Sunan Muria RA (H. Yudhi)

Sunan Muria RA (H. Yudhi). Sunan Muria merupakan Ulama yang termasuk dalam anggota dewan Wali Songo. Nama lahirnya adalah Sayyid Umar Said. Ia adalah putra Sunan Kalijaga dengan Sayyidah Dewi Saroh binti Sayyid Ishaq Tamsyi. Nama Sunan Muria sendiri diperkirakan berasal dari nama gunung (Gunung Muria), yang terletak di sebelah utara kota Kudus, Jawa Tengah, tempat Sunan Muria dimakamkan. Sunan Muria wafat pada tahun 1560 M. Di dalam tradisi penulisan tembang, Sunan Muria dianggap sebagai pencipta tembang-tembang cilik (sekar alit) jenis Sinom dan Kinanthi. Versi catatan sejarah yang menyebutkan asal-usul Sunan Muria sebagai anak kandung dari sunan ngudung/sunan mandalika sangat tidak sesuai... karena bukti kebenaran otentik dewi Sujinah istri sunan muria adalah putri dari Sunan Ngudung. #Riwayat# Menjadi Murid sekaligus menantu Sunan Ngerang# Selama berguru kepada Sunan Ngerang, dikisahkan bahwa suatu saat Sunan Ngerang mengadakan syukuran untuk putrinya, Dewi Roroyono yang usianya genap dua puluh tahun. Para murid seperti Sunan Muria, Sunan Kudus, Adipati Pathak Warak dari Mandalika Jepara, Kapa dan adiknya, Gentiri, diundang untuk hadir. Ketika Dewi Roroyono dan adiknya, Roro Pujiwati, keluar menghidangkan makanan dan minuman, hati Adipati Pathak Warak terpesona oleh kecantikan putri gurunya itu. Ia memandang Dewi Roroyono dengan mata tidak berkedip. Putri Sunan Ngerang itu telah membuat Adipati Pathak Warak tergila-gila dan melakukan tindakan tidak pantas terhadap putri gurunya itu. Bahkan, pada malam hari, Dewi Roroyono dibawa lari ke Mandalika. Sewaktu Sunan Ngerang mengetahui bahwa putrinya diculik oleh Pathak Warak, ia berikrar akan menikahkan putrinya itu dengan siapa saja yang berhasil membawanya kembali. Setelah melalui berbagai rintangan yang berat termasuk melumpuhkan Adipati Pathak Warak, membinasakan Kapa dan Gentiri yang berkhianat. Raden Umar Said berhasil membawa kembali Dewi Roroyono. Lalu Sunan Ngerang menjodohkan putrinya, Dewi Roroyono, dengan Raden Umar Said (Sunan Muria). # Cara Dakwah# Sunan Muria menjalankan dakwah melalui pendekatan budaya. Dalam seni pewayangan, misal, Sunan Muria diketahui suka menggelar sejumlah lakon carangan pertunjukan wayang gubahan Sunan Kalijaga, seperti : Dewa Ruci, Dewa Srani, Jamus Kalimasada, Begawan Ciptaning, Semar Ambarang Jantur, dan sebagainya. Melalui media pertunjukan wayang, Sunan Muria memberikan penerangan-penerangan kepada masyarakat tentang berbagai hal dalam kaitan dengan tauhid. Dengan pendekatan lewat pertunjukan wayang, tembang-tembang, tradisi-tradisi lama, dan praktik-praktik keagamaan lama yang sudah diislamkan, Sunan Muria berhasil mengembangkan dakwah Islam di daerah Jepara, Tayu, Juwana, bahkan sekitar Kudus. #Keluarga# Berikut adalah Keluarga Sunan Muria berdasarkan keterangan dari Gus Islah Al Qudsi. Sunan Muria menikah dengan Dewi Sujinah binti Sunan Ngudung berputra : Dewi Nasiki, Pangeran Santri Kadilangu, Panembahan Fatih Penghulu, Saridin Syekh Jangkung. Sunan Muria menikah dengan Dewi Roroyono binti Ki Ageng Ngerang berputra: Dewi Nawangsih, Raden Bambang Kebo Nyabrang, Rara Mendut, Panembahan Khatib, Raden Prawoto. #Pemakaman# Kompleks Makam Sunan Muria berada di Bukit Muria yang terletak di Desa Colo, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus, Provinsi Jawa Tengah dan berada pada ketinggian lebih dari 1600 meter di atas permukaan laut. (smber: https://id.wikipedia.org/wiki/Sunan_Muria). *Biografi Sunan Muria, Salah Satu Anggota Wali Songo* Sunan Muria merupakan salah satu anggota Wali Songo yang memiliki peran penting dalam penyebaran agama Islam di Nusantara. Oleh sebab itu, setiap muslim di Tanah Air perlu mengetahui biografi Sunan Muria yang menjadi anggota termuda di Wali Songo. Mengutip dari buku Kisah Teladan Walisongo Sembilan Wali Penyebar Islam di Jawa, M. Faizi, (2007), makna wali songo adalah sembilan orang yang mencintai dalam menyebarkan agama Islam di Indonesia. Khususnya pada daerah Jawa dan Sumatera. Sunan Muria menjadi salah satu anggora Wali Songo yang menyebarkan agama Islam di Pulau Jawa. Tepatnya di di wilayah Desa Colo, Kecamatan Gawe, Kudus, Jawa Tengah. #Biografi Sunan Muria# Mengutip dari buku Tasawuf Nusantara, Sri Mulyati, (2017), berikut adalah biografi Sunan Muria yang merupakan anggota Wali Songo yang termuda. Sunan Muria adalah nama panggilan dari Raden Umar Said. Beliau adalah putra dari Sunan Kalijaga dan Dewi Saroh, putri Syekh Maulana Ishaq. Sunan Muria atau Raden Umar Said adalah wali termuda yang lahir pada sekitar tahun 1450. Beliau menikah dengan Dewi Roroyono, putri dari ulama ternama, yaitu Sunan Ngerang atau Ki Ageng Ngerang yang sangat disegani oleh masyarakat. Sunan Muria terkenal memiliki kelebihan sebagai wali yang sakti, kuat fisiknya. Bukti fisik Sunan Muria yang kuat ini terlihat dari beberapa lokasi padepokannya yang terletak di atas gunung. Selain itu, ulama yang berdakwah di kawasan Jawa Tengah ini juga dikenal dengan seorang yang tekun beribadah, jujur dan senang menyebarkan agama Islam. Di kalangan masyarakat, Sunan Muria juga merupakan seseorang yang sangat peka dan toleran terhadap berbagai problematika. Bahkan, beliau tak jarang turut andil pada masyarakat sekitar Kesultanan Demak dalam memberikan solusi. Sunan Muria juga dikenal dengan sosok kreatif. Hal ini dapat dilihat dari caranya dalam menyebarkan agama Islam di Nusantara. Misalnya, pada para pedagang, petani, maupun nelayan ia memberikan kursus keterampilan secara gratis. #Awal Kehidupan Sunan Muria# Sejak kecil, Sunan Muria sudah mempunyai ketertarikan mengenai pembelajaran agama dan telah dididik oleh ayahnya dalam ajaran Islam. Beliau juga berguru kepada Ki Ageng Ngerang seorang ulama ternama bersama Adipati Pathak serta Sunan Kudus. Berbeda dengan anggota Wali Songo lainnya, Sunan Muria lebih memilih di daerah terpencil untuk berdakwah. Padahal, sebelumnya Sunan Muria terlibat dalam pemilihan Raden Patah sebagai pemimpin perdana kerajaan Islam pertama di Jawa tersebut. Sesuai dengan namanya, Sunan Muria bertempat tinggal di puncak Gunung Muria, pada kecamatan colo, Kota Kudus, Jawa Tengah. Gunung Muria tersebut terletak di wilayah Kabupaten Kudus, Kabupaten Jepara, dan wilayah Kabupaten Pati. Berbagai strategi dakwah dilakukan Sunan Muria, salah satunya adalah dengan bergaul bersama rakyat jelata sembari mengajarkan beragam keterampilan, seperti bercocok tanam, berdagang, serta kesenian untuk menyebarkan agama Islam. #Ajaran Sunan Muria# Sunan Muria merupakan salah satu anggota Wali Songo yang sangat peduli terhadap kelestarian lingkungan. Beliau memberikan ajaran pada masyarakat lokal untuk bercocok tanam, berdagang, dan seni sebagai bagian dari ajaran Islam. Beberapa ajaran yang disampaikan dalam meruwat bumi adalah tradisi Guyang Cekathak (tradisi meminta hujan), Buah Parijoto (ziarah ke makam Sunan Muria), dan Tembang Macapat Sinom Parijotho (tembang ciptaan Sunan Muria). Sunan Muria berhasil menyebarkan Islam berkat dedikasinya di berbagai wilayah, terutama di lereng Gunung Muria, Kudus, Pati, Juana, dan pesisir utara Jawa. Beliau memilih berdakwah kepada rakyat jelata, sehingga ajarannya dapat menjangkau masyarakat luas. Selain itu, Sunan Muria dikenal sebagai satu-satunya Wali Songo yang mempertahankan penggunaan gamelan dan wayang sebagai alat dakwahnya. Keterampilannya dalam pertanian, perdagangan, dan navigasi laut juga menjadi bagian penting dalam dakwahnya. Dalam konflik internal Kesultanan Demak (1518-1530), beliau dikenal penengah atau sebagai pemecah masalah yang handal, mengatasi berbagai konflik meskipun kompleks. Akhirnya, Sunan Muria berhasil memberikan solusi yang dapat diterima oleh semua pihak. #Metode Dakwah Sunan Muria# Berikut adalah beberapa motode dakwah yang digunakan Sunan Muria dalam menyebarkan agama Islam di Indonesia. 1. Melibatkan Rakyat Jelata. Sunan Muria dalam menyebarkan agama Islam, lebih memusatkan pada rakyat jelata. Seperti yang diketahui, bahwa beliau lebih senang mengasingkan diri bersama masyarakat biasa dibandingkan tinggal di pusat Kerajaan Demak dengan para bangsawan. Metode dakwah tersebut sering disebut dengan Topo Ngeli, yang artinya menghanyutkan diri di dalam masyarakat. Sementara itu, agar masyarakat sekitar pegunungan tersebut bisa berbaur, beliau sering memberikan keterampilan untuk nelayan, pedagang, dan rakyat jelata. Beliau bisa mengumpulkan pekerja yang sangat sulit untuk meluangkan waktu belajar agama mereka. Jadi dengan menyalurkan beberapa keterampilan, dapat dengan mudah Sunan Muria menyampaikan ajaran agama Islam kepada mereka. 2. Menggunakan Akulturasi Budaya. Proses dakwah Sunan Muria tidak selalu berjalan dengan lancar. Penduduk di kawasan gunung Muria kebanyakan masih menganut kepercayaan turun temurun yang sulit diubah. Sehingga, metode dakwah menggunakan bil hikmah, yaitu secara bijaksana dan tidak memaksa. Salah satu contohnya adalah dengan mengubah tradisi bancakan menjadi kenduri untuk mendoakan leluhur dengan cara Islam. Meskipun Sunan Muria menggunakan pendekatan moderat, namun tetap menjaga kemurnian agama Islam. Gaya moderat tersebut, ia tiru dari ayahnya, yang tidak mengharamkan tradisi peringatan telung dino hingga sewu dino. Tradisi yang dilakukan untuk memperingati hari-hari tertentu kematian anggota keluarga ini tidak dilarang. Beliau meneruskan ajaran Islam dengan tradisi budaya Jawa, seperti dalam tradisi kenduri setelah kematian seseorang. Tradisi tersebut diubah sedikit dengan menggantikan praktik-praktik klenik dengan cara berdoa dan shalawat. 3. Mempertahankan Kesenian Gamelan dan Wayang. Sunan Muria juga tetap mempertahankan alat-alat musik daerah untuk media dakwahnya, seperti gamelan dan kesenian wayang. Beliaumemasukkan ajaran-ajaran Islam di dalamnya tanpa mengubah budaya yang ada. Beberapa pewayangan lakon diubah karakternya dengan membawa pesan-pesan ajaran Islam, seperti kisah Dewa Ruci, Jimat Kalimasada, Petruk dadi Ratu, Mustakaweni, Semar Ambarang Jantur, dan lain-lain. 4. Menciptakan Beberapa Tembang Lagu Jawa. Selain itu, Sunan Muria juga menciptakan beberapa tembang Jawa yang berisi tentang ajaran Islam. Diantara karyanya yang terkenal yaitu tembang Sinom dan Kinanthi. Dakwahnya tersebut tersebar dari Tayu, Jepara, Juana, hingga sekitar Kudus dan Pati. Melalui tembang Jawa, dengan mudah masyarakat akan menerimanya serta mampu mengingat ajaran Islam yang terkandung di dalamnya untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari masyarakat. #Karya Sunan Muria# Wali Songo tentunya memiliki karya sendiri-sendiri yang menggambarkan sejarah perkembangan Islam di Indonesia, begitupun Sunan Muria. Berikut beberapa karya Sunan Muria yang menarik untuk dipelajari: 1. Tembang Macapat. Karya pertama untuk sarana Sunan Muria berdakwah yaitu tembang macapat. Seperti yang diketahui, salah satu cara berdakwah Sunan Muria adalah melalui berbagai beberapa kesenian Jawa, salah satunya adalah tembang macapat. Tembang macapat merupakan sinom dan kinanthi yang masih lestari hingga saat ini. Melalui tembang macapat inilah umatnya Sunan Muria dapat mengamalkan ajaran agama Islam. 2. Adat Kenduri. Sunan Muria melakukan dakwah yang sama seperti ayahnya yang bergaya moderat dan menyelusup melalui berbagai tradisi kebudayaan Jawa. Salah satunya adalah adat Kenduri pada hari-hari tertentu setelah kematian anggota keluarga. 3. Parijoto. Selanjutnya, ada buah dengan ukuran sebesar kacang tanah yaitu parijoto. Ketika parijoto masih mentah, memiliki warna merah muda dan ketika sudah matang akan berwarna hitam. Rasa buah ini dominan asam tetapi kandungan gizi yang dimiliki cukup baik dan cocok untuk ibu hamil. Selain itu, buah parijoto ini juga termasuk warisan dan karya dari Sunan Muria. 4. Pakis Haji. Terakhir, karya Sunan Muria tidak hanya dalam bentuk tembang macapat saja, juga buah dan tumbuhan yang sangat bermanfaat. Salah satunya pakis haji yang dipercaya sebagai tumbuhan yang berasal dari kesaktian Sunan Muria. Pada umumnya tumbuhan pakis haji ini digunakan untuk mengusir hewan tikus. Tumbuhan ini dapat dilihat para peziarah yang dijual di sekitar area makam Sunan Muria. #Wafatnya Sunan Muria# Sunan Muria wafat pada tahun 1551 dan dimakamkan di lereng Gunung Muria, Kecamatan Colo, sekitar 18 kilometer dari Kota Kudus. Makamnya di Desa Colo selalu ramai oleh peziarah, dan setiap harinya dengan sekitar 15.000 pengunjung. Di sekitar makamnya, yang dipercaya sebagai pengawalnya terdapat 17 makam prajurit dan abdi dalem. Itu dia biografi Sunan Muria yang menjadi anggota termuda di Wali Songo beserta ajaran dakwahnya dalam menyebarkan agama Islam. (sumber: https://kumparan.com/profil-tokoh/biografi-sunan-muria-salah-satu-anggota-wali-songo-22nJC4HqPPe/full). *Sunan Muria, Wali Songo Termuda Putra Sunan Kalijaga* Sunan Muria yang nama kecilnya Raden Umar Said adalah penyebar Islam dari kalangan Wali Songo di Tanah Jawa yang termuda. Sunan Muria sebagaimana ayahnya, yaitu Sunan Kalijaga, menjadikan seni dan budaya sebagai sarana dakwahnya. Tradisi Hindu Buddha yang sudah mengakar berabad-abad di Gunung Muria, Kudus, Jawa Tengah, beliau masuki dan dialihkan ke dalam ajaran Islam. Tradisi bancaan, makan ramai-ramai untuk meminta keselamatan tanpa ada yang memimpin, dialihkan ke acara kenduri yang dipimpin oleh ahli agama Islam. Diakhiri dengan nasehat agama dan berdoa untuk mereka yang sudah meninggal dunia. Sunan Muria wafat pada tahun 1551 M. Ia dimakamkan di lereng Gunung Muria, Colo, 18 km dari Kota Kudus. #Nama dan Tempat Lahir# Nama kecil: Raden Umar Said, lahir tahun 1450 M di Colo, Muria, Kudus, Jawa Tengah. #Tempat dan Tanggal Wafat# Wafat di Colo, Muria, Kudus, pada tahun 1551 M dan dimakamkan di ketinggian 1.600 meter di atas permukaan laut di bukit Muria. #Nasab/Keturunan# Ayah: Raden Said alias Sunan Kalijaga. Ibu: Dewi Sarah binti Maulana Ishaq. #Status Sosial# Sunan Muria mempunyai dua orang istri: 1. Dewi Sujinah binti Sunan Ngudung. 2. Dewi Roroyono binti Sunan Ngerang. Dari keduanya memiliki lima anak. Di antaranya: Sunan Kadilangu. #Keahlian# 1. Bercocok tanam. 2. Berdagang. 3. Menakodai perahu. 4. Berdakwah di daerah terpencil, lewat sarana seni dan budaya, terutama wayang. Ia menjadi dalang dengan lakon karya Sunan Kalijaga, seperti Dewa Ruci, Jamuskalimasada, Semar Ambarang, dan lainnya yang diarahkan untuk menegakkan kalimat Tauhid. #Perjuangan# Sejak kecil, ayahnya, Sunan Kalijaga, sudah mengajarkan Islam secara mendalam. Beliau juga berguru kepada Sunan Ngerang. Setelah lulus, beliau lalu memilih berdakwah di daerah terpencil, mengajari masyarakat untuk pandai bercocok tanam, berdagang, menakhodai perahu, lalu diajak untuk menjalankan syariat Islam. Beliau memilih berdakwah di kalangan rakyat jelata daripada kalangan raja-raja. Meski beliau sering diundang untuk menjadi penengah para raja Demak yang sedang konflik (1518 M-1530 M). Dalam hal merawat lingkungan hidup, tradisi meruwat bumi pada waktu itu Guyang Cekatak, atau di masa kecil saya namanya urut-urut udan, yaitu di tengah sawah di buat air menetes untuk memancing hujan dikelilingi dengan berbagai macam sesajen di rubah menjadi shalat Istisqa, shalat meminta hujan. Sunan Muria sebagaimana orang tuanya ia juga menyusun lagu-lagu Jawa untuk berdakwah, apakah dalam bentuk lagu Sinom dan lagu Kinanti. Berikut contoh lagu Sinom karya Mangkunegara IV (1857 M), bait awalnya saja: Nulhodo laku utomo… (Meneladani pada kelakuan yang utama)Tumrape wong tanah Jawo… (Buat orang-orang Tanah Jawa) Wong Agung ing Ngeksi Gondo… (Orang yang luhur pendiri Kerajaan Mataram). Panembahan Senopati kapati amarsudi… (Panembahan Senopati yang dalam berusaha sangat mati- matian untuk mencapai cita-citanya). (sumber: https://klikmu.co/sunan-muria-wali-songo-termuda-putra-sunan-kalijaga/). Blog ini dibuat dengan tujuan untuk menambah ilmu si Pembaca, tidak ada keuntungan Ekonomi sedikitpun yang diperoleh dari Pembuat. Tulisan diatas merupakan gabungan beberapa artikel dan ditulis juga sumbernya.

Comments

Popular posts from this blog

Ling Tien Kung dan Syari'at Islam (Oleh H. Yudhi)

Kedamaian di Perumahan Cibubur City (Oleh H. Yudhi)

Abu Bakar Siddiq RA (H. Yudhi)