Suhaib Ar Rumi RA (H. Yudhi)
Shuhaib Ar Rumi RA (H. Yudhi). Shuhaib bin Sinan ar-Rumi (lahir 587 M), atau lebih dikenal Shuhaib ar-Rumi, adalah mantan budak dari Kerajaan Byzantium yang menjadi sahabat nabi dan sebagai salah satu dari pemeluk Islam pertama. Ayahnya, Sinan yang berasal dari Bani Tamim, adalah seorang hakim di Ubullah, Persia. Ibunya bernama Salma binti Qa'id. Dia mendapat nisbat "ar-Rumi" karena lama menetap di negeri Romawi. Kunyahnya adalah Abu Yahya. #Kehidupan# Suhaib sebenarnya orang Arab, ayahnya gubernur di Irak yang saat itu wilayah Persia (Ubullah), tetapi saat masih kecil desanya diserang Romawi dan dia diambil dijadikan budak sampai dewasa di Romawi Timur (Bizantium). Ayahnya Sinan sampai hilang ingatan karena sedih kehilangan Shuhaib. Suatu hari, Shuhaib mendengar pembicaraan antara majikannya dengan seorang dukun. Dukun itu berkara, “Di jazirah Arab telah muncul seorang nabi dimana kitab terdahulu telah meberitakan kedatangannya.” Pembicaraan itu menarik perhatian Shuhaib dan mendorong keinginannya untuk melarikan diri. la sangat ingin menjumpai nabi yang telah diwartakan kedatangannya dalam kitab terdahulu. Setelah 20 tahun menjadi budak Suhaib bisa melarikan diri ke Mekkah. #Shuhaib Menjadi Muslim# Selama di Mekah, Shuhaib pelan-pelan mulai berdagang dari berdagang skala kecil hingga sukses. Lalu Shuhaib menemukan keberadaan Nabi yang beritanya ia dengar dahulu. Shuhaib bin Sinan dan Ammar bin Yasir masuk Islam pada waktu yang sama. Ketika itu mereka bertemu di depan rumah al-Arqam bin Abi al-Arqam, tempat Nabi Muhammad mengajarkan Islam kepada para sahabatnya. Saat bertemu Ibnu Sinan, Amar bertanya, “Apa yang kaulakukan di sini?”. Shuhaib justru balik bertanya, “Kau sendiri, apa tujuankmu ke sini? Ammar menjawab, “Aku ingin masuk ke tempat Muhammad saw dan mendengar perkataannya.” Shuhaib berkata, “Aku pun sama.” Keduanya memasuki rumah itu dan Nabi berkenan menerima mereka serta menjelaskan kepada mereka ajaran Islam. Mereka masuk Islam setelah lebih 30 orang berislam. Awalnya Shuhaib menyembunyikan keislamannya, namun tak lama diketahui juga oleh kaum Quraisy Mekah sehingga ia ikut mendapatkan tindakan keras. Sampai akhirnya Nabi perintahkan hijrah ke Madinah, ia pun segera berangkat. Saat Shuhaib hendak berangkat hijrah ke Madinah, sekeiompok Quraisy mengikutinya diam-diam. Ketika di tempat yang sepi, orang-orang Quraisy itu mencegat dan mengepung Shuhaib. Namun keinginannya untuk hijrah ke Yatsrib tak tergoyahkan oleh gangguan apa pun. Karena itu, ketika kaum Quraisy menghadangnya, ia berlari dan naik ke tempat yang lebih tinggi lalu mempersiapkan busur dan anak panahnya. la arahkan panahnya kepada para pengejarnya, lalu berteriak keras, “Hai kaum Quraisy, kalian pasti tahu, aku adalah orang yang sangat mahir memanah. Aku dikenal sebagai pemanah yang paling jitu. Anak panahku tak pernah meleset. Demi Allah, jika kalian memaksa mendekatiku, kalian tidak akan mendapatkan apa-apa kecuali hujan anak panahku. Jika anak panahku habis, aku akan hancurkan kalian dengan pedangku. Aku tidak akan pernah menyerah selama tanganku masih memegang senjata.” Melihat bahwa kaum Quraisy itu tidak gentar dengan ancaman anak panahnya, Shuhaib berkata, “Bagaimana jika kuserahkan seluruh hartaku kepada kalian? Apakah kalian akan meinbiarkanku pergi?” Rupanya penawaran itulah yang dinanti-natikan kaum musyrik Qurasiy sehingga mereka setuju melepaskan Shuhaib. Saat Shuhaib tiba di Quba, pinggiran Yastrib (Madinah). Di tempat itulah ia bertemu dengan Nabi. Ketika keduanya berjumpa, Nabi berkata kepadanya dengan wajah gembira, “Perniagaan yang beruntung wahai Abu Yahya, sungguh perniagaan yang menguntungkan.” Shuhaib tampak terkejut mendengar ucapan Nabi, namun ia segera menyahut dengan nada yang ceria, “Wahai Rasulullah, sungguh aku tidak pernah menceritakan masalah yang kuhadapi di perjalanan kepada seorang pun. Engkau pastimengetahuinya dari Malaikat Jibril.” Peristiwa ini direkam dalam al-Quran surat al-Baqarah ayat 207: "Di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirmya karena mencari rida Allah dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya." Shuhaib ar-Rumi adalah veteran Perang Badar, Perang Uhud, Khandak dan lainnya bersama Nabi. Shuhaib adalah pejabat sementara khalifah saat Umar bin Khathab terbunuh dan Ustman bin Affan belum diangkat menjadi khalifah. Umar pernah berkata kepadanya, “Aku lihat kau banyak memberi dan kadang-kadang berlebihan.” Shuhaib menjawab, “Aku mendengar Nabi berkata, ‘Sebaik-baik kamu adalah yang mau memberi makanan." Kulitn Shuhaib kemerahan, rambutnya lebat, postur tubuhnya tidak sedang meskipun terlihat agak pendek, dan logat bicaranya masih melekat dengan logat Romawi. #Kematian# Suhaib meninggal di Madinah pada bulan Syawal 38 H dengan usia 70 tahun lebih. #Keistimewaan Shuhaib bin Sinan Ar Rumi# Berikut adalah di antara keistimewaan dari Shuhaib bin Sinan Ar Rumi: 1. Termasuk kedalam assabiqunal Awwalun, atau sekelompok orang yang masuk Islam pertama kali. 2. Memiliki semangat dan tekad besar dalam memperjuangkan dan membela agama Islam. Beliau berkata, "Tiada suatu perjuangan bersenjata yang diterjuni Rosulallah sholallahualahi wasallam, kecuali aku menyertainya. Tiada suatu baiat yang dijalaninya, kecuali tentulah aku menghadirinya. Tiada suatu pasukan bersenjata yang dikirimnya, kecuali aku termasuk dalam rombongannya. Tidak pernah beliau sholallahu alaihi wasallam bertempur, baik di masa-masa pertama Islam, atau pada masa-masa akhir, kecuali aku berada di sebelah kanan atau disebelah kirinya. Dan kalau ada sesuatu yang dikhawatirkan kaum muslimin di hadapan mereka, pasti aku menyerbu paling depan. demikian pula bila ada yang dicemaskan dibelakang mereka, pasti aku mundur ke belakang. Aku tidak sudi sama sekali membiarkan Rosulallah berada dalam jangkauan musuh sampai ia kembali menemui Allah. 3. Melakukan jual Beli Yang menguntungkan, yang dipuji oleh Allah dan Rosul-Nya. Namun ini bukan soal jual beli harta dunia, tetapi ini tentang bagaimana Shuhaib rela menukarkan Hartanya untuk bisa berhijrah dijalan Allah. Dikisahkan, suatu ketika Suhaib berhijrah namun diburu oleh Sekelompok kaum kafir Quraisy. Hingga ketika jarak orang Kafir itu telah dekat dengan Suhaib, suhaib berkata pada mereka, "Kalian tahu aku adalah pemanah ulung, Demi Allah kalian tidak bisa mendekatiku sebelum aku melepaskan semua anak panah yang ada dikantongku, setelah itu aku akan menggunakan pedang untuk menebas kalian, sampai senjataku habis semua. Nah, sini majulah jika kalian berani. Akan Tetapi jika kalian setuju, saya akan tunjukkan tempat penyimpanan harta bendaku, asal saja kalian membiarkan aku pergi". Orang-orang kafir itu tertarik dan berkata, "Dulu engkau datang kepada kami dengan tanpa membawa apapun, sekarang hartamu menjadi banyak ditengah-tengah kami hingga melimpah ruah. Dan Sekarang engkau akan pergi dengan membawa jiwa dan harta kekayaanmu? Sudah seharusnya harta itu menjadi milik kami. Maka diberitahukanlah tempat penyimpanan Harta itu demi bisa berhijrah dengan selamat tanpa gangguan. Maka Sikap Shuhaib itupun dipuji oleh Rosulallah sholallahualaihi wasallam, ketika beliau melihat Shuhaib baru sampai dari perjalana Hijrah "Sungguh Menguntungkan jual beli Abu Yahya, Betapa menguntungkan JUal belinya". Ketika itu Allah juga menurukan Ayat-Nya yang mulia: "Dan di antara manusia ada yang mengorbankan dirinya untuk mencari keridho'an Allah. Dan Allah Maha Penyantun kepada Hamba-Hamba-Nya. (QS AL Baqarah: 207). 4. Sangat dermawan. Bahkan beliau pernah dinasehati oleh Umar bin Khattab, "Aku melihatmu mendermakan makanan hingga melewati batas." Shuhaib menjawab, "Itu karena aku pernah mendengar Rosulallah bersabda: "Oranng yang terbaik di antara kalan adalah yang suka memberi makanan". 5. Dipilih AMirul Mukminin Umar bin Khathab untuk menjadi Imam Sholat kaum muslimin. (sumber: https://id.wikipedia.org/wiki/Shuhaib_ar-Rumi). *Kisah Sahabat Shuhaib Ar-Rumi: Melepas Kekayaan Demi Keimanan* Kisah ini berawal dari diserang dan terlukannya Khalifah Umar bin Al-Khattab, beliau menyatakan “Jika aku mati, Shuhaib akan memimpin doa dan dia akan menjadi pemimpin sampai khalifah baru terpilih.” Lantas siapakah Shuhaib Ar-Rumi? Shuhaib Ar-Rumi adalah salah satu sahabat Rasulullah dan merupakan As-Sabiqun Al-Awwalun (orang yang paling dahulu dan pertama masuk Islam). Shuhaib beserta keluarganya adalah orang Arab asli perantau yang datang ke Irak jauh sebelum datangnya Islam. Ayahnya bernama Sinan bin Malik seorang hakim di Ubullah, Persia. Ia diberi julukan Ar-Rumi karena saat ia berusia lima tahun, keluarganya membawanya ke desa Al-Thani untuk menikmati kehidupan pedesaan. Namun kenyataannya, penjarahan terjadi ketika tentara Bizantium membunuh para pengawal, merampas kekayaan negeri dan menawan sejumlah wanita dan anak-anak sebagai budak. Shuhaib adalah salah satu tawanan, dijual belikan oleh tentara yang menangkapnya di pasar budak Kekaisaran Bizantium, ibu kota Konstantinopel. Sejak menjadi budak orang-orang Romawi, Shuhaib tumbuh dewasa di negeri Romawi dan besar di antara penduduknya. Berpindah-pindah dari satu majikan ke majikan lain, berkhidmat dari satu tuan ke tuan lainnya. Hingga kisahnya tentang masa-masa yang dihabiskannya sebagai budak membawanya kepada suatu hikmah yang tidak disangka. Dijualnya Shuhaib kepada majikan salah satu orang terkaya di Mekkah, Abdullah ibn Judan. Shuhaib Ar Rumi mempunyai etos kerja yang baik, cerdas, dan tulus. Karena itu, Abdullah ibn Judan membebaskan dan mengakhiri statusnya sebagai budak.
Setelah merdeka, Shuhaib langsung menuju tanah asalnya. Ia semakin rindu kepada negeri Arab saat ia mendengar seorang pendeta Nasrani pernah berkata kepada salah seorang tuannya, “Sudah dekat datangnya sebuah zaman di mana akan muncul di Jazirah Arab seorang Nabi yang membenarkan ajaran Isa putra Maryam, dan mengeluarkan manusia dari kegelapan menuju cahaya.” Hingga suatu hari, ketika Shuhaib kembali dari perjalanannya, ada yang mengatakan bahwa “Muhammad bin Abdullah baru saja diutus sebagai Nabi, dan kini ia berdakwah mengajak manusia untuk beriman kepada Allah. Mengajak mereka untuk berbuat adil dan berbuat ihsan. Melarang mereka berbuat keji dan munkar.” Shuhaib bertanya, “Apakah dia orang yang digelari Al-Amin itu?” “Ya, benar!” “Di mana rumahnya?” Tanya Shuhaib penasaran. “Di rumah Al-Arqam bin Abi Arqam dekat Bukit Shafa. Tetapi hati- hati kalau pergi ke sana, jangan sampai terlihat oleh orang Quraisy seorang jua pun. Bila ada yang melihatmu pergi ke sana, kamu akan disiksa.” Dia pergi ke sana dan menemukan temannya, Ammar bin Yasir juga hadir. Mereka mendengar ayat-ayat dari Al-Qur’an dan beberapa saat kemudian mereka berlomba mengulurkan tangan kepada Rasulullah untuk mengucapkan dua kalimat syahadat di hadapan beliau. Sebab keputusannya, Shuhaib merasakan penyiksaan yang dilakukan oleh para suku Quraisy. Shuhaib merasakan semua penderitaan itu dengan tenang lagi sabar. Tatkala Rasulullah mengizinkan para sahabat hijrah ke Madinah, Shuhaib bertekad hendak pergi tetapi kaum Quraisy mengetahui rencana Shuhaib. Maka Shuhaib dihalangi dan senantiasa diamat-amati. Mereka tidak rela bila Shuhaib pergi membawa emas dan perak hasil perdagangannya. Karena senantiasa diamat-amati, Shuhaib menyusup pergi dan menuju Madinah. Namun tidak lama setelah Shuhaib pergi para pengintai Shuhaib bangun. Lalu memacu kuda yang tercepat larinya melacak kepergian Shuhaib. Ketika Shuhaib merasa ada yang mengejarnya, dia naik ke tempat yang lebih tinggi. la pun mengambil panah dan memasangkan pada busurnya. Shuhaib berteriak lantang, “Hai kaum Quraisy, kalian tahu saya pemanah paling jitu. Demi Allah, kalian tidak akan dapat mendekati saya. Setiap anak panahku akan habis menewaskan kalian satu persatu. Lalu aku akan mengibaskan pedang kepada kalian, bila anak panah yang aku miliki telah habis!” “Demi Allah, kami tidak akan membiarkan kamu dengan uangmu yang banyak itu lepas dari kami. Kamu datang ke Makkah dalam keadaan fakir dan miskin. Kini kamu sudah kaya dan lebih dari cukup.” Orang-orang Quraisy berteriak. Shuhaib lalu berkata “Bagaimana kalau hartaku ini aku tinggalkan untuk kalian. Bersediakah kalian melapangkan jalan bagiku?.” “Ya, kami bersedia!” Jawab orang-orang Quraisy. Shuhaib melemparkan kantong uangnya ke hadapan mereka, lalu mereka ambil dan membiarkan Shuhaib pergi ke Madinah. Shuhaib pergi ke Madinah untuk menyelamatkan agamanya, tanpa menyesal dan sedih atas harta yang dikorbankannya, demi untuk memetik kemuliaan dan kebahagiaan hidup. Itulah kisah keberanian Shuhaib Ar-Rumi menghadapi kaum Quraisy. Ia tetap tenang lagi sabar meski merasakan semua penderitaan. Keimanan terhadap Islam tidak bergeser sedikitpun. (sumber: https://alazharpeduli.or.id/publikasi/artikel-berita/p/kisah-sahabat-shuhaib-ar-rumi-melepas-kekayaan-demi-keimanan). *SHUHAIB AR-RUMI Radhiallahu ‘anhu* Ahlussunnah wal jamaah ahli mengamalkan sunnah dan berjamaah di atas kebenaran, memuliakan sahabat Nabi Subhanahu wa Ta’ala. Adapun Syi’ah pecinta Ali bin Abi Thalib, namun hanya ucapan belaka, sesungguhnya mereka musuh Ali dan Ali berlepas diri dari mereka. Syi’ah (pengikut Ali) akan tetapi kenyataannya adalah Rafidhah (penolak) karena menolak Zaid bin Ali bin Husain yang wala’ (loyal) kepada Abu Bakar dan Umar hingga akhirnya menolak Islam. Syaikh Muhamad bin Shalih al-‘Utsaimin mengatakan, “Pada hakikatnya Ahlussunnah yang berhak sebagai Syi’ah (pengikut) Ali, dan siapa saja yang beriman dari ahli bait, sebab mukmin adalah wali bagi mukmin yang lain. Firman Allah: Dan mukminin serta mukminat adalah sebagian wali dari sebagian yang lain. (QS. at-Taubah: 71). Maka setiap orang yang paling kuat imannya kepada Allah sesungguhnya dia paling kuat wala’nya kepada kaum mukminin, baik kepada ahli bait maupun yang lainnya. Sedang Ali bin Abi Thalib berlepas diri dari semua perkataan batil yang dinisbatkan kepadanya, bahkan beliau membakar kaum yang ghuluw (berlebihan) kepadanya tatkala mereka berkata kepadanya, “Engkau Allah!” –na’udzubillah-. Sungguh, Ali tidak dapat memaafkan kekafiran ini, maka beliau memerintahkan untuk menggali parit dan mengumpulkan kayu bakar lalu melemparkan mereka ke dalam api. Ali membunuh mereka dengan seburuk-buruk cara pembunuhan karena mereka menjadikannya sebagai Tuhan. Sementara itu mereka yang tidak menjadikan Ali sebagai Tuhan secara lafazh, mereka menjadikannya Tuhan secara makna, yaitu berkeyakinan bahwa Ali yang mengatur alam dan bahwa tidak ada dzarrah (semut paling kecil) di bumi dan di langit kecuali Ali bin Abi Thalib yang mengaturnya, Ali walinya para wali yang mengatur seluruh alam dan membawahi seluruh wali pengatur sebagian urusan alam.” Yang berakidah semacam ini bukanlah muslim, walaupun dia mengaku Islam. Karena Islam bukan hanya pengakuan semata akan tetapi berpegang teguh dengan ajarannya. #KEUTAMAAN SHUHAIB# Beliau adalah sahabat mulia bernama Shuhaib bin Sinan, Abu Yahya an-Namri. Terkenal dengan sebutan ar-Rumi karena pernah tinggal di Romawi beberapa lama, padahal dia termasuk ahli jazirah yang ditawan oleh Romawi dalam sebuah peperangan. Lalu Shuhaib dijual di Makkah dan dibeli oleh Abdullah bin Jad’an. Atau dia lari lalu datang ke Makkah dan bersekutu dengan bani Jad’an. Shuhaib termasuk pembesar sahabat, as-Sabiqun Awwalun dan pembesar ahli Badar. Tatkala Umar –radhiyallah ‘anhu– ditikam oleh Majusi saat shalat Shubuh maka beliau menyuruh Shuhaib untuk menggantikannya sebagai imam dalam shalat dan terus mengimami kaum muslimin hingga Ahli Syura sepakat mengangkat pemimpin. Shuhaib sebagai sahabat mulia sangat terhormat, dermawan, pemurah dan pemaaf -radhayallahu ‘anhu- serta termasuk sahabat yang menghindari fitnah yang terjadi di tengah sahabat dan beliau sibuk dengan urusannya sendiri. Inilah sikap yang benar dalam menghadapi fitnah, yaitu menghindar tidak ikut di dalamnya dan menyendiri menyibukkan diri dengan maslahat dunia dan agama. Ammar bin Yasir mengatakan, “Aku menemui Shuhaib di pintu rumah al-Arqam, di sana Rasulullah menawarkan Islam kepada kami dan kami masuk Islam. Lalu kami tinggal hingga sore hari. Kami keluar dalam keadaan sembunyi.” Semoga Allah melaknat Syi’ah yang menyesatkan dan melaknat para sahabat. Sahabat yang masuk Islam dalam kondisi ancaman dan bahaya dari Quraisy yang dahsyat, pengikut Rasulullah sangat sedikit dan harus sembunyi serta merahasiakan Islam mereka namun mereka bersabar ikhlas mengikuti Rasulullah dan istiqamah di atas Islam. Adakah orang seperti ini menjual keislamannya dengan kekafiran dan kemurtadan?! Untuk apa seseorang masuk Islam dalam keadaan bahaya lalu setelah aman keluar darinya? Mereka disiksa, diusir tetap bersabar lalu setelah mengalahkan Romawi dan Persia memilih kemurtadan? Akan tetapi Syi’ah sangat jahat dan sangat melampaui batas. Seandainya seseorang masuk Islam dalam keadaan terpaksa sementara Islam dalam keadaan aman dan jaya tidak mudah untuk dihukumi murtad, lalu bagaimana dengan sahabat Nabi yang hanya kaum Syi’ah yang jahil tentang keadaan mereka? Mujahid mengatakan, “Yang pertama kali menampakkan Islam adalah 7 orang; yaitu Rasulullah, Abu Bakar, Bilal, Khabbab, Shuhaib…” Ammar bin Yasir dan Shuhaib disiksa hingga tidak mengetahui apa yang dikatakan. Silahkan Anda berkata sekehendakmu, wahai Syi’ah, tentang sahabat Rasul, akan tetapi kapan kau pernah disiksa di jalan Allah sebagaimana para sahabat?! Kapan nenek moyangmu menemani Nabi berhijrah dan berperang bersama Nabi?! Kapan ada pendahulu Syi’ah yang menyebarkan Islam di seluruh alam sebagaimana para sahabat?! Ataukah kaum Syi’ah tidak lain kecuali pewaris Quraisy yang memusuhi dan menyiksa para sahabat? Andaikata kaum Syi’ah mendapati zaman Abu jahal yang menyiksa sahabat Nabi mereka, niscaya mereka akan menyiksa sahabat bersama Abu Jahal sebab keyakinan dan perkataan selalu diwujudkan dalam perbuatan. Jika akidah dan perkataan melaknat para sahabat maka perbuatan tangan pun hanya tinggal melampiaskan. Dari Ibnu Abbas -radhiyallah ‘anhu- berkata tentang ayat ini: Di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya karena mencari keridhaan Allah; dan Allah Maha Penyantun kepada para hamba-Nya. (QS. al-Baqarah: 207). Bahwa ia turun mengenai Shuhaib dan orang semisalnya yang disiksa oleh kafir Quraisy untuk dikeluarkan dari Islam. Allahu akbar! Kafir Quraisy menyiksa para sahabat agar murtad namun usaha mereka sia-sia, lalu kenapa kaum Syi’ah merasa yakin bahwa para sahabat kafir dan murtad sepeninggal Rasul?
Abu Jahal dan kafir Quraisy menyiksa sahabat agar keluar dari Islam tetapi mereka tidak berhasil dan tetap meyakini bahwa sahabat muslim dan pengikut Rasulullah. Lalu, kenapa keyakinan Syi’ah tentang sahabat lebih buruk dari keyakinan Abu Jahal dan kafir Quraisy? Abu Jahal dan kafir Quraisy menyiksa sahabat karena mengetahui mereka masuk Islam dan mengikuti Rasulullah, adapun Syi’ah menyiksa sahabat karena meyakini bahwa mereka telah kafir dan murtad. Na’udzu billah dari kesesatan yang menutupi hati, mata dan akal. Tatkala Shuhaib hijrah ke Madinah, kafir Quraisy menghadangnya maka beliau berkata, “Maukah kalian kutunjukkan hartaku dan kalian bebaskan aku berhijrah?” Jawab mereka, “Ya.” Maka beliau menunjukkan hartanya kepada mereka dan dibiarkan hijrah ke Madinah. Wahai Syi’ah, yang berhak dicela adalah orang yang bakhil, mencari dunia dan tidak bersungguh-sungguh untuk hijrah. Sahabat menebus dirinya dengan hartanya agar leluasa hijrah, lalu dituduh murtad?! Semoga Allah memberikan balasan yang setimpal kepada kaum Syi’ah. Shuhaib wafat di Madinah pada tahun 38 Hijriah. Semoga Allah meridhainya. (sumber: https://artikel.alfurqongresik.com/shuhaib-ar-rumi/). Blog ini dibuat dengan tujuan untuk menambah ilmu si Pembaca, tidak ada keuntungan Ekonomi sedikitpun yang diperoleh dari Pembuat. Tulisan diatas merupakan gabungan beberapa artikel dan ditulis juga sumbernya.
Comments
Post a Comment