Imam al Ghazali (H. Yudhi)

Imam Ghazali RA (H. YudhI). Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al-Ghazali ath-Thusi asy-Syafi'i (1058 (umur -54–-53)) adalah seorang filsuf dan teolog muslim Persia, yang dikenal sebagai Algazel di dunia Barat abad Pertengahan. Ia berkuniah Abu Hamid karena salah seorang anaknya bernama Hamid. Gelar dia al-Ghazali ath-Thusi berkaitan dengan ayahnya yang bekerja sebagai pemintal bulu kambing dan tempat kelahirannya yaitu Ghazalah di Bandar Thus, Khurasan, Persia (kini Iran). Sedangkan gelar asy-Syafi'i menunjukkan bahwa dia bermazhab Syafi'i. Ia berasal dari keluarga yang miskin. Ayahnya mempunyai cita-cita yang tinggi yaitu ingin anaknya menjadi orang alim dan saleh. Imam Al-Ghazali adalah seorang ulama, ahli pikir, ahli filsafat Islam yang terkemuka yang banyak memberi sumbangan bagi perkembangan kemajuan manusia. Ia pernah memegang jabatan sebagai Naib Kanselor di Madrasah Nizhamiyah, pusat pengajian tinggi di Baghdad. Imam Al-Ghazali meninggal dunia pada 14 Jumadil Akhir tahun 505 Hijriah bersamaan dengan tahun 1111 Masehi di Thus. Jenazahnya dikebumikan di tempat kelahirannya. Ia dianggap sebagai Mujaddid abad ke-5, seorang pembaru iman; yang, menurut hadis kenabian, muncul setiap 100 tahun sekali untuk memulihkan iman Komunitas Islam. Karya-karyanya sangat diakui oleh orang-orang sezamannya sehingga al-Ghazali dianugerahi gelar kehormatan "Bukti Islam" (Hujjat al-Islam). Al-Ghazali percaya bahwa tradisi spiritual Islam telah hampir mati dan bahwa ilmu-ilmu spiritual yang diajarkan oleh generasi pertama umat Islam telah dilupakan. Keyakinan ini mendorongnya untuk menulis magnum opusnya yang berjudul Ihya Ulumuddin (translit. Kebangkitan Ilmu Pengetahuan Agama). Di antara karya-karyanya yang lain, Tahafut al-Falasifah (Incoherence of the Philosophers translit. Inkohorensi Para Filsuf) adalah tengara dalam sejarah filsafat, karena memajukan kritik terhadap sains Aristotelian yang dikembangkan kemudian di Eropa abad ke-14. #Pelafalan Nama Al-Ghazali# Yang lebih tepat sebenarnya adalah melafalkannya Al-Ghozali), yakni dengan tidak mentasydidkan huruf zay. Alasannya, lafaz Al-Ghazali berasal dari kata Ghaza nama sebuah desa kecil di thus. Al-Ghozali dinisbatkan pada kampung kelahiranya Ghaza, kota Thus. Laqob ini sama seperti orang yang diberi gelar Al-Bukhari yang berarti Kota bukhara dan lain sebagainya. Putrinya berkata berkata: Sungguh celaka orang yang memberikan gelar Al-Ghazzali kepada ayah kami. #Kelahiran# Al-Ghazali lahir di Tus, Khurasan. Wilayah kelahirannya dekat dengan Meshded. Pada masa lalu, wilayah ini merupakan bekas Kekaisaran Persia. Al-Ghazali hidup dalam masa pemerintahan Kekhalifahan Abbasiyah yang memerintah daerah ini sejak abad ke-8 Masehi. Wilayah tempat tinggal al-Ghazali merupakan tempat berkumpul dari para penyair, dan penulis sekaligus pengajar keagamaan.[11] Masa kelahiran al-Ghazali sudah dikategorikan dalam masa kemunduran kekuatan Islam dalam pemerintahan Kekhalifahan Abbasiyah. Pada masa ini banyak terjadi konflik internal yang berlangsung lama dan terus berlanjut. Tus yang menjadi tempat kelahiran dari al-Ghazali merupakan sebuah kota yang berukuran besar. Kota ini memiliki kepadatan penduduk yang tinggi dan tata ruang bangunan yang rapi. Jumlah penduduknya lebih banyak dari dua kota di dekatnya, yaitu Thabaristan dan Nawqan. Lingkungan kota Tus dikelilingi oleh pepohonan yang tumbuh dengan subur. Sekeliling kota merupakan wilayah pengunungan yang mengandung banyak mineral. Perkampungan tempat kelahiran al-Ghazali bernama Ghazaleh. Al-Ghazali lahir pada tahun 450 Hijriah atau sekitar tahun 1059 Masehi. #Keluarga# Ayah dari al-Ghazali bekerja sebagai pemintal dan penjual wol. Ayahnya dikenal sebagai orang yang memiliki pengabdian dalam menuntu ilmu agama. Ketika memiliki waktu luang sehabis bekerja, ia selalu mendatangai para tokoh agama dan para ahli fikih untuk mendengarkan nasihat-nasihat. Sifat dan kepribadian ayahnya kurang diketahui. Ketika masih dalam usia anak-anak, ayahnya wafat. Ia meninggalkan al-Ghazali bersama saudara kandung laki-lakinya yang bernama Ahmad. Al-Ghazali mempunyai daya ingat yang kuat. Dalam memberikan argumentasi, ia bersikap bijak. Karena kemampuan tersebut, ia diberi gelar sebagai Hujjatul Islam. Ia sangat dihormati di dua pusat kekuasaan Islam pada masanya, yaitu Dinasti Seljuk dan Dinasti Abbasiyah. Imam al-Ghazali sangat mencintai ilmu dan pengetahuan sehingga ia menguasai banyak bidang ilmu. Dalam menuntu ilmu, ia melakukan kegiatan pengembaraan dengan meninggalkan seluruh kesenangan hidup yang dimilikinya. Sebelum dia memulai pengembaraan, dia telah mempelajari karya ahli sufi ternama seperti al-Junaid Sabili dan Bayazid Busthami. Imam al-Ghazali telah mengembara selama 10 tahun. Ia telah mengunjungi tempat-tempat suci di daerah Islam yang luas seperti Mekkah, Madinah, Jerusalem dan Mesir. Ia terkenal sebagai ahli filsafat Islam yang telah mengharumkan nama ulama di Eropa melalui hasil karyanya yang sangat bermutu tinggi. Sejak kecil lagi dia telah dididik dengan akhlak yang mulia. Hal ini menyebabkan dia benci kepada sifat riya, megah, sombong, takabur dan sifat-sifat tercela yang lain. Ia sangat kuat beribadat, wara', zuhud dan tidak gemar kepada kemewahan, kepalsuan, kemegahan dan mencari sesuatu untuk mendapat ridha Allah SWT. #Pendidikan# Pendidikan dari al-Ghazali sangat diperhatikan oleh ayahnya. Ayahnya sendiri tidak dapat membaca dan keluarganya hidup dalam kemiskinan. Sebelum kematian ayahnya, al-Ghazali dititipkan kepada salah seorang sahabatnya agar mengurus persoalan pendidikan dari al-Ghazali dan saudaranya yang bernama Ahmad. Al-Ghazali menempuh pendidikan dasar di kota Tus. Ia mulai belajar ilmu agama tingkat dasar dari seorang guru bernama Ahmad bin Muhammad Razkafi. Pada tingkat dasar, dia mendapat pendidikan secara gratis dari beberapa orang guru karena kemiskinan keluarganya. Pendidikan yang diperoleh pada peringkat ini membolehkan dia menguasai Bahasa Arab dan Parsi dengan fasih. Oleh sebab minatnya yang mendalam terhadap ilmu, dia mula mempelajari ilmu ushuluddin, ilmu mantiq, usul fiqih dan filsafat serta mempelajari segala pendapat keeempat mazhab hingga mahir dalam bidang yang dibahas oleh mazhab-mazhab tersebut. Selepas itu, dia melanjutkan pelajarannya dengan Ahmad ar-Razkani dalam bidang ilmu fiqih, Abu Nasr al-Ismail di Jarajan, dan Imam Harmaim di Naisabur. Oleh sebab Imam al-Ghazali memiliki ketinggian ilmu, dia telah dilantik menjadi mahaguru di Madrasah Nizhamiyah (sebuah universitas yang didirikan oleh perdana menteri) di Baghdad pada tahun 484 Hijrah. Kemudian dia dilantik pula sebagai Naib Kanselor di sana. Ia telah mengembara ke beberapa tempat seperti Mekkah, Madinah, Mesir dan Jerusalem untuk berjumpa dengan ulama-ulama di sana untuk mendalami ilmu pengetahuannya yang ada. Dalam pengembaraan, dia menulis kitab Ihya Ulumuddin yang memberi sumbangan besar kepada masyarakat dan pemikiran manusia dalam semua masalah. #Tasawuf# Ihya Ulumuddin (Kebangkitan Ilmu-Ilmu Agama), merupakan karyanya yang terkenal: Kimiya as-Sa'adah (Kimia Kebahagiaan), Misykah al-Anwar (The Niche of Lights), Mizan Al-'Amal, Al-Ma'arif Al-Aqliyah, Bidayah Al-Hidayah, Jawahir Al-Quran, Nashihatul Akhirah, Zaadul Akhirah, Ar-Risalah Al-Laduniyah, Talbis Iblis, Al-Munqiz Min Ad-Dhalal. #Filsafat# Maqasid al-Falasifah, Tahafut al-Falasifah, buku ini membahas kelemahan-kelemahan para filosof masa itu, yang kemudian ditanggapi oleh Ibnu Rusyd. #Logika# Mi`yar al-Ilm (The Standard Measure of Knowledge), Al-Qistas al-Mustaqim (The Just Balance), Mihakk al-Nazar fi al-Manthiq (The Touchstone of Proof in Logic). #Pemikiran tentang teologi# Ilmu kalam# Pengetahuan awal dari al-Ghazali berasal dari gurunya yang bernama al-Juwaini. Karena pengajaran dari gurunya, ia menjadi ragu-ragu dengan ilmu kalam. Pada masa hidupnya, terdapat banyak aliran pemikiran mengenai ilmu kalam. Masing-masing aliran ini memiliki pemikiran yang bertentangan. Hal inilah yang membuat al-Ghazali ragu mengenai kebenaran ilmu kalam dari masing-masing aliran pemikiran tersebut. Keraguan dan pencarian kebenaran ini dikemukakannya dalam kitabnya yang berjudul al-Munqiz min al-Dalal. Ia menyebutkan di dalam kitabnya ini bahwa kebenaran yang dicarinya adalah kebenaran mutlak. Kebenaran ini diumpamakannya seperti hasil mutlak dari angka yang sudah pasti memiliki kedudukan yang lebih tinggi dengan angka lain yang nilainya lebih kecil. #Tasawuf# Al-Ghazali merupakan salah satu penganut sufisme pada abad ke-5 Hijriah. Kecenderungannya kepada sufisme didasari oleh kehidupannya yang terbagi menjadi dua gaya hidup. Pada masa mudanya, al-Ghazali menekuni ilmu dengan semangat yang tinggi hingga akhirnya menjadi pengajar di Perguruan Nizamiyah. Kehidupannya saat itu diliputi dengan kekayaan. Setelah ia memperoleh kekayaan dan jabatan, ia mulai meragukan keadaannya tersebut. Al-Ghazali mengalami perubahan kehidupan setelah ia mengalami pengalaman tasawuf. Gaya hidup keduanya diliputi oleh ketenangan dan ketenteraman dengan menjadi penulis. Pada gaya hidup keduanya ini, ia banyak menulis tentang tasawuf. Al-Ghazali membagi perjalanan untuk menjadi sufi menjadi enam tahap. Tahap pertama adalah pertobatan. Persyaratan yang perlu dipenuhi untuk pertobatan adalah adanya ilmu, sikap, dan tindakan. Ilmu berupa pengetahuan tentang bahaya yang diakibatkan oleh dosa besar. Ilmu ini kemudian mengakibatkan sikap penyesalan dan kesedihan yang kemudian berubah menjadi tindakan untuk bertobat. Pertobatan ini dilakukan dengan kesadaran yang disertai tekad untuk todak mengulangi perbuatan dosa. Tahap kedua adalah kesabaran. Al-Ghazali membagi jiwa manusia menjadi tiga daya, yaitu daya nalar, daya berbuat baik, dan daya berbuat jahat. Kesabaran dicapai oleh seseorang jika daya berbuat baik dapat mempengaruhi daya berbuat jahat. Tahapan ketiga adalah kefakiran. Ia mengartikannya sebagai usaha untuk menghindarkan diri dari hal-hal yang diperlukan. Setiap keperluan yang merupakan kebutuhan harus diteliti dengan seksama mengenai kehalalan, keharaman dan kemubahannya. Kebutuhan yang haram atau meragukan harus ditinggalkan meskipun diperlukan. Tahapan keempat adalah zuhud. Zuhud diartikan sebagai upayameninggalkan kesenangan duniawi dan hanya mengharapkan kesenangan ukhrawi. Tahapan kelima adalah tawakal. Tahapan ini dapat dicapai dengan meyakini secara teguh bahwa Allah adalah Yang Maha Kuasa, Maha Pengasih dan Maha Pemurah serta Maha Adil. Pencapaian tahapan ini dilakukan dengan berserah diri sepenuhnya kepada keputusan Allah terhadap manusia. Tahapan keenam adalah makrifat. Pada tahapan ini, manusia diyakini telah mengetahui rahasia Allah dan mengetahui peraturan-peraturan-Nya tentang segala yang ada. Tingkat pengetahuan makrifat lebih tinggi dibandingkan pengetahuan yang diperoleh oleh akal. Puncak dari makrifat adalah timbulnya perasaan mencintai Tuhan. #Pemikiran tentang filsafat# Filsafat alam# Al-Ghazali merupakan salah satu filsuf muslim klasik. Ia menolak pernyataan dari filsuf muslim klasik lainnya yang mengatakan bahwa alam itu tidak berawal. Pernyataan ini dikemukakan oleh Ibnu Sina dan al-Farabi. Pandangan ini membuat al-Ghazali menganggap kedua tokoh ini telah kafir. Al-Ghazali menyampaikan hal ini dalam Tahafut al-Falasifah disertai dengan argumentasi dan dalil yang kuat. #Pemikiran tentang pendidikan# Pendidikan dan pengajaran#Dalam pemikiran al-Ghazali, pengajaran dan pendidikan merupakan penyebab manusia memperoleh derajat yang tinggi di antara makhluk ciptaan lainnya di Bumi. Manusia menjadi terhormat karena memiliki ilmu dan amal. #Kurikulum# Al-Ghazali menyusun sebuah organisasi dalam kurikulum yang disebut kurikulum inti. Kurikulum ini berlaku bagi keagamaan maupun keduniawian. Dalam pandangan Al-Ghazali, mata pelajaran di dalam kurikulum bersifat terpisah. Masing-masing mata pelajaran memiliki subjek yang berbeda dengan mata pelajaran lain. Namun, masing-masing tetap memiliki hubungan satu sama lain. Al-Ghazali menganggap bahwa ilmu merupakan bagian-bagian yang terpisah yang tersusun menjadi sebuah kesatuan. Ia membagi ilmu fardu kifayah, ilmu fardu ain dan ilmu mubah. Tujuan pembagian ilmu ini sebagai bentuk pemilihan pengetahuan yang dibutuhkan oleh masyarakat muslim dan pengatahuan yang menjadi syarat untuk mempelajari dan melengkapinya. Al-Ghazali menetapkan ilmu-ilmu pokok keagamaan sebagai ilmu fardu ain. Ilmu ini menjadi pusat perhatian utama dalam pendidikan. Ilmu fardu ain ini menjadi pengarah dan pengendali bagi pengembangan bidang keilmuan yang lainnya. Sedangkan ilmu fardu kifayah dan ilmu mubah menjadi dasar bagi pengembangan ilmu yang lainnya. #Pendidikan karakter# Al-Ghazali merupakan salah satu tokoh Islam yang sangat memperhatikan pendidikan karakter. Ia menyatakan bahwa pendidikan Islam harus mengaktifkan potensi rohani dari peserta didik bersama dengan potensi jasmani yang dimilikinya. Pemikiran-pemikiran dari al-Ghazali mengenai pendidikan karakter dikemukakannya dalam karya-karyanya, antara lain yaitu Ihya Ulumuddin dan Ayyuha al-Walad. Pembahasan yang lengkap mengenai pendidikan karakter disampaikannya dalam Ayyuha al-Walad. Al-Ghazali meyakini bahwa pendidikan karakter merupakan inti dari pendidikan. Ia memperingatkan kepada para pendidik agar tidak berucap sesuatu yang tidak sesuai dengan tindakannya. Al-Ghazali mengutamakan pendidikan akhlak yang mulai dan penghindaran akhlak yang buruk. Teladan dalam pendidikan akhlak ini adalah Nabi Muhammad. Al-Ghazali meyakini bahwa perbuatan anak-anak ditentukan oleh kebiasaan yang diajarkan kepadanya. Bila ia dibiasakan untuk berbuat baik, maka ia akan melakukan perbuatan baik. Sebaliknya, jika ia dibiasakan berbuat buruk, maka ia akan melakukan perbuatan buruk. #Pendidikan aqidah# Menurut al-Ghazali, pendidikan akidah harus dicegah dari timbulnya kesesatan. Karenanya. pendidikan harus memiliki strategi pembelajaran yang tepat. Al-Ghazali menolak pendapat dari mazhab Muktazilah mengenai kewajiban semua orang untuk berdebat mengenai akidah dalam konteks ilmu kalam. Hal ini ditolaknya karena al-Ghazali meyakini bahwa ilmu kalam yang dikaji oleh orang awam akan menimbulkan kebingungan bagi dirinya sendiri. Al-Ghazali tidak mengharamkan ilmu kalam, karena menurutnya ilmu ini dapat mengarahkan akidah seseorang dalam pencegahan dari kelompok ahli bid'ah atau kelompok pemikiran selain Islam. Dalam pembelajaran akidah, al-Ghazali memberikan sebuah metode khusus bagi anak kecil dan bagi orang awam. Ia mengajarkan akidah dengan menggunakan ayat Al-Qur’an dan hadis yang penyampaiannya dilakukan dengan retorika yang tepat. Ia melarang pembelajaran ilmu kalam bagi orang yang tidak memenuhi persyaratan keilmuan untuk mempelajarinya. #Karya# Ayyuha al-Walad# Ayyuha al-Walad merupakan karya dari al-Ghazali yang berisi nasihat dalam membedakan jenis ilmu yang bermanfaat dan yang tidak bermanfaat. Nasihat ini khususnya ditujukan kepada para pelajar.# Ihya Ulumuddin# Karya besar al-Ghazali lainnya adalah Ihya Ulumuddin (Kebangkitan Ilmu Agama). Ini mencakup hampir semua bidang ilmu Islam: fikih (yurisprudensi Islam), ilmu kalam (teologi) dan tasawuf. Karya ini berisi empat bagian utama: Tindakan ibadah (Rub' al-'ibadat), Norma Kehidupan Sehari-hari (Rub' al-'adatat), Jalan menuju Kebinasaan (Rub' al-muhlikat), dan Jalan Menuju Keselamatan (Rub' al-munjiyat). Ihya menjadi teks Islam yang paling sering dibaca setelah Al-Qur'an dan hadis. Prestasi besarnya adalah menyatukan teologi ortodoks Suni dan mistisisme Sufi dalam panduan yang bermanfaat dan komprehensif untuk setiap aspek kehidupan dan kematian Muslim. Buku ini diterima dengan baik oleh para cendekiawan Islam seperti al-Nawawi yang menyatakan bahwa: “Seandainya kitab-kitab Islam akan hilang, kecuali hanya Ihya', cukuplah untuk menggantikan semuanya.” (sumber: https://id.wikipedia.org/wiki/Al-Ghazali). *Filsafat Imam Al-Ghazali* Imam Abu Hamid al-Ghazali (w. 1111 M), selanjutnya disebut Imam Ghazali, sang argumentator Islam genius dari Thus, Persia, dikenal tidak hanya sebagai ulama ahli kalam (teologi), fikih, logika, dialektika, maupun tasawuf, melainkan juga sebagai ahli filsafat. Salah satu karya terbesar filsafatnya adalah kitab al-Tahafut al-Falasifah (Kerancuan Filsafat). Perkenalan Imam Ghazali dengan Filsafat dimulai sejak ia hijrah ke Bagdad, kisaran tahun 1091 M. Selain menjadi guru besar di bidang keagamaan (terutama fikih dan ilmu kalam) di Bagdad, ia banyak mempelajari karya-karya filsuf Yunani seperti Plato, Aristoteles, dan Plotinus. Pada saat yang sama, ia juga banyak menyelidiki pemikiran para filsuf Muslim terutama Ibn Sina dan al-Farabi, tokoh-tokoh yang berjasa besar dalam mengenalkan filsafat Yunani pada dunia Islam. Baca Juga Kritik Imam Al-Ghazali Atas Realitas Zamannya Permasalahan yang ditemui Imam Ghazali saat berada di Bagdad adalah menyangkut persoalan agama dan filsafat. Pertentangan di antara keduanya yakni terkait dengan ketuhanan, penciptaan, takdir, dan rasionalitas. Imam Ghazali mengatasi konflik keduanya dengan menyatakan bahwa filsafat itu berguna dan benar, sejauh diletakkan dalam kerangka agama dan hukum-hukum Islam. Tegasnya, filsafat tidak boleh melewati, mengenyampingkan, dan berada di luar hukum yang sudah baku dalam Al-Qur'an. Kembali ke kitab al-Tahafut al-Falasifah. Dalam kitab ini Imam Ghazali merinci sekitar dua puluh permasalahan filsafat yang bertolak belakang dengan hukum agama. Sebelum mengarang Tahafut, Imam Ghazali terlebih dahulu menyusun karya mengenai tujuan dan kaidah-kaidah dalam dunia filsafat, yakni dalam kitab Maqashid al-Falasifah (Maksud-maksud filsafat). Sederhananya, kitab Maqashid al-Falasifah merupakan pijakan pertama, gerbang awal, semacam rambu-rambu atau prinsip dasar bagi seseorang yang ingin mengenal sekaligus memahami dunia filsafat. Titik serang Imam Ghazali pada filsafat bukan terjadi pada prinsip-prinsip dasar dari filsafat itu sendiri, yang berpikir dengan kaidah logika yang ketat. Yang menjadi titik serang Imam Ghazali pada filsafat yaitu pada kecenderungan umum orang-orang pada masa itu yang terlalu mendewakan filsafat, terlebih kepada para ahli bid'ah yang sering memakai filsafat untuk membohongi kaum awam. Imam Ghazali dalam kitab al-Tahafut al-Falasifah mengajak kepada para pembaca untuk berpikir secara logis dan menyarankan untuk menghindari dari yang namanya taklid buta. Memang ada dua puluh tema dalam filsafat yang menjadi sasaran kritik Imam Ghazali. Dan ini hanya menyangkut konsep penciptaan alam, mengenai wujud Tuhan, serta masalah akhirat. Imam Ghazali memandang filsafat terbagi menjadi enam: ilmu matematika, logika, ilmu alam (fisika), teologi (metafisika), politik (termasuk ekonomi), dan etika. Baca Juga Imam Syafi'i Belajar Filsafat Serangan Imam Ghazali terhadap filsafat bukan pada filsafat secara umum, tetapi pada dua cabang, yakni teologi dan pada sebagian ilmu alam, terutama yang menyatakan "keabadian alam". Bukti lain yang menunjukkan bahwa Imam Ghazali tidak menyerang filsafat secara keseluruhan adalah dengan adanya pengambil alihan struktur manusia menurut para filsuf seperti Aris Toteles, Galen, termasuk Ibn Sina yang dipakai oleh Imam Ghazali sebagaimana ada dalam kitab Ma'arij al-Quds. Dalam menggambarkan struktur manusia, Imam Ghazali membagi jiwa ke dalam tiga kategori, yakni jiwa vegetasi (al-nafs al-nabatiyyah), jiwa sensitif (al-nafs al-hayawaniyyah), dan jiwa manusia (al-nafs al-insaniyyah). Namun, namanya juga ilmu pengetahuan yang akan menjadi landasan untuk berfikir, bertindak dan beramal, pemikiran Imam Ghazali tentang filsafat tidak lepas dari hujatan, serangan, dan tantangan. "Filsafat Islam telah mati di tangan al-Ghazali. Ia membuat daya kritis umat manusia menjadi tumpul, umat menjadi jatuh pada taklid buta...". Demikian tuduhan-tuduhan yang dialamatkan kepada Imam Ghazali akibat tulisannya yang menyerang filsafat dalam kitab al-Tahafut al-Falasifah. Ditegaskan kembali, padahal yang menjadi titik serang Imam Ghazali pada filsafat terletak pada titik-titik tertentu, bukan pada filsafat secara keumuman sebagaimana telah disinggung di awal. Sementara dalam memandang filsafat, beberapa karya Imam Ghazali yang membahas filsafat, terlihat jelas ia sangat menguasai betul ilmu-ilmu filsafat. Imam Ghazali memandang bahwa ilmu filsafat wajib dipelajari, terutama yang menyangkut urusan kesejahteraan masyarakat dan ketahanan akidah umat. Wallahu a'lam. (Sumber: https://jabar.nu.or.id/ngalogat/filsafat-imam-al-ghazali-S2OI6). *Biografi Singkat Imam Al-Ghazali, Bapak Tasawuf Modern* Salah satu pemikir besar dalam dunia Islam adalah Al-Ghazali atau yang dikenal dengan Imam Ghazali. Imam Ghazali adalah seorang akademisi serta ahli tasawuf yang telah melahirkan karya-karya fenomenal. Salah satu karya terkenal dari Imam Ghazali berjudul Ihya Ulumuddin (Kebangkitan Ilmu Pengetahuan Agama). Semasa muda, Al-Ghazali merupakan seorang pemuda yang haus akan ilmu pengetahuan. Ia pendai dalam ilmu tafsir Al Quran, hadis, ilmu kalam, dan filsafat. Beberapa sejarawan Muslim menganggapnya sebagai seorang Mujaddid, yakni seorang pembaru iman yang muncul sekali setiap abad untuk memulihkan iman umat Islam. Selain itu, Imam Al-Ghazali adalah sosok yang terkenal sebagai Bapak Tasawuf Modern. Ada yang Selingkuh? Saatnya Kantor Bertindak Artikel Kompas.id Baca juga: Jabir bin Hayyan, Bapak Ilmu Kimia Modern Masa kecil Al-Ghazali Al-Ghazali lahir di Thus, Iran, pada 450 H atau 1058 dengan nama asli Abu Hamid Muhammad bin Muhammad bin Muhammad bin Ahmad Ath-Thus. Sejak kecil, ia sudah menjadi anak yatim karena ditinggal ayahnya. Namun, sebelum meninggal, ayahnya menitipkannya ke salah satu sahabatnya untuk mengurus pendidikannya. Al-Ghazali pun cukup beruntung karena berada di wilayah yang ditinggali para penyair, penulis, dan ahli agama Islam. Pendidikan Al-Ghazali Al-Ghazali mendapatkan pendidikan dasar di tanah kelahirannya, di Kota Thus. Ia belajar ilmu agama bersama seorang guru bernama Ahmad bin Muhammad Razkafi. Al-Ghazali kecil telah pandai berbahasa Arab dan Parsi. Ia kemudian belajar mengenai ilmu ushuluddin, ilmu mantiq, ushul fikih, filsafat, dan mahzab-mahzab besar Islam. Selepas itu, ia melanjutkan pendidikan di bidang ilmu fikih di Jarajan. Guru Imam Al-Ghazali saat itu adalah Imam Harmaim di Naisabur. Baca juga: Imam Al-Qurthubi, Ahli Tafsir Terkenal dari Andalusia Selain itu, Al-Ghazali juga mengembara ke berbagai wilayah untuk menuntut ilmu, seperti ke Mekkah, Madinah, Mesir, dan Yerusalem. Berkat kegigihannya dalam belajar, pada 484 H atau 1092, Al-Ghazali diangkat menjadi rektor Madrasah Nizhamiyah di Bagdad. Tasawuf Imam Al-Ghazali Sebagai ahli dalam bidang tasawuf, yang kemudian dijuluki sebagai Bapak Tasawuf Modern, Imam Al-Ghazali memiliki beberapa inti ajaran, sebagai berikut. At-Thariq Imam Al-Ghazali berpendapat bahwa seorang muslim yang ingin mendapatkan jalan Tasawuf harus melalui lima jenjang, yakni taubat, sabar, kefakiran, zuhud, dan tawakal. Baca juga: Ilmuwan Muslim pada Masa Dinasti Ayyubiyah dan Bidangnya Makrifat Setelah lima tingkatan At-Thariq, Imam Al-Ghazali menganjurkan untuk memahami makrifat atau memahami pengetahuan terkait ketuhanan tanpa keraguan sedikit pun. Imam Al-Ghazali menekankan setiap umat Islam mengetahui pengetahuan tentang Allah SWT tanpa meragukannya. Ia juga berpendapat bahwa untuk mencapai pemahaman terkait Allah SWT, setiap umat Islam harusnya memiliki hati yang bersih atau suci. Baca juga: Pertama Kali Dengar Suara Ibu Kandung Setelah 14 Tahun, Farel Prayoga: Ibuku Nyebut Aku Langgeng Tingkatan manusia Dalam ajaran tasawuf Imam Al-Ghazali, terdapat tiga tingkatan dalam manusia, yakni orang awam (memiliki pemikiran sederhana), kaum pilihan atau golongan Khawas (berpikir tajam dan mendalam), dan kaum ahli debat (mampu mempersuasi orang dan mematahkan argumen). Kebahagiaan Menurut Imam Al-Ghazali, kebahagiaan menjadi tujuan akhir dalam perkenalannya dengan Allah SWT. Dalam konsep tasawuf Imam Al-Ghazali, kebahagiaan itu didapatkan melalui ilmu dan amal. Dengan memahami suatu konsep dan mempraktikkannya, maka manusia akan menemukan kebahagiaan. Akhir hayat Imam Al-Ghazali Imam Al-Ghazali merupakan seorang yang sangat mencintai ilmu pengetahuan sehingga ia rela meninggalkan kehidupan duniawinya. Selama hidupnya, ia suka mengembara untuk mencari ilmu. Pada masa senjanya, Imam Al-Ghazali pulang ke Thus dan mendirikan sekolah di samping rumahnya. Ia juga membangun asrama untuk murid-muridnya yang belajar di sekolahnya. Al-Ghazali menikmati hari tuanya dengan membaca Al Quran, berkumpul dengan ahli ibadah, dan mengajar para penuntut ilmu. Imam Al-Ghazali meninggal dunia pada tahun 1111 ketika berusia 58 tahun. Karya Imam Al-Ghazali Imam Al-Ghazali yang menjadi ilmuwan dan ahli tasawuf memiliki beberapa karya dalam bentuk kitab. Berikut adalah beberapa karya Imam Al-Ghazali. Ihya Ulumuddin Al-Munqidh min al-Dalal Minhaj al-'Abidin Al-Munqidh min al-Dalal Al-Maqsad al-Asna fi Sharah Asma' Allahu al-Husna Faysal al-Tafriqa bayn al-Islam Wal-Zandaqa Maqasid al Falasifa Tahafut al-Falasifa Al-Qistas al-Mustaqim. (sumber: https://www.kompas.com/stori/read/2022/04/14/140000979/biografi-singkat-imam-al-ghazali-bapak-tasawuf-modern?page=2.). Blog ini dibuat dengan tujuan untuk menambah ilmu si Pembaca, tidak ada keuntungan Ekonomi sedikitpun yang diperoleh dari Pembuat. Tulisan diatas merupakan gabungan beberapa artikel dan ditulis juga sumbernya.

Comments

Popular posts from this blog

Ling Tien Kung dan Syari'at Islam (Oleh H. Yudhi)

Kedamaian di Perumahan Cibubur City (Oleh H. Yudhi)

Abu Bakar Siddiq RA (H. Yudhi)