Harun al Rasyid RA (H. Yudhi)
Harun al Rasyid RA (H. Yudhi). Abū Jaʿfar Hārūn bin Muḥammad ar-Rāsyīd, ( Abū Ja'far Hārūn ibn Muḥammad al-Mahdī) secara populer dikenal sebagai Hārūn ar-Rāsyīd (adalah khalifah kelima dari Kekhalifahan Abbasiyah, memerintah dari September 786 hingga kematiannya pada Maret 809. Pemerintahannya secara tradisional dianggap sebagai awal dari Zaman Kejayaan Islam. Julukannya, ar-Rasyid diterjemahkan menjadi "Yang Adil", "Yang Jujur", atau "Yang Dibimbing dengan Benar". Harun mendirikan perpustakaan legendaris Baitul Hikmah ("Rumah Kebijaksanaan") di Bagdad di Irak saat ini, dan selama pemerintahannya Bagdad mulai berkembang sebagai pusat pengetahuan, budaya, dan perdagangan dunia. Selama masa pemerintahannya, keluarga Barmak, yang memainkan peran penting dalam pembentukan Kekhalifahan Abbasiyah, mengalami kemunduran secara bertahap. Pada tahun 796, ia memindahkan istana dan pemerintahannya ke Raqqa di Suriah saat ini. Di dalam negeri, Harun menjalankan kebijakan yang mirip dengan kebijakan ayahnya, Al-Mahdi. Ia membebaskan banyak anggota Dinasti Umayyah dan Banu Ali yang dipenjarakan oleh saudaranya, Al-Hadi dan menyatakan amnesti bagi semua kelompok politik Quraisy. Permusuhan skala besar terjadi dengan Bizantium, dan di bawah kekuasaannya, Kekaisaran Abbasiyah mencapai puncaknya.
Sebuah misi dari orang-orang Franka datang untuk menawarkan persahabatan kepada Harun pada tahun 799. Harun mengirimkan berbagai hadiah bersama para utusan tersebut sekembalinya mereka ke istana Karolus Agung, termasuk sebuah jam yang dianggap oleh Karolus Agung dan pengiringnya sebagai sebuah sihir karena suara yang dipancarkannya dan tipu daya yang ditampilkannya setiap kali jam berdetik. Beberapa bagian dari dongeng Arab Seribu Satu Malam berlatar di istana Harun dan beberapa ceritanya melibatkan Harun sendiri. Kehidupan dan istana Harun telah menjadi subyek banyak kisah lain, baik fakta maupun fiktif. #Wafat# Setelah al Hadi meninggal pada tahun 786, naiklah saudaranya, Harun Al Rasyid. Pada zaman khalifah Harun Al Rasyid inilah, Kekhalifahan Abbasiyah mencapai puncak kejayaannya, baik kekayaan negeri, wilayah administratif pemerintahan, hingga perkembangan ilmu pengetahuan. Ilmuwan hidup makmur karena mereka mendapat pendanaan dari khalifah. Penduduk kota Baghdad menjadi ramai, karena perdagangan yang makmur. Beliau tidak memerangi keturunan Ali bin Abi Thalib sebagaimana yang dilakukan para pendahulunya. Keturunan Ali yang hidup di Baghdad tidak lagi diintip dan dicurigai. Hanya seorang saja yang diperangi oleh beliau, yaitu Yahya ibnu Abdullah yang melarikan diri pada zaman al-Hadi dan mendirikan kekuasaan di negeri Dailam. Setelah jelas bahwa pasukan Yahya akan menjadi besar, beliau mengirimkan tentara di bawah panglima Fadhal ibnu Yahya ibnu Khalid al-Barmaky untuk berangkat ke sana. Karena Yahya merasa dirinya akan terdesak, dia memohon perdamaian. Permohonan itu dikabulkan. Dailam akhirnya bergabung dalam kekuasaan Baghdad. Sementara itu, saudara Yahya yang bernama Idris terus melanjutkan pelarian ke Mesir. Dari Mesir, diteruskannya perjalanan ke Magrib (Afrika Utara). Di sana, dia mendirikan Daulah Alawiyin (Adarisah). Harun al-Rasyid berulang kali mengerahkan pasukannya menyerang negeri Romawi. Mereka banyak mendapat kemenangan. Banyak negeri Romawi yang membayar jizyah dan mengakui kekuasaan Abbasiyah. Karel Agung pun mengirimkan utusannya ke Baghdad untuk mendekati Harun al-Rasyid. Karel Agung mengetahui bahwa Harun Al Rasyid memiliki musuh besar, yaitu Raja Kordova, Bani Umayah di Andalusia. Karel hendak membangga diri di hadapan musuhnya, yakni Raja Naqfur (Raja Konstantinopel, Roma Timur), bahwa ia telah sanggup menarik hati #Raja Baghdad.# Harun al-Rasyid meninggal dalam perjalanan memimpin angkatan di negeri Thus, pada tahun 809. Harun al-Rasyid memiliki dua orang putra, yaitu Al Amin dan Al Ma'mun. Selain itu, istri beliau Zubaidah adalah satu-satunya selir sah dari harem ( tidak ada lagi yang diketahui tentang Azizah) selama empat belas tahun. Kekuasaan Abbasiyah diberikan kepada dua orang itu secara berganti-gantian. Hingga akhirnya, Al Amin tidak mau memberikan giliran memerintah kepada Al Ma'mun. Ia hanya mau memberikan giliran memerintah ke anaknya sendiri. Oleh sebab itu, Al Ma'mun menyatakan perang terhadap Al Amin. Al Amin kalah dalam peperangan dan dibunuh tentara Al Ma'mun yang datang menyerang Kota Baghdad di bawah pimpinan Panglima Thaher ibnu Husin pada tahun 813. Al Amin hanya memerintah selama 4 tahun. (sumber: https://id.wikipedia.org/wiki/Harun_ar-Rasyid). *PERANAN HARUN AL-RASYID DALAM KEKHALIFAHAN ABBASIYAH TAHUN 786-809* Harun al-Rasyid adalah salah seorang figure pemimpin yang berada pada pemerintahan dinasti Abbasiyah, suatu dinasti yang tumbuh dan berkembang setelah dinasti Umayyah runtuh pada tahun 750. Harun al-Rasyid juga seorang khalifah yang mampu mengembangkan dinasti Abbasiyah secara menyeluruh dalam komponen pemerintahannya. Dalam mengembangkan kekhalifahan Abbasiyah Harun al-Rasyid telah mampu meletakkan fondasi dan prinsip-prinsip dengan kokoh seperti dibidang politik, ekonomi, sosial sehingga tercipta kerja sama yang baik antar komponen pemerintahan dan masyarakat. Harun al-Rasyid selain terkenal sebagai pemimpin agama dan kepala pemerintahan, juga dikenal sebagai seorang khalifah yang gemar mencintai ilmu pengetahuan. Akan tetapi dalam masa pemerintahannya hal yang paling menonjol ialah dalam bidang ilmu pengetahuan. Kecintaan para khalifah kepada ilmu pengetahuan sangat mendukung bahkan rakyat pun sangat berminat dan memiliki peranan penting. Hal ini menunjukkan bahwa dinasti Abbasiyah sangat menekankan pembinaan pada peradaban dan kebudayaan Islam. Permasalahan yang dikaji dalam penelitian ini adalah (1) Bagaimana latar belakang Harun al-Rasyid menjadi khalifah di dinasti Abbasiyah tahun 779 – 786?; (2) Bagaimana peranan Harun al-Rasyid dalam kekhalifahan Abbasiyah tahun 786 - 809?. Tujuan yang ingin dicapai oleh penulis adalah: (1) Mengetahui dan mengkaji tentang latar belakang Harun al-Rasyid menjadi khalifah di dinasti Abbasiyah tahun 779 - 786?; (2) Mendeskripsikan dan mengkaji peranan Harun al-Rasyid sebagai pemimpin agama dan kepala pemerintahan dalam kekhalifahan Abbasiyah tahun 786 - 809?. Manfaat yang diharapkan dalam penelitian ini yaitu: (1) Bagi pembaca, penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sarana latihan dalam melakukan penelitian dan karya ilmiah, latihan berfikir dan memecahkan masalah secara kritik dan logis; (2) bagi mahasiswa calon guru sejarah, dapat memberikan sumbangan dalam mengembangkan studi ilmu sejarah sebagai suatu cabang ilmu pengetahuan khususnya yang menyangkut studi sejarah Asia Barat; (3) Bagi almamater FKIP Universitas Jember, Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi dalam rangka pengembangan ilmu pengetahuan sebagai wujud nyata dalam rangka pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi yaitu dharma penelitian serta dapat menambah khasanah kepustakaan Universitas Jember; (4) Dapat dijadikan pelengkap bagi penelitian yang lebih luas dan mendalam dalam rangka menambah atau memperdalam mengenai Peranan Harun Ar-Rasyid Dalam Kekhalifahan Abbasiyah Tahun 786-809. Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian sejarah, langkah-langkahnya yaitu 1) Heuristik; 2) Kritik; 3) Interpretasi; 4) Historiografi. Hasil penelitian ini adalah Harun al-Rasyid menjadi khalifah kelima dalam dinasti Abbasiyah, hal ini dikarenakan Harun al-Rasyid dibaiat oleh pendukungnya untuk menjadi khalifah setelah meninggalnya al-Hadi (kakak Harun al-Rasyid). Dalam mengembangkan kekhalifahan Abbasiyah Harun al- Rasyid telah mampu meletakkan fondasi dan prinsip-prinsip dengan kokoh seperti dibidang politik, ekonomi, sosial sehingga tercipta kerja sama yang baik antar komponen pemerintahan dan masyarakat. Pemerintahan khalifah Harun al-Rasyid tidak bisa terlepas dari dua hal dimana khalifah Harun al-Rasyid sebagai pemimpin agama dan pemimpin negara atau kepala pemerintahan. Akan tetapi dalam masa pemerintahannya hal yang paling menonjol ialah dalam bidang ilmu pengetahuan. Kecintaan para khalifah kepada ilmu pengetahuan sangat mendukung bahkan rakyat pun sangat berminat dan memiliki peranan penting. Hal ini menunjukkan bahwa dinasti Abbasiyah sangat memperhatikan pembinaan pada peradaban dan kebudayaan Islam. Dalam hal pembelajaran ilmu pengetahuan khalifah Harun al-Rasyid mempergunakan fasilitas yang ada pada zaman itu seperti masjid, rumah sakit, majelis dan perpustakaan. Selain itu, khalifah Harun al-Rasyid juga mendirikan lembaga penerjemahan ilmu pengetahuan yang disebut Baitul Hikmah. Baitul Hikmah adalah lembaga penerjemah dari berbagai bahasa Yunani, Sansekerta dan lain-lain kedalam bahasa Arab. Saran yang akan peneliti kemukakan yaitu, bagi peneliti dapat dijadikan salah satu bahan perbandingan apabila ada penelitian yang sama diwaktu-waktu mendatang. Bagi mahasiswa dapat menambah materi ilmu pengetahuan sosial (IPS) serta sejarah tentang kekhalifahan Harun al-Rasyid. Bagi almamater sebagai salah satu pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi yaitu Dharma pendidikan. (sumber: https://repository.unej.ac.id/xmlui/handle/123456789/74855). *Hadiah Khalifah Harun al-Rasyid kepada Kaisar Romawi Charlemagne yang jadi perdebatan selama berabad-abad* Pada tahun 797 Masehi, orang yang paling berkuasa di seluruh Eropa Barat melakukan sesuatu yang tidak biasa. Charlemagne—dikenal dengan Karl, Karolus Agung dan Charles Agung—mengirim utusan ke istana megah Khalifah Harun al-Rasyid. Tujuan sebenarnya pemimpin kekaisaran Kristen di Barat dalam mengirim utusan ke pemimpin tertinggi kekaisaran Islam menjadi perdebatan sepanjang masa. “Kami memiliki sumber yang hidup pada masa itu, yang memberi kami alasan, dan sumber itu adalah penulis biografinya,” kata sejarawan Samuel Ottewill-Soulsby. Einhard—yang menulis Vita Karoli Magni (Kehidupan Karolus Agung)—bukan hanya seorang cendekiawan, tetapi juga abdi di istana raja Frank dan menjalin persahabatan dengannya.
Charlemagne atau Karolus Agung adalah raja dari kaum Frank yang wilayah kekuasaannya membentang di Belgia, Prancis, Belanda dan Jerman. Melalui serangkaian perang dan penaklukan, pendiri Kekaisaran Romawi Suci ini memperluas wilayah kekuasaannya hingga meliputi sebagian besar Eropa Barat. Einhard menceritakan, bahwa ketika Karolus Agung mengutus perwakilannya ke Khalifah Harun al-Rasyid—pemimpin wilayah yang saat itu merupakan negara paling makmur di dunia dan berpusat di Baghdad—Karolus Agung menginginkan sesuatu. Karolus hanya menginginkan seekor gajah dan dia mendapatkannya. Tapi Harun mengirimkan barang-barang yang lebih banyak lagi. Hadiah-hadiahnya tidak hanya mencerminkan kemewahan, tapi juga kekayaan budaya dan kemajuan ilmu pengetahuan kerajaan Islam, yang pada puncak kemegahannya tidak memiliki pesaing. Ini adalah kisah tentang dua orang yang berkuasa, seekor gajah, sebuah jam, dan dongeng “Seribu Satu Malam”. #Musuh dari musuh saya# Permintaan Karolus Agung “cukup berani,” kata Ottewill-Soulsby, penulis The Emperor and the Elephant: Christians and Muslims in the Age of Charlemagne. “Karolus dan Harun belum pernah berhubungan sebelumnya,” katanya kepada BBC Mundo. Ada beberapa teori yang mencoba menjelaskan mengapa kaisar Kristen dari Barat itu menginginkan seekor gajah, dan mengapa Khalifah Harun kemudian memenuhi permintaannya. Salah satunya, berkaitan dengan semacam aliansi antara kedua pemimpin tersebut Profesor Emilio González Ferrín, seorang peneliti Islam di Universitas Sevilla, Spanyol, menjelaskan bahwa Harun telah memblokade perdagangan dengan Kekaisaran Romawi Timur (Bizantium), yang merupakan musuh terbesarnya. ”Harun memutuskan bahwa ia akan menjadi kekuatan yang mapan di daerah tersebut, sebuah kekuatan yang tidak pernah mencapai di luar Mesir." "Apa yang dia inginkan adalah untuk menutup ruang, karena dia bukan penakluk dengan gaya seperti yang dilakukan oleh bangsa Mongol atau Turki di kemudian hari.” “Melalui kompilasi yang sangat mitologis, citra Harun al-Rasyid nantinya akan diasosiasikan dengan citra kaisar, paradigma penguasa negara,” tambah González Ferrín. Hal ini tercermin dalam dongeng “Seribu Satu Malam”, ketika ia tampil sebagai raja yang berkuasa dan adil. “Apa yang tidak mitologis adalah, dengan pepatah lama bahwa musuh dari musuhku adalah temanku." "Harun tahu betul sebagai seorang ahli strategi. Jika Bizantium adalah musuhnya, maka Karolus Agung, yang merupakan rival Bizantium, akan menjadi temannya.” “Tidak ada masalah di sini antara Islam dan Kristen, tetapi lebih merupakan masalah pragmatisme komersial: siapa yang mengambil roti saya di perbatasan saya, dan bagaimana saya mendekatkan diri dengan musuh mereka,” kata González Ferrín.
Hanan Saleh Hussein, seorang profesor studi Arab dan Islam di Universitas Pablo de Olavide di Sevilla, menunjukkan kemungkinan kedua pempimpin itu punya tujuan yang sama, yakni menaklukkan Emir Umayyah di Kordoba. #Gajah Abul-Abbas# Karolus Agung, yang oleh beberapa sejarawan disebut sebagai “Bapak Eropa”, ditengarai berupaya melakukan pendekatan dengan Harun. “Sebagian besar penduduk kerajaan Harun adalah orang Kristen. Kekaisarannya mencakup Tanah Suci [di Yerusalem],” kata Ottewill-Soulsby. Karolus Agung memang mengirim uang kepada orang-orang Kristen di Yerusalem. Namun hal ini, kata sejarawan tersebut, terjadi belakangan. Menurut Ottewill-Soulsby, Karolus Agung memang menginginkan seekor gajah. “Saya pikir itu adalah motivasi besar di pihaknya.” Karolus Agung, seperti dituturkan Hanan Saleh Hussein, mengirim tiga utusan tetapi dua di antara mereka meninggal dalam perjalanan pulang. “Adalah Ishak, seorang penerjemah Yahudi kaum Frank yang tinggal di Afrika Utara, yang bertanggung jawab memenuhi keinginan Karolus Agung. Dia memandu hewan itu dan merawatnya sampai ke pantai Mediterania,” katanya kepada BBC Mundo. Pada tahun 801, Karolus Agung menerima kabar: gajah itu telah berada tak jauh darinya dan dia harus menjemputnya. Gajah bernama Abul-Abbas tiba di istana Karolus Agung di Aachen (Jerman) pada tahun 802. “Itu adalah hal yang besar bagi Karolus. Orang-orang akan membicarakannya selama beberapa dekade,” kata Ottewill-Soulsby. “Sampai sekarang pun masih," imbuhnya.
“Orang-orang mengaitkan makhluk misterius itu dengan kekuatan Harun al-Rasyid,” kata González. Itu adalah gajah pertama yang pernah dilihat oleh Karolus Agung di Eropa. “Sumber-sumber selalu menyatakan bahwa itu adalah gajah pertama yang menginjakkan kaki di Eropa utara, di luar Pyrenees.” Berabad-abad sebelumnya, Hannibal dan militer Kartago telah menggunakan gajah dalam perang mereka melawan orang-orang di Semenanjung Iberia dan tentara Romawi di Italia utara. #Sebuah perjalanan panjang# Gajah tersebut diyakini berasal dari Asia. “Catatan dari masa Harun yang kami ketahui, bahwa satu-satunya gajah jinak yang mereka miliki berasal dari India,” kata Ottewill-Soulsby. “Ini berarti bahwa sebelum si gajah melakukan perjalanan ke istana Karolus Agung, ia mungkin telah melakukan perjalanan jauh dari India ke istana Harun.” Namun, perjalanan panjang ke Jerman bukanlah satu-satunya hal yang melelahkan yang harus dilalui oleh hewan ini. “Karena gajah telah digunakan pada zaman kuno sebagai senjata penyerbuan dalam peperangan,” catat Hussein, Karolus memiliki ide untuk membawa Abu-Abbas dalam pertempuran melawan Viking. Namun, karena “kondisi cuaca yang tidak sesuai dengan habitatnya, kesehatan hewan tersebut terganggu dan ia menderita radang paru-paru.” Suatu hari pada tahun 810, ketika gajah itu berda di barat laut Jerman, dia “pingsan dan mati". #Tantangan# Ottewill-Soulsby, yang tidak sepenuhnya yakin dengan teori aliansi militer antara Karolus dan Harun, melihat pendekatan kekuatan lunak (soft power) dari sang khalifah melalui pemberian gajah ini. “Cengkeraman Harun terhadap kekuasaan mungkin tidak sekuat yang sering kita pikirkan,” katanya. “Meskipun tidak diragukan lagi bahwa dia adalah orang yang sangat sukses, yang memerintah untuk waktu yang lama, dia juga harus menghadapi banyak tantangan.” Harun naik takhta pada tahun 786 saat berusia 20 tahun. Ia mengambil alih pemerintahan sebuah kekaisaran yang membentang dari Mediterania barat hingga India. “Dia tidak populer di Baghdad,” kata sejarawan itu. Bahkan, meskipun kota Irak itu adalah ibu kota resminya, Harun memutuskan, bertahun-tahun kemudian, untuk tinggal di Al Raqqa, Suriah.
“Ia juga tidak populer di kalangan tentara dan ada beberapa bagian dari kekaisaran yang memberontak.” “Dan cara Harun merespons hal itu terkadang dengan kekerasan, tetapi dia juga hebat dalam hubungan masyarakat.” “Dia menampilkan dirinya sebagai seorang pejuang yang adil dan juga seorang yang religius.” Citra tersebut, menurut Ottewill-Soulsby, ada hubungannya dengan cara Harun berinteraksi terhadap kekuatan asing. "Sebagai contoh, dia mengirim utusan ke Tiongkok dan tidak jelas mengapa.” ( sumber: https://www.bbc.com/indonesia/articles/clyny3rx7vjo). Blog ini dibuat dengan tujuan untuk menambah ilmu si Pembaca, tidak ada keuntungan Ekonomi sedikitpun yang diperoleh dari Pembuat. Tulisan diatas merupakan gabungan beberapa artikel dan ditulis juga sumbernya.
Comments
Post a Comment