Ibnu Taimiyah RA (H. Yudhi)

Ibnu Taimiyah RA (H. Yudhi). Abul Abbas Taqiyuddin Ahmad bin Abdul Halim bin Abdus Salam bin Abdullah bin Taimiyah al Harrani (lahir 10 Rabi'ul Awwal 661 H (22 Januari 1263) – wafat 22 Dzul Qa'dah 728 H (26 September 1328)), atau yang biasa disebut dengan nama Ibnu Taimiyah saja, adalah seorang pemikir dan ulama Islam dari Harran, Turki. Metode berfikirnya adalah metode salaf yang bersumber pada al-qur'an dan hadis. Hukum-hukum fikih yang ia istinbatkan seringkali bersandar kepada imam madzhabnya, yaitu imam Ahmad bin Hanbal. Metode ushul fikih atau pemikiran hukum Islam Ibnu Taimiyyah adalah al-qur’an dan hadis, ijma', qiyas, istishab, dan mashlahah mursalah. Ibnu Taymiyyah berpendapat bahwa tiga generasi awal Islam, yaitu Nabi Islam Muhammad dan Sahabat Nabi, kemudian Tabi'in yaitu generasi yang mengenal langsung para Sahabat Nabi, dan Tabi'ut tabi'in yaitu generasi yang mengenal langsung para Tabi'in, adalah contoh yang terbaik untuk kehidupan Islam. #Biografi# Ia berasal dari keluarga religius. Ayahnya Syihabuddin bin Taimiyah adalah seorang syekh, hakim, dan khatib. Kakeknya Majduddin Abul Birkan Abdussalam bin Abdullah bin Taimiyah al Harrani adalah seorang ulama yang menguasai fikih, hadis, tafsir, ilmu ushul dan penghafal Al Qur'an (hafiz). Ibnu Taimiyah lahir pada zaman ketika Baghdad merupakan pusat kekuasaan dan budaya Islam pada masa Dinasti Abbasiyah. Ketika berusia enam tahun (tahun 667 H/1268M), Ibnu Taimiyah dibawa ayahnya ke Damaskus disebabkan serbuan tentara Mongol atas Irak. #Perkembangan dan hasrat keilmuan#Semenjak kecil sudah terlihat tanda-tanda kecerdasannya. Begitu tiba di Damaskus, ia segera menghafalkan Al-Qur’an dan mencari berbagai cabang ilmu pada para ulama, hafiz dan ahli hadis negeri itu. Kecerdasan serta kekuatan otaknya membuat para tokoh ulama tersebut tercengang. Ketika umurnya belum mencapai belasan tahun, ia sudah menguasai ilmu ushuluddin dan mendalami bidang-bidang tafsir, hadis, dan bahasa Arab. Ia telah mengkaji Musnad Imam Ahmad sampai beberapa kali, kemudian Kutubu Sittah dan Mu’jam At-Thabarani Al-Kabir. Suatu kali ketika ia masih kanak-kanak, pernah ada seorang ulama besar dari Aleppo, Suriah yang sengaja datang ke Damaskus khusus untuk melihat Ibnu Taimiyah yang kecerdasannya menjadi buah bibir. Setelah bertemu, ia memberikan tes dengan cara menyampaikan belasan matan hadis sekaligus. Ternyata Ibnu Taimiyah mampu menghafalkannya secara cepat dan tepat. Begitu pula ketika disampaikan kepadanya beberapa sanad, ia pun dengan tepat pula mampu mengucapkan ulang dan menghafalnya, sehingga ulama tersebut berkata: "Jika anak ini hidup, niscaya ia kelak mempunyai kedudukan besar, sebab belum pernah ada seorang bocah sepertinya". Sejak kecil ia hidup dan dibesarkan di tengah-tengah para ulama sehingga mempunyai kesempatan untuk membaca sepuas-puasnya kitab-kitab yang bermanfaat. Ia menggunakan seluruh waktunya untuk belajar dan belajar dan menggali ilmu, terutama tentang Al-Qur'an dan Sunah Nabi. #Kepribadiannya# Dia adalah orang yang kuat pendiriannya dan teguh berpijak pada garis-garis yang telah ditentukan Allah, mengikuti segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Ia pernah berkata: ”Jika dibenakku sedang berpikir suatu masalah, sedangkan hal itu merupakan masalah yang muskil bagiku, maka aku akan beristighfar seribu kali atau lebih atau kurang. Sampai dadaku menjadi lapang dan masalah itu terpecahkan. Hal itu aku lakukan baik di pasar, di masjid atau di madrasah. Semuanya tidak menghalangiku untuk berdzikir dan beristighfar hingga terpenuhi cita-citaku.” #Menjadi Pemimpin Pasukan Perang# Dia pernah memimpin sebuah pasukan untuk melawan pasukan Mongol di Syakhab, dekat kota Damaskus, pada tahun 1299 Masehi dan dia mendapat kemenangan yang gemilang. Pada Februari 1313, dia juga bertempur di kota Jerussalem dan mendapat kemenangan. Dan sesudah kariernya itu, dia tetap mengajar sebagai profesor yang ulung #Pendidikan dan karyanya# Di Damaskus ia belajar pada banyak guru, dan memperoleh berbagai macam ilmu diantaranya ilmu hitung (matematika), khat (ilmu tulis menulis Arab), nahwu, ushul fikih. Ia dikaruniai kemampuan mudah hafal dan sukar lupa. Hingga dalam usia muda, ia telah hafal Al-Qur'an. Kemampuannya dalam menuntut ilmu mulai terlihat pada usia 17 tahun. Dan usia 19, ia telah memberi fatwa dalam masalah masalah keagamaan. Ibnu Taimiyah amat menguasai ilmu rijalul hadits (perawi hadis) yang berguna dalam menelusuri hadis dari periwayat atau pembawanya dan Fununul hadits (macam-macam hadis) baik yang lemah, cacat atau sahih. Ia memahami semua hadis yang termuat dalam Kutubus Sittah dan Al-Musnad. Dalam mengemukakan ayat-ayat sebagai hujah (dalil), ia memiliki kehebatan yang luar biasa, sehingga mampu mengemukakan kesalahan dan kelemahan para mufasir atau ahli tafsir. Tiap malam ia menulis tafsir, fikih, ilmu 'ushul sambil mengomentari para filsuf. Sehari semalam ia mampu menulis empat buah kurrosah (buku kecil) yang memuat berbagai pendapatnya dalam bidang syariat. Ibnul Wardi menuturkan dalam Tarikh Ibnul Wardi bahwa karangannya mencapai lima ratus judul. Karya-karyanya yang terkenal adalah Majmu' Fatawa yang berisi masalah fatwa fatwa dalam agama Islam. #Wafatnya# Ibnu Taimiyah meninggal di penjara Qal`ah Dimasyq disaksikan oleh salah seorang muridnya Ibnul Qayyim, ketika dia sedang membaca Al-Qur'an surah Al-Qamar yang berbunyi "Innal Muttaqina fi jannatin wanaharin".[13] Ia berada di penjara ini selama dua tahun tiga bulan dan beberapa hari, mengalami sakit dua puluh hari lebih. Pada masa tuanya, dia menulis banyak kitab sekaligus mengisi waktunya. Dia dipenjara karena berseberangan dengan pemerintah di zamannya.[14] Sewaktu menulis, dia sering juga saling bersurat-suratan kepada kawan-kawannya. Akhirnya, pihak pemerintah merampas semua peralatan tulisnya, tinta, dan kertas-kertas dari tangan dia. Namun, dia tidak pernah patah arang. Dia banyak berdakwah dengan menulis surat kepada kawan-kawannya, dan teman-temannya memakai arang. Sehingga, dengan terang, dia berkata, "Orang yang dipenjara adalah orang yang dipenjara harinya dari Rabbnya; sedang, orang yang tertawan adalah orang yang ditawan oleh hawa nafsunya." Ia wafat pada tanggal 22 Dzulqadah 728 H (26 September 1328 M), dan dikuburkan pada waktu Ashar di samping kuburan saudaranya, Syaikh Jamal Al-Islam Syarafuddin. Jenazahnya disalatkan di masjid Jami` Bani Umayah sesudah salat Zhuhur dihadiri para pejabat pemerintah, ulama, tentara serta para penduduk. Pada saat itu, tidak ada seorangpun yang tak hadir melayat kecuali ada yang berhalangan, para wanita yang berjumlah kira-kira 15.000 orang juga datang melayat, ini belum termasuk suara isakan tangis dan doa yang terdengar di atas rumah-rumah sepanjang jalan menuju makam, sementara lelaki yang hadir diperkirakan 60.000 bahkan sampai 100.000 pelayat menurut kesaksian Ibnu Katsir. #Peninggalan# Sepanjang hidupnya, dia dikenal banyak sekali mendapat pujian dan celaan. Banyak kalangan ulama yang memujinya. Adapun ajarannya berupa ajaran pemurnian tauhid dari kesyirikan, khurafat, dan bid'ah. (sumber: https://id.wikipedia.org/wiki/Ibnu_Taimiyah). *Mengenal Sosok Syaikul Islam Ibnu Taimiyah*#MENGENAL SOSOK SYAIKHUL ISLAM IBNU TAIMIYAH# Segala puji hanya untuk Allah Ta’ala, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulallah Shalallahu ‘alaihi wa sallam . Aku bersaksi bahwa tidak ada ilah yang berhak disembah dengan benar melainkan Allah Shubhanahu wa Ta’alla semata yang tidak ada sekutu bagi -Nya, dan aku juga bersaksai bahwa Muhammad Shalallahu’alaihi wa sallam adalah seorang hamba dan utusan -Nya. Amma ba’du: Berikut ini adalah untaian kisah dari perjalanan seorang ulama besar dari kalangan ulama umat ini. Seorang imam dari kalangan para imam yang mendapat petunjuk, dengannya Allah Shubhanahu wa Ta’alla memperbaharui agama ini, dan melalui tangannya Allah Shubhanahu wa Ta’alla menumpas bid’ah sampai ke akar-akarnya. Beliau adalah seorang ulama dunia pada zamannya, orang tercerdas pada waktunya, belum ada yang menyamai dirinya dalam hal hafalan, ilmu serta amalan. Beliau adalah Syaikhul Islam Abul Abbas Ahmad bin Syihabudin Abdul Halim bin Majdudin Abul Barakat Abdus Salam bin Abdullah bin Abul Qosim al-Harani Ibnu Taimiyah yang merupakan julukan bagi kakeknya yang paling atas. Lahir para tangal 10 Rabiul Awal tahun 661 H. Adapun al-Harani adalah nisbat kepada sebuah negeri masyhur yang berada diantara negeri Syam dan Iraq. Beliau berkulit putih, berperawakan tinggi sedang, berdada datar tegap, sedikit beruban, dengan rambut menjulur sampai diatas daun telinga, matanya besar bagaikan lisan ketika berbicara, suaranya emas, fasih, sangat cepat dalam membaca, padanya berhenti dalam hal keberanian serta memaafkan. Beliau hafal al-Qur’an pada usia sebelum baligh, terampil dalam ilmu syari’at dan bahasa arab serta mantiq dan lainnya. Dirinya tidak menikah tidak pula memiliki wanita simpanan, bukan karena tidak menyukai nikah, karena itu merupakan sunah Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam, namun, karena kesibukan beliau dengan ilmu, mengajar, dakwah serta berjihad. Beliau menghabiskan seluruh waktu untuk meneliti, membaca, dan menelaah. Seakan dirinya tidak pernah kenyang dan puas akan ilmu, tidak merasa puas dari menelaah, tidak bosan serta capek dari menyibukan diri dengan penelitian ilmu. Berkata Imam Dzahabi, “Tidaklah aku melihatnya kecuali sedang berada diantara tumpukan kitab”. Beliau menyusun kitab untuk pertama kalinya pada usia tujuh belas tahun, dirinya termasuk seorang ulama yang berpredikat sepanjang masa disebabkan begitu banyak karya tulis yang beliau hasilkan, sehingga belum pernah didapati dalam sejarah Islam ada orang yang menulis karya ilmiah seperti yang beliau tulis, diperkirakan tulisan yang beliau hasilkan mencapai lima ratus jilid, dengan empat ribu buku tulis atau lebih. Sampai dikatakan tulisan yang beliau hasilkan pada setiap harinya mencapai empat buku, didalam menulis buku-bukunya beliau selalu mengambil dari hafalan yang dia miliki, dirinya sangat mahir dalam masalah menulis dan cepat dalam menyusun, sehingga hasil tulisannya bila disamakan hampir sama dengan kilatan cahaya mesin. Hasil karya tulisanya sangat sempurna, dengan dibarengi hujjah dan dalil yang kuat, bagus dalam penulisan serta susunan pembahasannya. Beliau mulai mengajar, sedang usianya pada saat itu masih dua puluh satu tahun setelah kematian bapaknya. Adapun dalam mengajar tafsir maka beliau mulai mengajar pada usia tiga puluh tahun, dan terus berlanjut sampai waktu yang cukup lama, sungguh terkumpul pada dirinya imamah dalam masalah ilmu tafsir dan ilmu-ilmu yang berkaitan dengan al-Qur’an. Dimana beliau sangatlah menekuni dan menyukainya secara total sampai dirinya betul-betul menguasai ilmu-ilmu tadi sehingga meninggalkan jauh yang lainnya. Dikisahkan, beliau mempunyai kitab tafsir yang sangat panjang yang berisikan sesuatu yang menakjubkan dan belum pernah ada sebelumnya yang menyamainya. Beliau terkenal dengan hafalannya yang sangat kuat, setiap perkara yang pernah dihafalnya maka sangat jarang dirinya lupa. Adalah al-Hafidh al-Mizzi sangat mengagungkan gurunya ini dengan pujian yang banyak, sampai kiranya beliau mengatakan, “Tidak pernah terlihat ulama yang semisal dengannya semenjak empat ratus tahun yang lalu”. Kehidupan yang dijalani sehari-harinya dipenuhi dengan kesungguhan, giat dan giat, yang tidak pernah diketahui menyibukan diri untuk bersendau gurau apalagi sampai melakukan akhlak tercela seperti mengunjing atau adu domba. Beliau sangatlah menjauhi dan bersih dari perilaku mengunjing dan mengadu domba ini, belum pernah ada penukilan yang menceritakan dirinya terjatuh dalam permasalah buruk semacam itu. Majelisnya dipenuhi dengan hikmah dan kebaikan dan tidaklah mungkin berani orang yang senang menggunjing untuk melakukannya dimajelis beliau. Beliau sangat zuhud terhadap dunia, akan tetapi tidak sampai berlebihan, dirinya biasa mendapatkan harta pada tiap tahunnya yang sangat banyak, kemudian beliau menginfakan seluruhnya yang mencapai sampai dua ribu dirham lebih, dan tangannya tidak menyentuh satu dirhampun, tidak mengambil walau hanya untuk memenuhi kebutuhannya. Beliau biasa mengunjungi orang sakit, mengiringi jenazah, menunaikan hak-hak orang lain, dan sangat baik terhadap orang lain, sehingga dirinya dicintai oleh semua kalangan, baik ulama, orang sholeh, tentara sampai penguasa, para saudagar dan pembesar, serta semua lapisan masyarakat. Disebabkan kontstribusi besar yang bermanfaat pada mereka baik siang maupun malam, dengan lisan maupun tulisannya. Seringkali beliau diajukan dan ditawari untuk menjadi pejabat dan mempimpin namun dirinya enggan dan menolak, sembari mengatakan, “Carilah orang lain yang lebih cocok dari diriku”. Adapun dalam masalah menyebarkan ilmu, mengoreksi aqidah yang benar, dan mengembalikan manusia kepada Allah Shubhanahu wa Ta’alla dan Rasul -Nya, maka mereka lebih membutuhkannya dari pada jabatan serta tawaran tadi. Begitu pula seringkali beliau ditawari hadiah serta hibah akan tetapi beliau menolaknya, karena dirinya paham kalau sekiranya diambil tentu akan sulit bergerak dan melemahkan dalam menolak kebatilan serta akan suka menjilat. Dan ini merupakan metodenya Imam Ahmad bin Hanbal. Dikisahkan dalam biografi beliau, dirinya dipenuhi materi dunia akan tetapi beliau menolaknya, sehingga beliau hanya mencukupkan sedikit. Dan dalam hal ini saudaranya Syarifudin yang mengurusi kebutuhannya. Berkata syaikh Abu Bakar Abu Zaid mengomentari hal ini, “Dan ini merupakan pelajaran bagi kita, bahwa tidak mungkin terkumpul dalam hati seseorang dua hal yang saling bertentangan, sebagaimana dikatakan: Cinta terhadap kitab dan senang pada nyanyian. Tidak mungkin terkumpul dalam hati seorang hamba. Maka kecintaan terhadap ilmu lalu menyibukan hati dan anggota badan demi harta, mengumpulkan serta meperbanyak maka tidak mungkin terkumpul dalam hati seseorang, sehingga setiap kali ada porsi serta usaha dan waktu yang engkau luangkan melebihi dari yang lainnya maka akan hilang yang satunya, cukuplah hal ini membuat kita menangis”. Adapun sikap beliau bersama penguasa, maka beliau sangat sering di dalam memberi nasehat, menyuruh perkara ma’ruf dan melarang perbuatan mungkar, diantara yang tercatat dalam sejarah adalah sikapnya yang begitu besar dalam menghancurkan keberadaan orang-orang atheis dan Bathiniyah sebagaimana yang terjadi pada peristiwa Syaqhab dan al-Kasrawan. Demikian pula sikap beliau ketika berhadapan dengan Ghazan hingga dirinya dijuluki “Khalidiyah nisbat kepada Pedang Allah yang terhunus” karena keberaniannya bersama Khalid bin Walid Radhiyallahu ‘anhu. Dikisahkan, pada tahun 699 H terjadi peristiwa genting, yakni datangnya Raja Ghazan ke negeri Damaskus. Maka segera Syaikhul Islam keluar mendatanginya lalu bertemu dengannya dan mengajak bicara bersamanya secara kasar. Dan Allah Shubhanahu wa Ta’alla telah mencukupi dirinya dari keburukan tangan Ghazan. Yaitu tatkala dirinya meminta kepada penerjemah raja Ghazan, katakan padanya, “Engkau mengira dirimu seorang muslim, dan bersamamu qodhi, imam, dan syaikh, sedangkan kalian menyakiti dan memerangi kami seperti sekarang ini. Adapun ayah dan kakekmu, keduanya adalah kafir, akan tetapi keduanya tidak melakukan seperti yang kamu lakukan sekarang ini, keduanya membuat perjanjian dan memenuhinya, adapun engkau, membuat perjanjian namun engkau langgar sendiri, dan saya katakan engkau tidak memenuhinya sama sekali”. Beliau menyeret beberapa perkara bersama Ghazan dan Qathlusyah serta Bulari yang beliau lakukan semuanya karena Allah Ta’ala, beliau mengatakan kebenaran tanpa ada rasa takut sedikitpun kecuali kepada Allah Shubhanahu wa Ta’alla. Suatu ketika seluruh qodhi Damaskus serta tokoh-tokoh pembesar hadir pada majelisnya Ghazan, kemudian raja Ghazan menjamu mereka dengan berbagai makanan, lalu mereka semua menyantap jamuan tersebut kecuali Ibnu Taimiyah, beliau tidak ikut memakannya, maka ditanyakan padanya, “Kenapa engkau tidak ikut makan? Beliau menjawab, “Bagaimana mungkin aku memakan makanan ini sedang kalian mengambilnya dengan merampas milik masyarakat, kemudian yang kalian masak adalah hasil dari rampokan harta mereka”. Kemudian Raja Ghazan meminta pada beliau supaya dido’akan kebaikan, maka beliau mengatakan dalam untaian do’anya, “Ya Allah, jika sekiranya Engkau mengetahui kalau dirinya perperang hanya untuk menegakkan kalimat Allah Shubhanahu wa Ta’alla biar tinggi dan berjihad di jalan -Mu, maka teguhkan serta tolonglah dirinya. Dan jikalau tujuannya hanya untuk kekuasaan, dunia dan memperbanyak harta, lakukan lah sekehendak -Mu…kemudian beliau pun mendo’akan dirinya dan raja Ghazan mengamini do’a tersebut. sedangkan para qodhi tadi yang datang bersamanya merasa takut bila sampai membunuhnya, maka mereka langsung merapikan pakaian, takut kalau kiranya raja Ghazan murka lalu membunuhnya sehingga darahnya Ibnu Taimiyah menimpa mereka. Maka tatkala mereka keluar dari hadapan sang Raja, berkata pimpinan para pembesar Qodhi yang bernama Ibnul Shashari kepada Ibnu Taimiyah, “Hampir saja engkau membunuh kami semua bersamamu, maka mulai sekarang kami tidak ingin menemanimu kembali”. Maka dijawab sama beliau, “Demikian juga mulai dari sekarang aku pun tidak ingin menemani kalian”. Beliau di jebloskan ke dalam penjara Qol’ah di Damaskus pada akhir hayatnya, maka beliau tinggal didalamnya sambil menulis, dan mengirim surat kepada para sahabatnya, sambil mengatakan bahwa dirinya mendapat karunia ilmu yang Allah Shubhanahu wa Ta’alla bukakan untuknya dari berbagai macam ilmu yang sangat besar faidahnya. Beliau mengatakan, “Sungguh Allah Shubhanahu wa Ta’alla telah membuka untukku dalam penjara ini, beberapa kali dari makna-makna al-Qur’an dan pokok-pokok ilmu lainya yang sangat banyak, dimana banyak dari kalangan para ulama mengharap untuk bisa memahaminya. Dan aku sangat menyesal karena telah banyak menyia-yiakan waktuku yang aku habiskan bukan untuk mempelajari makna al-Qur’an”. Selanjutnya beliau dilarang untuk menulis, sehingga tidak ada satu pun disisinya alat untuk menulis, seperti kertas dan pena. Kemudian setelah itu beliau menyibukkan diri untuk membaca, bermunajat dan dzikir kepada Allah azza wa jalla. Imam Ibnu Qoyim, muridnya menceritakan, “Aku pernah mendengar Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah -semoga Allah Shubhanahu wa Ta’alla mensucikan ruhnya dan menyinari kuburnya-, berkata, “Sesungguhnya didunia ada surga, barangsiapa yang diharamkan untuk memasukinya maka tidak akan mungkin masuk ke dalam surga yang di akhirat”. Suatu ketika beliau juga pernah bertanya padaku, “Apa yang diperbuat oleh musuh-musuhku terhadap diriku? Diriku adalah surgaku dan tamanku berada didalam dadaku, dimanapun diriku pergi dia akan selalu bersamaku dan tidak akan berpisah denganku. Adapun bagiku penjara adalah tempat untuk menyendiri bersama Allah Shubhanahu wa Ta’alla, ketika aku dibunuh maka mati syahid bagiku, ketika mereka mengusir dari negeriku maka itu seperti bertamasya”. Dan ketika di dalam penjara beliau berkata, “Kalau seandainya diganti sepenuh penjara ini dengan emas niscaya tidak ada bandingannya bagiku untuk mensyukuri nikmat di penjara ini”. atau ucapan beliau, “Niscaya aku tidak mampu membalas mereka, karena dengan sebab mereka aku memperoleh kebaikan yang sangat banyak…atau ucapan beliau yang senada dengan ini. Ketika beliau sujud di dalam sholatnya beliau biasa berdo’a, “Ya Allah, tolonglah diriku untuk berdzikir kepada -Mu, untuk bersyukur kepada -Mu dan untuk beribadah dengan baik kepada -Mu”. Suatu ketika beliau pernah menuturkan, “Orang yang terpenjara ialah yang terpenjara hatinya dari mengenal Rabbnya, dan orang yang tertawan ialah yang tertawan oleh hawa nafsunya”. Manakala beliau masuk ke dalam penjara Qol’ah dan berada didalamnya, beliau melihat sekelilingnya sembari membaca firman Allah tabaraka wa ta’ala: “Lalu diadakan di antara mereka dinding yang mempunyai pintu. di sebelah dalamnya ada rahmat dan di sebelah luarnya dari situ ada siksa”. [Al-Hadiid/57: 13]. Beliau adalah orang yang banyak beribadah, senantiasa membasahi lisannya untuk berdzikir, sampai tidak ada yang mampu menggantikan kebiasaan ini dari kesibukan apapun tidak pula ada yang memalingkannya. Imam Ibnu Qoyim mengkisahkan, “Aku pernah datang untuk melakukan sholat shubuh bersama Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, setelah selesai beliau duduk berdzikir kepada Allah Ta’ala hingga mendekati pertengahan siang, setelah itu beliau berpaling kepadaku sambil berkata, “Inilah makananku kalaulah sekiranya aku tidak memberi makanan ini pada tubuhku maka aku akan jatuh lemas, atau ucapan yang mirip dengan ini. Beliau juga pernah berkata padaku, “Aku tidak pernah meninggalkan untuk berdzikir kecuali hanya sekedar menghilangkan kepenatan dan istirahat sejenak untuk bersiap-siap melakukan dzikir yang lainnya. Atau ucapan yang semkna dengan ini. Dan Allah Shubhanahu wa Ta’alla mengetahui, belum pernah aku melihat seorangpun yang lebih baik kehidupannya dari beliau sebelumnya, walaupun dirinya dipenjara dan diancam serta ditekan namun bersamaan dengan itu beliau adalah orang yang paling baik penghidupannya, paling lapang dadanya, paling teguh hatinya, dan paling berbahagia jiwanya, terpancar pada pandangan matanya kenikmatan yang tiada tara. Dan kami, biasanya tatkala sedang merasa gundah dan berprasangka buruk serta terasa sempit dunia tempat berpijak ini, maka kami mendatangi beliau. Dan tidaklah ketika kami melihatnya serta mendengar nasehatnya melainkan segera hilang kegundahan dan segala permasalahan tersebut, lalu berubah menjadi ketenangan, merasa kuat, yakin dan tentram. Maha suci Allah Shubhanahu wa Ta’alla, bagi orang dari kalangan para hambaNya yang menyaksikan surga-Nya sebelum berjumpa dengan-Nya. Allah Shubhanahu wa Ta’alla telah membukakan untuk meraka pintu-pintu surga di dunia ini, negeri untuk beramal, lalu datang kepada mereka bau harumnya, anginnya serta keindahannya, sehingga mendorong kekuatannya untuk menggapai surga dan berlomba-lomba untuk merengkuhnya”. Beliau pernah berkata, “Aku halalkan kehormatanku bagi tiap orang yang pernah menyakitiku, akan tetapi barangsiapa yang menyakiti Allah Shubhanahu wa Ta’alla dan Rasul -Nya, demi Allah pasti aku akan membalasnya”. Berkata Qodhi Ibnu Makhluf, dia adalah salah seorang musuhnya, “Kami belum pernah melihat orang yang paling bertakwa melebihi Ibnu Taimiyah, tidak ada kesempatan bagi kami untuk memusuhinya pasti kami lakukan, akan tetapi, tatkala beliau mampu membalasnya beliau memaafkan kami”. Adapun meninggalnya beliau dikarenakan ketika masih berada didalam penjara Qol’ah pada dini hari malam senin tanggal 20 Dzulqo’dah tahun 728 H. sebelumnya beliau sakit demam selama tujuh belas hari. Beliau meninggal tepat pada waktu sepertiga malam terakhir. Setelah tersebar berita kematiannya maka berkumpul di penjara Qol’ah manusia yang sangat banyak dari kalangan teman dan murid-murid beliau, sambil menangisi serta memujinya. Dan saudaranya Zainudin Abdurahman mengabarkan pada mereka bahwa dirinya bersama beliau semenjak dijebloskan ke dalam penjara, mereka berdua telah menghatamkan al-Qur’an sebanyak delapan puluh kali. Dan hampir menyelesaikan yang ke delapan puluh satunya akan tetapi ketika sampai pada firman Allah ta’ala beliau menghembuskan nafasnya yang terakhir: “Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa itu di dalam taman-taman dan sungai-sungai, di tempat yang disenangi di sisi Tuhan yang berkuasa”. [al-Qomar/54: 54-55]. Sungguh terkumpul pada saat itu manusia yang mengikuti sholat jenazah beliau lautan masa yang begitu banyak sampai diperkirakan dari kalangan laki-lakinya enam puluh ribu orang atau lebih sampai dua ratus ribu orang. Dari kalangan wanita lima belas ribu orang, dan ini mengingatkan kita pada ucapannya Imam Ahmad yang mengatakan kepada ahli bid’ah, “Perjanjian kami bersama kalian adalah ketika sholat jenazah”. Dikisahkan banyak mimpi orang sholeh yang mengabarkan kebaikan untuknya. Kemudian dilaksanakan pula pada sebagian besar negeri kaum muslimin sholat ghoib, baik negeri yang berdekatan maupun yang jauh sampai di negeri Yaman dan China. Dikabarkan bahwa orang-orang yang sedang safar mendengar panggilan diperbatasan China untuk melaksanakan sholat ghoib untuk beliau pada hari jum’at, dikatakan dalam panggilan tersebut, “Sholat untuk penerjemah al-Qur’an”. Semoga Allah Shubhanahu wa Ta’alla merahmati Syaikhul Islam, dan memberinya balasan atas jasanya terhadap Islam dan kaum muslimin sebaik-baik balasan. Dan semoga Allah Shubhanahu wa Ta’alla mengumpulkan kami dan beliau di negeri yang penuh kenikmatan bersama para Nabi, shidiqin, para syuhada dan orang-orang sholeh, dan mereka adalah sebaik-baik teman. Akhirnya kita ucapkan segala puji bagi Allah Rabb semesta alam. Shalawat serta salam semoga Allah curahkan kepada Nabi kita Muhammad, kepada keluarga beliau serta para sahabatnya. Akhirnya kita ucapkan segala puji bagi Allah Shubhanahu wa Ta’alla Rabb semesta alam. Shalawat serta salam semoga Allah Shubhanahu wa Ta’alla curahkan kepada Nabi kita Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam, kepada keluarga beliau serta para sahabatnya. (sumber: Referensi : https://almanhaj.or.id/34888-mengenal-sosok-syaikul-islam-ibnu-taimiyah.html). *Biografi Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah* #Nasab Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah# Beliau adalah Syaikhul Islam Al Imam Ahmad bin Abdul Halim bin Abdus Salam bin Abdullah bin Muhammad bin Al Khodr bin Muhammad bin Al Khodr bin Ali bin Abdullah bin Taimiyyah Al Haroni Ad Dimasqi. Nama Kunyah beliau adalah Abul ‘Abbas. #Kelahiran dan Pertumbuhan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah# Beliau lahir pada tanggal 12 Rabi’ul Awwal 661 Hijriyyah di Haron. Ketika berumur 7 tahun, beliau berpindah ke Damaskus bersama ayahnya dalam rangka melarikan diri dari pasukan Tartar yang memerangi kaum muslimin. Beliau tumbuh di keluarga yang penuh ilmu, fiqih, dan agama. Buktinya adalah banyak dari ayah, kakek, saudara, dan banyak dari paman beliau adalah ulama yang terkenal. Di antaranya adalah kakek beliau yang jauh (kakek nomor 4), yaitu Muhammad bin Al Khodr, juga Abdul Halim bin Muhammad bin Taimiyyah dan Abdul Ghoni bin Muhammad bin Taimiyyah. Juga kakek beliau yang pertama, yaitu Abdus Salam bin Abdullah bin Taimiyyah Majdud Diin -nama kunyahnya adalah Abul Barokaat-, memiliki beberapa tulisan di antaranya : Al Muntaqo min Al Ahadits Al Ahkam (kitab ini disyarh oleh Imam Syaukani dengan judul Nailul Author, pen), Al Muharror dalam bidang fiqih, Al Muswaddah dalam bidang ushul fiqih, dan lainnya. Begitu juga dengan ayah beliau, Abdul Halim bin Abdus Salam Al Haroni dan saudaranya, Abdurrahman dan lain-lain. Di lingkungan ilmiah dan sholihah ini, beliau tumbuh. Beliau memulai menuntut ilmu pertama kali pada ayahnya dan juga pada ulama-ulama Damaskus. Beliau telah menghafalkan Al Qur’an sejak kecil. Beliau juga telah mempelajari hadits, fiqih, ilmu ushul, dan tafsir. Beliau dikenal sebagai orang yang cerdas, memiliki hafalan yang kuat dan memiliki kecerdasan sejak kecil. Kemudian beliau intensif mempelajari ilmu dan mendalaminya. Sehinggga terkumpul dalam diri beliau syarat-syarat mujtahid ketika masa mudanya. Maka tidak lama kemudian beliau menjadi seorang imam yang diakui oleh ulama-ulama besar dengan ilmu, kelebihan, dan keimamannya dalam agama, sebelum beliau berusia 30 tahun. #Karya Ilmiah Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah# Dalam bidang penulisan buku dan karya ilmiah, beliau telah meninggalkan bagi umat Islam warisan yang besar dan bernilai. Tidak henti-hentinya para ulama dan para peneliti mengambil manfaat dari tulisan beliau. Sampai sekarang ini telah terkumpul berjilid-jilid buku, risalah (buku kecil), fatawa dan berbagai masa’il (pembahasan suatu masalah) dari beliau dan ini yang sudah dicetak. Sedangkan yang tersisa dari karya beliau yang masih belum diketahui atau tersimpan dalam bentuk manuskrip masih banyak sekali. Beliau tidaklah membiarkan satu bidang ilmu dan pengetahuan yang bermanfaat bagi umat dan mengabdi pada umat, kecuali beliau menulisnya dan berperan serta di dalamnya dengan penuh kesungguhan dan ketelitian. Hal seperti ini jarang sekali ditemui kecuali pada orang-orang yang jenius dan orang yang jenius adalah orang yang sangat langka dalam sejarah. Teman dekat, guru, murid beliau bahkan musuh beliau, telah mengakui keluasan penelaahan dan ilmu beliau. Buktinya jika beliau berbicara tentang suatu ilmu atau cabang ilmu, maka orang yang mendengar menyangka bahwa beliau tidak mumpuni pada ilmu lain. Hal ini dikarenakan ketelitian dan pendalaman beliau terhadap ilmu tersebut. Jika seseorang meneliti tulisan dan karya beliau dan mengetahui amal beliau berupa jihad dengan menggunakan tangan dan lisan, dan pembelaan terhadap Islam serta mengetahui tentang ibadah dan dzikir beliau, maka sungguh dia akan sangat terkagu-kagum dengan keberkahan waktu dan kuatnya kesabaran beliau. Maha Suci Allah yang telah mengkarunia beliau berbagai karunia tersebut. #Jihad dan Pembelaan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah untuk Islam# Banyak orang tidak mengetahui sisi amaliyyah dari kehidupan beliau. Banyak orang hanya mengenal beliau sebagai ulama, penulis, dan ahli fatwa melalui karya beliau yang tersebar. Padahal beliau memiliki sikap-sikap yang diakui dalam berbagai bidang yang lain, yang beliau ikut berperan serta dalam menolong dan memuliakan kaum muslimin. Di antaranya : beliau berjihad dengan pedang dan menyemangati kaum muslimin untuk berperang, baik dengan perkataan dan perbuatan beliau. Beliau berputar-putar dengan pedangnya di medan pertempuran dengan menunggang kuda dengan sangat lihai dan berani. Orang-orang yang menyaksikan beliau dalam peperangan penaklukkan kota ’Ukaa, terkagum-kagum dengan keberaniannya dan serangannya terhadap musuh. Adapun jihad beliau dengan pena dan lisan. Maka beliau rahimahullah telah berdiri di depan musuh-musuh Islam dari penganut berbagai agama, aliran, isme yang bathil, dan ahlul bid’ah bagaikan gunung yang kokoh. Kadang dengan perdebatan langsung, terkadang pula melalui tulisan. Beliau menghancurkan syubhat-syubhat (racun pemikiran) mereka dan mengembalikan tipu daya mereka –bilhamdillah-. Beliau menghadapi ahli filsafat, bathiniyyah baik dari golongan sufiyyah, isma’iliyyah, , nashiriyyah, dan selain mereka. Sebagaimana beliau juga menghadapi rofidhoh dan golongan yang sesat (atheis). Beliau hancurkan syubhat-syubhat ahlul bid’ah yang diadakan di sekeliling masyahid (kuburan yang ramai untuk diziarahi), kuburan secara umum, dan semacamnya. Sebagaimana beliau menghadapi jahmiyyah, mu’tazilah, dan beliau membantah ahlul kalam dan asya’iroh. Orang yang melihat sisi ini dari kehidupan beliau hampir-hampir menegaskan tidak ada lagi yang waktu yang sia-sia yang tersisa dalam kehidupan beliau. Beliau diperangi, diusir, disakiti, dan dipenjara berkali-kali di jalan Allah. Bahkan tatkala menghadapi ajal, beliau berada di penjara Al Qol’ah, di Damaskus. Tak ada henti-hentinya –bilhamdillah– bantahan beliau selalu menjadi senjata yang ampuh untuk menghadapi musuh kebenaran dan orang yang menyimpang. Karena bantahan beliau ini selalu disandarkan pada Kitabullah dan Sunnah Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam serta petunjuk salafush sholih, dengan kuatnya istinbath (penyimpulan hukum), pendalilan yang sangat bagus, alasan (argumen) secara syar’i dan akal, dan luasnya ilmu beliau yang telah Allah karuniai. Banyak dari paham yang merusak yang laris manis pada hari ini di tengah-tengah kaum muslimin merupakan perpanjangan tangan dari firqoh-firqoh dan isme-isme (pemahaman-pemahaman) yang beliau hadapi dan semisalnya pula dihadapi oleh pendahulu kita yang sholih. Oleh karena itu, semestinya para da’i yang ingin memperbaiki umat jangan sampai lalai dari sisi ini. Seharusnya mereka mengambil faedah dari bantahan-bantahan yang terlebih dahulu dibuat oleh para pendahulu mereka yang sholih. Tidaklah aku (Syaikh Nashir Al Aql, pen) berlebih-lebihan dengan yang akan aku katakan. Bahwasanya tak henti-hentinya kitab-kitab dan bantahan-bantahan beliau adalah senjata yang paling kuat untuk menghadapi firqoh-firqoh sesat dan isme-isme yang merusak ini, yang laris manis yang mulai muncul lagi pada hari ini. Firqoh dan isme ini merupakan perpanjangan dari masa lalu. Akan tetapi di antara firqoh-firqoh itu ada yang berbaju dengan baju modern dan hanya merubah nama mereka saja. Misalnya Ba’tsiyyah (sebuah aliran sosialis/sekuler, pen), Isytiroqiyyah (sosialisme), nasionalisme, Qodaniyyah (Ahmadiyyah), Baha’iyyah (aliran sesat di India) dan firqoh-firqoh yang lain. Dan ada pula yang masih tetap dengan slogannya yang dulu seperti Syi’ah, Rofidhoh, Nashiriyyah, Isma’iliyyah, Khowarij dan lain-lain. #Sifat-Sifat Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah# Di samping aspek ilmu, pemahaman agama, dan amar ma’ruf nahi mungkar (memerintahkan yang baik dan melarang dari kemungkaran) yang terkenal dari beliau, sungguh Allah telah mengkaruniai beliau sifat yang terpuji yang sudah dikenali dan diakui oleh banyak orang. Beliau adalah orang yang dermawan dan mulia, selalu mengutamakan orang-orang yang membutuhkan melebihi dari diri beliau sendiri, baik dalam hal makanan, pakaian, dan selainnya. Beliau adalah orang yang sering beribadah dan membaca Al Qur’an. Beliau adalah orang yang wara’ dan zuhud, hampir-hampir beliau tidak memiliki sesuatu pun dari kesenangan dunia, kecuali yang merupakan kebutuhan pokok (primer) dan sifat seperti ini sudah diketahui oleh orang-orang pada zamannya, sampai-sampai orang awam pun mengetahuinya. Beliau juga orang yang tawadhu’ dalam penampilan, pakaian, dan interaksi beliau dengan orang lain. Beliau tidak pernah memakai pakaian yang mewah atau pun jelek (beliau selalu berpakaian yang tengah-tengah, tidak mewah dan tidak jelek,pen). Beliau tidaklah memaksa-maksakan diri (berbasa-basi) terhadap orang yang beliau temui. Beliau terkenal sebagai orang yang karismatik dan keras dalam membela kebenaran. Beliau memiliki karisma yang luar biasa di depan penguasa, ulama, dan orang awam. Setiap orang yang melihat beliau, akan langsung mencintai, segan, dan menghormati beliau, kecuali ahlil bid’ah yang diliputi rasa dengki. Sebagaimana beliau terkenal sebagai orang yang sangat sabar di jalan Allah, beliau juga memiliki firasat yang kuat dan memiliki do’a yang mustajab. Beliau juga memiliki karomah lain yang diakui. Semoga Allah merahmati beliau dengan rahmat yang luas dan menempatkannya di surga-Nya. #Masa Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah# Sungguh beliau –rahimahullah– telah hidup di suatu masa yang terdapat banyak bid’ah dan kesesatan. Banyak isme-isme yang batil berkuasa. Semakin bertambah pula syubhat (racun pemikiran). Dan kebodohan, ta’ashub (fanatik) dan taqlid buta (mengikuti seseorang tanpa dalil) semakin tersebar. Pada saat itu pula, kaum muslimin diperangi oleh pasukan Tartar dan pasukan Salib (dari orang-orang Eropa). Kita akan mendapati potret masa beliau dengan jelas dan gamblang melalui buku-buku beliau yang ada di hadapan kita. Karena beliau sangat perhatian dengan urusan kaum muslimin. Beliau juga berperan serta menyelesaikan masalah-masalah tersebut dengan pena, lisan dan tangannya. Barang siapa yang memperhatikan tulisan-tulisan beliau, maka akan mendapati gambaran bentuk ini pada masa beliau: 1. Semakin banyaknya bid’ah dan syirik, lebih-lebih kesyirikan yang terdapat di sekitar masyahid dan kuburan yang diziarahi dan palsu. Juga i’tiqod (keyakinan) yang batil terhadap orang yang hidup dan yang mati. Mereka diyakini dapat memberi manfaat dan dapat memberi kesusahan. Maka mereka diseru/didoai sebagai sesembahan selain Allah. 2. Tersebarnya filsafat, penyimpangan, dan perdebatan. 3. Tasawuf dan toriqoh-toriqoh sufiyah yang sesat mengusasai orang-orang awam. Tersebar pula di sana isme-isme dan pemikiran bathiniyyah. 4. Rofidhoh semakin berperan dalam urusan kaum muslimin. Mereka menyebarkan bid’ah dan kesyirikan di tengah-tengah kaum muslimin. Mereka mengendorkan semangat umat untuk berjihad. Bahkan mereka membantu pasukan Tartar yang merupakan musuh kaum muslimin. 5. Pada akhirnya, kita lihat semakin kuatnya Ahlus Sunnah wal Jama’ah dengan sebab beliau. Beliau memotivasi dan memberikan semangat kepada Ahlus Sunnah. Hal ini memiliki pengaruh yang bagus bagi kaum muslimin hingga saat ini dalam menghadapi bid’ah dan kemungkaran, amar ma’ruf nahi munkar, menasehati pemimpin kaum muslimin, dan kaum muslimin secara umum. Syaikhul Islam di zamannya tegar dalam menghadapi penyimpangan-penyimpangan ini dengan sikap yang telah diakui. Beliau memerintahkan, melarang, menasehati, menjelaskan sehingga Allah memperbaiki banyak keadaan kaum muslimin dengan tangan beliau. Allah telah menolong sunnah dan ahlus sunnah melalui beliau, –walhamdulillah-. #Wafat Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah# Sesungguhnya di antara tanda kebaikan orang sholih dan diterimanya dia di tengah-tengah kaum muslimin adalah : orang-orang merasa kehilangannya tatkala dia meninggal dunia. Oleh karena itu, para salaf menilai banyaknya orang yang menyolati merupakan tanda kebaikan dan diterimanya orang tersebut. Oleh karena itu, Imam Ahmad –rahimahullah– mengatakan : ”Katakan pada Ahlul Bid’ah, perbedaan antara kami dan kalian adalah pada hari kematian”, yaitu orang-orang akan merasakan kehilangan Imam Ahlus Sunnah, apabila imam itu meninggal akan terlihat banyaknya orang yang mengiringi jenazahnya ke pemakaman. Dan sungguh realita telah menunjukkan hal itu. Belum ada yang pernah terdengar seperti kematian dua imam (yang sama-sama bernama Ahmad, pen) yaitu Imam Ahmad bin Hanbal dan Ahmad bin Taimiyyah ketika keduanya meninggal. Begitu banyak orang yang mengiringi ke pemakaman dan keluar bersama jenazah keduanya serta menyolati keduanya. Ini bukanlah suatu yang aneh karena kaum muslimin adalah saksi Allah di bumi ini. Demikianlah Syaikhul Islam –rahimahullah– wafat, dalam keadaan beliau dipenjara di penjara Al Qol’ah, Damaskus, pada malam Senin, 20 Dzulqo’dah 728 Hijriyah. Seluruh penduduk Damaskus dan sekitarnya merayap untuk menyolati dan mengiringi jenazah beliau ke pemakaman. Berbagai referensi yang menyebutkan kematian beliau sepakat bahwa yang menghadiri pemakaman beliau adalah jumlah yang sangat besar sekali yang tidak bisa dibayangkan jumlahnya. Semoga Allah merahmati dan memberi balasan dengan kebaikan yang banyak atas jasa beliau terhadap Islam dan kaum muslimin. (sumber: https://rumaysho.com/617-biografi-syaikhul-islam-ibnu-taimiyah.html). Blog ini dibuat dengan tujuan untuk menambah ilmu si Pembaca, tidak ada keuntungan Ekonomi sedikitpun yang diperoleh dari Pembuat. Tulisan diatas merupakan gabungan beberapa artikel dan ditulis juga sumbernya.

Comments

Popular posts from this blog

Ling Tien Kung dan Syari'at Islam (Oleh H. Yudhi)

Kedamaian di Perumahan Cibubur City (Oleh H. Yudhi)

Abu Bakar Siddiq RA (H. Yudhi)