Imam Hambali RA (H. Yudhi)
Imam Ahmad RA (H. Yudhi). Ahmad bin Hanbal (lahir 20 Rabiul awal 164 H (27 November 780) - wafat 12 Rabiul Awal 241 H (4 Agustus 855)) adalah seorang ahli hadits dan teologi Islam. Ia lahir di Mary, Turkmenistan, utara Afganistan. Serta ia dikenal dengan nama Imam Hambali. #Biografi# Awal mula Menuntut Ilmu# Ilmu yang pertama kali dikuasai adalah Al Qur'an hingga ia hafal pada usia 15 tahun, ia juga mahir baca-tulis dengan sempurna hingga dikenal sebagai orang yang terindah tulisannya. Lalu, ia mulai konsentrasi belajar ilmu hadits di awal umur 15 tahun itu pula. Ia telah mempelajari Hadits sejak kecil dan untuk mempelajari Hadits ini, ia pernah pindah atau merantau ke Syam (Syiria), Hijaz, Yaman dan negara-negara lainnya sehingga ia akhirnya menjadi tokoh ulama yang bertakwa, saleh, dan zuhud. Abu Zur'ah mengatakan bahwa kitabnya yang sebanyak 12 buah sudah dihafalnya di luar kepala. Ia menghafal sampai sejuta hadits. Imam Syafi'i mengatakan tentang diri Imam Ahmad, "Setelah saya keluar dari Baghdad, tidak ada orang yang saya tinggalkan di sana yang lebih terpuji, lebih shaleh dan yang lebih berilmu daripada Ahmad bin Hambal". Abdur Rozzaq Bin Hammam yang juga salah seorang guru dia pernah berkata, "Saya tidak pernah melihat orang se-faqih dan se-wara' Ahmad Bin Hanbal". #Keadaan fisik# Muhammad bin ‘Abbas An-Nahwi bercerita, Saya pernah melihat Imam Ahmad bin Hambal, ternyata Badan dia tidak terlalu tinggi juga tidak terlalu pendek, wajahnya tampan, di jenggotnya masih ada yang hitam. Ia senang berpakaian tebal, berwarna putih dan bersorban serta memakai kain. Yang lain mengatakan, “Kulitnya berwarna coklat (sawo matang)”. #Keluarga# Dia menikah pada umur 40 tahun dan mendapatkan keberkahan yang melimpah. Ia memiliki anak-anak yang shalih dari istri-istinya, yang mewarisi ilmunya, seperti Abdullah dan Shalih. Bahkan keduanya sangat banyak meriwayatkan ilmu dari bapaknya. #Kecerdasan# Putranya yang bernama Shalih mengatakan, ayahku pernah bercerita, “Husyaim meninggal dunia saat saya berusia dua puluh tahun, kala itu saya telah hafal apa yang kudengar darinya”. Abdullah, putranya yang lain mengatakan, Ayahku pernah menyuruhku, “Ambillah kitab mushannaf Waki’ mana saja yang kamu kehendaki, lalu tanyakanlah yang kamu mau tentang matan nanti kuberitahu sanadnya, atau sebaliknya, kamu tanya tentang sanadnya nanti kuberitahu matannya”. Abu Zur’ah pernah ditanya, “Wahai Abu Zur’ah, siapakah yang lebih kuat hafalannya? Anda atau Imam Ahmad bin Hambal?” Dia menjawab, “Ahmad”. Ia masih ditanya, “Bagaimana Anda tahu?” dia menjawab, “Saya mendapati di bagian depan kitabnya tidak tercantum nama-nama perawi, karena dia hafal nama-nama perawi tersebut, sedangkan saya tidak mampu melakukannya”. Abu Zur’ah mengatakan, “Imam Ahmad bin Hambal hafal satu juta hadits”. #Pujian Ulama# Abu Ja’far berkata, “Ahmad bin Hambal manusia yang sangat pemalu, sangat mulia dan sangat baik pergaulannya serta adabnya, banyak berfikir, tidak terdengar darinya kecuali mudzakarah hadits dan menyebut orang-orang shalih dengan penuh hormat dan tenang serta dengan ungkapan yang indah. Bila berjumpa dengan manusia, maka ia sangat ceria dan menghadapkan wajahnya kepadanya. Ia sangat rendah hati terhadap guru-gurunya serta menghormatinya.” Imam Asy-Syafi’i berkata, “Ahmad bin Hambal imam dalam delapan hal, Imam dalam hadits, Imam dalam Fiqih, Imam dalam bahasa, Imam dalam Al Qur’an, Imam dalam kefaqihan, Imam dalam kezuhudan, Imam dalam wara’ dan Imam dalam Sunnah”. Ibrahim Al Harbi berkata, “Saya melihat Abu Abdillah Ahmad bin Hambal seolah Allah gabungkan padanya ilmu orang-orang terdahulu dan orang-orang belakangan dari berbagai disiplin ilmu”. Abdullah bin al-Maimuni berkata, "Tidak ada yang lebih mulia yang pernah dilihat oleh mataku, selain Imam Ahmad bin Hambal. Tidak ada seorangpun dari ahli hadits yang paling mengagungkan larangan-larangan Allah dan Sunnah Nabi Shalallahu 'alaihi wassalam jika benar menurutnya, dan tidak ada seseorangpun yang lebih kuat dalam mengikutinya selain dari Ahmad." Abu Bakar as-Sijistani berkata, "Aku pernah bertemu dengan 200 guru-guru ilmu, tidak ada satupun yang menyerupai Imam Ahmad bin Hambal. Dia betul-betul menyelami ilmu, dan jika disebutkan suatu ilmu, dia ahlinya." Abdul Wahhab Al-Warraq berkata, "Abu Abdullah adalah pemimpin kami, dia adalah orang yang matang dalam ilmu. Jika aku berada dihadapan Allah kelak, dan aku ditanya, "Siapa orang yang kamu ikuti?" aku akan katakan, "Aku mengikuti Ahmad bin Hambal." Sungguh Imam Ahmad bin Hambal telah teruji keilmuannya selama 10 tahun tentang Islam." #Kezuhudannya# Dia memakai peci yang dijahit sendiri. Dan kadang dia keluar ke tempat kerja membawa kampak untuk bekerja dengan tangannya. Kadang juga dia pergi ke warung membeli seikat kayu bakar dan barang lainnya lalu membawa dengan tangannya sendiri. Al Maimuni pernah berujar, “Rumah Abu Abdillah Ahmad bin Hambal sempit dan kecil”. #Wara’ dan menjaga harga diri# Abu Isma’il At-Tirmidzi mengatakan, “Datang seorang lelaki membawa uang sebanyak sepuluh ribu (dirham) untuk dia, tetapi dia menolaknya”. Ada juga yang mengatakan, “Ada seseorang memberikan lima ratus dinar kepada Imam Ahmad namun dia tidak mau menerimanya”. Juga pernah ada yang memberi tiga ribu dinar, tetapi dia juga tidak mau menerimanya. #Tawadhu’ dengan kebaikannya# Yahya bin Ma’in berkata, “Saya tidak pernah melihat orang yang seperti Imam Ahmad bin Hambal, saya berteman dengannya selama lima puluh tahun dan tidak pernah menjumpai dia membanggakan sedikitpun kebaikan yang ada padanya kepada kami”. Dia (Imam Ahmad) mengatakan, “Saya ingin bersembunyi di lembah Makkah hingga saya tidak dikenal, saya diuji dengan popularitas”. Al Marrudzi berkata, “Saya belum pernah melihat orang fakir di suatu majlis yang lebih mulia kecuali di majlis Imam Ahmad, dia perhatian terhadap orang fakir dan agak kurang perhatiannya terhadap ahli dunia (orang kaya), dia bijak dan tidak tergesa-gesa terhadap orang fakir. Ia sangat rendah hati, begitu tinggi ketenangannya dan sangat memuka kharismanya”. Dia pernah bermuka masam karena ada seseorang yang memujinya dengan mengatakan, “Semoga Allah membalasmu dengan kebaikan atas jasamu kepada Islam?” dia mengatakan, “Jangan begitu tetapi katakanlah, semoga Allah membalas kebaikan terhadap Islam atas jasanya kepadaku, siapa saya dan apa (jasa) saya?!” #Sabar dalam menuntut ilmu# Tatkala dia pulang dari tempat Abdurrazzaq yang berada di Yaman, ada seseorang yang melihatnya di Makkah dalam keadaan sangat letih dan capai. Lalu ia mengajak bicara, maka Imam Ahmad mengatakan, “Ini lebih ringan dibandingkan faidah yang saya dapatkan dari Abdurrazzaq”. #Hati-hati dalam berfatwa# Zakariya bin Yahya pernah bertanya kepada dia, “Berapa hadits yang harus dikuasai oleh seseorang hingga bisa menjadi mufti? Apakah cukup seratus ribu hadits? Dia menjawab, “Tidak cukup”. Hingga akhirnya ia berkata, “Apakah cukup lima ratus ribu hadits?” dia menjawab. “Saya harap demikian”. #Kelurusan aqidahnya sebagai standar kebenaran# Ahmad bin Ibrahim Ad-Dauruqi mengatakan, “Siapa saja yang kamu ketahui mencela Imam Ahmad maka ragukanlah agamanya”. Sufyan bin Waki’ juga berkata, “Ahmad di sisi kami adalah cobaan, barangsiapa mencela dia maka dia adalah orang fasik”. #Masa Fitnah# Pemahaman Jahmiyyah belum berani terang-terangan pada masa khilafah Al Mahdi, Ar-Rasyid dan Al Amin, bahkan Ar-Rasyid pernah mengancam akan membunuh Bisyr bin Ghiyats Al Marisi yang mengatakan bahwa Al Qur’an adalah makhluq. Namun dia terus bersembunyi pada masa khilafah Ar-Rasyid, baru setelah dia wafat, dia menampakkan kebid’ahannya dan menyeru manusia kepada kesesatan ini. Pada masa Khalifah Al Ma’mun, orang-orang Jahmiyyah berhasil menjadikan paham Jahmiyyah sebagai ajaran resmi negara, di antara ajarannya adalah menyatakan bahwa Al Qur’an makhluk. Lalu penguasa pun memaksa seluruh rakyatnya untuk mengatakan bahwa Al Qur’an makhluk, terutama para ulamanya. Barangsiapa mau menuruti dan tunduk kepada ajaran ini, maka dia selamat dari siksaan dan penderitaan. Bagi yang menolak dan bersikukuh dengan mengatakan bahwa Al Qur’an Kalamullah bukan makhluk maka dia akan mencicipi cambukan dan pukulan serta kurungan penjara. Karena beratnya siksaan dan parahnya penderitaan banyak ulama yang tidak kuat menahannya yang akhirnya mengucapkan apa yang dituntut oleh penguasa zhalim meski cuma dalam lisan saja. Banyak yang membisiki Imam Ahmad bin Hambal untuk menyembunyikan keyakinannya agar selamat dari segala siksaan dan penderitaan, tetapi dia menjawab, “Bagaimana kalian menyikapi hadits “Sesungguhnya orang-orang sebelum Khabbab, yaitu sabda Nabi Muhammad ada yang digergaji kepalanya namun tidak membuatnya berpaling dari agamanya”. HR. Bukhari 12/281. lalu dia menegaskan, “Saya tidak peduli dengan kurungan penjara, penjara dan rumahku sama saja”. Ketegaran dan ketabahan dia dalam menghadapi cobaan yang menderanya digambarkan oleh Ishaq bin Ibrahim, “Saya belum pernah melihat seorang yang masuk ke penguasa lebih tegar dari Imam Ahmad bin Hambal, kami saat itu di mata penguasa hanya seperti lalat”. Di saat menghadapi terpaan fitnah yang sangat dahsyat dan deraan siksaan yang luar biasa, dia masih berpikir jernih dan tidak emosi, tetap mengambil pelajaran meski datang dari orang yang lebih rendah ilmunya. Ia mengatakan, “Semenjak terjadinya fitnah saya belum pernah mendengar suatu kalimat yang lebih mengesankan dari kalimat yang diucapkan oleh seorang Arab Badui kepadaku, “Wahai Ahmad, jika anda terbunuh karena kebenaran maka anda mati syahid, dan jika anda selamat maka anda hidup mulia”. Maka hatiku bertambah kuat”. #Ahli hadits sekaligus juga Ahli Fiqih# Ibnu ‘Aqil berkata, “Saya pernah mendengar hal yang sangat aneh dari orang-orang bodoh yang mengatakan, “Ahmad bukan ahli fiqih, tetapi hanya ahli hadits saja. Ini adalah puncaknya kebodohan, karena Imam Ahmad memiliki pendapat-pendapat yang didasarkan pada hadits yang tidak diketahui oleh kebanyakan manusia, bahkan dia lebih unggul dari seniornya”. Bahkan Imam Adz-Dzahabi berkata, “Demi Allah, dia dalam fiqih sampai derajat Laits, Malik dan Asy-Syafi’i serta Abu Yusuf. Dalam zuhud dan wara’ dia menyamai Fudhail dan Ibrahim bin Adham, dalam hafalan dia setara dengan Syu’bah, Yahya Al Qaththan dan Ibnul Madini. Tetapi orang bodoh tidak mengetahui kadar dirinya, bagaimana mungkin dia mengetahui kadar orang lain!! #Guru# Imam Ahmad bin Hambal berguru kepada banyak ulama, jumlahnya lebih dari dua ratus delapan puluh yang tersebar di berbagai negeri, seperti di Makkah, Kufah, Bashrah, Baghdad, Yaman dan negeri lainnya. Di antara mereka adalah: Abu Yusuf al-Qadhi, Husyaim bin Basyir, Asy-Syafi'i, Isma'il bin 'Ulayyah, Waki’, Sufyan bin ‘Uyainah, Abu Dawud Ath-Thayalisi, Nu'aim bin Hammad, Ibrahim bin Sa'ad, 'Abbad bin 'Abbad al-Muhallabi, Mu'tamir bin Sulaiman At-Taimi, Ayyub bin Najjar, Yahya bin Abi Zaid, 'Ali bin Hasyim bin Barid, Qaran bin Tamar, 'Abdurrazzaq, Ismail bin Ja’far, Abbad bin Abbad Al-Ataky, Umari bin Abdillah bin Khalid, Ibrahim bin Ma’qil. #Murid-murid Ahmad bin Hanbal# Shalih bin Ahmad bin Muhammad bin Hanbal ( Putra tertua beliau ), 'Abdullah bin Ahmad bin Muhammad bin Hanbal ( putra beliau lainnya ), Hanbal bin Ishaq bin Hanbal (Sepupu beliau), Abu Bakr al-Marrudzi, Ibrahim al-Harbi, Abu Thalib, al-Maimuni, Abu Dawud as-Sijistani, Abu Bakr al-Atsram, Harb al-Kirmani, Ishaq bin Hani', Abu Zur'ah ar-Razi, Abu Abdillah al-Bukhari, Muslim bin al-Hajjaj, Abu Isa at-Tirmidzi, Abdurrahman bin Syu'aib an-Nasai, 'Ali bin al-Madini, Yahya bin Ma'in, Duhaim, Ahmad bin Shalih al-Mishri, Muhammad bin Yahya adz-Dzuhli, Abu Hatim ar-Razi, Baqiyy bin Makhlad, Abul Qasim al-Baghawi. #Akhir Hayat# Imam Ahmad bin Hambal mulai sakit pada malam Rabu, dua hari dari bulan Rabi'ul Awwal tahun 241 Hijriyyah, ia sakit selama sembilan hari. Tatkala penyakitnya mulai parah dan warga sekitar mulai mengetahuinya, maka mereka menjenguknya siang dan malam. Penyakitnya kian hari kian parah, pada hari Kamis dan sebelum wafat ia memberikan isyarat pada keluarganya agar ia diwudhukan, kemudian mereka pun mewudhukannya. Ketika berwudhu, Imam Ahmad sambil berzikir dan memberikan isyarat kepada mereka agar menyela-nyela jarinya. Dia menghembuskan napas terakhirnya di pagi hari Jum’at bertepatan dengan tanggal 12 Rabi’ul Awwal 241 H pada umur 77 tahun di kota Baghdad. Ia dimakamkan di pemakaman al-Harb, orang yang bertakziah tidak bisa dihitung jumlahnya saking banyaknya ada yang mengatakan jumlahnya mencapai 1.7 juta pelayat. Hal ini merupakan bukti dari perkataan beliau ke para dedengkot bid’ah: “Antara kami dan kalian adalah hari ketika menjadi jenazah.” Sampai-sampai Abdul Wahhab Al-Warraq berkata: “Kami tidak pernah mendengar ada rombongan pada masa jahiliyah, tidak juga pada masa Islam berkumpul ke satu jenazah yang jumlahnya melebihi berkumpulnya orang-orang ke jenazah Ahmad.” #Karya tulis# Ahmad bin Hanbal menulis kitab al-Musnad al-Kabir yang termasuk sebesar-besarnya kitab "Musnad" dan sebaik baik karangan dia dan sebaik baik penelitian Hadits. Ia tidak memasukkan dalam kitabnya selain yang dibutuhkan sebagai hujjah. Kitab Musnad ini berisi 26.363 hadits berdasarkan penomoran al-Alamiyah, atau berisi 27.100 hadits berdasarkan penomoran Ihya at-Turats. Imam Ahmad berkata, "Kitab ini saya kumpulkan dan saya pilihkan dari lebih 750.000 hadits." Di antara karya Imam Ahmad adalah ensiklopedia hadits atau musnad, disusun oleh anaknya dari ceramah (kajian-kajian) - kumpulan lebih dari 40 ribu hadits juga Kitab ash-Salat dan Kitab as-Sunnah. #Karya-Karya Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah# Kitab Al Musnad, karya yang paling menakjubkan karena kitab ini memuat sekitar 27.000 hadits. Kitab at-Tafsir, tetapi Adz-Dzahabi mengatakan, “Kitab ini telah hilang”. Kitab an-Nasikh wa al-Mansukh. Kitab at-Tarikh. Kitab Hadits Syu'bah. Kitab al-Muqaddam wa al-Mu'akkhar fi al-Qur`an. Kitab Jawabah al-Qur`an. Kitab al-Manasik al-Kabir. Kitab al-Manasik as-Saghir. Kitab Ushul as-Sunnah. #Menurut Imam Nadim, kitab berikut ini juga merupakan tulisan Imam Ahmad bin Hanbal# Kitab al-'Ilal. Kitab al-Manasik. Kitab az-Zuhd. Kitab al-Iman. Kitab al-Masa'il. Kitab al-Asyribah. Kitab al-Fadha'il. Kitab Tha'ah ar-Rasul. Kitab al-Fara'idh. Kitab ar-Radd ala al-Jahmiyyah. (sumber: https://id.wikipedia.org/wiki/Ahmad_bin_Hanbal).*Biografi imam Ahmad bin Hambal# Nama dan kunyah# Dia adalah Ahmad bin Muhammad bin Hanbal bin Hilal bin Asad bin Idris Al-Shaybani, salah satu imam besar. Kunyah-nya adalah Abu Abdillah. #Kelahiran# Ahmad bin Hanbal lahir pada bulan Rabiulawal di Baghdad pada tahun 164 H. Ayahnya meninggal ketika masih muda, sekitar usia tiga puluh tahun, sehingga Ahmad tumbuh sebagai anak yatim. Ibunya yang mengasuh dan mendidiknya dengan penuh perhatian. #Istri dan anak# Ahmad bin Hanbal baru menikah setelah usia empat puluh tahun. Ia pertama kali menikah dengan seorang wanita bernama ‘Abasa binti Al-Fadl, yang melahirkan putranya yang bernama Shalih. Mereka hidup bersama selama dua puluh tahun sebelum Abasa meninggal. Setelah itu, ia menikah lagi dengan Rayhana, yang melahirkan putranya Abdullah, namun Rayhana juga meninggal setelah tujuh tahun bersama Ahmad. Setelah kematian ibu Abdullah, Ahmad membeli seorang budak perempuan bernama Husn, yang melahirkan putranya Ali, Zainab, dan pasangan kembar Hasan dan Husain. Namun, Hasan dan Husain meninggal tidak lama setelah kelahiran mereka. Kemudian, Husn melahirkan Hasan dan Muhammad, yang keduanya hidup sekitar empat puluh hari sebelum meninggal. Setelah itu, Husn melahirkan Sa’id sebelum kematian Imam Ahmad lima puluh hari kemudian. Sa’id tumbuh besar, mendalami ilmu, dan meninggal sebelum saudara kandungnya, Abdullah. #Ciri fisik# Imam Ahmad bin Hanbal memiliki penampilan yang baik dan penuh wibawa. Ia bertubuh tinggi dan besar, dengan postur yang gagah. Wajahnya tampan dan matanya bercahaya. Dikenal pula bahwa ia sangat sederhana dalam berpakaian dan penampilannya, tidak memikirkan kemewahan atau kesombongan dalam berpenampilan. Pakaian yang dikenakannya sederhana, mencerminkan sifat zuhudnya yang besar. #Perjalanan menuntut ilmu# Ketika Imam Ahmad mencapai usia lima belas tahun, ia mulai aktif dalam mencari ilmu dan hadis. Perjalanan-perjalanannya ke berbagai penjuru dunia Islam untuk mencari hadis dari para ahli hadis terkenal, sangat membantu dalam memperluas ilmunya. Salah satu perjalanan penting yang dilakukannya adalah ke Basrah sebanyak lima kali, di mana ia berguru kepada berbagai ulama dan memperbanyak jumlah gurunya di sana. Di antara perjalanan penting lainnya adalah ke Hijaz, di mana ia bertemu dengan para ulama besar seperti Imam Syafi’i, yang sangat mengaguminya. Dari Imam Syafi’i, ia mempelajari dasar-dasar hadis, fikih, dan ilmu tentang nasikh dan mansukh (yang menghapus dan yang dihapus). Selain itu, ia juga bertemu dengan Syekh Ibn Uyainah di Baghdad, yang saat itu merupakan ahli hadis terkemuka di Hijaz, dan mengambil banyak manfaat darinya. Imam Ahmad juga melakukan perjalanan ke Kufah untuk mencari ilmu, serta ke Sana’a di Yaman, di mana ia belajar hadis dari Abdul Razzaq bin Hammam. Ia bertahan di Sana’a selama dua tahun, dengan bersabar pada kehidupan yang keras dan bekerja keras untuk mencukupi kebutuhannya, bahkan menyewakan diri untuk mengangkut barang dan bekerja menenun tikar agar dapat makan dari hasil tangannya. Jumlah gurunya lebih dari tiga ratus orang. Dalam kitab Musnad-nya, Adz-Dzahabi mencatat bahwa Imam Ahmad meriwayatkan hadis dari lebih dari dua ratus delapan puluh orang. Di antara guru-guru besar yang mengajarnya adalah Hushaym bin Bashir, yang sangat ia hormati dan ia pelajari banyak hal darinya di Baghdad selama empat tahun. Selain itu, ia juga belajar dari Sufyan bin Uyainah, Basyar bin Al-Mufaddal, Al-Nadr bin Ismail Al-Bajali, Al-Walid bin Muslim, Yazid bin Harun, Waki’, dan banyak lainnya, termasuk Al-Hafizh Abu Nu’aim. Sedangkan di antara para ulama yang meriwayatkan hadis darinya adalah Imam Al-Bukhari, muridnya Imam Muslim, Abu Dawud, An-Nasa’i, At-Tirmidzi, Ibn Majah, serta anak-anaknya, Salih dan Abdullah. Selain itu, terdapat juga nama-nama besar seperti Yahya bin Ma’in, Abu Zur’ah, Ibrahim Al-Harbi, dan lainnya. #Berjalan di atas akidah ahlusunah waljamaah# Imam Ahmad merupakan salah satu imam mazhab dan berpegang teguh di atas akidah ahlusunah waljamaah. Hal ini dibuktikan dari karya-karyanya di bidang akidah. Salah satu kitab yang menunjukkan akidah beliau adalah kitab Ushulussunnah. Kitab ini berisikan prinsip-prinsip dasar akidah ahlusunah waljamaah yang sesuai dengan Al-Qur’an dan Sunnah. Imam Ahmad menyampaikan tentang prinsip-prinsip akidah ahlusunah waljamaah. Selain itu, Imam Ahmad juga menuliskan sebuah risalah yang berjudul Ar-Radd ‘ala Al-Jahmiyah. Kitab ini beliau tulis untuk membantah akidah kelompok yang menyimpang dari akidah ahlu sunah. #Ulama yang teguh di atas kebenaran# Imam Ahmad adalah imamnya para ulama ahlusunah waljamaah. Dengan izin Allah ‘Azza wa Jalla, Imam Ahmad tetap berpegang teguh pada prinsip-prinsip akidah ahlusunah waljamaah tatkala menyebarnya fitnah Kholqul Qur’an (Fitnah Al-Qur’an adalah makhluk) pada masanya. Fitnah ini merupakan fitnah yang paling berat pada masa itu dan tidak ada ulama selain Imam Ahmad yang kuat untuk menghadapi fitnah ini. Pemahaman ini dianut oleh kelompok Mu’tazilah.
Pada masa pemerintahan Harun Ar-Rasyid, tidak ada tokoh Mu’tazilah yang berani menyebarkan akidah mereka karena ketegasan Harun Ar-Rasyid. Setelah wafatnya Khalifah Harun Ar-Rasyid dan naiknya Al-Ma’mun menjadi khalifah, barulah para tokoh Mu’tazilah berani menyebarkan akidah mereka dan bahkan mempengaruhi akidah Al-Ma’mun. Akidah Mu’tazilah semakin menyebar kala itu dan para imam ahlusunah waljamaah ditangkap dan disiksa. Fitnah ini berlangsung selama tiga kekhalifahan, yaitu: Al-Ma’mun, Al-Mu’tashim, dan Al-Watsiq. Selama itu, Imam Ahmad menerima banyak sekali ujian seperti disiksa, dicambuk, dipenjara, dan diancam untuk dibunuh. Namun, Imam Ahmad tetap teguh atas keyakinan bahwa Al-Qur’an adalah Kalamullah. Hal ini yang membuat kagum seluruh ulama dan orang awam ketika itu. Dan pada akhirnya, di masa kekhalifahan Al-Mutawakkil, fitnah ini usai dan Imam Ahmad mendapatkan kedudukannya kembali. #Karya-karya Imam Ahmad# Kitab Al-‘Ilal, Kitab Al-Naskh wal-Mansukh, Kitab Al-Zuhd, Kitab Al-Masa’il, Kitab Al-Fada’il, Kitab El-Fara’id, Kitab Al-Manasik, Kitab Al-Iman, Kitab Al-Ashribah, Kitab Ta’at Al-Rasul, Kitab Al-Radd ‘ala Al-Jahmiyyah, Al-Musnad. Kitab ini adalah kitab yang paling fenomenal yang ditulis oleh Imam Ahmad. Dan masih banyak lagi. #Wafat# Shalih bin Ahmad berkata, “Pada awal bulan Rabiulawal, ayahku terkena demam pada malam Rabu dan tidur dalam keadaan demam, bernapas dengan nafas yang sangat berat. Aku telah mengetahui penyakitnya dan aku merawatnya setiap kali ia sakit.” Al-Marwazi berkata, “Abu Abdillah (Imam Ahmad) sakit pada malam Rabu dua malam sebelum awal bulan Rabiulawal, dan ia sakit selama sembilan hari. Orang-orang mendengar kabar sakitnya, lalu datang beramai-ramai untuk menjenguknya. Kadang-kadang ia memberi izin untuk orang-orang masuk. Mereka masuk dalam kelompok-kelompok dan memberikan salam kepadanya. Ia membalas dengan tangan. Ketika ia sakit, ia mendengar dari Thawus bahwa ia tidak suka mendengar keluhan orang sakit, maka ia pun menahan diri dari mengeluh, hingga pada malam yang ia wafat, ketika rasa sakitnya semakin parah, ia akhirnya mengeluh.” Yang paling baik dalam keadaan beliau saat sakit adalah ketika ia memberi isyarat kepada keluarganya untuk membantunya berwudu. Mereka membantunya berwudu, dan ia memberi isyarat agar jari-jarinya dibersihkan dengan baik, sambil terus berzikir mengingat Allah sepanjang waktu itu. Setelah wudu selesai, beliau pun wafat – semoga Allah merahmatinya. Bertepatan pada hari Jumat, tanggal 12 Rabiulawal, tahun 241 Hijriah, dan beliau berusia 77 tahun. (Sumber: https://muslim.or.id/100828-biografi-imam-ahmad-bin-hanbal.html) * Biografi Singkat Imam Ahmad bin Hanbal* Imam madzhab yang empat memiliki keistimewaan-keistimewaan yang saling melengkapi antara satu dan yang lainnya. Imam Abu Hanifah adalah pelopor dalam ilmu fikih dan membangun dasar-dasar dalam mempelajari fikih. Imam Malik adalah seorang guru besar hadits yang pertama kali menyusun hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam satu buku. Imam Syafii merupakan ulama cerdas yang meletakkan rumus ilmu ushul fikih, sebuah rumusan yang membangun fikih itu sendiri. Artikel ini akan mengenalkan kepada pembaca tokoh keempat dari imam-imam madzhab, dialah Imam Ahmad bin Hanbal. Beliau adalah seorang ahli fikih sekaligus pakar hadits di zamannya. Perjuangan besarnya yang selalu dikenang sepanjang masa adalah perjuangan membela akidah yang benar. Sampai-sampai ada yang menyatakan, Imam Ahmad menyelamatkan umat Muhammad untuk kedua kalinya. Pertama, Abu Bakar menyelematkan akidah umat ketika Rasulullah wafat dan yang kedua Imam Ahmad lantang menyerukan akidah yang benar saat keyakinan sesat khalqu Alquran mulai dilazimkan. #Nasab dan Masa Kecilnya# Beliau adalah Abu Abdillah, Ahmad bin Ahmad bin Muhammad bin Hanbal asy-Syaibani. Imam Ibnu al-Atsir mengatakan, “Tidak ada di kalangan Arab rumah yang lebih terhormat, yang ramah terhadap tetangganya, dan berakhlak yang mulia, daripada keluarga Syaiban.” Banyak orang besar yang terlahir dari kabilah Syaiban ini, di antara mereka ada yang menjadi panglima perang, ulama, dan sastrawan. Beliau adalah seorang Arab Adnaniyah, nasabnya bertemu denga Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada Nizar bin Ma’ad bin Adnan. Imam Ahmad dilahirkan di ibu kota kekhalifahan Abbasiyah di Baghdad, Irak, pada tahun 164 H/780 M. Saat itu, Baghdad menjadi pusat peradaban dunia dimana para ahli dalam bidangnya masing-masing berkumpul untuk belajar ataupun mengajarkan ilmu. Dengan lingkungan keluarga yang memiliki tradisi menjadi orang besar, lalu tinggal di lingkungan pusat peradaban dunia, tentu saja menjadikan Imam Ahmad memiliki lingkungan yang sangat kondusif dan kesempatan yang besar untuk menjadi seorang yang besar pula. Imam Ahmad berhasil menghafalkan Alquran secara sempurna saat berumur 10 tahun. Setelah itu ia baru memulai mempelajari hadits. Sama halnya seperti Imam Syafii, Imam Ahmad pun berasal dari keluarga yang kurang mampu dan ayahnya wafat saat Ahmad masih belia. Di usia remajanya, Imam Ahmad bekerja sebagai tukang pos untuk membantu perekonomian keluarga. Hal itu ia lakukan sambil membagi waktunya mempelajari ilmu dari tokoh-tokoh ulama hadits di Baghdad. #Perjalanan Menuntut Ilmu# Guru pertama Ahmad bin Hanbal muda adalah murid senior dari Imam Abu Hanifah yakni Abu Yusuf al-Qadhi. Ia belajar dasar-dasar ilmu fikih, kaidah-kaidah ijtihad, dan metodologi kias dari Abu Yusuf. Setelah memahami prinsip-prinsip Madzhab Hanafi, Imam Ahmad mempelajari hadits dari seorang ahli hadits Baghdad, Haitsam bin Bishr. Tidak cukup menimba ilmu dari ulama-ulama Baghdad, Imam Ahmad juga menempuh safar dalam mempelajari ilmu. Ia juga pergi mengunjungi kota-kota ilmu lainnya seperti Mekah, Madinah, Suriah, dan Yaman. Dalam perjalanan tersebut ia bertemu dengan Imam Syafii di Mekah, lalu ia manfaatkan kesempatan berharga tersebut untuk menimba ilmu dari beliau selama empat tahun. Imam Syafii mengajarkan pemuda Baghdad ini tidak hanya sekedar mengahfal hadits dan ilmu fikih, akan tetapi memahami hal-hal yang lebih mendalam dari hadits dan fikih tersebut. Walaupun sangat menghormati dan menuntut ilmu kepada ulama-ulama Madzhab Hanafi dan Imam Syafii, namun Imam Ahmad memiliki arah pemikiran fikih tersendiri. Ini menunjukkan bahwa beliau adalah seorang yang tidak fanatik dan membuka diri. #Menjadi Seorang Ulama# Setelah belajar dengan Imam Syafii, Imam Ahmad mampu secara mandiri merumuskan pendapat sendiri dalam fikih. Imam Ahmad menjadi seorang ahli hadits sekaligus ahli fikih yang banyak dikunjungi oleh murid-murid dari berebagai penjuru negeri Islam. Terutama setelah Imam Syafii wafat di tahun 820, Imam Ahmad seolah-olah menjadi satu-satunya sumber rujukan utama bagi para penuntut ilmu yang senior maupun junior. Dengan ketenarannya, Imam Ahmad tetap hidup sederhana dan menolak untuk masuk dalam kehidupan yang mewah. Beliau tetap rendah hati, menghindari hadiah-hadia terutama dari para tokoh politik. Beliau khawatir dengan menerima hadiah-hadiah tersebut menghalanginya untuk bebas dalam berpendapat dan berdakwah. Abu Dawud mengatakan, “Majelis Imam Ahmad adalah majelis akhirat. Tidak pernah sedikit pun disebutkan perkara dunia di dalamnya. Dan aku sama sekali tidak pernah melihat Ahmad bin Hanbal menyebut perkara dunia.” #Masa-masa Penuh Cobaan# Pada tahun 813-833, dunia Islam dipimpin oleh Khalifah al-Makmun, seorang khalifah yang terpengaruh pemikiran Mu’tazilah. Filsafat Mu’tazilah memperjuangkan peran rasionalisme dalam semua aspek kehidupan, termasuk teologi. Dengan demikian, umat Islam tidak boleh hanya mengandalkan Alquran dan sunnah untuk memahami Allah, mereka diharuskan mengandalkan cara filosofis yang pertama kali dikembangkan oleh orang Yunani Kuno. Di antara pokok keyakinan Mu’tazilah ini adalah bahwa meyakini bahwa Alquran adalah sebuah buku dibuat, artinya Alquran itu adalah makhluk bukan kalamullah. Al-Makmun percaya pada garis utama pemikiran Mu’tazilah ini, dan ia berusaha memaksakan keyakinan baru dan berbahaya tersebut kepada semua orang di kerajaannya –termasuk para ulama. Banyak ulama berpura-pura untuk menerima ide-ide Mu’tazilah demi menghindari penganiayaan, berbeda halnya dengan Imam Ahmad, beliau dengan tegas menolak untuk berkompromi dengan keyakinan sesat tersebut. Al-Makmun melembagakan sebuah inkuisisi (lembaga penyiksaan) dikenal sebagai Mihna. Setiap ulama yang menolak untuk menerima ide-ide Muktazilah dianiaya dan dihukum dengan keras. Imam Ahmad, sebagai ulama paling terkenal di Baghdad, dibawa ke hadapan al-Makmun dan diperintahkan untuk meninggalkan keyakinan Islam fundamentalnya mengenai teologi. Ketika ia menolak, ia disiksa dan dipenjarakan. Penyiksaan yang dilakukan pihak pemerintah saat itu sangatlah parah. Orang-orang yang menyaksikan penyiksaan berkomentar bahwa bahkan gajah pun tidak akab bisa bertahan jika disiksa sebagaimana Imam Ahmad disiksa. Diriwayatkan karena keras siksaannya, beberapa kali mengalami pingsan. Meskipun demikian, Imam Ahmad tetap memegang teguh keyakinannya, memperjuangkan akidah yang benar, yang demikian benar-benar menginspirasi umat Islam lainnya di seluruh wilayah Daulah Abbasiah. Apa yang dilakukan Imam Ahmad menunjukkan bahwa umat Islam tidak akan mengorbankan akidah mereka demi menyenangkan otoritas politik yang berkuasa. Pada akhirnya, Imam Ahmad hidup lebih lama dari al-Makmun dan Khalifah al-Mutawakkil mengakhiri Mihna pada tahun 847 M. Imam Ahmad dibebaskan, beliau pun kembali diperkenankan mengajar dan berceramah di Kota Baghdad. Saat itulah kitab Musnad Ahmad bin Hanbal yang terkenal itu ditulis. #Wafatnya Imam Ahmad# Imam Ahmad wafat di Baghdad pada tahun 855 M. Banan bin Ahmad al-Qashbani yang menghadiri pemakaman Imam Ahmad bercerita, “Jumlah laki-laki yang mengantarkan jenazah Imam Ahmad berjumlah 800.000 orang dan 60.000 orang wanita .”
Warisan Imam Ahmad yang tidak hanya terbatas pada permasalahn fikih yang ia hasilkan, atau hanya sejumlah hadits yang telah ia susun, namun beliau juga memiliki peran penting dalam melestarikan kesucian keyakinan Islam dalam menghadapi penganiayaan politik yang sangat intens. Kiranya inilah yang membedakan Imam Ahmad dari ketiga imam lainnya. Semoga Allah Ta’ala menerima amalan Imam Ahmad bin Hanbal dan menempatkannya di surga yang penuh kenikmatan. ( https://jeulingke-gp.bandaacehkota.go.id/2020/10/25/biografi-singkat-imam-ahmad-bin-hanbal/). Blog ini dibuat dengan tujuan untuk menambah ilmu si Pembaca, tidak ada keuntungan Ekonomi sedikitpun yang diperoleh dari Pembuat. Tulisan diatas merupakan gabungan beberapa artikel dan ditulis juga sumbernya.
Comments
Post a Comment