Hamzah bin Abdul Mutholib RA (H. Yudhi)

Hamzah bin Abdul Muthalib RA (H. Yudhi) . Hamzah bin Abdul Muthalib (meninggal 3 H) adalah sahabat, paman, sekaligus saudara sepersusuan Muhammad saw. Hamzah memiliki julukan "Singa Allah" (asadullah) karena kepahlawanannya saat membela Islam. Hamzah lahir diperkirakan hampir bersamaan dengan Muhammad saw. Ia merupakan anak dari Sayyidina Abdul-Muththalib dan Haulah binti Wuhaib dari Bani Zuhrah. Menurut riwayat, pernikahan Abdul-Muththalib dan Sayyidina Abdullah bin Abdul-Muththalib terjadi bersamaan waktunya, dan ibu dari Nabi, Sayyidah Aminah binti Wahab, adalah saudara sepupu dari Haulah binti Wuhaib. Sayyidina Hamzah mempunyai otak yang cerdas dan pendirian yang kuat, beliau termasuk tokoh Quraisy yang disegani. Beliau memeluk Islam pada tahun keenam kenabian (tahun 7 sebelum hijrah). Ia ikut hijrah bersama Muhammad saw dan ikut dalam perang Badar. Muhammad saw menjulukinya “Asadullah” (Singa Allah) dan menamainya sebagai “Sayidus Syuhada” kematian Hamzah ini pun sangat membuat Muhammad saw sangat sangat terpukul dan menangis sejadi jadinya. Muhammad saw sangat meratapi kematian Hamzah hingga menimbulkan kecemburuan dari Allah. Allah kemudian menyampaikan Firmannya " wahai Muhammad saw, janganlah kamu meratapi kematian seseorang karena aku lebih mengetahui sesuatu hal daripada kamu,janganlah sampai cintamu pada manusia melebihi cintamu kepadaku karena sesungguhnya cintamu hanya milikku". Firman Allah ini dicatat oleh imam syafii dalam kitabnya. #Kehidupan# Tahun 7 Sebelum Hijriyah: Masuk Islam# Sejak memeluk islam, Hamzah telah berniat untuk membaktikan segala keperwiraan, keperkasaan, dan juga jiwa raganya untuk kepentingan da'wah islam. Karena itu tidaklah mengherankan jika Muhammad saw menjulukinya dengan sebutan "Asadullah" yang artinya singa Allah. Sementara itu, Abu jahal yang telah mengetahui bahwa Hamzah telah berdiri dalam barisan kaum muslimin berpikir bahwa perang antara kaum Quraisy dengan kaum muslimin sudah tidak dapat dielakkan lagi. Oleh karena itu, ia mulai menghasut dan memprovokasi orang-orang Quraisy untuk melakukan tindak kekerasan terhadap Muhammad saw dan pengikutnya. Bagaimanapun, Hamzah tidak dapat membendung kekerasan yang dilakukan kaum Quraisy terhadap para sahabat yang lemah. Akan tetapi harus diakui, bahwa keislamannya telah menjadi perisai dan benteng pelindung bagi kaum muslimin lainnya. Lebih dari itu, dia menjadi daya tarik tersendiri bagi kabilah-kabilah Arab yang ada di sekitar jazirah Arab untuk lebih mendalam mengetahui Agama Islam. #Tahun 2 Hijriyah: Perang Badar# Pasukan kaum muslimin yang pertama kali dikirim oleh Muhammad dalam perang Badar, dipimpin langsung oleh Hamzah dan Ali bin Abu Thalib menunjukkan keberaniannya yang luar biasa dalam mempertahankan Islam, hingga akhirnya kaum muslimin berhasil memenangkan perang tersebut secara gilang gemilang. Banyak korban dari kaum pagan Quraisy dalam perang tersebut, dan tentunya mereka tidak mau menelan kekalahan begitu saja. Maka mereka mulai mempersiapkan diri dan menghimpun segala kekuatan untuk menuntut balas kekalahan yang mereka alami sebelumnya. #Tahun 3 Hijriyah: Perang Uhud dan Syahid# Suku Quraisy disertai beberapa kafilah Arab lainnya bersekutu untuk menghancurkan kaum muslimin. Sasaran utama perang tersebut adalah Muhammad saw dan Hamzah. Mereka memiliki rencana yang keji terhadap Hamzah yaitu dengan menyuruh seorang budak yang mahir dalam menggunakan tombak dan organ hatinya akan diambil dan akan dimakan oleh Hindun yang memiliki dendam karena ayahnya Utbah bin Rabi'ah, dibunuh oleh Hamzah pada Perang Badar. Budak tersebut adalah Wahsyi bin Harb. Wahsyi diberi tugas membunuh Hamzah dan dijanjikan imbalan dimerdekakan dari perbudakan. Akhirnya kedua pasukan tersebut bertemu dan terjadilah pertempuran yang dahsyat, sementara Hamzah berada di tengah-tengah medan pertempuran untuk memimpin sebagian kaum muslimin. Ia mulai menyerang ke kiri dan ke kanan. Seluruh pasukan kaum muslimin maju dan bergerak serentak ke depan, hingga akhirnya dapat diperkirakan kemenangan berada di pihak kaum muslimin. Dan seandainya pasukan pemanah yang berada di atas Bukit Uhud tetap patuh pada perintah Rosulullah untuk tetap berada di sana dan tidak meninggalkannya untuk memungut harta rampasan perang yang berada di lembah Uhud, niscaya kaum muslimin akan dapat memenangkan pertempuran tersebut. Di saat mereka sedang asyik memungut harta benda musuh islam yang tertinggal, kaum pagan Quraisy melihatnya sebagai peluang dan berbalik menduduki bukit Uhud dan mulai melancarkan serangannya dengan gencar kepada kaum muslimin dari atas bukit tersebut. Tentunya penyerangan yang mendadak ini pasukan muslim terkejut dan kocar-kacir dibuatnya. Melihat itu semangat Hamzah semakin bertambah berlipat ganda. Ia kembali menerjang dan menghalau serangan kaum Quraisy. Sementara itu Wahsyi terus mengintai gerak gerik Hamzah setelah menebas leher Siba' bin Abdul Uzza. Wahsyi mengambil ancang-ancang dan melempar tombaknya dari belakang yang akhirnya mengenai pinggang bagian bawah Hamzah hingga tembus ke bagian depan di antara dua pahanya. Lalu Ia bangkit dan berusaha berjalan ke arah Wahsyi, tetapi tidak berdaya dan akhirnya roboh dan meninggal sebagai syahid. Usai peperangan, Nabi Muhammad dan para sahabatnya bersama-sama memeriksa jasad dan tubuh para syuhada yang gugur. Tidak sedikit pun terlintas di benaknya bahwa moral bangsa Arab telah merosot sedemikian rupa. Mereka merusak jasad Hamzah, merobek dadanya, dan mengambil hatinya. Ibnu Atsir berkata dalam Usud al-Ghabah, "Dalam perang Uhud, Hamzah berhasil membunuh 31 orang pagan Quraisy. Sampai pada suatu saat, dia tergelincir sehingga ia terjatuh kebelakang dan tersingkaplah baju besinya. Pada saat itu, ia langsung ditombak dan dirobek perutnya. Lalu, hatinya dikeluarkan oleh Hindun kemudian dikunyahnya hati Hamzah tetapi tidak tertelan dan segera dimuntahkannya. Diriwayatkan oleh Ibnu Ishaq di dalam Sirah Ibnu Ishaq: "dari Abdurahman bin Auf bahwa Ummayyah bin Khalaf berkata kepadanya, “Siapakah salah seorang pasukan kalian yang dadanya dihias dengan bulu-bulu itu?” Aku menjawab, “Dia adalah Hamzah bin Abdul Muthalib.” Lalu, Umayyah berkata, “Dialah yang membuat kekalahan kepada kami.” Ketika dia melihat keadaan tubuh pamannya, dia sangat marah dan Allah menurunkan firmannya (QS an-Nahl ayat 126): Dan jika kamu memberikan balasan, maka balaslah dengan balasan yang sama dengan siksaan yang ditimpakan kepadamu. Akan tetapi jika kamu bersabar, sesungguhnya itulah yang lebih baik bagi orang-orang yang sabar." Setelah itu, Nabi bersama kaum muslimin menyalatkan jenazah pamannya dan para syuhada lainnya satu per satu. Pertama Hamzah disalatkan, lalu dibawa lagi jasad seorang syahid untuk disalatkan sementara jasad Hamzah tetap dibiarkan di situ. Lalu, jenazah itu diangkat, sedangkan jenazah Hamzah tetap di tempat. Kemudian dibawa jenazah yang ketiga dan dibaringkan di samping jenazah Hamzah. Lalu Nabi dan para sahabat lainnya menyalatkan mayat itu. Demikianlah Nabi menyalatkan para syuhada Uhud satu per satu, hingga jika di hitung, maka Muhammad dan para sahabatnya telah menyalatkan Hamzah sebanyak tujuh puluh kali. Abdurrahman bin Auf menyebutkan bahwa ketika perang Badar, Hamzah berperang di samping Muhammad saw dengan memegang 2 bilah pedang. Beliau juga salah satu syuhada yang darah masih mengalir dalam perang uhud. #Keistimewaan Hamzah bin Abdul Muthalib# Berikut adalah di antara keistimewaan Hamzah bin Abdul Muthalib: 1. Kuat dan pemberani melawan orang pagan Quraisy demi membela Muhammad, yang juga keponakannya. Dikisahkan, suatu ketika, yang mana pada saat itu Hamzah sudah tertarik dengan Islam, namun belum menyatakan keislamannya kepada Rosulallah dan kepada publik. Ketika beliau akan tawaf, tiba-tiba ada yang melaporkan kepadanya, bahwa keponakannya, Muhammad saw, dihina dan dimaki-maki dan disakiti oleh Abu Jahal, salah seorang pentolan pagan Quraisy, Maka marahlah hamzah, kemudian mencari dimana keberadaan Abu jahal. Ketika sudah menemukan Abu Jahal, beliau langsung mendekat dan memukul kepala abu jahal dengan busurnya hingga berdarah. Dan dibentakklah Abu jahal, "Mengapa kamu cela dan maki Muhammad, padahal aku telah menganut agamanya dan mengatakan apa yang dikatakannya? ulangilah makianmu itu kepadaku jika kamu berani?" Abu Jahal pun hanya diam, terkaget setengah mati karena ternyata Hamzah sudah masuk Islam, dan dia juga tahu Hamzah adalah Jagoannya Quraisy. 2. Mendapat julukan "Singa Allah dan Singa Rosul-Nya" dari Muhammad. Hal ini karena kekuatan dan keberanian beliau dalam membela Agama Allah. 3. Dipilih Muhammad saw menjadi panglima dalam peperangaan yang tanpa disertai Muhammad saw. 4. Syahid pada Perang Uhud. Beliau dibunuh oleh Wahsyi, budak suruhan Hindun binti Utbah karena telah kehilangan Ayah, paman, saudara dan putranya yang dibunuh oleh Sayyidina Hamzah pada perang Badar. 5. Penghormatan atas gugurnya beliau yang sangat kejam, menyebabkan turunnya wahyu dari Allah. Hamzah tidak hanya gugur di perang Uhud, namun badannya juga dicabik-cabik, dan hatinya diambil oleh Hindun dan dikunyah-kunya hatinya untuk membalas dendam atas kematian ayahnya. Muhammad yang melihat apa yang terjadi pada pamannya tersebut, menjadi sangat marah dan berkata, "Sekiranya aku diberi kemenangan oleh Allah disalah satu medan pertempuran dengan orang Quraisy, niscaya kucabik-cabik tubuh tiga puluh orang laki-laki di antara mereka". Maka Allah pun menurunkan ayat: Dan jika kamu membalas, maka balaslah dengan (balasan) yang sama dengan siksaan yang ditimpakan kepadamu. Tetapi jika kamu bersabar, sesungguhnya itulah yang lebih baik bagi orang yang sabar. Bersabarlah (hai Muhammad) dan tiadalah kesaharanmu itu melainkan dengan pertolongan Allah dan janganlah kamu bersedih hati terhadap (kekafiran) mereka, dan janganlah kamu bersempit dada terhadap apa yang mereka tipu dayakan. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan.” (QS An-Nahl: 126-128). 6. Disholatkan Muhammad saw sebanyak 70 kali. Semua sahabat yang gugur pada perang Uhud disholatkan satu persatu. Setiap sahabat yang gugur dibaringkan didekat jenazah Hamzah, kemudian disholatkan oleh Muhammad saw bersama para sahabat. sahabat yang sahid itupun diangkat, sedangkan jenazah Hamzah tetap dibiarkan. kemudian didatangkan lagi jenazah sahabat lain didekat Hamzah, kemudian disholatkan. Begitu seterusnya hingga semua sahabat yang syahid disholatkan. Sedangkan Hamzah ikut disholatkan bersama masing-masing dari sahabat yang gugur sebanyak 70 orang. (sumber: https://id.wikipedia.org/wiki/Hamzah_bin_Abdul_Muthalib). * HAMZAH BIN ABDUL MUTHALIB (SINGA ALLAH AZZA WA JALLA DAN RASULNYA SHALLALLAHU ALAIHI WA SALLAM)* Salah seorang paman Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan saudara sesusuan beliau adalah Hamzah bin `Abdul Muththalib bin Hâsyim bin Abdu Manâf al-Qurasyi al-Hâsyimi Abu Ammârah Radhiyallahu anhu . Mereka berdua disusui oleh Tsuwaibah, bekas budak Abu Lahab. Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Hamzah bin `Abdul Mutthalib Radhiyallahu anhu adalah saudara sepersusuanku [HR. Muslim]. Dari Atha` bin Jâbir Radhiyallahu anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Penghulu para syuhada` pada hari kiamat adalah Hamzah bin `Abdul Muththalib”. [al-Hâkim dalam Al-Mustadrak 2/130, 3/219]. Sa`d bin Abi Waqqâsh Radhiyallahu anhu mengatakan: “Dahulu Hamzah bin `Abdul Muththalib Radhiyallahu anhu ikut serta dalam perang Uhud; dan di depan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ia mengatakan: “Aku adalah singa Allah Azza wa Jalla ”. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga pernah bersabda: “Demi dzat yang jiwaku berada ditangan-Nya, sesungguhnya Hamzah bin `Abdul Muththalib telah ditulis di langit ke tujuh bahwa dia adalah singa Allah Azza wa Jalla dan Rasul-Nya”. # Kisah-Kisah Keberanian Hamzah Dalam Berperang.# Tatkala Allah Azza wa Jalla mengizinkan Rasul-Nya untuk berperang, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mulai mengutus para pasukan perang ke berbagai wilayah dengan tujuan tertentu. Ketika itu, panji pertama yang dibuat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah untuk Hamzah bin `Abdul Mutthalib Radhiyallahu anhu . Beliau mengutusnya bersama 30 Muhâjirin, untuk menghadang kafilah dagang Quraisy. Rombongan dagang itu datang dari Syam, dipimpin oleh Abu Jahal bin Hisyâm dengan 300 orang Quraisy. Sampailah Hamzah dan orang-orang yang bersamanya di Saiful Bahr dari arah al-Ish. Dia bertemu dengan Abu Jahal dan para pengikutnya, dan kemudian kedua kelompok itu memilih berperang dan menghunus pedang-pedang mereka, kecuali Majdi bin Umar al-Juhani yang mempunyai hubungan erat dengan 2 kelompok itu. Ia berjalan di antara dua kelompok itu dan memisahkan mereka, sehingga perang pun tidak terjadi. Dalam perang Badar al-Kubra, Hamzah adalah pejuang terdepan dalam mubârazah (perang tanding atau duel). Ali Radhiyallahu anhu berkata : “ Utbah bin rabî`ah maju, kemudian diikuti oleh anak laki-laki dan saudaranya. Ia berseru : “Siapa yang akan maju tanding?” kemudian beberapa pemuda Anshâr pun meladeninya. Utbah bertanya : “Siapa kalian?” Mereka pun memberitahukan diri mereka. Lalu Utbah berkata : “Kami tidak ada urusan dengan kalian, yang kami butuhkan hanyalah kaum kami.” Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata : “ Berdirilah wahai Hamzah, berdirilah wahai Ali, berdirilah wahai Ubadah bin al-Harits.” Kemudian Hamzah mendatangi Utbah, aku (Ali) mendatangi Syaibah, sedangkan Ubadah dan al-Walîd saling memukul 2 pukulan. Setelah kami (Ali dan Hamzah) mengalahkan musuh, lalu kami menuju al-Walîd dan membunuhnya. Kami membawa Ubâdah kembali ke pasukan kaum Muslimin.” Kisah ini menjelaskan bahwa Hamzah bin `Abdul Mutthalib ikut berduel dalam perang Badar. Kedua kelompok yang berduel itu adalah pasukan Allah Azza wa Jalla dan pasukan setan. Allah Azza wa Jalla berfirman: Inilah dua golongan (golongan Mukmin dan golongan kafir) yang bertengkar, mereka saling bertengkar mengenai rabb mereka. [al-Hajj/22:19]. Abu Dzar Radhiyallahu anhu bersumpah bahwa ayat di atas turun berkenaan dengan orang-orang yang berduel dalam perang Badar, yaitu Hamzah, Ali, Ubaidah bin al-Harits, Utbah bin rabî`ah, Syaibah bin rabî`ah dan al-Wâlid bin Utbah. Ali Radhiyallahu anhu berkata bahwa ayat di atas turun tentang orang-orang yang berduel pada saat perang Badar. #Kesaksian Sahabat# Abdurrahmân bin `Auf (salah seorang Sahabat yang dijamin masuk surga) memberikan syahâdah (persaksian) bahwa Hamzah lebih baik daripada dirinya. `Abdurrahmân bin Auf juga mengatakan: “Hamzah telah terbunuh, padahal dia adalah orang yang lebih baik dariku, kemudian dunia dilapangkan bagi kami, atau mengatakan kami mendapatkan kesenangan dunia. Sungguh, kami takut kebaikan-kebaikan kami diberikan (di dunia-pent).” Kemudian dia menangis dan meninggalkan makanan itu.” [hlm 186, nukilan dari al-Bukhâri no. 1275]. #Kisah Pembunuhan Hamzah Radhiyallahu Anhu# Wahsyi (orang yang telah membunuh Hamzah Radhiyallahu anhu ) menceritakan, “Dahulu aku adalah budak Jubair bin Muth`im. Pamannya yang bernama Thuaimah bin Adi terbunuh di perang Badar (dibunuh oleh Hamzah Radhiyallahu anhu). Majikanku (Jubair) berkata kepadaku : “Jika engkau berhasil membunuh Hamzah Radhiyallahu anhu , maka engkau akan bebas.” Wahsyi berkata : “Aku dahulu adalah ahli tombak, sedikit sekali lemparan tombakku yang tidak mengenai sasaran. Aku keluar bersama beberapa orang. Ketika mereka telah bertemu, akupun mengambil tombakku dan keluar hingga melihat Hamzah Radhiyallahu anhu ada di antara orang banyak. Ia seperti unta yang berwarna keabu-abuan. Ia mengancam orang-orang dengan pedangnya dan tidak pernah melepaskan pedangnya. Demi Allah Azza wa Jalla , sesungguhnya aku telah bersiap-siap (bertarung) dengannya, dan tiba-tiba aku didahului as-Siba` bin `Abdul Uzza al-Khuzai. Tatkala Hamzah Radhiyallahu anhu melihatnya, Hamzah berkata : “Kemarilah wahai anak wanita tukang khitan.” Kemudian dia dipenggal oleh Hamzah Radhiyallahu anhu . Demi Allah Azza wa Jalla, tidak luput sabetan pada kepalanya. Aku tidak melihat sesuatu yang lebih cepat dari jatuhnya kepalanya. Kemudian akupun menggerakkan tombakku, dan ketika telah benar-benar yakin, akupun melemparkannya. Lemparanku tepat mengenai perut bagian bawahnya, hingga tembus ke antara kedua kakinya. Ia pun pergi untuk bangkit, akan tetapi tidak kuat. Kemudian aku menunggunya hingga mati, setelah itu aku berdiri di hadapannya. Aku ambil tombakku dan kemudian kembali ke pasukan dan duduk. Ketika Rasulullah menakhlukkan Mekah, aku kabur ke Thaif. Ketika utusan Thaif keluar untuk masuk Islam, aku merasa sangat berat. Aku (Wahsyi) berkata : “Aku pergi ke Syam, Yaman, dan negara-negara yang lain. Demi Allah Azza wa Jalla , sesungguhnya ketika itu aku sangat takut. Tiba-tiba ada seseorang berkata : “Demi Allah Azza wa Jalla , jika Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam hendak membunuh seseorang, orang itu segera masuk ke dalam agamanya (agar selamat).” Sehingga aku pun keluar menuju Madinah menemui Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Beliau bertanya, “Apakah engkau Wahsyi” Aku menjawab, “ Ya” Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata : “ Duduklah dan ceritakan bagaimana engkau membunuh Hamzah.” Lalu aku pun menceritakannya. Setelah itu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata : “Celaka engkau, menyingkirlah dariku. Janganlah engkau muncul di hadapan kami.” Ini menunjukkan kecintaan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada pamannya, Hamzah Radhiyallahu anhu . Aku pun menjauh dari beliau hingga beliau meninggal dunia.” Wahsyi mengatakan, “Tatkala kaum Muslimin keluar menuju Musailamah, aku ikut keluar dengan mereka dengan membawa tombakku yang dahulu aku gunakan untuk membunuh Hamzah Radhiyallahu anhu . Ketika kedua pasukan bertemu, aku melihat Musailamah yang membawa pedang. Demi Allah Azza wa Jalla , aku tidak tahu, tiba-tiba ada seorang Anshâr yang hendak menuju kepadanya dari arah lain. Maka kami siap menuju kepadanya, hingga ketika sudah dekat aku melemparkan tombakku dan tepat mengenainya; sedangkan orang Anshâr itu menyerang dengan pedangnya. Allah Azza wa Jalla lebih mengetahui siapa yang telah membunuhnya. Jika aku telah membunuhnya, sesungguhnya aku telah membunuh orang yang terbaik setelah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan aku pun juga telah membunuh orang yang paling jahat.” #Ayat Yang Turun Tentang Hamzah Radhiyallahu Anhu# Allah Azza wa Jalla berfirman:Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang terbunuh di jalan Allah Azza wa Jalla mati, bahkan mereka hidup, di sisi Allah Azza wa Jalla mereka diberi rezeki [Ali Imrân/3:169]. Ibnu Abbâs Radhiyallahu anhu berkata : “Ayat ini turun berkenaan dengan Hamzah Radhiyallahu anhu dan para Sahabatnya. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Tatkala teman-teman kalian dalam perang Uhud meninggal dunia, Allah Azza wa Jalla menjadikan ruh-ruh mereka di tenggorokan burung hijau yang ada di sungai-sungai surga, mereka makan biji-bijinya dan kembali ke pelita-pelita dari emas yang tergantung di Arsy. Ketika mereka memperoleh kesenangan dalam makan, minum dan tidur, mereka berkata : “ Siapa yang hendak menyusul kami. Kami hidup di surga dengan kenikmatan. Hendaknya mereka jangan meninggalkan jihad dan tidak mundur dalam perang.” Allah Azza wa Jalla berfirman : “Aku lebih tahu tentang mereka daripada kalian”, kemudian berfirman : “Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang terbunuh di jalan Allah Azza wa Jalla mati, bahkan mereka hidup, di sisi Allah Azza wa Jalla mereka diberi rezeki””. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyayangi dan merasa iba kepada Hamzah Radhiyallahu anhu tatkala melihat perbuatan orang-orang kafir kepadanya. Anas Radhiyallahu anhu mengatakan, “Pada saat Uhud, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berdiri di hadapan jasad Hamzah Radhiyallahu anhu yang luka parah. Beliau bersabda : “Seandainya saja Shafiyah tidak menemukan jasadnya, pasti dia akan meninggalkannya hingga Allah Azza wa Jalla mengumpulkannya di perut binatang buas atau burung”. (Referensi : https://almanhaj.or.id/3802-hamzah-bin-abdul-muththalib.html).*Kisah Hamzah Bin Abdul Muthalib: Prajurit Islam Pemimpin Para Syuhada).* * Sayyidina Hamzah bin Abdul Muthalib merupakan tokoh penting yang tidak bisa diremehkan perjuangannya sepanjang sejarah. Hamzah merupakan sahabat Rasulullah SAW yang cerdas dan berpendirian kuat. Selain sahabat Rasulullah SAW, Hamzah juga merupakan paman sekaligus saudara persusuan Rasulullah SAW. Hamzah memeluk Islam pada tahun kedua kenabian Rasulullah SAW, namun Hamzah melindungi Rasulullah bahkan sebelum dirinya memeluk Islam. Para ahli sejarah mengisahkan, pada suatu hari seperti biasanya Hamzah bin Abdul muthalib pergi ke gurun untuk berburu yang merupakan hobinya pada saat itu. Pada saat yang bersamaan di dekat kota Mekah tepatnya di daerah Shofa Rasulullah SAW bertemu dengan Abu Jahal. Kemudian, Abu Jahal langsung menghina Nabi Muhammad SAW dengan hinaan yang sangat keji, perkataan yang kotor dan menyakitkan. Sedangkan Nabi Muhammad SAW pada saat itu hanya diam saja tanpa membalas sedikitpun. Pada saat Abu Jahal melihat Nabi hanya diam saja, Abu Jahal semakin kesal dan langsung mengambil batu kemudian dilemparkannya batu itu kepada Nabi yang mulia. Sehingga banyak sekali darah yang keluar dari pelipis Nabi Muhammad SAW. Sementara itu, Abu Jahal dengan entengnya langsung meninggalkan Nabi begitu saja. Pada saat Abu Jahal dengan bangga dan sombong menceritakan kepada teman-temannya sebab berhasil menghinakan Nabi SAW. Ada seorang budak perempuan milik Abdullah bin Jad’an yang mendengar dan melihat kejadian tersebut. Lalu bergegaslah budak perempuan itu menemui Hamzah bin Abdul Muthalib yang sedang berburu. Budak perempuan itu berkata pada Hamzah, “wahai Abu Imarah (Hamzah bin Abdul Muthalib) andai saja tadi engkau melihat apa yang telah diperbuat oleh Abu Hakam (Abu jahal) kepada saudara laki-lakimu (Rasulullah SAW). Keponakanmu ketika itu hanya duduk-duduk, tetapi Abu Jahal malah mencaci maki dan melemparinya hingga berdarah lalu meninggalkannya begitu saja.” Mendengar cerita itu, seakan darahnya mendidih. Hamzah menjadi sangat marah terhadap apa yang dilakukan Abu Jahal sebab hal itu juga merupakan penghinaan terhadap dirinya sekaligus penghinaan terhadap Bani Muthalib dan juga Bani Hasyim. Tanpa berpikir panjang Hamzah segara mencari Abu Jahal. Dengan Langkah tegap dan penuh amarah Hamzah segera menuju Mekah. Hamzah terus bertanya pada setiap orang yang ia temui di jalan, apakah mereka melihat Abu Jahal? Ketika Hamzah melihat Abu Jahal yang sedang tertawa, Hamzah segera mengambil busur panahnya dan dipukulah Abu Jahal hingga berdarah dan berkata, “apakah engkau masih berani menyakiti Muhammad, sedangkan aku berada dalam agamanya? Jika engkau berani melakukan perbuatan seperti yang engkau lakukan pada Muhammad kepadaku, silahkan saja lakukan!” bentak Hamzah pada Abu Jahal. Seperti itulah kisah Hamzah melindungi Nabi, padahal dirinya sendiri belum memeluk agama Islam. Perkataan “sedang aku berada dalam agamanya” dengan mudah begitu saja keluar dari mulutnya. Sebagian orang mengira masuk Islamnya Hamzah adalah luapan emosi sesaat. Namun itu tidak benar. Apa yang diucapkan Hamzah hakikatnya adalah bagian dari apa yang sudah ditetapkan Allah SWT. Beberapa hari setelah kejadian hari itu, barulah Hamzah benar-benar menyatakan memeluk Islam di hadapan Nabi Muhammad SAW. Keberanian Hamzah sangat terbukti dalam peristiwa medan Perang Badar, sebagaimana yang telah diriwayatkan oleh Abdurrahman bin Auf bahwa dalam Perang Badar, Hamzah berada di samping Rasulullah SAW dengan memegang dua pedang di kedua tangannya. Ini menunjukan bahwa Hamzah adalah seorang prajurit yang sangat berani dan perkasa. Melihat keberaniannya, maka Rasulullah SAW memberinya gelar Asadullah yang berarti Singa Allah. Hamzah tergambar sebagai seorang lelaki perkasa yang memiliki pemikiran yang cerdas dan pendirian yang kuat. Hamzah tidak mudah terombang ambing oleh sikapnya. Saat ia sudah memilih untuk melindungi Rasulullah SAW, maka ia tahu apapun peluang dan ancamannya. Hamzah sudah menyerahkan dirinya untuk dakwah, sudah mempersembahkan hidupnya untuk menghidupkan Islam. Demikianlah musuh-musuh agama menjadi gentar, ketakutan, dan khawatir. Semua terbukti dengan apa yang dilakukan Hamzah di Badar. Di medan Perang Badar, Hamzah bin Abdul Muthalib yang bergelar Singa Allah itu mampu memporak- porandakan orang-orang Kafir Quraisy. Hamzah bahkan berhasil membunuh kakak beradik yang merupakan tokoh besar Quraisy yang Bernama Syaibah bin Rabiah dan Uthbah bin Rabiah. Inilah yang kemudian menjadi sebab terbunuhnya Hamzah dalam perang uhud. Sebab dendamnya perempuan bernama Hindun. Hindun adalah putri dari tokoh Quraisy yang dibunuh oleh Hamzah di Badar yaitu Uthbah bin Robiah, sehingga Hindun menyimpan dendam yang begitu besar terhadap Hamzah. Di Uhud, Hamzah bertempur dengan totalitas hingga melumpuhkan pasukan orang-orang musyrikin dan banyak yang terbunuh dari mereka. Namun seorang budak bernama Wahsyi yang merupakan suruhan Hindun itu terus mengintai dan mengincar Hamzah dari balik batu besar. Wahsyi Al-Habsyi, pembunuh Hamzah. Ia adalah seorang budak dari Jubair bin Muth’im yang amat sangat mahir menggunakan tombak. Dengan dijanjikan sejumlah harta yang banyak, Wahsyi langsung mengincar Hamzah. Saat Hamzah sudah dalam jangkauannya, Wahsyi segera membidik Hamzah dengan tombaknya. Pada saat itulah Hamzah terbunuh di tangan Wahsyi. Saat berita kematian Hamzah sampai kepada Hindun, dengan kejinya Hindun memotong hidung Hamzah, kemudian merobek dadanya untuk kemudian dikunyah hatinya. Lalu, Hindun berusaha menelannya, namun ia tidak mampu dan memuntahkannya kembali. Sebanyak 75 prajurit muslim syahid dalam Perang Uhud. Dan kebanyakan jenazah mereka dikuliti Hindun seraya dijadikan perhiasan. Berupa gelang-gelang kaki, anting dan kalung yang kemudian dihadiahkan kepada Wahsyi. Ibnu Mas’ud menceritakan bahwa Rasulullah SAW tidak pernah menangis dengan tangisan yang melebihi tangisan beliau terhadap jenazah Hamzah bin Abdul Muthalib. Pemandangan para syuhada sangat memilukan dan menyayat hati. Khabbab menceritakan bahwa tidak di peroleh kafan untuk Hamzah kecuali kain kafan yang pendek, jika dipakai untuk menutupi kepalanya maka ia terangkat dari kakinya, dan jika dipakai menutupi kakinya ia tertarik dari kepalanya. Hingga akhirnya ia dipakai untuk menutupi kepalanya sedang kakinya ditutupi dengan daun idzkir. Begitulah akhir cerita wafatnya Sayyidina Hamzah, sahabat sekaligus paman nabi Muhammad SAW yang disabdakan oleh Nabi SAW bahwa Hamzah adalah pemimpin para syuhada di surga. Keberanian Hamzah dalam membela agama dan kesetiaannya dalam mendukung dakwah Nabi menjadikan Hamzah mulia. Terkenanglah Sayyidina Hamzah sepanjang sejarah bergelar Singa Allah dan menjadi pemimpin para syuhada. (https://www.mahadalyjakarta.com/kisah-hamzah-bin-abdul-muthalib-prajurit-islam-pemimpin-para-syuhada/). Blog ini dibuat dengan tujuan untuk menambah ilmu si Pembaca, tidak ada keuntungan Ekonomi sedikitpun yang diperoleh dari Pembuat. Tulisan diatas merupakan gabungan beberapa artikel dan ditulis juga sumbernya.

Comments

Popular posts from this blog

Ling Tien Kung dan Syari'at Islam (Oleh H. Yudhi)

Kedamaian di Perumahan Cibubur City (Oleh H. Yudhi)

Abu Bakar Siddiq RA (H. Yudhi)