Hassan al Banna RA (H. Yudhi)
Hassan al Banna RA (H. Yudhi). Hassan Ahmad Abdul Rahman Muhammad al-Banna, (atau lebih dikenal sebagai Syekh Hassan al-Banna), adalah seorang guru sekolah dan imam asal Mesir. Dilahirkan pada 14 Oktober 1906 di Desa Mahmudiyah, Al Buhayrah. Pada saat usia 12 tahun, Hasan al-Banna telah menghafal al-Qur'an. Hasan al-Banna adalah peletak dasar-dasar gerakan Islam selaku pendiri dan pemimpin Ikhwanul Muslimin, salah satu organisasi revivalis Islam berpengaruh pada abad ke-20. Ia memperjuangkan Islam menurut keyakinan Al-Quran dan sunnah, dia dibunuh oleh penembak misterius yang menurut pengikutnya dari kalangan Ikhwanul Muslimin diyakini sebagai penembak 'titipan' dari pemerintah Mesir pada 12 Februari 1949 di Kairo. Hasan Al-Banna pun wafat pada tanggal 14 Rabiul Tsani tahun 1368 Hijriyah bertepatan dengan 12 Februari 1949 M. Menurut beberapa Ulama pada zamannya Hasan Al-Banna mati syahid karena dibunuh oleh kaki tangan penguasa yang dzalim di Mesir. Sebelumnya tersiar kabar bahwa Hasan Al-Banna termasuk orang yang berbahaya di kalangan bangsa penjajah di Eropa. Hingga saat wafatnya tersebut, kaum penjajah Eropa merayakan kematiannya. Kepergian Hassan al-Banna mewariskan 2 karya monumental bagi Ikhwanul Muslimin, yaitu Catatan Harian Dakwah dan Da'i serta Kumpulan Surat-surat. Al-Banna dikenal dengan cara berdakwahnya yang tidak biasa. Ia dikenal sering berdakwah di warung-warung kopi tempat masyarakat pada umumnya berkumpul sehabis bekerja. Di saat ulama lain pada umumnya berdakwah dari mimbar masjid. Kepemimpinan Al-Banna memberi pengaruh bagi pertumbuhan Ikhwanul Muslimin terutama dalam rentang tahun 1930-an hingga tahun1940-an. Ketika Hassan al-Banna berusia 12 tahun, ia mulai terbiasa mendisiplinkan kegiatannya menjadi empat; mengulang hafalan Al-Qur'an setelah salat subuh, menuntut ilmu di sekolah pada siang hari, belajar membuat dan membetulkan jam dengan orang tuanya hingga sore, dan mengulang pelajaran sekolah di waktu sore hingga menjelang tidur. Berdirinya organisasi Ikhwanul Muslimin bertepatan pada tanggal 20 Maret 1928. Bersama keenam temannya, Hassan Al-Banna mendirikan organisasi Ikhwanul Muslimin di kota Isma'iliyah. Pertumbuhan organisasi Ikhwanul Muslimin menjadi pesat ketika Hasan al-Banna pindah ke Kairo pada tahun 1932. Faktor ini penting dan membuat organisasi ini berekspansi semakin luas. Ketika di Isma'iliyah, Hasan al-Banna memberi kuliah malam kepada orang tua muridnya. Dia juga berkhotbah di masjid, dan warung kopi. Beberapa pandangannya tentang praktik Islam menimbulkan perselisihan dan perbedaan pendapat dengan elite pemuka agama setempat, meski Hasan al-Banna sejak awal sudah berusaha menghindari perselisihan tersebut. Dia terkejut begitu menyaksikan supremasi militer dan ekonomi asing di daerah Isma'iliyah, diantaranya berupa adanya kamp-kamp militer Inggris, bidang pelayanan umum yang dimiliki oleh negara asing, dan tempat tinggal mewah dari karyawan asing dari Perusahaan Terusan Suez. Pada masanya Hasal al-Banna berupaya membawa perubahan, melalui lembaga masyarakat, dan pergerakan aktivis di tingkat akar rumput. Dia mewujudkan itu semua dengan membawa Ikhwanul Muslimin masuk ke ranah sosial politk dengan menekankan keprihatinan bersama, gerakannya ini menarik berbagai konstituen, Al-Banna mampu merekrut berbagai jenis masyarakat Mesir dari berbagai strata sosial, seperti pegawai negeri modern-berpendidikan, karyawan kantor, dan profesional tetap menjadi kalangan aktivis organisasi dan pengambil keputusan di Ikhwanul Muslimin. Al-Banna juga aktif dalam menentang imperialisme Inggris di Mesir. Selama Perang Dunia II, ia sempat ditangkap oleh pemerintah pro-Inggris, yang menganggap Al-Banna membawa pergerakan subversif bagi pemerintah Inggris saat itu. Antara 1948 dan 1949, tidak lama setelah masyarakat Mesir mengirim relawan untuk bertempur dalam perang di Palestina, konflik antara pemerintah monarki Mesir dengan masyarakat Mesir mencapai puncaknya. Pemerintah Mesir khawatir dengan meningkatnya popularitas Ikhwanul Muslimin, Pemerintah Mesir saat itu mendengar desas-desus bahwa Ikhwanul Muslimin akan merencanakan kudeta, Perdana Menteri Mesir saat itu, Mahmoud El Nokrashy Pasha bertindak membubarkan Ikhwanul Muslimin pada bulan Desember 1948. Para aktivis organisasi tersebut ditangkap dan dikirim ke penjara. Kurang dari tiga minggu kemudian, perdana menteri tersebut dibunuh oleh salah seorang anggota Ikhwanul Muslimin, Abdul Majid Hasan Ahmad. Setelah pembunuhan itu, Al-Banna segera mengeluarkan pernyataan mengutuk pembunuhan itu, yang menyatakan teror yang bukan cara yang dibenarkan dalam Ikhwanul Muslimin. Peristiwa ini mendorong terjadi pembunuhan Hasan Al-Banna. Pada tanggal 12 Februari 1949 di Kairo, Hasan Al-Banna datang ke kantor pusat Jamiyyah al-Shubban al-Muslimin dengan saudara iparnya Abdul Karim Mansur untuk bernegosiasi dengan Menteri Zaki Ali Basha yang mewakili pihak pemerintah. Namun, Menteri Zaki Ali Basha tidak pernah datang ke negosiasi tersebut. 5 jam lamanya mereka menunggu, akhirnya Hasan Al-Banna dan saudara iparnya memutuskan untuk kembali. Ketika itu pembunuhan tersebut terjadi, Hasan Al-Banna dan saudaranya sedang menunggu taksi untuk pulang, tiba-tiba mereka ditembak oleh dua orang asing tak dikenal. Al-Banna terkena tujuh tembakan pada peristiwa tersebut. Dia segera dibawa ke rumah sakit, namun pada saat itu semua rumah sakit telah menerima perintah dari pemerintah untuk tidak memberi perawatan apapun kepada Hasan Al-Banna, akhirnya Hasan Al-Banna meninggal karena luka-lukanya tidak ditangani medis, di rumah sakit sebelum meninggal, Hassan Al-Banna telah menyadari bahwa mereka telah diperintahkan untuk tidak memberikan penanganan medis kepadanya, dan memutuskan untuk mendoakan pemerintah Mesir dengan 3 doa. Hassan Al-Banna wafat pada tanggal 12 Februari 1949. Hassan al-Banna dikenal memiliki dampak dalam pemikiran Islam modern. Dia adalah kakek dari Tariq Ramadan dan kakak Gamal al-Banna. Menurut Hasan Al-Banna, untuk menguduskan tatanan Islam, al-Banna menyerukan melarang semua pengaruh sekulerisme dari pendidikan dan memerintahkan semua sekolah dasar harus menjadi bagian yang terintegrasi dengan masjid. Dia juga menginginkan kaum muslim aktif dan kegiatan partai politik dan lembaga demokrasi lainnya dari Syura (Dewan Islam) dan ingin semua pejabat pemerintah untuk memilih pembelajaran agama sebagai pendidikan utama. (sumber: https://id.wikipedia.org/wiki/Hasan_al-Banna). *Biografi Hassan al-Banna, Pendiri Ikhwanul Muslimin* Hassan al-Banna adalah seorang guru sekolah dan imam asal Mesir, yang dikenal sebagai pendiri dan pemimpin Ikhwanul Muslimin. Ikhwanul Muslimin adalah organisasi Islam tertua di Mesir sekaligus salah satu organisasi Islam terbesar pada abad ke-20. Strategi dakwah yang digunakan Al-Banna juga dikenal tidak biasa, salah satunya, ia memilih untuk berdakwah di warung-warung kopi. Ternyata, cara ini diakui memang lebih efektif dilakukan dalam berdakwah. Hassan al-Banna tutup usia pada 12 Februari 1949, setelah ditembak oleh terduga polisi rahasia Mesir yang sengaja ditugaskan untuk membunuhnya. Sebelum ia meninggal, konflik antara Ikhwanul Muslimin dengan monarki Mesir memang sedang memuncak. Awal kehidupan Hassan al-Banna lahir pada 14 Oktober 1906, di Desa Mahmudiyah, Mesir. Ia berasal dari keluarga sangat sederhana. Ayahnya bernama Syekh Ahmad al-Banna, seorang imam, muazin, dan guru di masjid, yang memberi pengaruh spiritual sangat besar pada awal kehidupan Al-Banna. Sebagai sosok yang dihormati, Syekh Ahmad memiliki sebuah karya, yakni klasifikasi hadis Imam Ahmad bin Hanbal al-Shaybani. Berkat karya ini, Syekh Ahmad mendapat kesempatan untuk menjalin hubungan dengan para cendekiawan Islam, yang terbukti berguna bagi Al-Banna ketika pindah ke Kairo pada 1923. Sejak kecil, Al-Banna dikenal sebagai anak yang sangat disiplin terhadap apa pun yang dikerjakannya. Di Mahmudiyah, ia berlajar di rumah bersama sang ayah, dan di masjid desa bersama Sheikh Zahran. Hassan Al-Banna sibuk belajar pada siang hari dan membetulkan jam bersama orang tuanya hingga sore hari. Pada malam hari, Al-Banna memanfaatkan waktu untuk mengulang pelajaran. Sedangkan setiap selesai salat subuh, ia menghafal Al Quran. Oleh sebab itu, ketika usianya baru 14 tahun, Hassan al-Banna sudah hafal seluruh isi dari Al Quran. Al-Banna pertama kali terpapar politik nasionalis Mesir selama Revolusi Mesir tahun 1919, di mana ia juga berpartisipasi dalam demonstrasi di Damanhur. Pada 1923, Hassan al-Banna pindah ke Kairo dan belajar Dar al-'Ulum, sebuah lembaga mesir yang mendidik calon guru, selama empat tahun. Selama di Kairo, ia banyak mendapat pandangan baru yang sebelumnya tidak pernah dipikirkan, mengingat kehidupan sosial yang berbeda dengan di desanya. Kehidupan di Kairo menjadi pengalaman yang signifikan bagi pembentukan ideologi Hassan al-Banna. Sehingga pada usia 22 tahun, ia telah menjadi pendiri sekaligus pemimpin organisasi Ikhwanul Muslimin, yaitu perkumpulan Islam terbesar dan berpengaruh pada abad ke-20. Gerakan ini terbentuk pada Maret 1928, dan segera memberi pengaruh besar bagi bangsa Mesir. Kepemimpinan Hassan al-Banna juga dipandang penting bagi tumbuh kembang persaudaraan Muslim selama tahun 1930 hingga 1940-an. Hassan al-Banna kerap melakukan gebrakan-gebrakan demi memperjuangkan kebangkitan Islam, bahkan mendukung kemerdekaan Indonesia. Salah satu upaya yang dilakukan oleh Al-Banna adalah mendesak pemerintah Mesir untuk mengakui Indonesia sebagai bangsa yang merdeka. Dari mempelajari kondisi umat Islam dan berbagai masalah yang ada, Hassan al-Banna mulai memiliki pemikiran politik. Beberapa pemikiran politik Hassan al-Banna yaitu: Sistem kehidupan semakin memburuk karena keterpurukan Merasa kecewa karena banyak gerakan Islam yang hanya mementingkan golongannya Menyadari harus mulai melakukan perubahan besar. Mengirim surat kepada raja supaya segera menetapkan syariat Islam di Mesir Meski gerakan Ikhwanul Muslimin banyak menuai pujian dan dukungan, tidak sedikit masyarakat yang mengecam organisasi ini karena dianggap berhaluan keras sehingga harus dibubarkan. Di balik semua pencapaian yang diraih Ikhwanul Muslimin, salah satu yang paling menonjol adalah keterlibatannya dalam pemberontakan Arab 1936-1939 di Palestina. Ikhwanul Muslimin melakukan kampanye pro-Palestina, di mana organisasi ini menggalang dana serta mengorganisir doa khusus untuk nasionalis di sana. Selain itu, di bawah pimpinan Hassan al-Banna, Ikhwanul Muslimin mengadakan demonstrasi politik dan menyebarkan propaganda. #Strategi dakwah# Selain berdakwah di masjid-masjid, Hassan al-Banna juga berdakwah ke tempat yang jarang digunakan para ulama untuk menyampaikan ilmunya. Hassan al-Banna kerap berdakwah di warung-warung tempat orang beristirahat setelah bekerja dari pagi hari. Tidak jarang juga Hassan al-Banna mendatangi majelis dakwahnya, meskipun harus berjalan sejauh 20 kilometer. Dalam perjalanan, Hassan al-Banna sering mampir di desa-desa sambil mengobarkan semangat perjuangan dan persaudaraan Islam. Dengan cara ini, Hassan al-Banna bisa menyatu dengan berbagai kalangan masyarakat tanpa pandang bulu. Cara dakwah yang dilakukan al-Banna dipandang cukup berhasil dan membuat dirinya menjadi ulama besar yang disegani masyarakat. Pada sekitar 1948 dan 1949, tidak lama setelah kekalahan koalisi Arab dalam perang melawan Israel, konflik antara monarki Mesir dan Ikhwanul Muslimin memanas. Posisi Ikhwanul Muslimin saat itu, yang banyak mendapat dukungan masyarakat Mesir, tidak disenangi Raja Farouk. Monarki Mesir semakin merasa terancam, saat muncul rumor bahwa anggota militan Ikhwanul Muslimin sedang merencanakan kudeta terhadap pemerintahan Raja Farouk. Alhasil, Perdana Menteri Mahmoud al-Nukrashi Pasha membubarkan Ikhwanul Muslimin pada Desember 1948 serta menyita aset dan memenjarakan beberapa anggotanya. Menanggapi hal tersebut, beberapa anggota Ikhwanul Muslimin menjadi beringas. Salah satunya Abdel Meguid Ahmed Hassan, yang akhirnya berhasil membunuh Pasha. Al-Banna sendiri mengecam tindakan Hassan dan menegaskan bahwa tidakan teror tidak sesuai ajaran Islam. Pada 12 Februari 1949, Al-Banna bersama saudara iparnya, Abdul Karim Mansur, dijadwalkan bertemu dengan perwakilan pemerintah, Menteri Zaki Ali Pasha di markas Jama'iyyat al-Shubban al-Muslimeen di Kairo. Akan tetapi, sang menteri tidak pernah muncul, sehingga pada pukul 17.00, Hassan al-Banna dan Abdul Karim memutuskan untuk pulang. Namun, sewaktu sedang berdiri menunggu taksi, tiba-tiba mereka ditembak oleh dua orang misterius. Al-Banna pun tewas dalam peristiwa penembakan ini. Banyak yang menduga bahwa pembunuhan terhadap Hassan al-Banna dilakukan oleh polisi rahasia Mesir suruhan Raja Farouk. Tuduhan tersebut bukan tanpa alasan. Penembakan yang membuat Hassan al-Banna meninggal disinyalir sebagai aksi balas dendam monarki Mesir terhadap Ikhwanul Muslimin setelah salah satu anggotanya membunuh Perdana Menteri Pasha.(sumber: https://www.kompas.com/stori/read/2022/06/29/120000879/biografi-hassan-al-banna-pendiri-ikhwanul-muslimin?page=all#page2.). *Biografi Imam Hasan Al Banna* Hasan Al Banna dilahirkan di desa Mahmudiyah kawasan Buhairah, Mesir tahun 1906 M. Ayahnya, Syaikh Ahmad al-Banna adalah seorang ulama fiqh dan hadits. Sejak masa kecilnya, Hasan al Banna sudah menunjukkan tanda-tanda kecemerlangan otaknya. Pada usia 12 tahun, atas anugerah Allah, Hasan kecil telah menghafal separuh isi Al-Qur’an. Sang ayah terus menerus memotivasi Hasan agar melengkapi hafalannya. Semenjak itu Hasan kecil mendisiplinkan kegiatannya menjadi empat. Siang hari dipergunakannya untuk belajar di sekolah. Kemudian membantu memperbaiki jam dengan orang tuanya hingga sore. Waktu sore hingga menjelang tidur digunakannya untuk mengulang pelajaran sekolah. Sementara membaca dan mengulang-ulang hafalan Al-Qur’an ia lakukan selesai shalat Shubuh. Maka tak mengherankan apabila Hasan al Banna mencetak berbagai prestasi gemilang di kemudian hari. Pada usia 14 tahun Hasan al Banna telah menghafal seluruh Al-Quran. Hasan Al Banna lulus dari sekolahnya dengan predikat terbaik di sekolahnya dan nomor lima terbaik di seluruh Mesir. Pada usia 16 tahun, ia telah menjadi mahasiswa di perguruan tinggi Darul Ulum. Selain prestasinya di bidang akademik, Ia juga memiliki bakat leadership yang cemerlang. Semenjak masa mudanya Hasan Al-Banna selalu terpilih untuk menjadi ketua organisasi siswa di sekolahnya. Bahkan pada waktu masih berada di jenjang pendidikan i’dadiyah (semacam SMP), beliau telah mampu menyelesaikan masalah secara dewasa. Pada usia 21 tahun, beliau menamatkan studinya di Darul ‘Ulum dan ditunjuk menjadi guru di Isma’iliyah. Hasan Al Banna sangat prihatin dengan kelakuan Inggris yang memperbudak bangsanya. Masa itu adalah sebuah masa di mana umat Islam sedang mengalami kegoncangan hebat. Kekhalifahan Utsmaniyah (di Turki), sebagai pengayom umat Islam di seluruh dunia mengalami keruntuhan. Umat Islam mengalami kebingungan. Sementara kaum penjajah mempermainkan dunia Islam dengan seenaknya. Bahkan di Turki sendiri, Kemal Attaturk memberangus ajaran Islam di negaranya. Puluhan ulama Turki dijebloskan ke penjara. Demikianlah keadaan dunia Islam ketika al Banna berusia muda. Satu di antara penyebab kemunduran umat Islam adalah bahwa umat ini jahil (bodoh) terhadap ajaran Islam. Maka mulailah Imam hasan al-banna berdakwah dengan mendirikan gerakan dakwah Ikhwan yang terkenal ke seluruh dunia, banyak meninggalkan catatan penting pada sejarah perjuangan Islam modern. Ingat, kehadiran Imam Hasan bertepatan dengan hanya beberapa saat setelah hancurnya kekhalifan Islam yang terakhir.Hal ini beliau lakukan teratur dua minggu sekali. Beliau dengan perkumpulan yang didirikannya “Al-Ikhwanul Muslimun” bekerja keras siang malam menulis pidato, mengadakan pembinaan, memimpin rapat pertemuan, dll. Dakwahnya mendapat sambutan luas di kalangan umat Islam Mesir. Tercatat kaum muslimin mulai dari golongan buruh/petani, usahawan, ilmuwan, ulama, dokter mendukung dakwah beliau. Pada masa peperangan antara Arab dan Yahudi (sekitar tahun 45-an), beliau memobilisasi mujahid-mujahid binaannya. Dari seluruh Pasukan Gabungan Arab, hanya ada satu kelompok yang sangat ditakuti Yahudi, yaitu pasukan sukarela Ikhwan. Mujahidin sukarela itu terus merangsek maju, sampai akhirnya terjadilah aib besar yang mencoreng pemerintah Mesir. Amerika Serikat, sobat kental Yahudi mengancam akan mengebom Mesir jika tidak menarik mujahidin Ikhwanul Muslimin. Maka terjadilah sebuah tragedi yang membuktikan betapa pengecutnya manusia. Ribuan mujahid Mesir ditarik ke belakang, kemudian dilucuti. Oleh siapa? pemerintah Mesir! Bahkan tidak itu saja, para mujahidin yang ikhlas ini lalu dijebloskan ke penjara-penjara militer. Bahkan beberapa waktu setelah itu Hasan al Banna, selaku pimpinan Ikhwanul Muslimin menemui syahidnya dalam sebuah peristiwa yang dirancang oleh musuh-musuh Allah. Dakwah beliau bersifat internasional. Bahkan segera setelah Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya, Hasan al Banna segera menyatakan dukungannya. Kontak dengan tokoh ulama Indonesia pun dijalin. Tercatat M. Natsir pernah berpidato didepan rapat Ikhwanul Muslimin. (catatan : M. Natsir di kemudian hari menjadi PM Indonesia ketika RIS berubah kembali menjadi negara kesatuan).
Syahidnya Hasan Al-Banna tidak berarti surutnya dakwah beliau. Sudah menjadi kehendak Allah, bahwa kapan pun dan di mana pun dakwah Islam tidak akan pernah berhenti, meskipun musuh-musuh Islam sekuat tenaga berusaha memadamkannya.
“Mereka ingin memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, dan Allah tetap menyempurnakan cahaya-Nya meskipun orang-orang kafir benci.” (Q. S. Ash-Shaff: 8). Sepeninggal Hasan Al-Banna, adalah masa-masa penuh cobaan untuk umat Islam di Mesir. Banyak murid-murid beliau yang disiksa, dijebloskan ke penjara, bahkan dihukum mati, terutama ketika Mesir di perintah oleh Jamal Abdul Naseer, seorang diktator yang condong ke Sovyet. tetapi kekuatan dakwah dari Imam Hasan Al-banna tetap berkobar tidak pernah padam. Banyak warisan dari Imam Hasan yang sangat menggelorakan semangat dakwah Islam. Berikut ini beberapa di antaranya dari sekian wasiat-wasiatnya:
1. Jika mendengar adzan segeralah lakukan shalat walau bagaimanapun keadaannya (pengecualian jika sangat darurat).
–> Mengutamakan Allah SWT (Ma’rifatullah)
–> Kedisiplinan dalam waktu (no procrastination)
–> Shalat tepat waktu amalan yang sangat disukai Allah
2. Baca, Telaah dan dengarkan Al-Quran atau dzikirlah kepada Allah dan janganlah engkau menghambur-hamburkan waktumu dalam masalah yang tidak ada manfaatnya.
–> Management waktu
–> datangi majelis ilmu
–> sesering mungkin berinteraksi dengan al-quran dan dikaji
3. Biasakan berbicara dengan bahasa arab, sebab merupakan salah satu dakwah islam
–> untuk lebih dasar mungkin dalam panggilan cukup
4. Jangan memperbanyak perdebatan dalam berbagai bidang dan keadaan, sebab hal ini semata-mata tidak akan mendatangkan kebaikan.
5. Jangan banyak tertawa, sebab ciri orang yang selalu berkomunikasi dengan Allah adalah tenang dan serius.
–> untuk sekali2 sih boleh, agar ada penyegaran tapi jgn kelebihan, sebab Allah tidak suka dengan orang yang melebih2kan.
6. Jangan banyak bergurau karena umat yang berjihad tidak berbuat kecuali dengan bersungguh-sungguh terus-menerus.
7. Jangan mengeraskan suara di atas suara yang diperlukan pendengar, karena hal ini akan mengganggu dan menyakiti juga termasuk hal yang bodoh.
8. Jangan mengumpat sesama muslim dan merendahkan lembaga-lembaga islam lain tanpa mengetahui kebenarannya serta jangan berbicara kecuali dalam kebaikan.
9. Berta’aruflah atau tegur-sapa dengan saudaramu yang kalian temui walaupun dia tidak meminta, sebab prinsip dakwah kita adalah cinta, ta’awun (kerja sama) dan Ukhuwah.
10. Pekerjaan kita sebenarnya lebih bertumpuk dari pada waktu yang tersedia, maka manfaatkanlah waktu dan apabila kalian mempunyai sesuatu keperluan maka sederhanakanlah dan percepatlah untuk diselesaikan.
(sumber: https://alhikmah.ac.id/biografi-imam-hasan-al-banna-10-nasehatnya/). Blog ini dibuat dengan tujuan untuk menambah ilmu si Pembaca, tidak ada keuntungan Ekonomi sedikitpun yang diperoleh dari Pembuat. Tulisan diatas merupakan gabungan beberapa artikel dan ditulis juga sumbernya.
Comments
Post a Comment