-Durus min Madhi al-Ta'lim wa Hadlirih bi al-Masjidil al-Haram” (beberapa kajian masa lalu dan masa kini tentang Pendidikan Masa kini di Masjidil Haram) menulis bahwa Syekh Nawawi sangat produktif menulis hingga karyanya mencapai seratus judul lebih yang meliputi berbagai disiplin ilmu. Banyak pula karyanya yang berupa syarah atau komentar terhadap kitab-kitab klasik. Sebagian dari karya-karya Syekh Nawawi (yang masih berbahasa arab) di antaranya adalah sebagai berikut: 1. al-Tsamar al-Yani'ah syarah al-Riyadl al-Badi'ah 2. al-'Aqd al-Tsamin syarah Fath al-Mubîn 3. Sullam al-Munâjah syarah Safînah al-Shalâh 4. Baĥjah al-Wasâil syarah al-Risâlah al-Jâmi’ah bayn al-Usûl wa al-Fiqh wa al-Tasawwuf 5. al-Tausyîh/ Quwt al-Habîb al-Gharîb syarah Fath al-Qarîb al-Mujîb 6. Niĥâyah al-Zayyin syarah Qurrah al-‘Ain bi Muĥimmâh al-Dîn 7. Marâqi al-‘Ubûdiyyah syarah Matan Bidâyah al-Ĥidâyah 8. Nashâih al-‘Ibâd syarah al-Manbaĥâtu ‘ala al-Isti’dâd li yaum al-Mi’âd 9. Salâlim al-Fadhlâ΄ syarah Mandhûmah Ĥidâyah al-Azkiyâ΄ 10. Qâmi’u al-Thugyân syarah Mandhûmah Syu’bu al-Imân 11. al-Tafsir al-Munîr li al-Mu’âlim al-Tanzîl al-Mufassir ‘an wujûĥ mahâsin al-Ta΄wil musammâ Murâh Labîd li Kasyafi Ma’nâ Qur΄an Majîd 12. Kasyf al-Marûthiyyah syarah Matan al-Jurumiyyah 13. Fath al-Ghâfir al-Khathiyyah syarah Nadham al-Jurumiyyah musammâ al-Kawâkib al-Jaliyyah 14. Nur al-Dhalâm ‘ala Mandhûmah al-Musammâh bi ‘Aqîdah al-‘Awwâm 15. Tanqîh al-Qaul al-Hatsîts syarah Lubâb al-Hadîts 16. Madârij al-Shu’ûd syarah Maulid al-Barzanji 17. Targhîb al-Mustâqîn syarah Mandhûmah Maulid al-Barzanjî 18. Fath al-Shamad al ‘Âlam syarah Maulid Syarif al-‘Anâm 19. Fath al-Majîd syarah al-Durr al-Farîd 20. Tîjân al-Darâry syarah Matan al-Baijûry 21. Fath al-Mujîb syarah Mukhtashar al-Khathîb 22. Murâqah Shu’ûd al-Tashdîq syarah Sullam al-Taufîq 23. Kâsyifah al-Sajâ syarah Safînah al-Najâ 24. al-Futûhâh al-Madaniyyah syarah al-Syu’b al-Îmâniyyah 25. ‘Uqûd al-Lujain fi Bayân Huqûq al-Zaujain 26. Qathr al-Ghais syarah Masâil Abî al-Laits 27. Naqâwah al-‘Aqîdah Mandhûmah fi Tauhîd 28. al-Naĥjah al-Jayyidah syarah Naqâwah al-‘Aqîdah 29. Sulûk al-Jâdah syarah Lam’ah al-Mafâdah fi bayân al-Jumu’ah wa almu’âdah 30. Hilyah al-Shibyân syarah Fath al-Rahman 31. al-Fushûsh al-Yâqutiyyah ‘ala al-Raudlah al-Baĥîyyah fi Abwâb al-Tashrîfiyyah 32. al-Riyâdl al-Fauliyyah 33. Mishbâh al-Dhalâm’ala Minĥaj al-Atamma fi Tabwîb al-Hukm 34. Dzariyy’ah al-Yaqîn ‘ala Umm al-Barâĥîn fi al-Tauhîd 35. al-Ibrîz al-Dâniy fi Maulid Sayyidina Muhammad al-Sayyid al-Adnâny 36. Baghyah al-‘Awwâm fi Syarah Maulid Sayyid al-Anâm 37. al-Durrur al-Baĥiyyah fi syarah al-Khashâish al-Nabawiyyah 38. Lubâb al-bayyân fi ‘Ilmi Bayyân. Karya tafsirnya, al-Munir, sangat monumental, bahkan ada yang mengatakan lebih baik dari Tafsir al-Jalalain, karya Imam Jalaluddin as-Suyuthi dan Imam Jalaluddin al-Mahalli yang sangat terkenal. Sementara Kasyifah al-Saja merupakan syarah atau komentar terhadap kitab fiqih Safinatun Najah, karya Syekh Salim bin Sumeir al-Hadhramy. Karya-karya dia di bidang Ilmu Akidah misalnya adalah Tijan ad-Darary, Nur al-Dhalam, Fath al-Majid. Sementara dalam bidang Ilmu Hadits misalnya Tanqih al-Qaul. Karya-karya dia di bidang Ilmu Fiqih yakni Sullam al-Munajah, Nihayah al-Zain, Kasyifah al-Saja, dan yang sangat terkenal di kalangan para santri pesantren di Jawa yaitu Syarah ’Uqud al-Lujain fi Bayan Huquq al-Zaujain. Adapun Qami'u al-Thugyan, Nashaih al-'Ibad dan Minhaj al-Raghibi merupakan karya tasawwuf. Sebagian dari karya-karya Syekh Nawawi yang sudah diterjemahkan ke dalam berbahasa Indonesia di antaranya adalah sebagai berikut : 1. Fathul Majid (Panduan Permunian Tauhid), diterbitkan oleh PT. Manawa Hijrah Pustaka 2. Hilyatush Shibyan (Ilmu Tajwid Lanjutan), diterbitkan oleh PT. Manawa Hijrah Pustaka 3. Tanqihul Qaul (Panduan Evaluasi Diri Meraih Keutaman Hidup), diterbitkan oleh PT. Manawa Hijrah Pustaka 4. Sullamul Munajat (Kunci Keselamatan Dunia Akhirat), diterbitkan oleh PT. Manawa Hijrah Pustaka 5. Maroqil Ubudiyyah (Jalan Menggapai Kedekatan Ilahi), diterbitkan oleh PT. Manawa Hijrah Pustaka 6. Nashoihul Ibad (Pesan-Pesan Pencerahan Jiwa), diterbitkan oleh PT. Manawa Hijrah Pustaka 7. Qomiuth Thughyan (77 Bukti Keimanan dlm Kehidupan), diterbitkan oleh PT. Manawa Hijrah Pustaka #Karamah# Telunjuk Bersinar dan Dapat Menjadi Lampu Penerang# Pada suatu waktu di sebuah perjalanan dalam syuqduf (rumah-rumahan di punggung unta) Syekh Nawawi pernah mengarang kitab dengan menggunakan telunjuknya sebagai lampu. Hal tersebut terjadi karena tidak ada cahaya dalam syuqduf yang ia tumpangi, sementara aspirasi untuk menulis kitab tengah kencang mengisi kepalanya. Syekh Nawawi kemudian berdoa kepada Allah agar telunjuk kirinya dapat menjadi lampu, menerangi jari kanan yang akan digunakannya untuk menulis. Kitab yang kemudian lahir dengan nama Maraqi al-'Ubudiyyah syarah Matan Bidayah al-Hidayah itu harus dibayarnya dengan cacat pada jari telunjuk kiri, karena cahaya yang diberikan Allah pada telunjuk kirinya itu membawa bekas yang tidak hilang. #Jasad yang Tetap Utuh# Telah menjadi kebijakan Pemerintah Arab Saudi bahwa orang yang telah dikubur selama setahun kuburannya harus digali. Tulang belulang si mayat kemudian diambil dan disatukan dengan tulang belulang mayat lainnya. Selanjutnya semua tulang itu dikuburkan di tempat lain di luar kota dan lubang kubur yang dibongkar dibiarkan tetap terbuka hingga datang jenazah berikutnya terus silih berganti. Kebijakan tersebut dijalankan tanpa pandang bulu hingga menimpa pula pada makam Syekh Nawawi. Setelah kuburnya genap berusia satu tahun, datanglah petugas dari pemerintah kota untuk menggali kuburnya. Tetapi yang terjadi adalah hal yang tak lazim. Para petugas kuburan itu tak menemukan tulang belulang seperti biasanya, yang mereka temukan adalah satu jasad yang masih utuh. Tidak kurang satu apapun, tidak lecet dan tidak ada tanda-tanda pembusukan seperti lazimnya jenazah yang telah lama dikubur. Bahkan kain kafan penutup jasad Syekh Nawawi tidak sobek dan tidak lapuk sedikitpun. Terang saja kejadian tersebut mengejutkan para petugas. Mereka lari berhamburan mendatangi atasannya dan menceritakan apa yang telah terjadi. Setelah diteliti, sang atasan kemudian menyadari bahwa makam yang digali itu bukan makam orang sembarangan. Langkah strategis lalu diambil, yaitu larangan dari pemerintah untuk membongkar makam Syekh Nawawi. Jasadnya lalu dikuburkan kembali seperti sediakala, dan hingga sekarang makam Syekh Nawawi tetap berada di Ma'la, Mekah. #Shalat di Dalam Mulut Ular Besar# Suatu hari ketika dalam perjalanan, Syekh Nawawi istirahat di sebuah tempat untuk azan kemudian salat. Setelah ia azan ternyata tidak ada orang yang datang, akhirnya ia qamat lalu salat sendirian. Usai shalat Syekh Nawawi kembali melanjutkan perjalanan, tapi ketika menengok ke belakang, ternyata ada seekor ular raksasa dan mulutnya sedang menganga. Akhirnya ia tersadar bahwa ternyata ia salat di dalam mulut ular yang sangat besar itu. #Menghasilkan Karya-karya yang Fenomenal# Karamah Syekh Nawawi yang paling tinggi dapat dirasakan ketika membuka lembar demi lembar Tafsir Munir yang ia karang. Kitab Tafsir fenomenal tersebut menerangi jalan siapa saja yang ingin memahami firman Allah. Begitu juga dari kalimat-kalimat lugas kitab fiqih, Kasyifah al-Saja yang menerangkan syariat. Dan ratusan hikmah di dalam kitab Nashaih al-'Ibâd. Serta ratusan kitab lainnya yang akan terus menyirami umat dengan cahaya abadi dari buah tangan Syekh Nawawi al-Bantani. #Wafat# Syekh Nawawi wafat di Mekah pada tanggal 25 Syawal 1314 Hijriyah atau 1897 Masehi. Makamnya terletak di Jannatul Mu'alla, Mekah. Makam dia bersebelahan dengan makam anak perempuan dari Sayyidina Abu Bakar Ash-Shiddiq, Asma΄ binti Abû Bakar al-Siddîq. Meski wafat di Jazirah Arab, namun hingga kini setiap tahunnya selalu diadakan haul atau peringatan wafatnya Syekh Nawawi al-Bantani di tanah air, tepatnya di Pondok Pesantren An-Nawawi Tanara di Tanara, Serang, asuhan K.H. Ma'ruf Amin. Haul Syekh Nawawi selalu ramai dihadiri para santri Nusantara, bahkan mancanegara. (sumber: https://id.wikipedia.org/wiki/Nawawi_al-Bantani). *BIOGRAFI Syekh Muhammad Nawawi al-Jawi al-Bantani* adalah seorang ulama Indonesia bertaraf Internasional yang menjadi Imam Masjidil Haram. Ia bergelar al-Bantani karena berasal dari Banten, Indonesia. Ia adalah seorang ulama dan intelektual yang sangat produktif menulis kitab, jumlah karyanya tidak kurang dari 115 kitab yang meliputi bidang ilmu fiqih, tauhid, tasawuf, tafsir, dan hadis. Karena kemasyhurannya, Syekh Nawawi al-Bantani kemudian dijuluki Sayyid Ulama al-Hijaz (Pemimpin Ulama Hijaz), al-Imam al-Muhaqqiq wa al-Fahhamah al-Mudaqqiq (Imam yang Mumpuni ilmunya), A'yan Ulama al-Qarn al-Ram Asyar li al-Hijrah. Abad 14 Hijriyah), hingga Imam Ulama al-Haramain, (Imam 'Ulama Dua Kota Suci). Syekh Nawawi lahir di Kampung Tanara Desa Tanara, sebuah desa kecil di kecamatan Tirtayasa (dulu, sekarang Kecamatan Tanara), Kabupaten Serang, Banten pada tahun 1230 Hijriyah atau 1815 Masehi, dengan nama Muhammad Nawawi bin 'Umar bin 'Arabi al-Bantani. Dia adalah sulung dari tujuh bersaudara, yaitu Ahmad Syihabudin, Tamim, Said, Abdullah, Tsaqilah dan Sariyah. Ia merupakan generasi ke-12 dari Sultan Maulana Hasanuddin, raja pertama Banten Putra Sunan Gunung Jati, Cirebon. Nasabnya melalui jalur Kesultanan Banten ini sampai kepada Nabi Muhammad ﷺ. Ayah Syekh Nawawi merupakan seorang Ulama lokal di Banten, Syekh Umar bin Arabi al-Bantani, sedangkan ibunya bernama Zubaedah, seorang ibu rumah tangga biasa. Syaikh Nawawi menikah dengan Nyai Nasimah, gadis asal Tanara, Serang dan dikaruniai 3 orang anak: Nafisah, Maryam, Rubi'ah. Sang istri wafat mendahului dia, Sejak berusia lima tahun, Syekh Nawawi sudah mulai belajar ilmu agama Islam langsung dari ayahnya. Bersama saudara-saudara kandungnya, Syekh Nawawi mempelajari tentang pengetahuan dasar bahasa Arab, fiqih, tauhid, al-Quran dan tafsir. Pada usia delapan tahun bersama kedua adiknya, Tamim dan Ahmad, Syekh Nawawi berguru kepada K.H. Sahal, salah seorang ulama terkenal di Banten saat itu. Kemudian melanjutkan kegiatan menimba ilmu kepada Syekh Baing Yusuf Purwakarta. Di usianya yang belum genap lima belas tahun, Syekh Nawawi telah mengajar banyak orang, sampai kemudian ia mencari tempat di pinggir pantai agar lebih leluasa mengajar murid-muridnya yang kian hari bertambah banyak. Baru setelah usianya mencapai lima belas tahun, Syekh Nawawi menunaikan haji dan kemudian berguru kepada sejumlah ulama masyhur di Mekah saat itu. #Guru-Gurunya# Berikut adalah para ulama yang pernah ditimba ilmunya oleh Syekh Nawawi: • Syekh Umar bin Arabi al-Bantani (Ayahnya) • H. Sahal al-Bantani • Syekh Baing Yusuf Purwakarta • Syekh Ahmad Khatib asy-Syambasi • Syekh Ahmad Zaini Dahlan • Syekh Abdul Ghani al-Bimawi • Syekh Yusuf Sumbulaweni • Syekh Abdul Hamid Daghestani • Syekh Sayyid Ahmad Nahrawi • Syekh Ahmad Dimyati • Syekh Muhammad Khatib Duma al-Hambali • Syekh Muhammad bin Sulaiman Hasbullah al-Maliki • Syekh Junaid al-Batawi • Syekh Zainuddin Aceh • Syekh Syihabuddin • Syekh Yusuf bin Muhammad Arsyad al-Banjari • Syekh Abdush Shamad bin • SyekhAbdurahman al-Falimbani • Syekh Mahmud Kinan al-Falimbani • Syekh Aqib bin Hasanuddin al-Falimbani • Dan lain sebagainya. #Nasionalisme dan Pengabdian di Masjidil Haram# Setelah tiga tahun bermukim di Mekkah, Syekh Nawawi pulang ke Banten sekitar tahun 1828 Masehi. Sampai di tanah air dia menyaksikan praktik-praktik ketidakadilan, kesewenang-wenangan, dan penindasan yang dilakukan pemerintah Hindia Belanda terhadap rakyat. Tak ayal, gelora jihad pun berkobar. Sebagai intelektual yang memiliki komitmen tinggi terhadap prinsip-prinsip keadilan dan kebenaran, Syekh Nawawi kemudian berdakwah keliling Banten mengobarkan perlawanan terhadap penjajah sampai pemerintah Belanda membatasi gara-geriknya, seperti dilarang berkhutbah di masjid-masjid.[6] Bahkan belakangan dia dituduh sebagai pengikut Pangeran Diponegoro yang ketika itu sedang mengobarkan perlawanan terhadap penjajahan Belanda (1825 - 1830 Masehi), hingga akhirnya ia kembali ke Mekkah setelah ada tekanan pengusiran dari Belanda, tepat ketika puncak terjadinya Perlawanan Pangeran Diponegoro pada tahun 1830. Begitu sampai di Mekkah dia segera kembali memperdalam ilmu agama kepada guru-gurunya. Syekh Nawawi mulai masyhur ketika menetap di Syi'ib 'Ali, Mekkah. Dia mengajar di halaman rumahnya. Mula-mula muridnya cuma puluhan, tetapi semakin lama jumlahnya kian banyak. Mereka datang dari berbagai penjuru dunia. Hingga jadilah Syekh Nawawi al-Bantani sebagai ulama yang dikenal piawai dalam ilmu agama, terutama tentang tauhid, fiqih, tafsir, dan tasawwuf. Nama Syekh Nawawi al-Bantani semakin masyhur ketika dia ditunjuk sebagai Imam Masjidil Haram, menggantikan Syaikh Achmad Khotib Al-Syambasi atau Syekh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi. Tidak hanya di kota Mekkah dan Madinah saja dia dikenal, bahkan di negeri Suriah, Mesir, Turki, hingga Hindustan namanya begitu masyhur. #Pemikiran Penting# Syekh Nawawi memegang peran sentral di tengah ulama al-Jawwi. Dia menginspirasi komunitas al-Jawwi untuk lebih terlibat dalam studi Islam secara serius, tetapi juga berperan dalam mendidik sejumlah ulama pesantren terkemuka. Bagi Syekh Nawawi, masyarakat Islam di Indonesia harus dibebaskan dari belenggu Kolonialisme. Dengan mencapai kemerdekaan, ajaran-ajaran Islam akan dengan mudah dilaksanakan di Nusantara. Pemikiran ini mendorong Syekh Nawawi untuk selalu mengikuti perkembangan dan perjuangan di tanah air dari para murid yang berasal dari Indonesia serta menyumbangkan #Pemikirannya untuk kemajuan masyarakat Indonesia.# Selain pelajaran agama, Syekh Nawawi juga mengajarkan makna kemerdekaan, anti Kolonialisme dan Imperialisme dengan cara yang halus. Mencetak kader patriotik yang di kemudian hari mampu menegakkan kebenaran. Perjuangan yang dilakukan Syekh Nawawi memang tidak dalam bentuk revolusi fisik, namun lewat pendidikan dalam menumbuhkan semangat kebangkitan dan jiwa nasionalisme. Di samping itu, upaya pembinaan yang dilakukan Syekh Nawawi terhadap komunitas al-Jawwi di Mekkah juga menjadi perhatian serius dari pemerintahan Belanda di Indonesia. Produktivitas komunitas al-Jawwi untuk menghasilkan alumni-alumni yang memiliki integritas keilmuan agama dan jiwa nasionalisme, menjadi kekhawatiran tersendiri bagi Belanda. Untuk mengantisipasi ruang gerak komunitas al-Jawwi ini maka pemerintah Belanda mengutus penasihat pemerintah, Christian Snouck Hurgronje untuk berkunjung ke Mekkah pada tahun 1884 - 1885. Kedatangan Snouck ini bertujuan untuk meneliti lebih lanjut dan melihat secara langsung berbagai hal yang telah dilakukan oleh ulama Indonesia yang tergabung dalam komunitas al-Jawwi. Di antara murid-murid Syekh Nawawi yang menjadi ulama berpengaruh antara lain: • Syekh Muhammad Mahfudz at-Tarmasi • Syekh Kholil al-Bangkalani, Madura • Syekh Tubagus Ahmad Bakri as-Sampuri • Syekh Tubagus Muhammad Asnawi al-Bantani, Caringin, Labuan, Pandeglang • Syekh Arsyad Thawil al-Bantani - Pejuang Geger Cilegon 1888 dan Penyebar Islam di Sulawesi Utara • Syekh Abu al-Faidh Abdus Sattar bin Abdul Wahhab ad-Dahlawi, Delhi, India - Pengajar di Masjidil Haram • Sayyid Ali bin Ali al-Habsy - Pengajar di Masjidil Haram • Syekh Muhammad Zainuddin bin Badawi as-Sumbawi, Sumbawa, Nusa Tenggara Barat • Syekh Abdul Qadir bin Mustafa al-Fathani, Pattani, Thailand • Syekh Abdul Haq bin Abdul Hannan al-Bantani - Cucu Syekh Nawawi • H. Saleh Darat as-Samarani • H. Hasyim Asyari, Jombang - Pendiri Nahdlatul Ulama • H. Ahmad Dahlan, Yogyakarta - Pendiri Muhammadiyah • H. Hasan Genggong - Pendiri Pesantren Zainul Hasan Genggong • H. Mas Abdurahman - Pendiri Mathla'ul Anwar • H. Raden Asnawi, Kudus • Haji Abdul Karim Amrullah, Sumatra Barat • H. Thahir Jamaluddin, Singapura • H. Dawud, Perak, Malaysia • H. Hasan Asyari, Bawean • H. Najihun, Mauk, Tangerang • H. Abdul Ghaffar, Tirtayasa, Serang • H. Ilyas, Kragilan, Serang • H. Wasyid - Pejuang Geger Cilegon 1888 • H. Tubagus Ismail - Pejuang Geger Cilegon 1888 • H. Arsyad Qashir al-Bantani - Pejuang Geger Cilegon 1888 • H. Abdurrahman - Pejuang Geger Cilegon 1888 • H. Haris - Pejuang Geger Cilegon 1888 • H. Aqib - Pejuang Geger Cilegon 1888 ,Dan lain sebagainya. Di antara gelar kehormatan yang disematkan kepada Syekh Nawawi al-Bantani adalah sebagai berikut: • al-Sayyid al-'Ulama al-Hijaz (tokoh ulama Hijaz) atau Sayyidul Hijaz (penjaga Hijaz) • Nawawi at-Tsani (Nawawi kedua). Orang pertama yang memberi gelar ini pada Syekh Nawawi adalah Wan Ahmad bin Muhammad Zain al-Fathani • al-Imam wa al-Fahm al-Mudaqqiq (tokoh dan pakar dengan pemahaman yang sangat mendalam) • A'yan 'Ulama al-Qarn ar-Ram 'Asyar Li al-Hijrah (tokoh ulama abad 14 Hijriyah) • Imam 'Ulama Al-Haramain (Imam Ulama Dua Kota Suci) • Doktor Ketuhanan (orang pertama yang memberikan gelar ini pada Syekh Nawawi adalah Christiaan Snouck Hurgronje) • asy-Syaikh al-Fakih (disematkan oleh kalangan pesantren) Bapak Kitab Kuning Indonesia (disematkan oleh para Ulama Indonesia). Ulama asal Mesir, Syekh 'Umar 'Abdul Jabbar dalam kitabnya "al-Durus min Madhi al-Ta'lim wa Hadlirih bi al-Masjidil al-Haram” (beberapa kajian masa lalu dan masa kini tentang Pendidikan Masa kini di Masjidil Haram) menulis bahwa Syekh Nawawi sangat produktif menulis hingga karyanya mencapai seratus judul lebih yang meliputi berbagai disiplin ilmu. Banyak pula karyanya yang berupa syarah atau komentar terhadap kitab-kitab klasik. Sebagian dari karya-karya Syekh Nawawi di antaranya adalah sebagai berikut: al-Tsamar al-Yani'ah syarah al-Riyadl al-Badi'ah • al-'Aqd al-Tsamin syarah Fath al-Mubîn • Sullam al-Munâjah syarah Safînah al-Shalâh • Baĥjah al-Wasâil syarah al-Risâlah al-Jâmi’ah bayn al-Usûl wa al-Fiqh wa al-Tasawwuf • al-Tausyîh/ Quwt al-Habîb al-Gharîb syarah Fath al-Qarîb al-Mujîb • Niĥâyah al-Zayyin syarah Qurrah al-‘Ain bi Muĥimmâh al-Dîn • Marâqi al-‘Ubûdiyyah syarah Matan Bidâyah al-Ĥidâyah • Nashâih al-‘Ibâd syarah al-Manbaĥâtu ‘ala al-Isti’dâd li yaum al-Mi’âd • Salâlim al-Fadhlâ΄ syarah Mandhûmah Ĥidâyah al-Azkiy • Qâmi’u al-Thugyân syarah Mandhûmah Syu’bu al-Imân • al-Tafsir al-Munîr li al-Mu’âlim al-Tanzîl al-Mufassir ‘an wujûĥ mahâsin al-Ta΄wil musammâ Murâh Labîd li Kasyafi Ma’nâ Qur΄an Majîd • Kasyf al-Marûthiyyah syarah Matan al-Jurumiyyah • Fath al-Ghâfir al-Khathiyyah syarah Nadham al-Jurumiyyah musammâ al-Kawâkib al-Jaliyyah • Nur al-Dhalâm ‘ala Mandhûmah al-Musammâh bi ‘Aqîdah al-‘Awwâm • Tanqîh al-Qaul al-Hatsîts syarah Lubâb al-Hadîts • Madârij al-Shu’ûd syarah Maulid al-Barzanji • Targhîb al-Mustâqîn syarah Mandhûmah Maulid al-Barzanjî • Fath al-Shamad al ‘Âlam syarah • Maulid Syarif al-‘Anâm • Fath al-Majîd syarah al-Durr al-Farîd • Tîjân al-Darâry syarah Matan al-Baijûry • Fath al-Mujîb syarah Mukhtashar al-Khathîb • Murâqah Shu’ûd al-Tashdîq syarah Sulam al-Taufîq • Kâsyifah al-Sajâ syarah Safînah al-Najâ • al-Futûhâh al-Madaniyyah syarah al-Syu’b al-Îmâniyyah • ‘Uqûd al-Lujain fi Bayân Huqûq al-Zaujain • Qathr al-Ghais syarah Masâil Abî al-Laits • Naqâwah al-‘Aqîdah Mandhûmah fi Tauhîd • al-Naĥjah al-Jayyidah syarah Naqâwah al-‘Aqîdah • Sulûk al-Jâdah syarah Lam’ah al-Mafâdah fi bayân al-Jumu’ah wa almu’âdah • Hilyah al-Shibyân syarah Fath al-Rahman • al-Fushûsh al-Yâqutiyyah ‘ala al-Raudlah al-Baĥîyyah fi Abwâb al-Tashrîfiyyah • al-Riyâdl al-Fauliyyah • Mishbâh al-Dhalâm’ala Minĥaj al-Atamma fi Tabwîb al-Hukm • Dzariyy’ah al-Yaqîn ‘ala Umm al-Barâĥîn fi al-Tauhîd • al-Ibrîz al-Dâniy fi Maulid Sayyidina Muhammad al-Sayyid al-Adnâny • Baghyah al-‘Awwâm fi Syarah Maulid Sayyid al-Anâm • al-Durrur al-Baĥiyyah fi syarah al-Khashâish al-Nabawiyyah • Lubâb al-bayyân fi ‘Ilmi Bayyân. Karya tafsirnya, al-Munir, sangat monumental, bahkan ada yang mengatakan lebih baik dari Tafsir al-Jalalain, karya Imam Jalaluddin as-Suyuthi dan Imam Jalaluddin al-Mahalli yang sangat terkenal. Sementara Kasyifah al-Saja merupakan syarah atau komentar terhadap kitab fiqih Safinatun Najah, karya Syekh Salim bin Sumeir al-Hadhramy. Karya-karya dia di bidang Ilmu Akidah misalnya adalah Tijan ad-Darary, Nur al-Dhalam, Fath al-Majid. Sementara dalam bidang Ilmu Hadits misalnya Tanqih al-Qaul. Karya-karya dia di bidang Ilmu Fiqih yakni Sullam al-Munajah, Nihayah al-Zain, Kasyifah al-Saja, dan yang sangat terkenal di kalangan para santri pesantren di Jawa yaitu Syarah ’Uqud al-Lujain fi Bayan Huquq al-Zaujain. Adapun Qami'u al-Thugyan, Nashaih al-'Ibad dan Minhaj al-Raghibi merupakan karya tasawwuf. #Diantara karomah beliau: Telunjuk Bersinar dan Dapat Menjadi Lampu Penerang# Pada suatu waktu di sebuah perjalanan dalam syuqduf (rumah-rumahan di punggung unta) Syekh Nawawi pernah mengarang kitab dengan menggunakan telunjuknya sebagai lampu. Hal tersebut terjadi karena tidak ada cahaya dalam syuqduf yang ia tumpangi, sementara aspirasi untuk menulis kitab tengah kencang mengisi kepalanya. Syekh Nawawi kemudian berdoa kepada Allah agar telunjuk kirinya dapat menjadi lampu, menerangi jari kanan yang akan digunakannya untuk menulis. Kitab yang kemudian lahir dengan nama Maraqi al-'Ubudiyyah syarah Matan Bidayah al-Hidayah itu harus dibayarnya dengan cacat pada jari telunjuk kiri, karena cahaya yang diberikan Allah pada telunjuk kirinya itu membawa bekas yang tidak hilang. #Melihat Ka'bah dari Tempat Lain yang Jauh# Karamah lain Syekh Nawawi juga diperlihatkannya di saat ia mengunjungi Masjid Pekojan, Jakarta. Masjid yang dibangun oleh Sayyid Utsman bin 'Agil bin Yahya al-'Alawi (mufti Betawi keturunan Rasulullah ﷺ) itu ternyata memiliki kiblat yang salah. Padahal yang menentukan kiblat bagi mesjid itu adalah Sayyid Utsman sendiri.Tak ayat, saat Syekh Nawawi yang dianggapnya hanya seorang anak remaja tak dikenal menyalahkan penentuan kiblat, Sayyid Utsman sangat terkejut. Diskusipun terjadi antara keduanya, Sayyid Utsmân tetap berpendirian bahwa kiblat Mesjid Pekojan tersebut sudah benar, sementara Syekh Nawawi remaja berpendapat arah kiblat haruslah dibetulkan. Saat kesepakatan tidak bisa diraih karena masing-masing mempertahankan pendapatnya dengan keras, Syekh Nawawi remaja menarik lengan baju Sayyid Utsmân dan dirapatkan tubuhnya agar bisa saling mendekat, kemudian berkata: “"Lihatlah Sayyid!, itulah Ka'bah tempat Kiblat kita. Lihat dan perhatikanlah! Tidakkah Ka'bah itu terlihat amat jelas? Sementara Kiblat masjid ini agak ke kiri. Maka perlulah kiblatnya digeser ke kanan agar tepat menghadap ke arah Ka'bah."”Sayyid Utsman termangu. Ka'bah yang ia lihat dengan mengikuti telunjuk Syekh Nawawi remaja memang terlihat jelas. Sayyid Utsman merasa takjub dan menyadari bahwa remaja yang bertubuh kecil di hadapannya itu telah dikaruniai kemuliaan, yakni terbukanya nur basyariyyah. Yang dengan karamah itu, di manapun dia berada Ka'bah akan tetap terlihat. Dengan penuh hormat Sayyid Utsman langsung memeluk tubuh kecil Syekh Nawawi. Sampai saat ini di Masjid Pekojan akan terlihat kiblat digeser dan tidak sesuai aslinya. #Jasad yang Tetap Utuh# Telah menjadi kebijakan Pemerintah Arab Saudi bahwa orang yang telah dikubur selama setahun kuburannya harus digali. Tulang belulang si mayat kemudian diambil dan disatukan dengan tulang belulang mayat lainnya. Selanjutnya semua tulang itu dikuburkan di tempat lain di luar kota dan lubang kubur yang dibongkar dibiarkan tetap terbuka hingga datang jenazah berikutnya terus silih berganti. Kebijakan tersebut dijalankan tanpa pandang bulu hingga menimpa pula pada makam Syekh Nawawi. Setelah kuburnya genap berusia satu tahun, datanglah petugas dari pemerintah kota untuk menggali kuburnya. Tetapi yang terjadi adalah hal yang tak lazim. Para petugas kuburan itu tak menemukan tulang belulang seperti biasanya, yang mereka temukan adalah satu jasad yang masih utuh. Tidak kurang satu apapun, tidak lecet dan tidak ada tanda-tanda pembusukan seperti lazimnya jenazah yang telah lama dikubur. Bahkan kain kafan penutup jasad Syekh Nawawi tidak sobek dan tidak lapuk sedikitpun.Terang saja kejadian tersebut mengejutkan para petugas. Mereka lari berhamburan mendatangi atasannya dan menceritakan apa yang telah terjadi. Setelah diteliti, sang atasan kemudian menyadari bahwa makam yang digali itu bukan makam orang sembarangan. Langkah strategis lalu diambil, yaitu larangan dari pemerintah untuk membongkar makam Syekh Nawawi. Jasadnya lalu dikuburkan kembali seperti sediakala, dan hingga sekarang makam Syekh Nawawi tetap berada di Ma'la, Mekah. #Shalat di Dalam Mulut Ular Besar# Suatu hari ketika dalam perjalanan, Syekh Nawawi istirahat di sebuah tempat untuk azan kemudian salat. Setelah ia azan ternyata tidak ada orang yang datang, akhirnya ia qamat lalu salat sendirian. Usai shalat Syekh Nawawi kembali melanjutkan perjalanan, tapi ketika menengok ke belakang, ternyata ada seekor ular raksasa dan mulutnya sedang menganga. Akhirnya ia tersadar bahwa ternyata ia salat di dalam mulut ular yang sangat besar itu. Syekh Nawawi wafat di Mekah pada tanggal 25 Syawal 1314 Hijriyah atau 1897. Masehi. Makamnya terletak di Jannatul Mu'alla, Mekah. Makam dia bersebelahan dengan makam anak perempuan dari Sayyidina Abu Bakar Ash-Shiddiq, Asma΄ binti Abû Bakar al-Siddîq.Meski wafat di Jazirah Arab, namun hingga kini setiap tahunnya selalu diadakan haul atau peringatan wafatnya Syekh Nawawi al-Bantani di tanah air, tepatnya di Pondok Pesantren An-Nawawi Tanara di Tanara, Serang, asuhan K.H. Ma'ruf Amin. Haul Syekh Nawawi selalu ramai dihadiri para santri Nusantara, bahkan mancanegara. (sumber: https://qotrunnada-depok.ponpes.id/read/79/biografi-syekh-muhammad-nawawi-al-jawi-al-bantani). *Syekh Nawawi Al-Bantani di Mata Snouck Hurgronje* Syekh Muhammad Nawawi bin Umar al-Jawi al-Bantani (1813-1879 M) merupakan ulama Nusantara yang masyhur di Makkah pada paruh abad ke-19. Di samping memiliki kapasitas keilmuan yang luas, keterkemukaannya dikenal melalui puluhan karya yang lahir dari berbagai cabang ilmu keislaman. Karya-karya seputar ilmu hadis, gramatika Arab seperti Nahwu dan Sharf, fiqih, tafsir, akidah, tasawuf, dan sejarah, menjadikannya sosok ulama produktif yang diakui oleh para ulama di dunia. Pasti dunia pesantren tidak asing dengan karya-karyanya seperti Marah Labid li Kasyf Ma’na al-Qur’an al-Majid dalam bidang tafsir, Kasyifah al-Saja syarh Safinah al-Naja dalam bidang fiqih, Maraq al-Ubudiyah dalam bidang tasawuf, dan lainnya yang sampai kini menjadi bahan rujukan utama oleh para santri dan ulama di Indonesia. Tidak hanya karya-karyanya saja, pengaruh Syekh Nawawi sebagai guru agama di Makkah merupakan pondasi penting dalam melahirkan para ulama terkemuka di tanah air. Menurut Umar Abdul Jabbar dalam Siyar Ba’d Ulama’ina fi al-Qarn al-Rabi’ Asyar li al-Hijrah (1982), Syekh Nawawi tinggal di Jalan Syi’b ‘Ali (dekat Masjidil Haram) dan rumahnya selalu dihadiri oleh sekitar dua ratus pelajar. Tentu saja, pelajar tersebut datang dari berbagai wilayah Nusantara seperti Sunda, Jawa, dan Melayu, bahkan wilayah Islam pada umumnya. Melalui pengajian sistem halaqah di rumah Syekh Nawawi ini, telah mencetak para murid unggul yang kemudian menjadi ulama terkemuka, salah satunya adalah Hadratussyekh Hasyim Asy’ari dan KH Ahmad Dahlan. Jajat Burhanudin dalam Ulama dan Kekuasaan: Pergumulan Elite Muslim dalam Sejarah Indonesia (2012) mengungkapkan bahwa Syekh Nawawi merupakan salah satu figur penting bagi peletak dasar terciptanya jaringan ulama di Jawa, yang kemudian berkembang menjadi sebuah komunitas ulama. Baca Juga Tadrij al-Adani, Karya Murid Syekh Nawawi Banten di Bidang Ilmu Sharaf Komunitas ulama ini mengidentifikasi diri mereka sebagai murid atau penerus Syekh Nawawi, dan mengakui otoritas keulamaannya. Ketika pulang ke kampung halaman, mereka membangun institusi pendidikan pesantren, lalu menjadikan karya-karyanya sebagai sumber otoritatif bagi pembentukan diskursus Islam dan produksi ulama. Berbicara mengenai kehidupan Syekh Nawawi di Makkah, catatan Snouck Hurgronje (1857-1936 M) ketika melakukan riset ilmiah di sana pada 1884-1885, telah menunjukkan gambaran yang utuh mengenai sosoknya yang luar biasa. Catatan Snouck itu kemudian dibukukan dengan judul Mekka yang terbit pada tahun 1888 dalam bahasa Jerman dan telah diterjemahkan dalam berbagai bahasa. Dalam versi bahasa Arab, buku tersebut terbit dengan judul Safhat min Tarikh Makkah al-Mukarramah (1999), yang diterjemahkan oleh Muhammad Mahmud al-Suryani dan Mi’raj Nawwab Mirza. Satu pembahasan khusus mengenai Syekh Nawawi dalam buku tersebut dapat ditemukan dalam sub bab berjudul “Ulama Banten di Makkah” (versi terjemahan bahasa Arab). Karel A. Steenbrink juga turut mengutip buku Snouck tersebut ke dalam satu pembahasan khusus mengenai Syekh Nawawi dalam bukunya yang berjudul Beberapa Aspek tentang Islam di Indonesia Abad ke-19 (1984). Snouck Hurgrone mencatat segala aktivitas Syekh Nawawi, mengamati kepribadian sambil melakukan pembicaraan yang intens dengannya. Menurut Snouck, Syekh Nawawi bisa menghasilkan banyak karya disebabkan ambisi pribadinya yang tekun dalam mengarang. Dulu, Syekh Nawawi mengajar pada setiap waktu yang masih bebas, tetapi selama 15 tahun terakhir, pekerjaannya sebagai pengarang membatasi dirinya untuk kebebasan itu. Setiap pagi, antara jam 7:30 dan jam 12.00 dia memberikan tiga kajian, yang direncanakan sesuai dengan kebutuhan para muridnya. Dia menerima murid yang baru sejak tingkat permulaan tata bahasa Arab, di samping murid yang sudah cukup pintar dan yang mengajar sendiri di tempat mereka. Maka, murid yang sudah mahir ini juga mengambil sebagian tugasnya di bidang pendidikan dasar. Meski Syekh Nawawi sudah hidup 30 tahun di Makkah dan telah menghasilkan kurang lebih 20 karangan, pada dasarnya ia tetap menjadi orang Jawa yang sesungguhnya. Ketika membaca al-Quran dan membaca suatu naskah Arab, semua kata yang diucapkannya benar-benar fasih, sebagai bentuk menjunjung tinggi martabat ilmu. Tetapi, keadaan tersebut berbeda ketika melakukan percakapan. Pada kenyataannya, Syekh Nawawi kesulitan dalam melafalkan bahasa sehari-hari dalam bahasa Arab, karena menggunakan kalimat yang setengah Jawa dan tidak mampu membedakan antara Ha, Kha, ‘Ain, dan Qaf. Empat huruf ini memberikan kesulitan yang besar bagi kebanyakan orang Jawa dan dari huruf yang sulit ini, huruf Kha masih merupakan huruf yang agak mudah untuk mereka. Syekh Nawawi dalam kesehariannya sudah terbiasa dengan pola hidup yang sederhana. Menurut Snouck, ia tidak mementingkan tentang pakaian dan bagaimana cara menjaga penampilan luarnya sebagai seorang ulama terkenal. Pakaian yang dipakainya terlihat pudar atau kehilangan warna asli, begitu pula sorbannya, saat sedang mengajar di lantai dasar rumahnya yang luas sekali. Begitu juga, pakaian yang dipakainya bila keluar rumah, menurut ukuran orang Makkah tidak sepadan dengan martabat kedudukan sosialnya. Tubuhnya yang bungkuk membuat penampilannya lebih kecil dari yang sebenarnya; dia berjalan seolah-olah seluruh dunia adalah kitab besar yang sedang asyik ia baca. Kemudian Snouck bertanya kepadanya, “Mengapa anda tidak memberi ceramah (mengajar) di Masjidil Haram?” Ia menjawab bahwa pakaiannya yang sederhana dan penampilan luarnya tidak sesuai dengan penampilan layaknya para profesor Arab. Snouck pun berkata, “Banyak warga masyarakat anda (orang-orang Jawi) yang kurang berpengetahuan sedalam anda tapi memberikan ceramah seperti itu.” Ia menjawab, “Kalau mereka telah menerima kehormatan yang tinggi, mereka tentu pantas mendapatkannya.” Kesan Snouck Hurgronje terhadap Syekh Nawawi lebih besar bukan dari status sosial atau pengaruh keulamaannya yang masyhur, melainkan terhadap kepribadiannya yang rendah hati dan bijaksana. Pada pertemuan-pertemuan awal, Snouck belum betul-betul mengambil kesimpulan yang pasti bahwa Syekh Nawawi adalah orang yang rendah hati dan tidak sombong, meskipun ucapan tersebut datang dari penilaian banyak orang atau bahkan dari ucapan dirinya yang menyatakan bahwa: “dirinya tidak setara dengan debu yang menempel pada kaki para penuntut ilmu.” Ucapan-ucapan maupun cara penampilan luarnya yang sederhana itu bagi Snouck tidak bisa memastikan bahwa ia adalah orang yang rendah hati. Tetapi, pandangan Snouck berubah seiring mengamati praktek hidup Syekh Nawawi yang betul dibuktikan dengan pasti bahwa ia adalah orang yang rendah hati. Syekh Nawawi menerima cium tangan dari hampir semua orang Jawa di Makkah tanpa menolaknya, tetapi hanya sebagai kehormatan terhadap ilmu saja. Dia tidak pernah menolak permintaan orang-orang mengenai persoalan fatwa hukum syariat kepadanya. Di dalam pergaulan dan percakapan sehari-hari, ia ikut saja dengan baik tanpa mendominasi percakapan. Dia tidak akan memulai diskusi ilmiah kalau tidak ada orang lain yang mendorongnya. Andai kata ada orang Arab yang belum mengenal dan mengetahui kemasyhurannya, mungkin bisa menghabiskan satu malam untuk berkumpul bersamanya tanpa mengetahui bahwa ia adalah seorang ulama yang telah mengarang kurang lebih 20 karangan ilmiah dalam bahasa Arab. Dalam bidang tasawuf, Syekh Nawawi mempraktikkan tasawuf yang agak moderat, tasawuf Imam al-Ghazali, yang menitikberatkan segi etis di dalam bentuk yang sederhana. Karena itu, ia memberikan penjelasan kepada murid-muridnya tentang karya-karya tasawuf di mana unsur etika lebih dipentingkan daripada unsur-unsur rahasia tasawuf yang gaib. Dia tidak memberikan anjuran kepada murid-muridnya supaya masuk tarekat, tetapi juga tidak menghalangi mereka masuk kelompok itu. Disebut Santri Menurut Snouck, sebetulnya ia menyadari keadaan orang sebangsanya yang cenderung tertarik pada hal mistis dan gaib, tetapi ia memilih sikap yang bijaksana, yaitu menyadari kesalahan-kesalahan tarekat dengan sikap lebih toleran dibandingkan dengan sikap para ulama Arab modern pada umumnya. Kendati memiliki status sosial yang tinggi sebagai ulama di Makkah, pada dasarnya Syekh Nawawi lebih memilih kehidupan yang sederhana. Dia pernah bekerja sebagai muthowwif (pembimbing haji) namun para muridnya menganggap hal tersebut tidak sepadan dengan kedudukan keilmuannya yang tinggi. Dia juga tidak berbakat dalam mencari uang, bahkan ia tidak menginginkan hidup mewah atau enak saja. Walaupun menerima banyak hadiah yang berharga dari orang-orang, namun ia hidup dengan kesederhanaan mutlak. Pada waktu malam, ia mengarang dengan cahaya satu lampu minyak yang sangat kecil (misrajah), yang oleh orang lain hanya dipakai untuk mengantar orang ke luar rumah. Meski begitu, istrinya lebih bersikap realistis, ia terlibat dalam beberapa pekerjaan penting. Istrinya berjasa menyiapkan hidangan untuk para tamu yang diundang Syekh Nawawi pada hari libur, dan oleh karena itu ia pantas menerima ucapan terima kasih karena telah membantu suaminya melayani tamu-tamu dengan baik. Berdasarkan semua penjelasan di atas menjadi kesimpulan yang utuh mengenai kekaguman Snouck Hurgronje terhadap Syekh Nawawi. Kekaguman itu lahir bukan sekedar dari perkenalan biasa saja, melainkan melalui kacamata pengamatan dan analisis intelektual seorang peneliti profesional. Menurut Snouck, Syekh Nawawi merupakan ulama asal Banten yang paling terkenal di Makkah. Dia memiliki pengaruh keulamaan yang diakui oleh banyak kalangan Muslim. Akan tetapi, semua itu bukan menjadi jawaban utuh terhadap dirinya. Satu hal yang Snouck catat adalah meski kepribadian Syekh Nawawi tidak begitu kuat, tetapi pengaruh moralnya sangat terkenal. Dia memiliki pengaruh sosial yang luas, namun tidak mau memainkan peranan penting dalam pengaruhnya. Dia lebih memilih jalan kesederhanaan dan memainkan peran rendah hati dan bijaksana. Hal demikian yang justru menjadi indikasi penting mengapa banyak orang-orang memilih belajar ajaran Islam lebih mendalam di bawah pengaruh dan bimbingannya. (Sumber: https://www.nu.or.id/tokoh/syekh-nawawi-al-bantani-di-mata-snouck-hurgronje-pMKnn).

Comments

Popular posts from this blog

Ling Tien Kung dan Syari'at Islam (Oleh H. Yudhi)

Kedamaian di Perumahan Cibubur City (Oleh H. Yudhi)

Abu Bakar Siddiq RA (H. Yudhi)