Syekh Abdul Qodir Jailani RA (H. Yudhi)
Abdul Qodir Jailani RA (H. Yudhi).
Abdul Qadir al-Jilani ( Evdilqadirê Geylanî, Abdolqāder Gilāni) (1 Ramadan 471 – 11 Rabiulakhir 571 H / 14 Maret 1079 – 4 November 1175 M) adalah seorang ulama sufi, fiqih, dan aqidah. Ia bermazhab Hambali. Pengikut Tarekat Qodiriyah sering mengadakan manaqib dan haul untuk menghormatinya. #Karya-Karya# Syarif Sayyid Syeikh Abdul Qadir al-Jilani memiliki beberapa karya yang tervalidasi dalam Islam:
1. Tafsir al-Jilani: merupakan sebuah tafsir lengkap 30 Juz yang terbagi kedalam 6 jilid dengan rincian sebagai berikut:
• Jilid 1 terdiri dari Muqaddimah, tafsir surah al-Fatihah sampai surah al-Maidah.
• Jilid 2 terdiri dari tafsir surah al-An’am sampai surah Ibrahim
• Jilid 3 terdiri dari tafsir surah al-Hijr sampai surah al-Nur
• Jilid 4 terdiri dari tafsir surah al-Furqan sampai surah surah Yasin
• Jilid 5 terdiri dari tafsir surah al-Saffat sampai surah al-Waqiah
• Jilid 6 terdiri dari tafsir surah al-Hadid sampai Surah al-Nas
2. Risalah Al-Ghunyah Li Thalibi Thariq al-Haq
3. Futuh al-Ghaib
4. Al-Fath ar-Rabbani wa al-Faydh ar-Rahmani
5. Jala' al-Khawathir
6. Sirr al-Asrar
7. Asror Al-Asror
8. Malfuzhat
9. Khamsata ‘Asyara Maktuban
10. Ar-Rasail
11. Ad-Diwaan
12. Shalawat wal Aurod
13. Yawaqitul Hikam
14. Jalaa al-Khotir
15. Amrul Muhkam
16. Usul as-Sabaa
17. Mukhtasar Ulumiddin
(Sumber: https://id.wikipedia.org/wiki/Abdul_Qadir_al-Jailani). *Kelahiran Syekh Abdul Qadir Jailani dan Kebiasaan Puasanya Sejak Bayi* Bagi para pengamal tarekat, nama Syekh Abdul Qadir tentu sudah tak asing lagi. Ia adalah seorang waliyullah yang bergelar “Sulthonul Auliya” alias rajanya para wali. Hal itu sebagaimana diungkap dalam kitab Al-Fawaid al-Mukhtarah karya Habib Ali Hasan Baharun. Syekh Abdul Qadir dilahirkan di negara Jailan. Satu negara bawahan Tobaristan, wilayah kuno bersejarah yang kini berada dalam wilayah Iran. Kelahiran Syekh Abdul Qadir tepat pada malam pertama Ramadhan tahun 470 Hijriah. Sementara wafatnya di negara Baghdad (Irak), tepat pada tanggal 10 Muhrarram tahun 571 Hijriah dalam usia 91 tahun. Karamah atau tanda-tanda kewaliannya sudah tampak sejak lahir. Bahkan, pada malam kelahirannya pun ada karamah. Pertama, sang ayah yang bernama Abu Shalih Musa Janaki bermimpi kedatangan Rasulullah saw. diiringi oleh para sahabatnya dan imam-imam mujtahid. Kala itu, beliau berpesan kepada ayahanda Abdul Qadir, “Wahai Abu Shalih, engkau akan dikaruniai anak laki-laki oleh Allah. Anak itu anak kesayanganku dan kesayangan Allah. Ia akan mendapat pangkat yang tinggi dalam kewalian sebagaimana aku dalam pangkat kenabian". Kedua, selain Rasulullah saw., nabi-nabi yang lain juga turut menyampaikan kabar gembira kepada Abu Shalih bahwa dirinya akan mendapat karunia anak laki-laki yang akan menjadi Sulthanul Auliya. Dan semua wali dan imam-imam yang dimaksum berada di bawah putranya. Siapa pun wali yang tunduk kepadanya akan naik pangkat kewaliannya. Sebaliknya, wali yang tidak tunduk kepadanya akan dilepas oleh Allah dari kewaliannya. Ketiga, tidak ada yang dilahirkan pada malam kelahiran Syekh Abdul Qadir di negara Jailan, kecuali semuanya laki-laki. Jumlahnya ada 1.100 dan semuanya menjadi wali agar menjadi pengiring kewalian Syekh Abdul Qadir. Keempat, Syekh Abdul Qadir sejak dilahirkan tidak mau menyusu kepada ibunya pada siang hari di bulan Ramadhan. Sementara menyusunya beralih kepada waktu berbuka puasa. Sebagian ulama menjelaskan bahwa sejak bayi, Syekh Abdul Qodir telah menjalankan puasa ramadhan. Kelima, di pundak Syekh Abdul Qadir ada bekas telapak kaki Rasulullah saw. Itu tak lain merupakan bekas telapak kaki Rasulullah saw. saat akan naik ke atas buroq pada malam isra-mi’raj. Pada malam kelahirannya, juga terpancar cahaya yang sangat terang. Sehingga orang-orang yang menyaksikan tidak mampu menatapnya. Disebutkan pula, usia ibu Syekh Abdul Qadir saat itu adalah 60 tahun. Itu pun termasuk salah satu perkara luar biasa yang langka terjadi pada kebanyakan perempuan. Wallahu a’lam. (sumber: https://kemenag.go.id/hikmah/kelahiran-syekh-abdul-qadir-jailani-dan-kebiasaan-puasanya-sejak-bayi-UNO6R). *Kisah Syekh Abdul Qadir Al-Jailani Berikan 40 Kuda Kepada Seorang Lelaki yang Berburuk Sangka* Syekh Abdul Qadir Al-Jailani QS merupakan seorang wali yang memiliki gelar Sulthonul Auliya (rajanya para wali) di mana kisahnya begitu masyhur dikalangan umat Islam. Bahkan, sejak dahulu hingga hari ini kisah-kiisahnya selalu diceritakan khususnya dikalangan orang-orang yang berkecimpung di dunia tarekat. Salah satu kisah Syekh Abdul Qadir Al-Jailani yang masyhur yakni pada saat dirinya didatangi oleh seorang laki-laki ke kediamannya di Baghdad. Alasan datangnya orang tersebut sebab mendengar kemasyhuran Syekh Abdul Qadir Al-Jailani. Baca Sesampainya di Baghdad, lelaki tersebut langsung menuju kediaman Syekh Abdul Qadir dengan maksud ingin menemuinya. Akan tetapi, setibanya lelaki tersebut di dekat kediaman Syekh Abdul Qadir, ia terkejut. Dirinya melihat kemegahan kandang kuda Syekh Abdul Qadir. Hamparannya terbuat dari emas dan perak serta di dalamnya terdapat 40 ekor kuda yang sangat bagus dan belum pernah ada tandingnya. Muncullah sangkaan buruk di hati laki-laki tersebut, “Katanya, ini seorang wali Allah, tapi kenyataannya ia seorang pecinta dunia! Masak iya, ada wali sangat cinta kepada dunia seperti ini? Orang semacam ini benar-benar tak layak menjadi wali Allah.” Akhirnya, laki-laki tersebut tak jadi menemui Syekh Abdul Qadir dan lebih memilih singgah di salah satu rumah penduduk. Tak lama berselang, laki-laki itu jatuh sakit yang cukup parah, sehingga para dokter pun angkat tangan mengobatinya. Beberapa waktu kemudian ada seorang ulama ahli hikmah memberi saran, “Penyakit ini tidak akan sembuh kecuali diobati dengan hati 40 ekor kuda,” yang digambarkan begini-begini sifatnya. Orang-orang pun mengatakan, “Tidak ada yang memiliki kuda seperti itu dan sebanyak itu kecuali Syekh Abdul Qadir. Coba saja temui karena ia seorang yang murah hati dan dermawan.” Setelah itu, lelaki tersebut memutuskan menemui Syekh Abdul Qadir untuk diminta kudanya. Dan hasilnya luar biasa biasa. Syekh memberikan dan merelakan semua kudanya untuk dijadikan obat penyakit si laki-laki tadi. Maka satu per satu kuda dari Syekh Abdul Qadir itu disembelih lalu diambil hatinya lalu dijadikan obat si lelaki tersebut. Pasca diobati dengan hati kuda, lelaki itu sembuh lagi seperti biasa. Untuk menyampaikan terima kasih, si laki-laki pun datang menghadap Syekh. Kepada si laki-laki, Syekh Abdul Qadir menjelaskan, “Jika engkau tidak tahu, kuda-kuda itu sengaja aku beli untuk mengobati penyakitmu. Sebab, kemarin engkau datang ke sini semata-mata karena senang kepadaku. Aku tahu engkau akan jatuh sakit. Dan tidak ada obatnya kecuali hati 40 ekor kuda yang seperti ini sifat-sifatnya. Tapi engkau tidak mengetahuinya. Buktinya, engkau bertamu di rumah orang lain.” Sejak itu, laki-laki tersebut bertobat dan memperbaiki keyakinan hati. Dari kisah yang telah dipaparkan di atas, dapat diambil pelajaran: Syekh Abdul Qadir adalah seorang yang telah mencapai derajat kewalian yang tinggi, sehingga menyandang gelar “Sulthanul-Aulia” alias rajanya para wali. Karena keluhuran derajatnya, Syekh Abdul Qadir memiliki karamah yang luar biasa. Salah satunya karamah menyelamatkan orang-orang yang mencintainya. Hadirnya para wali di majelis-majelis mulia dan nyatanya pertolongan mereka kepada orang-orang yang berwasilah dengan mereka. Zuhud bukan berarti menolak dunia, melainkan tidak bergantungnya hati pada dunia dan tidak menjadikan dunia sebagai tujuan hidup. Justru dengan zuhud, dunia menjadi sarana mencapai rida Allah. Sebab, kunci zuhud terletak pada ketidaktertarikan hati pada dunia, bukan pada banyaknya harta. Betapa murahnya hati Syekh Abdul Qadir, sampai-sampai merelakan 40 ekor kudanya untuk mengobati orang yang mencintainya. Sikap itu sekaligus mementahkan prasangka buruk terhadap dirinya sebagai pecinta dunia yang jauh dari sifat zuhud. Tidak boleh berburuk sangka kepada sesama manusia, sebab boleh jadi ia adalah wali atau kekasih Allah. Sementara dari wali-wali Allah banyak perkara luar di luar nalar sebagai bentuk karamahnya. Wallahu ‘alam. (Sumber: https://jabar.nu.or.id/hikmah/kisah-syekh-abdul-qadir-al-jailani-berikan-40-kuda-kepada-seorang-lelaki-yang-berburuk-sangka-zO5qF). Blog ini dibuat dengan tujuan untuk menambah ilmu si Pembaca, tidak ada keuntungan Ekonomi sedikitpun yang diperoleh dari Pembuat. Tulisan diatas merupakan gabungan beberapa artikel dan ditulis juga sumbernya.
Comments
Post a Comment