Jalaluddin Rumi RA (H. Yudhi)

Jalaluddin Rumi RA (H. Yudhi). Jalāl ad-Dīn Muhammad Rūmī , juga dikenal dengan nama Jalāl ad-Dīn Muhammad Balkhī ) atau sering pula disebut Rumi (30 September 1207 – 17 December 1273), adalah seorang penyair sufi Persia, teolog Maturidi, sekaligus ulama yang lahir di Balkh (sekarang Samarkand), Persia Raya. Selama tujuh abad terakhir, orang-orang Iran, Tajik, Turki, Yunani, Pashtun, orang-orang Islam di Asia Tengah, serta orang-orang Islam di Subbenua India telah menikmati karya-karyanya. Puisi-puisinya telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa dan juga diubah ke dalam beragam format. Rumi telah dikenal sebagai salah satu "penyair terpopuler" dan juga "penyair terlaris" di Amerika Serikat. Kebanyakan karya-karya Rumi ditulis dalam bahasa Persia, tetapi ia juga terkadang menggunakan bahasa Turki, Arab, dan Yunani dalam tulisan-tulisannya. Salah satu karyanya, yaitu Kitab Masnawi (Mathnawi), yang disusun di Konya, dianggap sebagai salah satu puisi terbaik dalam bahasa Persia. Karya ini merupakan salah satu karya paling berpengaruh dalam dunia Sufisme, dan kerap disebut sebagai "Quran dalam bahasa Persia". Hingga saat ini, karya-karya Rumi dalam bahasa aslinya telah dan masih banyak dibaca di wilayah Persia Raya dan juga wilayah-wilayah yang menuturkan bahasa Persia. Sementara itu, hasil terjemahan karya-karyanya juga amat populer, terutama di Turki, Azerbaijan, Amerika Serikat, dan wilayah Asia Selatan. Puisi-puisinya membawa pengaruh siginifikan, tidak hanya teradap sastra Persia, tapi juga terhadap tradisi sastra yang ditulis dalam bahasa Turki Utsmaniyah, Chagatai, Urdu, Bengali dan Pashtun. #Kehidupan awal# Ayahnya yang masih merupakan keturunan Abu Bakar bernama Bahauddin Walad, sedangkan ibunya berasal dari keluarga kerajaan Khwarazm. Ayah Rumi merupakan seorang cendekia yang saleh, berpandangan ke depan, dan seorang guru yang terkenal di Balkh. Saat Rumi berusia tiga tahun, karena terancam oleh serbuan Mogol, keluarganya meninggalkan Balkh melalui Khurasan dan Suriah, sampai ke Provinsi Rum di Anatolia tengah, yang merupakan bagian Turki sekarang. Mereka menetap di Qonya, ibu kota provinsi Rum. Dalam pengembaraan dan pengungsiannya tersebut, keluarganya sempat singgah di kota Nishapur yang merupakan tempat kelahiran penyair dan ahli matematika Omar Khayyam. Di kota ini, saat Rumi berusia 6 tahun, ayahnya mengajak Rumi bertemu dengan seorang sufi terkenal Fariduddin Attar yang meramalkannya akan termasyhur yang akan menyalakan api gairah ketuhanan. Hari itu, sebagaimana biasanya, Jalaluddin Rumi tengah mengajar para muridnya dalam sebuah perkuliahan. Tiba-tiba seseorang yang sebelumnya belum dikenal secara lebih dekat oleh Rumi masuk ruang perkuliahan tersebut. Orang asing itu pun menunjuk sebuah tumpukan buku sembari bertanya dengan nada berantakan, "Apa ini?" Rumi menjawab dengan nada jengkel, "Kau tidak akan mengerti." Mendapat jawaban yang demikian dari Rumi, orang itu lantas membawa buku-buku tersebut untuk dibakar. Maka, tersulutlah api yang membakar buku-buku tersebut, Rumi ganti bertanya, "Apa ini?" Orang asing itu menjawab, "Kau tidak akan mengerti." Saat itu, Rumi terhentak dalam kebingungan. Dia merasa bodoh, hingga pada akhirnya ia menjadi murid dari orang asing yang membakar buku-buku itu. Orang asing tersebut adalah Syamsuddin Al-Tabrizi, atau dikenal sebagai Syams Tabrizi. Dialah guru yang membimbing Rumi untuk meninggalkan segalanya. Sejak pertemuannya dengan Syams Tabrizi, Rumi berubah secara drastis. Hingga pada akhirnya, Rumi menjadi seorang sufi agung yang populer dengan syair-syair indahnya. Suatu ketika, Syams Tabrizi meninggalkan Rumi tanpa memberitahukan ke mana tujuan dari kepergiannya itu. Rumi bagai anak ayam yang kehilangan induknya. Maka, lahirlah sebuah kitab yang berjudul Diwan Syams Tabrizi yang berisi ghazal-ghazal kerinduan Rumi kepada Sang Guru, Syams Tabrizi. Tahun 1244 M, Rumi bertemu dengan syekh spiritual lain, Syamsuddin dari Tabriz, yang mengubahnya menjadi sempurna dalam ilmu tasawuf. Setelah Syamsuddin wafat, Rumi kemudian bertemu dengan Husamuddin Ghalabi, dan mengilhaminya untuk menuliskan pengalaman spiritualnya dalam karya monumentalnya Matsnawi-ye Ma’nawi. Ia mendiktekan karyanya tersebut kepada Husamuddin sampai akhir hayatnya pada tahun 1273 M. Suatu hari Rumi bertanya, Jika ilmu pengetahuan dan logika membuat orang semakin pandai dan cerdik, mengapa pada saat yang sama menimbulkan permusuhan? Mengapa orang beriman itu berpikiran sempit dan banyak melakukan penyimpangan? Apakah pandangan sempit merupakan sifat dan ciri para pendiri agama besar? Apa sebenarnya nilai kitab suci bagi orang beriman? Apakah hanya untuk dibaca dengan suara merdu dan tidak untuk ditafsirkan dalam rangka menjawab realitas kehidupan? Mengapa orang beriman yang tahu isi kitab suci itu gagal dalam tindakan dan muamalah? Rumi mengkombinasikan tiga hal sekaligus, mempunyai visi spiritual yang mendalam sekelas Buddha atau Yesus, mempunyai refleksi intelektual yang luas seperti Plato atau Aristoteles dan mempunyai kemahiran dalam menemukan kata-kata indah seperti Shakesphare. #Karya# Kumpulan puisi Rumi yang terkenal bernama al-Matsnawi al-Maknawi konon adalah sebuah revolusi terhadap Ilmu Kalam yang kehilangan semangat dan kekuatannya. Isinya juga mengkritik langkah dan arahan filsafat yang cenderung melampaui batas, mengebiri perasaan dan mengkultuskan rasio. Diakui, bahwa puisi Rumi memiliki ciri khas tersendiri dibandingkan para sufi penyair lainnya. Melalui puisi-puisinya Rumi menyampaikan bahwa pemahaman atas dunia hanya mungkin didapat lewat cinta, bukan semata-mata lewat kerja fisik. Dalam puisinya Rumi juga menyampaikan bahwa Tuhan, sebagai satu-satunya tujuan, tidak ada yang menyamai. Ciri khas lain yang membedakan puisi Rumi dengan karya sufi penyair lain adalah seringnya ia memulai puisinya dengan menggunakan kisah-kisah. Tapi hal ini bukan dimaksud ia ingin menulis puisi naratif. Kisah-kisah ini digunakan sebagai alat pernyataan pikiran dan ide. Banyak dijumpai berbagai kisah dalam satu puisi Rumi yang tampaknya berlainan namun nyatanya memiliki kesejajaran makna simbolik. Beberapa tokoh sejarah yang ia tampilkan bukan dalam maksud kesejarahan, tetapi ia menampilkannya sebagai imaji-imaji simbolik. Tokoh-tokoh semisal Yusuf, Musa, Yakub, Isa dan lain-lain ia tampilkan sebagai lambang dari keindahan jiwa yang mencapai ma'rifat. Dan memang tokoh-tokoh tersebut terkenal sebagai pribadi yang diliputi oleh cinta Ilahi. Salah satu karyanya yang paling terkenal adalah: Jangan tanya apa agamaku. Aku bukan Yahudi, bukan zoroaster, bukan pula Islam. Karena aku tahu, begitu suatu nama kusebut, kau akan memberikan arti yang lain daripada makna yang hidup di hatiku.Jalaluddin Rumi meninggalkan dua buah karya yang mengupas tentang sastra. Di antara kitabnya ada yang redaksinya berbentuk prosa dan ada pula yang susunannya berbentuk nazam. Karya yang redaksinya berbentuk prosa adalah: Al-Majalis as-Sab'ah, kitab ini berisi kumpulan nasihat dan khotbah yang disampaikan Rumi di atas mimbar-mimbar. Adapun isinya merupakan hasil dari pengembaraan hidup Rumi yang mempertemukan dirinya dengan sang guru, Syamsuddin al-Tabrizi; Majmu'ah min ar-Rasa'il, kitab ini berisi sekumpulan surat yang ditulis oleh Rumi kepada para sahabat dan kerabatnya, dan; Fihi Ma Fihi, kitab yang berisi penyampaian dengan bentuk prosa. Kebanyakan pembahasan dalam setiap pasal-pasalnya merupakan jawaban dan tanggapan atas bermacam pertanyaan dalam konteks dan kesempatan yang berbeda-beda. Kitab ini berisi kumpulan materi perkuliahan, refleksi dan komentar yang membahas masalah sekitar akhlak dan ilmu-ilmu Irfan yang dilengkapi dengan tafsiran atas al-Qur'an dan Hadis. Sementara karya-karya Rumi yang berupa nazam adalah: Diwan Syams Tabrizi, kitab ini berisi ghazal, seperti yang dikatakan orang-orang Iran. Diwan ini digubah dengan mengikuti bahar-bahar yang bervariasi dengan jumlah baitnya mencapai 43.000 bait. Rumi menggubah Diwan ini untuk mengungkapkan ketergantungannya kepada gurunya Syamsuddin Tabrizi. Karenanya terjalinlah persatuan antara murid dan gurunya, sampai-sampai Rumi menggubah diwan dan pada akhirnya terucap nama Syams oleh lisannya sehingga Diwan ini terkenal dengan nama Diwan Syams Tabrizi;Ruba'iyat, yang dinisbahkan kepada Rumi. Dalam kitab ini terdapat 1.659 bait yang wazan-nya berbentuk rubai (terdiri dari empat baris). Sementara keseluruhan baitnya mencapai 3.318 bait, dan; Matsnawi, nazam berbahasa Persia yang dalam bahasa Arab searti dengan kata biner. Dalam setiap bait terselit rima yang menyendiri dan rima bait-bait lainnya. Namun dua penggalan dalam satu baitnya tetaplah sama. (sumber: https://id.wikipedia.org/wiki/Jalaluddin_Rumi). #Jalaluddin Rumi, Tokoh Sufi yang Memanusiakan Manusia# Tak hilang dari catatan sejarah, Islam mencapai titik yang tinggi dalam masa peradabannya. Faktor puncak kejayaan Islam ditandai dengan keberhasilan dalam mengembangkan ilmu pengetahuan, baik ilmu pengetahuan di bidang keagamaan maupun eksakta. Hal ini tak lain karena usaha para cendekiawan muslim atas kegigihannya mencari ilmu. Sejarah mengungkapkan ilmuwan pada masa itu merupakan ilmuwan generasi terbaik yang dimiliki bangsa Islam. Hal tersebut karena pemikirannya yang luas, sehingga mereka berhasil memberikan kontribusi besar terhadap tatanan dunia baru melalui berbagai penemuan, inovasi, dan karya-karyanya. Sehingga sampai saat ini masih menjadi rujukan para sarjana dan akademisi di dunia. Salah satu cendekiawan muslim yang ikut andil dalam mencapai garis keemasan bangsa Islam ialah Maulana Jalaluddin Rumi. Ia terkenal sebagai seorang sufi besar dan penyair indah dari Persia. Bahkan ajaran yang dikemukakan olehnya masih relevan sampai saat ini. Di antara nilai yang diajarkan oleh Jalaluddin Rumi yakni tentang kemanusiaan melalui konsep cinta universal. Baca Juga Musik Diharamkan Uki, Gus Miftah Sanggah dengan Rumi Biografi Jalaluddin Rumi Nama lengkap Jalaluddin Rumi ialah Jalaluddin Rumi Muhammad bin Bahauddin Walad bin Hasin bin Al Khattabi al Bakri. Ia lahir di daerah Persia, tepatnya di Balkh, pada 06 Rabiul Awwal 604 H atau 30 September 1207 M. Ia berasal dari keluarga yang terhormat dan religius. Sang ayah yang bernama Bahauddin Walad merupakan seorang tokoh ulama yang alim dan guru besar di negerinya pada masa itu, karena terkenal sebagai seorang cendikiawan dan ahli teologi. Ayahnya pun diberi gelar dengan Sultanul Ulama’. Dari nasab sang ayah, Jalaluddin Rumi bersambung dengan Sayyidina Abu Bakar as Shiddiq. Sedangkan dari garis sang ibu bernama Mu’mina Khatun, Jalaluddin Rumi merupakan keturunan menantu Nabi Muhammad SAW, yakni Sayyidina Ali bin Abi Thalib yang merupakan khalifah keempat. Baca Juga Menanggapi Cerita Para Sufi Bertemu Nabi Muhammad Kehidupan masa kecil Jalaluddin Rumi dihabiskan untuk mencari ilmu. Tak ayal sejak umur belia Rumi telah menguasai berbagai bidang keilmuan, baik tata bahasa Arab, ilmu persajakan, Al-Qur’an, ilmu hukum, teologi, filsafat, matematika, hingga astronomi. Hal ini didorong oleh sang ayah sebagai orang pertama yang memberikan kontribusi besar terhadap intelektualitas Jalaluddin Rumi. Sepeninggal ayahnya, Rumi berguru kepada Burhanuddin at Tirmidzi yang merupakan salah seorang murid terpintar ayahnya di Balkh. Dari Burhanuddin at Tirmidzi, Rumi banyak belajar tentang berbagai hal mengenai spiritual dan rahasia dari kekuatasan spiritual tersebut. Selain menimba ilmu kepada Burhanuddin at Tirmidzi, Rumi juga beguru kepada Syamsuddin at Tabriz. Syamsuddin sendiri merupakan seorang ulama sufi dari Tabriz, sebuah daerah di wilayah Iran. Pertemuan keduanya dikisahkan ketika Rumi sedang mengajar lalu datang seorang laki laki yang tak lain adalah Syamsuddin dengan membawa pertanyaan. Sejak saat itu Rumi mulai akrab dengan Syamsuddin, kemudian menjadikannya sebagai guru. Dari Syamsuddin at Tabriz, Rumi mulai bisa merasakan hakikat cinta dan bisa menulis rangkaian sajak-sajak sebagaimana yang ditulis oleh penyair terdahulu. Perjalanan mencari ilmu ini yang membentuk pandangan Rumi terhadap keutamaan cinta dan persatuan dengan Tuhan sebagai inti dari ajaran spiritualnya. Sehingga banyak karya-karya Rumi yang mendunia, di antaranya ialah Masnawi, Diwan Syamsi Tabris, Ruba’iyyat, dan Fihi Ma Fihi. Sufi yang Memanusiakan Manusia Dalam pandangan filosofinya, Jalaluddin Rumi mengajak manusia ke dalam kehidupan cinta, yaitu kehidupan yang menempatkan manusia pada hakikatnya sebagai orang pecinta dan untuk yang dicinta. Sedangkan mengenai pandangannya tentang manusia, menurut Rumi, manusia adalah inti dari alam dan himpunan sifat alam. Dalam salah satu puisinya, Rumi mengatakan: “Segala kesempurnaan dan keindahan yang terlihat dalam diri manusia merupakan pantulan sifat-sifat Allah sebagaimana membiasnya sinar rembulan yang benderang pada sebuah sungai yang bening. Makhluk (manusia) itu bagaikan air bening yang di dalamnya terlihat sifat-sifat Allah, di dalamnya ilmu, keadilan, dan kelembutan Allah terpantul dengan jelas, sebagaimana memantulnya cahaya bintang kejora pada air yang mengalir.” Rumi berpandangan bahwa dalam diri manusia harus ditumbuhi dan dimekarkan oleh cinta, karena cinta dapat menjadi alat penggerak segala makhluk menuju cinta abadi. Cinta yang demikian akan meningkatkan kepada cinta tanpa batas dan bertemu cinta yang hakiki, yakni cinta kepada pemilik cinta. Jika setiap individu melihat orang lain sebagai manifestasi dari bentuk cinta kepada Tuhannya, maka konflik dan kebencian tidak akan memiliki tempat. Sebagaimana masyhurnya, pandangan Rumi mengenai cinta adalah komponen penting dalam mengetahui hikakat pemahaman Rumi. Cinta yang diajarkan Jalaluddin Rumi adalah hakikat cinta yang telah lebih dulu ia rasakan, maka setiap individu manusia harus menyadari dan mengenali fitrah dirinya sebagai manusia. Bahkan ia menganjurkan kepada setiap manusia agar mereka menyadari hakikat dirinya dan melaksanakan apa yang menjadi fitrahnya. Selaras dari hikayat hidupnya, Rumi pun selalu mengajarkan ilmu dan pemahamannya kepada sesamanya. Bagi Rumi setiap manusia tanpa terkecuali berhak atas pemahaman cinta yang sebenarnya. Ia pun mengajarkan pandangan filosofinya tidak hanya berpaku pada murid-murid di sekolah, tetapi ia juga mengajarkan kepada khalayak umum. Sebagaimana yang dikatakan oleh Jalaluddin Rumi, ekstase cinta merupakan hal penting untuk mencapai kedekatan yang sesungguhnya. Cinta mampu mengantarkan manusia kepada hati untuk selalu hidup. Bagi Rumi, hati merupakan satu komponen yang penting karena dengan hati yang baik setiap perbuatan yang dilakukan akan mengantarkan perbuatan yang baik pula. Dengan demikian, pemahaman Rumi akan cinta Ilahi membuatnya memiliki sifat toleransi dan tidak mengkotak-kotakkan manusia atas manusia yang lain. Ia sendiri selalu menjalin hubungan baik sesama manusia dari berbagai latar belakang baik suku, bangsa, maupun agama. Dengan menerapkan ajaran Rumi ke dalam kehidupan sehari hari, kita dapat menciptakan dunia yang lebih humanis, adil, dan penuh kasih sayang. (Sumber: https://jatim.nu.or.id/tokoh/jalaluddin-rumi-tokoh-sufi-yang-memanusiakan-manusia-XWtNz). *60 Kata-Kata Mutiara Jalaludin Rumi tentang Kehidupan, Bijak dan Bermakna* Jalaludin Rumi terkenal dengan kata-kata mutiaranya yang menginspirasi. Kata-kata bijaknya banyak dicari hingga sekarang. Rangkaian katanya yang indah sering menjadi sumber inspirasi banyak orang dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Jalaluddin Muhammad bin Muhammad bin Husin Al Khatihbi Al Bakri atau dikenal Jalaludin Rumi adalah seorang penyair dan filsuf ternama dari Timur Tengah. Ia lahir di Samarkand, 30 September 1207. Seorang sufi ini merupakan keturunan Sahabat Nabi Muhammad SAW, yakni Abu Bakar as-Siddiq dari garis ayah. Sementara, dari garis ibu ia keturunan Kerajaan Khwarazm. Jalaludin Rumi terkenal dengan kata-kata mutiaranya yang menginspirasi. Kata-kata bijaknya banyak dicari hingga sekarang. Rangkaian katanya yang indah sering menjadi sumber inspirasi banyak orang dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Kumpulan puisi dalam al-Matsnawi al-Maknawi merupakan salah satu karya Jalaludin Rumi yang terkenal. Hingga kini, kata-kata Jalaludin Rumi banyak dikutip dan direnungkan dalam meniti hidup yang penuh lika-liku ini. Berikut ini beberapa kumpulan kata-kata mutiara Jalaludin Rumi tentang kehidupan, dikutip dari Brilio.net. Kata-kata bijak yang bermakna akan memberi Anda semangat dan inspirasi dalam menjalani hidup. *Kata-Kata Bijak Jalaludin Rumi* 1. "Dalam perjalanan itu tak ada lorong sempit yang lebih sulit dari ini, beruntunglah orang yang tak membawa kedengkian sebagai teman." 2. "Jangan merasa kesepian, seluruh alam semesta ada di dalam diri kamu." 3. "Ketika engkau melambung ke angkasa ataupun terpuruk ke dalam jurang, ingatlah kepada-Ku, karena Akulah jalan itu." 4. "Dalam mendengar ada perubahan sifat, dalam melihat ada perubahan hakikat." 5. "Mata hati punya kemampuan 70 kali lebih besar untuk melihat kebenaran daripada indra penglihatan." 6. "Ada suara yang tidak menggunakan kata-kata. Dengarkanlah." 7. "Luka adalah tempat di mana cahaya memasukimu." 8. "Luka yang kamu rasakan adalah sebuah pesan. Dengarkanlah mereka." 9. "Abaikan apa pun yang membuatmu takut dan sedih, yang menyurutkanmu ke belakang menghadapi sakit dan maut." 10. "Apa yang engkau cari sedang mencarimu." 11. "Biarkanlah dirimu dibentuk oleh tarikan yang kuat dari sesuatu yang kamu cintai." 12. "Setiap penglihatan tentang keindahan akan lenyap. Setiap perkataan yang manis akan memudar." 13. "Berhenti merasa kamu begitu kecil. Kamu adalah alam semesta yang bergembira." 14. "Tuhan telah memasang tangga di hadapan kita, kita harus mendakinya, setahap demi setahap." 15. "Di mana pun kamu berada, jadilah jiwa di tempat itu." 16. "Hari kemarin telah berlalu dan ceritanya sudah diceritakan. Hari ini benih-benih baru tumbuh." 17. "Bila kamu ingin mempelajari suatu rahasia, hatimu harus melupakan tentang rasa malu dan martabat. Kamu adalah orang yang dicintai Tuhan, namun kamu mengkhawatirkan apa yang orang katakan." 18. "Kamu terlahir dengan sayap, mengapa memilih untuk merangkak melewati hidup." 19. "Kemarin aku pintar, aku ingin mengubah dunia. Sekarang aku bijak, maka dari itu aku mengubah diriku sendiri." 20. "Wanita adalah seberkas sinar Tuhan: Dia bukan kekasih duniawi. Dia berdaya cipta: Engkau boleh mengatakan dia bukan ciptaan." Kata-Kata Bijak Jalaludin Rumi"Perpisahan hanya untuk orang-orang yang mencintai dengan matanya. Karena untuk orang yang mencintai dengan hati dan jiwanya, tidak ada kata perpisahan." 1. "Bila tak kunyatakan keindahan-Mu dalam kata, Kusimpan kasih-Mu dalam dada." 2. "Ketahuilah, apa pun yang menjadikanmu tergetar, itulah yang terbaik untukmu! Dan karena itulah, qalbu seorang pencinta-Nya lebih besar daripada Singgasana-Nya." 3. "Ada kalanya lebih baik bersama dengan orang yang kurang terhormat daripada tinggal seorang diri. Kendati gagangnya sudah rusak, setidaknya ia masih melekat di pintu." 4. "Dunia yang hina ini diberikan kepadamu untuk sementara. Tersedia sebuah tangga yang dengannya engkau dapat bercita-cita." 5. "Keakraban dan keramahan lahir bila jiwa kita jadi gembira." 6. "Segalanya yang kau lihat mempunyai akarnya di dalam dunia yang tak terlihat. Bentuk akan berubah, namun intisarinya tetaplah sama." 7. "Dustamu adalah tubuh yang fana ini, kebenaranmu adalah ruh Ilahiah." 8. "Kebaikan yang engkau tegakkan, bagaimanapun juga, ketidaksempurnaannya akan selalu tersembunyi darimu." 9. "Usaha dan doa tergantung pada cita-cita: Manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya." 10. "Dunia manusia adalah batin yang memiliki kemegahan." 11. "Ada keberanian yang terlibat jika Anda ingin menjadi benar." 12. "Sumbatlah telinga nafsumu yang bagai kapas menutupi kesadaranmu dan membuat tuli telinga batinmu." 13. "Tuhan membolak-balik perasaanmu dan mengajari hal-hal yang bertolak belakang agar kau punya dua sayap untuk terbang bukan hanya satu." 14. "Tidaklah penting bagimu berapa banyak bahasa yang engkau kuasai. Sebab, apa yang membuatmu jadi berharga itu, adalah penguasaanmu terhadap bahasa hati." 15. "Ada kesendirian yang lebih berharga dari kehidupan. Ada kebebasan yang lebih berharga dari dunia. Lebih berharga dari hidup dan dunia adalah saat ketika seseorang sendirian dengan Tuhan." 16. "Orang yang tak mahir membaca kedua matamu, tak mampu mendengar kata hatimu." 17. "Di mana ada persoalan, di sanalah ada jawaban. Di mana perahu berlayar, di sanalah air mengalir." 18. "Aku belajar bahwa setiap makhluk hidup akan merasakan kematian, tetapi hanya sebagian saja yang akan merasakan kehidupan". 19. "Perkecillah dirimu, maka kau akan tumbuh lebih besar dari dunia. Tiadakan dirimu, maka jati dirimu akan terungkap tanpa kata-kata." Kata-Kata Bijak Jalaludin Rumi"Jangan berduka. Apa pun yang hilang darimu akan kembali lagi dalam wujud lain." 1. "Hikmah Tuhan menciptakan dunia supaya segala sesuatu yang ada dalam pengetahuan-Nya menjadi tersingkap." 2. "Setiap orang melihat sesuatu yang tak terlihat menurut kadar cahayanya. Semakin sering ia menggosok cermin hatinya, semakin jelaslah ia melihat segala." 3. "Hati saya begitu kecil, hampir tak terlihat. Bagaimana Anda bisa menempatkan kesedihan besar di dalamnya? Dengar, Dia menjawab, Mata Anda lebih kecil, namun mereka melihat dunia." 4. "Hari ini, seperti hari lainnya, kita terjaga dengan perasaan hampa dan ketakutan." 5. "Jualah kepandaianmu dan belilah kebingunganmu." 6. "Jika Anda jengkel terhadap setiap gesekan, bagaimana cermin Anda akan dipoles." 7. "Hidup adalah perjalanan yang mengakibatkan keterpisahan demi kemanunggalan." 8. "Perempuan adalah cahaya Tuhan, Dia bukan dicintai secara duniawi, dia berdaya kreatif, bukan hasil kreasi." 9. "Jangan pergi ke arah yang gelap, karena matahari masih ada.” 10. "Ada lilin di dalam hati Anda, siap untuk dinyalakan. Ada kekosongan dalam jiwa Anda, siap untuk diisi." 11. "Seperti Adam dan Hawa yang melahirkan sekian banyak jenis, cinta lahir dalam sekian banyak bentuk. Lihatlah dunia penuh dengan lukisan, namun ia tidak memiliki bentuk." 12. "Di hadapan Tuhan, pendek kata, segala yang merupakan tujuan kita adalah nama kita yang sebenarnya." 13. "Tiada kutukan yang sangat berbisa selain kebebasan kehendak." 14. "Janganlah gunakan pedang kayu dalam perang. Pergilah, cari yang dari baja, kemudian majulah dengan gembira." 15. "Tidak perlu membakar selimut baru hanya karena seekor kutu, juga aku tidak membuang muka dari kau hanya karena kesalahan yang tak berarti." 16. "Mengapa hati begitu terasing dalam dua dunia? Itu disebabkan Tuhan Yang Tanpa Ruang." 17. "Apa yang menyakitimu, memberkatimu. Kegelapan adalah lilinmu." 18. "Surga dibuat dari asap hati yang terbakar habis. Dan orang yang diberkahi oleh Tuhan adalah orang yang hatinya telah terbakar habis." 19. "Di mana pun, jalan untuk mencapai kesucian hati ialah melalui kerendahan hati." (sumber: https://www.liputan6.com/islami/read/5540655/60-kata-kata-mutiara-jalaludin-rumi-tentang-kehidupan-bijak-dan-bermakna?page=4). Blog ini dibuat dengan tujuan untuk menambah ilmu si Pembaca, tidak ada keuntungan Ekonomi sedikitpun yang diperoleh dari Pembuat. Tulisan diatas merupakan gabungan beberapa artikel dan ditulis juga sumbernya.

Comments

Popular posts from this blog

Ling Tien Kung dan Syari'at Islam (Oleh H. Yudhi)

Kedamaian di Perumahan Cibubur City (Oleh H. Yudhi)

Abu Bakar Siddiq RA (H. Yudhi)