Fatimah binti Muhammad RA (H. Yudhi)

Fatimah binti Muhammad RA (H. Yudhi). Fatimah binti Muhammad (605/15–632 M), umumnya dikenal sebagai Fatimah az-Zahra', adalah putri nabi Islam Muhammad saw dan istrinya Khadijah binti Khuwailid. Suami Fatimah adalah Ali bin Abi Thalib, khalifah Rasyidin keempat. Putra Fatimah adalah Hasan dan Husain. Melalui Fatimah, garis keturunan keluarga Muhammad saw bertahan hingga saat ini. Nama dan julukannya tetap menjadi pilihan populer bagi gadis-gadis Muslim. Ketika Muhammad saw meninggal pada tahun 632 M, Fatimah dan suaminya Ali menolak untuk mengakui otoritas khalifah pertama, Abu Bakar. Pasangan tersebut dan para pendukung mereka berpendapat bahwa Ali adalah penerus sah Muhammad saw, mungkin merujuk pada pengumumannya di Ghadir Khumm. Tapi selanjutnya akhirnya mengakui. Kontroversi seputar kematian Fatimah dalam waktu enam bulan setelah kematian Muhammad. Islam Sunni menyatakan bahwa Fatimah meninggal karena kesedihan. Namun, dalam Islam Syiah, (keguguran dan) kematian Fatimah dikatakan sebagai akibat langsung dari luka-lukanya selama penggerebekan di rumahnya untuk menaklukkan Ali, yang diperintahkan oleh Abu Bakar. Dipercayai bahwa keinginan terakhir Fatimah adalah agar khalifah tidak menghadiri pemakamannya. Dia dimakamkan secara rahasia pada malam hari dan tempat pemakamannya yang tepat masih belum pasti. #Orang tua dan saudara# Fatimah az-Zahra lahir lima tahun sebelum kerasulan Nabi Muhammad. Ia merupakan anak perempuan termuda dari Nabi Muhammad. Berdasarkan nasabnya, namanya adalah Fatimah binti Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muthalib. Keluarga Fatimah az-Zahra merupakan keturunan dari bani Hasyim dan suku Quraisy. Fatimah az-Zahra merupakan anak perempuan keempat dari pernikahan antara Muhammad saw dengan Khadijah binti Khuwailid. Ia memiliki tiga kakak perempuan yaitu Zainab binti Muhammad, Ruqayyah binti Muhammad dan Ummu Kultsum binti Muhammad. Fatimah az-Zahra juga memiliki dua saudara laki-laki sekandung, tetapi keduanya meninggal ketika masih kecil. Nama kedua saudaranya yang wafat ini adalah Qasim dan Ibrahim. Selain itu, ia memiliki seorang saudara angkat yang diadopsi oleh ayahnya. Nama saudara angkat ini ialah Zaid bin Haritsah, yang kelak menjadi Hawariyyun dari Nabi Muhammad. Kelahiran Fatimah az-Zahra bertepatan dengan peristiwa besar yaitu ditunjuknya Rasulullah sebagai penengah ketika terjadi perselisihan antara suku Quraisy tentang siapa yang berhak meletakkan kembali Hajar Aswad setelah Ka'bah diperbaharui. Dengan kecerdasan akalnya, baginda mampu memecahkan persoalan yang hampir menjadikan peperangan diantara kabilah-kabilah yang ada di Makkah. Kelahiran Fatimah disambut gembira oleh Muhammad saw dengan memberikan nama Fatimah dan julukannya Az-Zahra, sedangkan kunyahnya adalah Ummu Abiha (ibu dari ayahnya). Ia putri yang mirip dengan ayahnya, Ia tumbuh dewasa dan ketika menginjak usia 5 tahun terjadi peristiwa besar terhadap ayahnya yaitu turunnya wahyu dan tugas berat yang diemban oleh ayahnya. Dan ia juga menyaksikan kaum kafir melancarkan gangguan kepada ayahnya, sampai cobaan yang berat dengan meninggal ibunya Khadijah. Ia sangat pun sedih dengan kematian ibunya. Rasulullah sangat menyayangi Fatimah. Setelah Rasulullah bepergian ia lebih dulu menemui Fatimah sebelum menemui istri istrinya. Aisyah berkata,”Aku tidak melihat seseorang yang perkataannya dan pembicaraannya yang menyerupai Rasulullah selain Fatimah, jika ia datang mengunjungi Rasulullah, Rasulullah berdiri lalu menciumnya dan menyambut dengan hangat, begitu juga sebaliknya yang diperbuat Fatimah bila Rasulullah datang mengunjunginya.” Rasulullah mengungkapkan rasa cintanya kepada putrinya takala diatas mimbar: ”Sungguh Fatimah bagian dariku, siapa yang membuatnya marah berarti membuat aku marah”. Dan dalam riwayat lain disebutkan, ”Fatimah bagian dariku, aku merasa terganggu bila ia diganggu dan aku merasa sakit jika ia disakiti.” Fatimah Az-Zahra tumbuh menjadi seorang gadis yang tidak hanya merupakan putri dari Rasulullah, namun juga mampu menjadi salah satu orang kepercayaan ayahnya pada masa baginda. Fatimah Az-Zahra memiliki kepribadian yang sabar,dan penyayang karena dan tidak pernah melihat atau dilihat lelaki yang bukan mahromnya. Rasullullah sering sekali menyebutkan nama Fatimah, salah satunya adalah ketika Rasulullah pernah berkata, "Fatimah merupakan bidadari yang menyerupai manusia". #Pernikahan# Fatimah az-Zahra menikah pada usia 18 tahun dengan Sayyidina Ali bin Abi Thalib. Pernikahan antara keduanya diadakan setahun setelah Muhammad saw dan pengikutnya hijrah ke Madinah. Nabi Muhammad sebagai ayah dari Fatimah az-Zahra menyetujui pernikahan ini karena adanya hubungan kekerabatan dan hubungan sosial dengan keluarga dari Ali bin Abi Thalib RA. Ayah dari Ali adalah Abu Thalib yang merupakan paman dari Nabi Muhammad. Nabi Muhammad hidup dalam asuhan pamannya ini. Ketika pamannya telah wafat, Ali diasuh oleh Nabi Muhammad. Jadi Nabi Muhammad sudah menganggap Ali seperti anaknya sendiri. Dalam salah satu hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim diketahui bahwa Fatimah az-Zahra pernah hampir mengalami poligami. Periwayatan hadis ini berasal dari al-Miswar bin Makhramah. Keterangan dalam hadis ini menyebutkan larangan Nabi Muhammad kepada Ali bin Abi Thalib untuk melakukan poligami dengan Juwairiyah binti Abu Jahal. Nabi Muhammad menyampaikan hal ini di atas mimbar. Ia memulai dengan menyebutkan latar belakang dari peristiwa ini. Di atas mimbar, Nabi Muhammad menyebutkan bahwa usulan pernikahan antara Ali bin Abi Thalib dengan Juwairiyah binti Abu Jahal merupakan usulan dan permintaan dari keluarga Hisyam bin al-Mughirah. Nabi Muhammad dengan tegas tidak mengizinkan hal ini dengan ucapan yang jelas yang diulanginya sebanyak tiga kali. Nabi Muhammad menyatakan bahwa Fatimah az-Zahra merupakan anak kandungnya, yang berarti menyusahkan dan menyakiti perasaannya sama dengan menyusahkan dan menyakiti perasaan Nabi Muhammad. #Keturunan# Dari pernikahannya dengan Ali bin Abi Thalib, Fatimah Az-Zahra dikaruniai 4 orang anak, 2 putra dan 2 putri. 2 putra yaitu Hasan dan Husain. Sedangkan kedua putrinya yaitu Zainab dan Ummu Kultsum. Hasan dan Husain sangat disayangi oleh Rasulullah. Sebenarnya ada satu lagi anak Fatimah Az Zahra bernama Muhsin, tetapi Muhsin meninggal dunia karena wafat ketika masih kecil. Klaim keturunan diberikan oleh Dinasti Fatimiyah kepada Fatimah az-Zahra dan Ali bin Abi Thalib. Pendiri dinasti ini adalah Abdullah bin Mahdi yang merupakan cucu dari Imam Syiah yang ketujuh, Ismail bin Ja'far al-Sadiq. Dari keturunannya, Ahlul bait Nabi Muhammad berlanjut. Umar bin Khatab juga disebutkan, “Aku mendengar Rasulullah bersabda: “Semua anak dari perempuan bernasab kepada ayah mereka, kecuali yang dilahirkan Fathimah. Akulah ayah mereka”. #Perjuangan# Pertempuran Uhud Pada saat Pertempuran Uhud, Fatimah az-Zahra turut ikut serta dengan para perempuan lainnya. Mereka ditugaskan untuk memenuhi kebutuhan prajurit selama pertempuran. Tugas ini antara lain membantu mengangkat air, memberi minum dan merawat prajurit yang terluka. Wafat Fatimah az-Zahra wafat pada usia 27 tahun. Ia meninggal dunia dengan jarak waktu enam bulan setelah wafatnya Nabi Muhammad. #Terdapat satu hadits shahih berkenaan dengan wafatnya Fatimah Az-Zahra.# Telah menceritakan kepada kami Yazid bin Harun berkata, telah menceritakan kepada mengabarkan kepada kami Ibrahim bin Sa'ad berkata, telah menceritakan kepada kami Ayahku dari Urwah bin Az Zubair dari Aisyah berkata, "Ketika Rasulullah ﷺ sakit, beliau memanggil putrinya, Fatimah lalu beliau membisikkan sesuatu kepadanya dan ia pun menangis. Kemudian beliau membisikkan sesuatu lalu ia tertawa. Aku pun bertanya akan hal itu; ia menjawab, "Aku menangis karena beliau memberitahuku bahwasanya beliau akan meninggal. Kemudian beliau memberitahuku bahwasanya aku adalah keluarganya yang pertama kali menyusul beliau, aku pun tertawa." (sumber: https://id.wikipedia.org/wiki/Fatimah_az-Zahra) *Mengenal Fathimah Az-Zahra* Fathimah adalah putri Nabi Muhammad SAW dan Khadijah binti Khuwaylid, istri pertama Nabi yang merupakan satu-satunya ibu dari anak-anak nabi yang masih hidup. Anak-anak Nabi dari istri lainnya tidak hidup untuk waktu yang lama. Satu-satunya pengecualian adalah Maria, seorang wanita Koptik yang melahirkan Ibrahim, tetapi dia juga meninggal sewaktu masih kecil. Fathimah adalah salah satu dari empat putri yang lahir dari Khadijah, seorang wanita yang dinikahi Nabi sebelum menjadi seorang nabi. Fatimah lahir sekitar lima tahun sebelum Nabi menerima wahyu. Demikian pandangan dari sumber-sumber Sunni. Beberapa sumber Syiah menyebutkan kelahiran Fathimah sekitar lima tahun setelah wahyu pertama turun. Ini berarti bahwa Fathimah 10 tahun lebih muda. Bagaimanapun, Fathimah sangat sedih sekaligus bingung ketika saudara-saudaranya yang lain meninggal. Beberapa anak laki-laki juga dilahirkan dari istri-istri Nabi, tetapi mereka tidak bertahan hidup. Kebanyakan meninggal saat masih bayi. Fathimah, menurut sumber Sunni, berusia 15 tahun ketika ibunya wafat. Itu menjadi momen yang sangat sulit untuk hidupnya juga. Seringkali tahun wafatnya Khadijah digambarkan sebagai tahun kesedihan. Tetapi kita sering memahami ini sebagai masa kesedihan yang dialami Nabi Muhammad. Sangat sedikit kisah yang diceritakan dari sudut pandang seorang Fathimah muda. Menarik ini untuk dibahas lebih lanjut. Apa dampak meninggalnya Khadijah bagi seorang Fathimah? Dalam beberapa tahun setelah wafatnya Khadijah, Nabi SAW hijrah ke Madinah. Segera setelah hijrah ini, tepatnya setelah perang Badar pada tahun 623, Nabi menikahkan Fathimah dengan Ali bin Abi Thalib. Ali bukan orang asing bagi Fathimah sebab Ali adalah sepupu Nabi. Jadi Fathimah menikah dengan seseorang yang dia kenal dan hormati. Mereka menjalani kehidupan yang bahagia bersama, meskipun keadaan mereka cukup miskin. Banyak riwayat yang mengutarakan bagaimana Fathimah dan Ali menjalani hidup prihatin. Ada kisah populer saat Fathimah menemui ayahnya Nabi SAW untuk meminta bantuan. Fathimah berharap ayahnya berkenan memberinya seorang pelayan atau asisten untuk membantunya di rumah. Mengapa Fathimah mengajukan permintaan ini? Terus terang karena dia melakukan banyak pekerjaan, tugas-tugas rumah tangga, dan sebagainya. Tentu saja ini dilakukan dengan suaminya, Ali. Fathimah berpikir dia bisa mendapatkan asistensi rumah tangga lewat jalur ayahnya. Namun Nabi SAW lebih memperhatikan kepentingan umat, di antaranya ada juga orang-orang fakir dan miskin. Alih-alih memberikan privilege kepada keluarganya sendiri, Nabi menyerahkan beberapa orang pelayan kepada orang-orang lain di dalam masyarakat Muslim. Tetapi di sisi lain, Nabi mengajarkan Fathimah doa atau zikir untuk dibaca di malam hari guna mengurangi kelelahannya. Diriwayatkan Fathimah tidak lagi merasa lelah setelah dia mulai mewiridkan bacaan ini. Sampai hari ini, kaum Muslimin mempraktikkan bacaan yang sama. Segera setelah shalat, umat Islam akan melafalkan Subhanallah (33 kali), Alhamdulillah (33 kali) dan Allahu Akbar (33 kali). Kemudian diikuti dengan, “Lailahaillallah wahdahula syarikalah lahul mulku walahul hamdu yuhyi wayumitu wahuwa ala kulli syai-in qadir (Tidak ada Tuhan selain Allah, tidak ada sekutu bagi-Nya, milik-Nya segala kekuasaan dan bagi-Nya segala pujian). Fathimah selalu hidup dalam ingatan kita. Ada perbedaan antara tradisi Sunni dan Syiah mentangkut Fathimah. Ini terkait dengan kronologi ketika dia dilahirkan. Jika kita mengikuti lintasan Sunni, maka Fatimah berusia sekitar 20 tahun ketika dia menikah. Jika kita mengikuti lintasan Syiah, dia berumur 10 tahun saat menikah. Isu ini juga bakal menyinggung sosok Aisyah sebab dia juga menikah pada usia yang masih muda. Sebetulnya ini tidak hanya berkaitan dengan Aisyah, tetapi ini adalah sesuatu yang agaknya menjadi ciri khas zaman. Saat itu orang tidak ingat persis masa seseorang dilahirkan karena semuanya dilihat dalam lensa retrospeksi. Masyarakat menilai seseorang berdasarkan ingatan saja. Seringkali orang hanya menerka-nerka ke belakang kapan si fulan atau fulanah dilahirkan. Meskipun demikian, perpecahan tumbuh lebih dalam dari sekadar soal disparitas usia. Di kedua sumber Sunni dan Syiah kita menemukan banyak pujian untuk Fathimah. Menurut sumber Sunni, misalnya, kita menemukan hadits Bukhari dan Muslim ucapan Nabi SAW, “Fathimah adalah bagian dari diriku barang siapa yang menyakitinya maka ia telah menyakitiku.” Kita tidak akan menemukan posisi Sunni yang memusuhi Fathimah. Namun di sisi lain, kita mendapati dalam sumber-sumber Syiah bahwa Fathimah dianiaya dan bahkan dizalimi oleh sementara pemimpin terkemuka umat yang kemudian dikenal sebagai pendukung tradisi Sunni. Jadi ada perbedaan pendapat seperti ini. Semua diskusi ini menyoroti perlunya kita saling memahami. Penting bagi kita untuk kembali ke sejarah, melihat sumber-sumbernya, dan mengakui ada hal-hal yang masih agak kabur. Beberapa hal dilakukan oleh orang-orang yang sudah tiada. Kita memohon agar Allah mengampuni siapa pun yang melakukan kesalahan dan mendamaikan hati semua Muslim. Kita adalah salah satu tubuh umat Islam di seluruh dunia, dan kita melihat betapa Muslim hari ini terbelenggu dan terkepung. Jalan ke depan adalah kebutuhan persatuan bagi umat Islam, tidak lagi berperang sesama Muslim, dan untuk membela daerah perbatasan negara-negara Muslim dari serangan pihak luar. Agar itu bisa menjadi nyata, kita harus kembali ke sumber kita. Pahami akar perpecahan, lihat di mana perpecahan terjadi dan cobalah untuk memperbaiki keretakan atau kerusakan itu sebaik mungkin. Sosok Fathimah sangat penting bagi Sunni dan Syiah dan dia adalah salah satu faktor penyatuan antara kedua aliran ini. Dia adalah ibu dari Hasan dan Husain, dua cucu Nabi SAW yang paling menonjol. Nabi SAW sebetulnya memiliki cucu-cucu lain juga, tetapi Hasan dan Husainlah yang sangat menonjol, dihormati dan dicintai. (sumber: https://umsb.ac.id/berita/index/1397-mengenal-fathimah-az-zahra). *Anak Nabi Muhammad: Kisah Hidup dan Keteladanan Fatimah Az-Zahra* Fatimah Az-Zahra binti Muhammad lahir sekitar tahun 605 M dan memiliki kisah hidup yang penuh makna dan inspirasi. Sebagai putri Nabi Muhammad (SAW), ia tidak hanya dikenal sebagai anak seorang nabi, tetapi juga sebagai wanita dengan karakter yang kuat, kasih sayang yang mendalam, dan kepemimpinan yang luar biasa. Sejak usia muda, ia menyaksikan perjuangan ayahnya dalam menyebarkan pesan Islam. Perjuangan ini mengajarkan Fatimah makna sejati dari keberanian dan keteguhan menghadapi tantangan. #Fatimah Putri Sang Kesayangan Nabi Muhammad# Sebagai putri tercinta Nabi, Fatimah memiliki tempat istimewa di hatinya. Ia pernah berkata, “Fatimah adalah sebagian daripadaku; barangsiapa meragukannya, meragukan aku.” Pernyataan ini mencerminkan ikatan mendalam yang mereka miliki. Fatimah tumbuh menjadi wanita yang berakhlak mulia dan perilaku yang baik, sehingga memperoleh berbagai julukan indah seperti Az-Zahra (yang Cemerlang) dan At-Thahirah (Perempuan Suci). Julukan-julukan ini bukan sekadar label; melainkan simbol betapa signifikan Fatimah dalam kehidupan umat Muslim. #Pernikahan Fatimah Sederhana Namun Penuh Kasih# Pada usia 15 tahun dan 5 bulan, Fatimah menikah dengan sepupunya, Ali bin Abi Thalib. Pernikahan mereka berlangsung sederhana, mencerminkan nilai tinggi yang mereka tempatkan pada kerendahan hati. Saat itu, Ali tidak memiliki banyak harta dan harus menjual perisainya untuk membayar mahar. Meskipun tidak selalu memiliki kehidupan yang mudah, cinta antara Fatimah dan Ali menjadi fondasi yang kuat bagi hubungan mereka. Mereka dikaruniai enam anak, dipenuhi dengan cinta, termasuk Hasan, Husain, Zaynab, dan lainnya. Keluarga mereka menjadi contoh bagaimana cinta dan saling mendukung dapat mengatasi segala kesulitan. #Ketahanan dan Keteguhan Fatimah# Fatimah tidak hanya bergantung pada keberuntungan; ia bekerja keras untuk menghadapi berbagai tantangan. Pada satu titik, karena kesulitan finansial, ia harus menggadaikan kerudungnya untuk mendapatkan uang. Di tengah berbagai perjuangan ini, ia pernah mengungkapkan kesedihannya kepada Ali mengenai kesulitan yang mereka hadapi. Namun, bahkan di masa-masa sulit, Fatimah tidak pernah kehilangan harapan. Ali, yang sangat menghargai Fatimah, menyarankan agar mereka meminta bantuan dari Nabi Muhammad. Momen ini menunjukkan rasa hormat dan cinta mendalam yang Fatimah miliki untuk ayahnya, sehingga membuatnya sulit untuk mengungkapkan kesulitan yang mereka hadapi. #Nasihat Nabi yang Menguatkan Fatimah# Ketika Fatimah mendatangi Nabi, ia tidak dapat mengungkapkan perjuangannya. Melihat putri kesayangannya yang begitu tangguh, Nabi Muhammad memberikan nasihat bijak. Ia mengajarkan mereka doa yang dapat membantu Fatimah dan Ali menemukan kemudahan dalam hidup mereka. “Ulangi frasa ini sepuluh kali setelah shalat dan tiga puluh kali sebelum tidur,” instruksinya. Nasihat ini memberikan Fatimah dan Ali kekuatan untuk menghadapi tantangan, menggambarkan pentingnya hubungan spiritual dalam mengatasi rintangan. # Kesedihan Fatimah yang Mendalam# Saat kesehatan Nabi Muhammad menurun, Fatimah merasakan kesedihan yang mendalam. Ia tidak dapat menahan air matanya melihat ayah tercintanya menderita. Namun, ketika Nabi membisikkan kata-kata kepadanya, ia merasakan ketenangan meskipun mengetahui bahwa ayahnya akan segera meninggal. Mereka berbagi momen pribadi yang sangat berarti, mencerminkan kedekatan hubungan mereka. Ketika Nabi Muhammad memberitahu Fatimah bahwa ia akan menjadi anggota keluarganya yang pertama bergabung dengannya di surga, ia tersenyum, meskipun hatinya tetap berat oleh kesedihan. #Warisan yang Abadi# Setelah wafatnya Nabi, Fatimah merasakan bahwa waktunya sudah dekat. Fatimah meninggal pada usia 27 tahun, hanya beberapa bulan setelah ayahnya, meninggalkan warisan yang mendalam di hati orang-orang yang dicintainya. Ali, bersama dengan anak-anak mereka, menguburkan Fatimah di pemakaman Baqi. Kepergiannya meninggalkan kesedihan yang mendalam tetapi juga warisan berharga: nilai-nilai cinta, ketahanan, dan keberanian dalam memperjuangkan keadilan. # Fatimah Az-Zahra Teladan Abadi bagi Umat Muslim# Fatimah Az-Zahra adalah teladan bagi semua Muslim, terutama wanita. Kisah hidupnya, yang dipenuhi dengan tantangan dan pengorbanan, mengajarkan kita makna sejati dari keberanian, kesederhanaan, dan kasih sayang. Ia tidak hanya diingat sebagai putri Nabi Muhammad, tetapi juga sebagai sosok pemandu yang mencerminkan cinta, keadilan, dan komitmen pada kebenaran. Mari kita ambil pelajaran dari perjalanan hidupnya dan menerapkan nilai-nilai yang diajarkan dalam kehidupan sehari-hari. Semoga karakter teladan Fatimah terus menginspirasi kita untuk menjadi individu yang lebih baik. (sumber: https://baznas.go.id/artikel-show/Anak-Nabi-Muhammad:-Kisah-Hidup-dan-Keteladanan-Fatimah-Az-Zahra/686). Blog ini dibuat dengan tujuan untuk menambah ilmu si Pembaca, tidak ada keuntungan Ekonomi sedikitpun yang diperoleh dari Pembuat. Tulisan diatas merupakan gabungan beberapa artikel dan ditulis juga sumbernya.

Comments

Popular posts from this blog

Ling Tien Kung dan Syari'at Islam (Oleh H. Yudhi)

Kedamaian di Perumahan Cibubur City (Oleh H. Yudhi)

Abu Bakar Siddiq RA (H. Yudhi)