Aisyah binti Abu Bakar RA (H. Yudhi)
Aisyah binti Abu Bakar RA (H. Yudhi). Aisyah binti Abu Bakar (sekitar 613/614 – Juli 678 Masehi) adalah seorang komandan, politikus, ahli hadis dan istri ketiga juga termuda dari Nabi Muhammad. Aisyah memiliki peran penting dalam sejarah Islam awal, baik selama hidup Muhammad saw maupun setelah kematiannya. Dalam tradisi Sunni, Aisyah digambarkan sebagai seorang yang terpelajar, cerdas, dan ingin tahu. Ia berkontribusi dalam penyebaran pesan Muhammad saw dan mengabdi kepada masyarakat Muslim selama 44 tahun setelah kematian Muhammad saw. Aisyah meriwayatkan 2.210 hadis sepanjang hidupnya, tidak hanya pada hal-hal yang berkaitan dengan kehidupan pribadi Muhammad saw, tetapi juga pada topik-topik seperti hukum waris, haji, fikih shalat, dan eskatologi. Kecerdasan dan pengetahuannya dalam berbagai subjek, termasuk puisi dan kedokteran, sangat dipuji oleh para ulama dan tokoh terkemuka awal seperti al-Zuhri dan muridnya Urwah bin az-Zubair. #Kehidupan Awal# Silsilah# Aisyah lahir di Mekkah sekitar tahun 613-614M. Aisyah adalah putri dari Abu Bakar dan Ummi Ruman, dua orang dari sahabat Nabi yang paling terpecaya. Tidak ada sumber yang memberi informasi lebih banyak terkait masa kecilnya. Beberapa sumber klasik menyatakan bahwa Aisyah berusia enam atau tujuh tahun pada saat pernikahannya, dan dikawinkan saat berusia sembilan tahun. Namun, umur tepat Aisyah saat pernikahannya masih menjadi sumber perdebatan oleh beberapa tokoh. #Pernikahan dan Perkawinan# Sebelum pertunangannya dengan Muhammad saw, Aisyah (yang saat itu berusia lima tahun) bertunangan dengan putra Mut'im ibnu 'Adi, yaitu Jubair ibnu Mut'im; mengikuti kebiasaan pernikahan dini di Arab pada abad keenam. Pertunangan itu gagal karena kekhawatiran dari keluarga Aisyah. Menurut buku Shahih Bukhari, setahun kemudian Aisyah kemudian bertunangan dengan Muhammad saw pada usia enam tahun. Beberapa sumber Islam dari era klasik mencantumkan usia Aisyah sebagai enam tahun pada saat pernikahan dan sembilan atau sepuluh tahun pada saat perkawinannya; Namun, beberapa ulama lain tidak setuju dengan ini karena ketidakkonsistenan dalam narasi tentang masa mudanya. Meskipun demikian, secara keilmuan hadis, narasi awal merupakan posisi yang lebih kuat. Muhammad saw dua kali bermimpi bahwa ia melihat Aisyah di mimpinya, dibawakan oleh Malaikat untuk menjadi istrinya. Menganggap itu adalah ketentuan dari Allah yang harus dijalankan, ia pun meminta kepada ayahnya Aisyah, yaitu Abu Bakar, untuk memberikan putrinya untuk dijadikan istri. Awalnya, Abu Bakar ragu untuk menikahkan putrinya kepada Muhammad saw, karena ia menganggap Muhammad saw dan dirinya adalah saudara. Namun setelah diyakinkan bahwa dirinya dan Muhammad saw hanya saudara dalam agama, dan Aisyah adalah halal untuk Muhammad saw nikahi, rasa ragu di dalam hati Abu Bakar pun terangkat. Pertunangan Aisha dengan Jubair pun kemudian dibatalkan. William Montgomery Watt, seorang orientalis, berpendapat bahwa Muhammad saw berharap untuk memperkuat hubungannya dengan Abu Bakar; penguatan ikatan umumnya berfungsi sebagai dasar pernikahan dalam budaya Arab. Biografi Ibnu Sa'ad menyatakan usia Aisyah pada saat menikah antara enam dan tujuh tahun, dan dikawinkan saat berusia sembilan tahun. Sementara itu, biografi Ibnu Hisyam tentang Muhammad saw menunjukkan bahwa Aisyah mungkin berusia sepuluh tahun saat dikawinkan. Al-Tabari mencatat Aisyah tinggal bersama orang tuanya setelah pernikahan dan dikawinkan pada usia sembilan tahun karena dia masih muda dan belum matang secara fisik pada saat menikah; Namun, di tempat lain, Tabari tampaknya menganggap bahwa Aisyah lahir di tahun Jahiliyyah (sebelum 610 M), yang berarti usia sekitar dua belas tahun atau lebih saat menikah. Semua hadis yang ada sepakat bahwa Aisyah menikah dengan Muhammad saw di Mekkah, tetapi pernikahan tersebut baru disempurnakan pada bulan Syawal setelah hijrah Muhammad saw ke Madinah (April 623M). Beberapa sumber klasik menunjukkan bahwa Aisyah mengatakan bahwasanya pernikahan tersebut dilaksanakan di Madinah sendiri tanpa ada penundaan. Dalam tradisi literatur Islam, usia muda pernikahannya tidak memantik wacana yang signifikan; Meskipun demikian, Spellberg dan Ali (peneliti Islam asal Amerika Serikat) meneliti tentang alasan penulis biografi Muslim awal menyebut usianya secara eksplisit, karena itu bukan pendekatan yang biasa. Kemudian, mereka berhipotesis bahwa umur aisyah mungkin disebut sebagai konotasi terhadap kemurniannya. Usianya juga tidak menarik minat para ulama khalaf, dan tidak dikomentari bahkan oleh para polemik agama abad pertengahan dan modern-awal. Kritik terhadap usia Aisyah, yang merupakan usia umum untuk pernikahan di Arab pada abad keenam, telah mendorong banyak cendekiawan Muslim modern untuk meng-kontekstual-isasikan usia Aisyah yang diterima secara tradisional dengan menekankan relativisme budaya, anakronisme, dimensi politik dari pernikahan, perbedaan laju pertumbuhan fisik antar zaman, dan lain-lainnya. #Kehidupan Pribadi# Hubungan dengan Muhammad saw# Dalam sebagian besar tradisi Muslim, Khadijah binti Khuwailid digambarkan sebagai istri Muhammad saw yang paling dicintai dan difavoritkan; tradisi Sunni menempatkan Aisyah sebagai istri kedua setelah Khadijah. Ada beberapa hadis, atau cerita atau ucapan Muhammad saw, yang mendukung posisi ini. Salah satunya menceritakan bahwa ketika seorang sahabat bertanya kepada Muhammad saw, "siapa orang yang paling kamu cintai di dunia ini?" dia menjawab, "Aisyah." Cerita lain mengatakan bahwa Muhammad saw membangun rumah Aisyah sedemikian rupa sehingga pintunya terbuka langsung ke masjid, dan disebutkan bahwa ayat-ayat Qur'an tidak datang kepada Muhammad saw di tempat tidur manapun selain miliknya Aisyah. Berbagai tradisi mengungkapkan kasih sayang timbal balik antara Muhammad saw dan Aisyah. Muhammad saw sering kali hanya duduk dan menonton Aisyah dan teman-temannya bermain dengan boneka, dan kadang-kadang, dia bahkan bergabung dengan mereka. Selain itu, Muhammad saw dan Aisyah memiliki hubungan intelektual yang kuat. Muhammad saw menghargai daya ingat dan kecerdasannya yang tajam sehingga dia memerintahkan para sahabatnya untuk meniru beberapa praktik keagamaan dari Aisyah. #Perlakuan spesial di antara istri-istri Muhammad saw# Para istri Rasul terbagi menjadi dua kubu. Yang satu terdiri dari Aisyah, Hafshah, Shafiyah dan Saudah; sedangkan kubu satunya lagi terdiri dari Ummu Salamah dan istri-istri beliau yang lain. Umat muslim pada saat itu sadar kalau Aisyah adalah istri favorit Nabi, maka bila mereka ingin memberikan hadiah kepada Nabi, mereka menunggu hingga Nabi mengunjungi rumah Aisyah untuk gilirannya. Kubunya Ummu Salamah mendiskusikan masalah ini bersama, dan berkeputusan bahwa Ummu Salamah mesti meminta kepada Muhammad saw supaya menyuruh umatnya untuk mengirim hadiah mereka ketika Muhammad saw juga berada di rumah istri-istrinya yang lain. Ketika saat gilirannya bersama Muhammad saw, Ummu Salamah pun membicarakan hal tersebut dengannya, namun Muhammad saw tidak memberikan jawaban. Setelah gilirannya bersama Nabi usai, Ummu Salamah pun ditanyakan oleh istri-istri Nabi yang ada di kubunya, ia memberi tahu mereka bahwa Rasul tidak memberikan jawaban. Maka mereka memintanya untuk mencoba lagi. Pada hari gilirannya yang berikutnya, Ummu Salamah mencoba kembali membicarakan hal tersebut kepada Rasul, akan tetapi ia tetap tidak memberikan jawaban. Setelah gilirannya usai, istri-istri Rasul yang ada pada grupnya kembali bertanya ke Ummu Salamah, dia pun menceritakan kalau Rasul lagi-lagi tidak memberikan jawaban. Maka mereka berkata kepadanya, "Bicarakan dengan beliau sampai ia memberikanmu jawaban." Maka ketika waktu gilirannya, Ummu Salamah mencoba membicarakan hal tersebut lagi dengan Nabi, dan akhirnya beliau pun memberikan jawaban, ia berkata, "Jangan sakiti aku mengenai Aisyah, sebab firman-firman Allah tidak datang kepadaku di tempat tidur manapun selain tempat tidurnya Aisyah." Ummu Salamah pun berkata, "Aku memohon ampun kepada Allah karena telah menyakitimu." Kubu Ummu Salamah lalu memanggil Fatimah, anaknya sang Muhammad saw. Mereka meminta agar Fatimah memohon kepada beliau supaya memperlakukan mereka setara dengan Aisyah binti Abu Bakar. Fatimah lalu pergi membicarakan hal tersebut ke Muhammad saw, dan ia menjawab, "Wahai putriku! Tidakkah kau mencintai apa yang aku cintai?" Fatimah pun menjawab iya. Dia lalu pergi melaporkan hal tersebut ke istri-istri Nabi dari kubu Ummu Salamah. Tidak puas, mereka meminta supaya Fatimah untuk kembali memohon hal tersebut kepadanya, namun Fatimah menolak. Mereka pun kemudian menyuruh Zainab binti Jahsy yang merupakan salah satu istri Nabi dan sepupunya, untuk pergi memohon kepada beliau. Ketika bertemu dengan Nabi, dengan menggunakan kata-kata yang kasar Zainab berkata, "Istri-istrimu meminta dirimu untuk memperlakukan mereka dan putrinya Ibnu Abu Quhafah (Aisyah) secara setara." Zainab menaikkan suaranya lalu mengumpati Aisyah di mukanya, yang saking kerasnya, Muhammad saw pun melihat ke hadapan Aisyah menunggu apakah dia akan membalasnya atau tidak. Maka Aisyah pun membalas Zainab sampai membuat Zainab terdiam. Yang mana ini membuat Nabi tersenyum dan berkata, "Dia memang benar-benar putri Abu Bakar." Pada peristiwa terpisah, Nabi Muhammad pernah ingin menceraikan salah satu istrinya yaitu Saudah. Saudah lalu memohon agar sang Nabi mempertahankannya dengan memberikan jatah gilirannyanya kepada Aisyah. Maka Nabi pun menerima usulan tersebut dan tetap mempertahankannya. #Tuduhan berzina (Peristiwa Ifk)# Aisyah pernah dituduh telah berzina dengan salah seorang pasukan Nabi yang mengantarnya pulang ketika dirinya tertinggal dari rombongan sang Rasul. Berzina bagi perempuan yang mempunyai suami adalah sebuah pelanggaran serius dalam Islam yang hukumannya adalah dirajam sampai mati. Setiap kali Muhammad saw akan melakukan serangan ghazwah ke pemukiman atau kafilah dagang milik orang-orang kafir, ia biasa mengundi istri-istrinya untuk memilih salah satu dari mereka yang akan menemaninya. Aisyah menjadi orang yang beruntung pada saat itu. Ia pun dibawa di dalam sebuah rengga tertutup di atas seekor unta. Dalam perjalanan pulang seusai serangan, rombongan Nabi berhenti sejenak untuk istirahat, dan Aisyah pun turun untuk buang air. Sekembalinya dirinya ke rengga, ia menyadari bahwa kalungnya hilang, maka Aisyah kembali ke tempat ia buang air untuk mencarinya. Setelah berhasil menemukannya, rupanya rombongan Nabi telah pergi, mengira Aisyah berada dalam rengga-nya. Maka Aisyah pun menunggu di tempat itu berharap rombongan Nabi akan sadar bahwa dirinya tertinggal. Menunggu lama, Aisyah mengantuk dan tertidur. Pada pagi harinya, Safwan bin Mu'attal, salah seorang pasukan Nabi yang tertinggal karena alasan tertentu, menemuinya dan mengantarnya pulang. Setibanya di Madinah, timbullah rumor bahwa Aisyah telah berzina dengan Safwan. Hal ini diperburuk dengan fakta bahwa Aisyah terbaring sakit selama sebulan semenjak dirinya pulang, yang mengakibatkan rumor tersebut semakin besar dan tidak terkendali. Selama sakitnya, Aisyah telah menduga ada yang aneh, sebab Nabi tidak lagi berlaku hangat kepadanya, dan cenderung menghindari berkomunikasi langsung dengannya. Ia pun mengetahui kalau ada tuduhan dirinya telah berzina setelah diceritakan oleh Umm Mistah. Aisyah pun merasa sedih dan meminta kepada sang Rasul supaya dirinya diizinkan untuk kembali ke rumah ibunya untuk menenangkan diri. Setibanya di rumahnya, Aisyah menanyakan kepada ibunya tentang apa yang terjadi, dan ibunya berkata: "Wahai putriku! Jangan terlalu mencemaskan masalah ini. Demi Allah, tidak pernah ada wanita menawan yang dicintai suaminya yang memiliki istri-istri lain, selain di mana istri-istri yang lain dari suaminya itu akan membuat-buat berita bohong tentang dirinya." Aisyah pun pergi ke kamarnya dan menangis. Di pagi harinya, Nabi Muhammad yang belum juga mendapatkan petunjuk dari Allah mengenai permasalahan ini, memanggil Ali bin Abi Thalib dan Usamah bin Zaid, untuk menanyakan pendapat mereka. Usamah mengatakan, 'Wahai Rasulullah (ﷺ)! Tetap pertahankan istrimu, karena, demi Allah, kami tidak tahu apa-apa tentang dirinya kecuali kebaikan." Sedangkan Ali berkata, "Wahai Rasulullah (ﷺ)! Allah tidak membatasi dirimu, ada banyak perempuan selain dirinya, namun engkau dapat bertanya kepada si pelayan wanita yang akan mengatakan hal yang sebenarnya." Muhammad pun memanggil Barirah, pelayannya Aisyah, menanyakannya apakah ada gerak-gerik Aisyah yang membangkitkan rasa kecurigaan dirinya. Yang mana Barirah berkata: "Tidak, demi Allah yang telah mengirimkanmu kebenaran, saya tidak pernah melihat sesuatu yang salah darinya kecuali diakibatkan dirinya yang masih kecil, ia terkadang tertidur dan meninggalkan adonan keluarganya dimakan kambing." Maka setelah saat itu Nabi pun naik ke atas mimbar mengajak para pengikutnya untuk menghukum Abdullah bin Ubai bin Salul yang telah memfitnah keluarganya. Sa'ad bin Muadz pun berdiri dan berkata "Wahai Rasulullah (ﷺ)! Demi Allah, Aku akan membebaskanmu dari dirinya. Jika orang itu dari Bani Aus, aku akan penggal kepalanya, dan jika dia berasal dari saudara-saudara kami, Bani Khazraj, maka perintahkanlah kami, dan kami akan memenuhi perintah anda." Pimpinan Bani Khazraj, Sa'ad bin Ubadah pun berdiri dan berkata "Demi Allah! Kau telah berbohong, kau tidak boleh membunuhnya dan kau tidak akan bisa membunuhnya." Usaid bin Hudhair lalu ikut berdiri dan berkata (ke Sa'ad bin Ubadah), "Kau yang berbohong! Demi Allah kami akan membunuhnya, dan kau adalah seorang munafik, yang membela teman munafiknya." Cekcok pun semakin memanas antara Bani Aus dan Khazraj. Sebelum timbul konflik antara kedua belah pengikutnya tersebut, Nabi pun mendiamkan mereka. Aisyah telah menangis tanpa henti dua malam satu hari. Saat itu ia ditemani orang tuanya dan seorang perempuan Anshar memasuki kamarnya dan ikut menagis dengannya. Tidak lama setelahnya, Muhammad saw pun datang mengunjunginya. Selama satu bulan lebih firman dari Allah tidak turun-turun kepada beliau mengenai kasus ini. Setelah duduk, Nabi mengucap Tasyahud dan berkata: "Wahai Aisyah! Aku telah diinformasikan hal ini dan itu mengenai dirimu; dan jika kamu tidak bersalah, Allah akan menunjukkan ketidak bersalahanmu, sedangkan jika kamu telah melakukan dosa, maka mintalah ampunan kepada Allah, dan bertobat kepadanya, karena ketika seorang hamba mengakui dosanya dan bertobat kepada Allah, maka Allah akan menerima tobatnya." Ketika Muhammad saw selesai dengan perkataannya, Aisyah telah berhenti menangis. Ia pun meminta kepada orang tuanya untuk menyampaikan apa yang ingin ia katakan kepada Muhammad saw, namun mereka menolak dengan mengatakan, bahwa mereka tidak tahu apa yang harus dikatakan kepada sang Rasul. Aisyah pun berbicara langsung kepada sang Rasul:
"Demi Allah, aku tahu kalau engkau telah mendengar cerita ini (mengenai Ifk) sampai-sampai hal itu tertanam di pikiranmu dan membuatmu mempercayai hal itu. Jadi sekarang, kalaupun aku mengatakan bila aku tidak bersalah, dan Allah tahu aku tidak bersalah, engkau pasti tidak akan mempercayaiku; dan bila aku mengatakan aku melakukan hal itu, dan Allah tahu kalau aku tidak melakukannya, engkau pasti akan mempercayaiku. Demi Allah aku tidak mendapatkan perbandingan lain dari situasi diriku saat ini denganmu selain dengan situasi yang pernah dialami ayahnya Yusuf yang berkata: 'Maka (bagiku) kesabaran adalah yang paling cocok untuk menghadapi hal yang engkau nyatakan dan hanya Allah lah satu-satunya yang bisa dipinta pertolongan.'" Aisyah lalu berbalik, dan berbaring di tempat tidurnya. Maka seketika itu wahyu datang kepada Nabi Muhammad, dan beliau berkata, "Aisyah, Allah telah menyatakan ketidak-bersalahanmu." Ibu Aisyah pun berkata kepada Aisyah, "Berdirilah dan hampiri beliau." Namun Aisyah berkata, "Demi Allah, aku tidak akan menghampiri dirinya dan aku tidak akan berterima kasih kepada siapapun selain kepada Allah." Muhammad lalu menyampaikan ayat-ayat yang telah diturunkan Allah kepadanya (QS. An-Nur 11-20). #Kematian Muhammad saw# Di saat hari-hari terakhir Muhammad saw di mana sakitnya semakin serius, beliau meminta supaya dirinya dirawat di rumahnya Aisyah. Beliau pun dipandu ke sana oleh Al Abbas dan Ali bin Abi Thalib, dengan kaki beliau terseret-seret di tanah. Di dalam Shahih Bukhari, yang merupakan kitab koleksi hadits yang dianggap paling shahih dan salah satu dari shahihain, diriwayatkan bahwa Aisyah melaporkan: Sang Nabi (ﷺ) pada saat sakitnya yang berujung kematian sering berkata, "Wahai Aisyah! Aku masih merasakan sakit yang diakibatkan oleh makanan yang aku makan di Khaibar, dan pada saat ini, aku merasa pembuluh jantungku seperti sedang dipotong oleh racun itu."— Sahih Bukhari 4428. Sakit yang dialami Nabi Muhammad pun semakin parah, dan pada waktu-waktu terakhirnya, beliau dilaporkan kerap berkata: Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku dan izinkanlah aku bergabung dengan teman-teman yang tertinggi (di surga)."Rasulullah ﷺ meninggal di rumahku, pada hariku dan berada antara dada dan kerongkonganku." Salah seorang dari kami membacakan doa untuknya dengan doa yang biasa dibacakan untuk orang sakit. Aku pun ikut mendoakannya. Kemudian beliau mengangkat pandangannya ke langit dan mengucapkan: 'Arrafiiqul A'laa, Arrafiiqul A'laa (Ya Allah, sekarang aku memilih kekasihku yang tertinggi, ya Allah, sekarang aku memilih kekasihku yang tertinggi).' Lalu Abdurrahman bin Abu Bakr masuk dengan membawa kayu siwak yang masih basah. Nabi pun menatapnya, saya mengira beliau memang membutuhkan siwak tersebut. Aisyah berkata, "Maka aku mengambilnya, mengunyahnya, mengibas-ngibaskannya, dan membaguskannya, kemudian aku berikan kepada beliau. Lantas beliau membersihkan giginya dan belum pernah aku melihat orang yang membersihkan giginya sebagus yang beliau lakukan. Setelah itu beliau memberikannya kepadaku namun jatuh (lepas) dari tangannya. Segala puji bagi Allah yang telah mengumpulkan antara air liurku dengan air liur beliau pada hari-hari terakhir beliau di dunia dan pada hari-hari pertama di akhirat kelak." Akan tetapi, beberapa riwayat dari kalangan Syi'ah menuding bahwa kematian Nabi Muhammad justru diakibatkan oleh racun yang disisipkan oleh Aisyah yang berkomplot dengan Hafshah. #Lain-lain# Selain terkenal akan kecerdasannya, Aisyah juga memiliki sifat yang jujur dan suka berterus terang. Ia kerap kali tanpa takut mengutarakan pendapatnya apabila dirinya menemukan hal-hal yang kurang ia senangi. Seperti pada suatu ketika orang-orang berkata di hadapannya mengenai apa-apa saja yang membatalkan sholat seorang mukmin, yaitu, "Anjing, keledai dan perempuan (apabila mereka berjalan di depan orang-orang yang sedang sholat)." Aisyah pun lalu berkata, "Kalian samakan kami (perempuan) dengan anjing." Aisyah menceritakan bahwa sang Nabi suka melaksanakan sholat ketika Aisyah sedang tiduran di tempat tidurnya yang berada di tengah-tengah sang Nabi dan kiblat, dan ketika Aisyah sedang membutuhkan sesuatu, ia akan menyelinap keluar karena dirinya mengaku tidak ingin mengganggu sholatnya nabi. Pada peristiwa lain, diriwayatkan bahwa Aisyah mengaku dirinya memandang rendah perempuan-perempuan yang memberikan diri mereka kepada Nabi Muhammad. Ia berkata, "Dapatkah seorang perempuan memberikan dirinya (kepada seorang pria)?" Akan tetapi tidak lama berselang ayat (Qur'an 33:51) dari Allah pun turun, yang mengizinkan Nabi Muhammad menyetubuhi perempuan-perempuan tersebut. Aisyah pun berkata kepada Nabi, "Aku merasa Tuhan-mu begitu sigap dalam memenuhi keinginan dan hasratmu." Aisyah juga tidak segan membicarakan hubungan seksualitas-nya bersama Nabi. Dalam kesempatan lain, ia menceritakan ketika ia selesai mencuci pakaian Nabi dan akan menjemurnya, beberapa kali ia temukan jejak-jejak air mani Nabi masih tersisa di pakaian beliau, maka ia pun membersihkannya dengan menggunakan kukunya untuk menggaruknya. Dan Nabi pun mengenakan pakaian tersebut kemudian untuk sholat. Di riwayat-riwayat lain, juga diceritakan bahwa dirinya mendapat giliran lebih banyak dari istri-istri Nabi Muhammad lainnya, sang Nabi suka mandi di dalam satu bak dengannya sehabis berhubungan seksual (junub), dan bagaimana ketika dirinya sedang menstruasi Nabi suka menyuruhnya menggunakan izar (pakaian yang dipasang di bawah pinggang) lalu beliau membelai-belai badannya. #Konflik dengan Ali# Permusuhan antara Ali bin Abi Thalib dan Aisyah diperkirakan sudah terjadi semenjak Nabi masih hidup. Ketika tersebar rumor bahwa Aisyah telah berzina, yang mana hukumannya dalam Islam adalah di-rajam sampai mati. Nabi yang belum mendapatkan wahyu dari Allah selama sebulan tentang benar atau tidak rumor tersebut, menanyakan ke sahabat-sahabatnya, salah satunya adalah Ali. Ali menjawab, "Allah tidak membatasimu, masih ada banyak perempuan lain." Pada hadits tentang hari-hari terakhir Nabi yang mana Nabi meminta supaya dirawat di rumah Aisyah, Aisyah menolak untuk menyebutkan nama Ali pada riwayatnya, meskipun ia menyebut nama Al-Abbas yang bersama dengan Ali memandu Nabi ke rumah Aisyah. Selepas wafatnya Nabi, Ali yang merupakan sepupu Nabi, mengklaim dirinya ditunjuk oleh Nabi ketika beliau masih hidup, untuk menjadi Khalifah pertama, namun klaim Ali tersebut dibantah oleh Aisyah yang mengatakan kalau dirinya selalu bersama Nabi menjelang akhir hayat beliau dan tidak sekalipun ia mendengar Nabi menunjuk Ali sebagai Khalifah. Orang-orang pun akhirnya berbai'at kepada Abu Bakar (ayahnya Aisyah), yang menjadikan Abu Bakar Khalifah. Ketika istri Ali, yakni Fatimah yang juga merupakan putri Nabi Muhammad meminta kepada Abu Bakar harta peninggalan Nabi Muhammad di Fadak, Madinah dan Khaibar yang sebelumnya merupakan harta-harta orang Kafir yang diberikan oleh Allah kepada beliau, Abu Bakar menolaknya dengan dalih bahwa dirinya pernah mendengar Nabi berkata kalau Nabi-Nabi tidak mewariskan harta mereka kepada keluarga mereka, melainkan harta peninggalan mereka adalah untuk ummat, dan dirinya takut kalau memberikan harta peninggalan Nabi ke Fatimah, maka sama saja dirinya telah melenceng dari Islam. Fatimah yang marah pun tidak berbicara lagi dengan Abu Bakar hingga wafatnya Fatimah beberapa bulan kemudian di usia mudanya, hal ini diriwayatkan secara shahih di kitab-kitab hadits Islam Sunni. Namun di Islam Syiah terdapat riwayat bahwa setelah mendapat penolakan tersebut, Fatimah ber-khotbah di Masjid Nabawi, mengklaim ketidaksahan kekhalifahan Abu Bakar, dan mengatakan kalau Abu Bakar sudah mengada-ngada dengan perkataannya. Di dalam riwayat yang juga diakui Islam Sunni, Umar bin Khattab yang merupakan rekan Abu Bakar lalu menggerebek rumah Fatimah yang di dalamnya sedang terdapat pertemuan dari orang-orang yang menentang kekhalifahan Abu Bakar. Oleh Islam Syiah, peristiwa ini dianggap sebagai penyebab Fatimah keguguran dan wafat beberapa bulan setelahnya. Dalam riwayat Islam Sunni, selepas Abu Bakar wafat, dan Umar dan Utsman tewas dibunuh, Ali pun diangkat sebagai Khalifah oleh orang-orang yang sebagiannya merupakan pemberontak terhadap pemerintahan Utsman. Sahabat-sahabatnya Nabi Muhammad pun dipaksa oleh Ali untuk berbai'at kepada Ali, namun beberapanya menolaknya meski secara formalitas tetap berbai'at kepadanya, di antara mereka adalah Thalhah dan Zubair. Mereka pun meninggalkan Madinah menuju Makkah. Aisyah yang sebelumnya dilaporkan memancing orang-orang untuk mengkudeta Utsman, kini berbalik haluan mengajak orang-orang untuk berperang melawan Ali dengan dalih membalaskan kematian Utsman. Aisyah pun bergabung dengan Thalhah dan Zubair untuk berperang melawan Ali, yang kemudian perang tersebut dikenal sebagai Perang Jamal. Pihak Aisyah kalah pada pertempuran tersebut, namun karena Aisyah merupakan istri favorit Nabi, membunuhnya ditakutkan akan menimbulkan amarah Nabi dan Allah, ia pun tidak dibunuh dan diantarkan ke rumahnya. Muawiyah yang merupakan sepupu Utsman pun lalu melanjutkan perperangan terhadap Ali yang kemudian dikenal sebagai Perang Shiffin. Tidak ada pemenang pada perang tersebut dikarenakan kedua pihak kemudian sepakat untuk melakukan arbitrase tentang kematian Utsman, meski sebelumnya Ali telah mewanti-wanti kepada pasukannya kalau permintaan arbitrase oleh pihak Muawiyah dengan mengangkat Al-Qur'an hanyalah upaya supaya mereka menghindari kekalahan. Sejumlah pengikut Ali mempercayai perkataan pihak Muawiyah, yang memaksa Ali untuk menyepakati pembentukan arbitrase tersebut. Sejumlah pendukung Ali yang lain tidak terima, dan keluar dari pasukan Ali pada saat itu, karena mereka menganggap keputusan Ali telah melenceng dari Islam yang lurus. Mereka lalu dinamai Khawarij (yang keluar). Ketika proses arbitrase, dua arbitrator menyatakan kalau para pemberontak yang merupakan pendukung Ali, bersalah dalam pembunuhan terhadap Utsman. Proses arbitrase pun kolaps, dan Ali pun mengumpulkan kembali pasukannya termasuk para Khawarij, namun para Khawarij memberi syarat kalau Ali harus mengakui dirinya telah tersesat dan bertobat, Ali pun berangkat tanpa mereka. Namun lalu terdengar desas-desus kalau orang-orang Khawarij tersebut menanyakan tiap-tiap muslim yang mereka temui mengenai pendapat mereka akan Ali dan Utsman dan membunuh siapa-siapa saja yang tidak sependangan dengan mereka. Ali pun mengirim seseorang untuk meng-investigasi rumor itu, namun utusan Ali tersebut kemudian juga dibunuh. Para pasukan Ali yang takut kalau keluarga mereka akan menjadi target kaum Khawarij tersebut menekan Ali untuk menghadapi mereka, dan Pertempuran Nahrawan pun terjadi. Ali memenangkan pertempuran tersebut, namun ini menimbulkan rasa dendam di hati pihak yang dikalahkan dan yang memiliki pandangan yang sama. Beberapa kemudian merencanakan pembunuhan terhadap Ali, dan mereka berhasil membunuhnya dengan pedang yang dilapisi dengan racun. Ketika mendengar kabar kematian Ali tersebut, Aisyah dilaporkan melemparkan tongkatnya dan bersantai di tempat duduknya seperti seorang pengembara yang bahagia ketika pulang ke rumahnya. Sewaktu diberi tahu kalau yang membunuh Ali adalah orang dari Murad, Aisyah berkata: "Meskipun dia jauh, telah mengumumkan kematiannya, seorang pemuda [ghulam] yang mulutnya tiada berdebu (yakni memiliki perkataan yang benar)." Ketika ditanya oleh Zainab binti Abu Salamah, apakah perkataaan Aisyah tersebut mengenai kematian Ali, Aisyah berkata, "Aku pelupa, dan jika aku lupa ingatkan aku." #Kematian# Aisyah meninggal dunia di rumahnya di Madinah pada tanggal 17 Ramadhan 58 H (16 Juli 678 M), pada saat itu ia berusia 67 tahun. Sahabat Nabi, Abu Hurairah memimpin penguburannya setelah salat tahajud dan ia dikuburkan di Jannat al-Baqi'. #Pandangan Sunni dan Syi'ah# Sunni# Sejarawan Sunni melihat Aisyah sebagai seorang wanita terpelajar, yang tanpa lelah meriwayatkan hadis tentang kehidupan Nabi Muhammad. Dia merupakan salah seorang dari cendekiawan Islam awal di mana para sejarawan menghitung sampai seperempat dari Hukum Islam berasal dari Aisyah. Aisyah adalah istri favorit Nabi Muhammad dan menjadi contoh dari jutaan wanita. #Syi'ah# Kalangan Syi'ah umumnya memandang buruk Aisyah. Hal ini terutama disebabkan oleh apa yang mereka anggap sebagai kebencian Aisyah terhadap Ahlul Bait (keluarga Nabi Muhammad) dan tindakan Aisyah dalam Perang Saudara Islam I. Partisipasi Aisyah dalam Perang Jamal secara luas dianggap sebagai tanda kebenciannya yang paling signifikan. Mereka juga tidak percaya bahwa Aisyah berperilaku sebagaimana mestinya dalam perannya sebagai istri Muhammad saw. Beberapa riwayat di kalangan Sy'iah yang terkemuka bahkan melaporkan bahwa Aisyah, bersama dengan Hafshah, menyebabkan kematian Nabi Muhammad dengan cara meracuni beliau. Syi'ah juga menganggap Aisyah sebagai sosok kontroversial karena keterlibatan politiknya semasa hidupnya. Aisyah berasal dari garis keturunan keluarga politik, dia adalah putri Abu Bakar yang mana merupakan Khalifah pertama. Aisyah juga berperan aktif dalam kehidupan politik Nabi Muhammad; dia diketahui kerap menemani Nabi berperang, di mana dia belajar keterampilan militer, seperti memulai negosiasi sebelum perang antar para kombatan, melakukan pertempuran, dan mengakhiri perang. ( sumber: https://id.wikipedia.org/wiki/Aisyah). *Kisah Hidup Aisyah RA, Istri Rasulullah SAW dari Lahir hingga Wafat* Aisyah RA adalah salah satu wanita paling mulia dalam sejarah Islam. Sebagai istri Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, beliau memainkan peran yang sangat penting dalam menyebarkan ajaran Islam, mendidik umat, dan memberikan contoh luar biasa bagi kaum Muslimin. Kisah hidupnya, mulai dari masa kecil hingga wafat, penuh dengan pelajaran berharga yang dapat kita ambil sebagai umat Islam. #Kelahiran dan Latar Belakang Keluarga Aisyah radhiyallahu ‘anha# Aisyah radhiyallahu ‘anha lahir dalam keluarga yang penuh berkah. Ayahnya, Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu, adalah sahabat terdekat Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dan seorang yang sangat dihormati di kalangan kaum Muslimin. Ibunya, Ummu Ruman, adalah wanita salehah yang dikenal karena ketakwaannya. Menurut riwayat, Aisyah radhiyallahu ‘anha lahir pada tahun keempat kenabian, dan sejak kecil sudah menunjukkan kecerdasan yang luar biasa. #Pernikahan Aisyah RA dengan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam# Kisah pernikahan Aisyah radhiyallahu ‘anha dengan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam adalah kisah yang penuh berkah. Aisyah radhiyallahu ‘anha menikah dengan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam saat masih berusia enam tahun, namun pernikahan tersebut baru direalisasikan beberapa tahun kemudian ketika ia telah mencapai usia sembilan tahun. Dalam sebuah hadits, Aisyah radhiyallahu ‘anha menceritakan, "Aku diperlihatkan dalam mimpi selama tiga malam oleh Rasulullah, di mana malaikat membawaku dengan mengenakan pakaian sutera, dan berkata, 'Ini adalah istrimu.'" (HR Bukhari). #Wafatnya Aisyah radhiyallahu ‘anha# Aisyah RA wafat pada usia 67 tahun pada bulan Ramadan, tahun 58 Hijriah. Kepergiannya meninggalkan duka mendalam bagi umat Islam, namun warisannya sebagai Ummul Mukminin terus hidup hingga kini. Beliau dimakamkan di Baqi' di Madinah, tempat peristirahatan para sahabat Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. #Keutamaan Aisyah RA: Istri yang Mulia dan Dicintai Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam# Aisyah RA adalah salah satu wanita mulia yang memiliki banyak keutamaan dalam Islam. Berikut adalah 10 keutamaan Aisyah RA yang dicatat dalam berbagai riwayat: 1. Istri yang Paling Dicintai Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam
Dalam sebuah riwayat dari 'Amr bin Al-'Ash RA, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam ditanya, "Siapa orang yang paling engkau cintai?" Rasulullah SAW menjawab, "Aisyah." Dan ketika ditanya siapa laki-laki yang paling dicintai, beliau menjawab, "Ayahnya, yaitu Abu Bakar." (HR. Bukhari dan Muslim). 2. Satu-Satunya Perawan yang Dinikahi Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallamAisyah RA adalah satu-satunya istri Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam yang dinikahi dalam keadaan masih perawan. 3. Wahyu Diturunkan Saat Bersamanya. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam pernah menerima wahyu saat berada di tempat tidur bersama Aisyah RA, hal ini tidak pernah terjadi pada istri-istri lainnya. 4. Pilihan untuk Tetap Bersama Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam. Ketika istri-istri Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam diberi pilihan untuk tetap bersama Nabi dengan kehidupan sederhana atau diceraikan dan mendapatkan kekayaan dunia, Aisyah radhiyallahu ‘anha adalah yang pertama memilih untuk tetap bersama Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam. Sesuai dengan firman Allah Ta'ala : “Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu: “Jika kamu sekalian mengingini kehidupan dunia dan perhiasannya, maka marilah supaya kuberikan kepadamu mut’ah (suatu pemberian yang diberikan kepada perempuan yang telah diceraikan menurut kesanggupan suami, pen.) dan aku ceraikan kamu dengan cara yang baik. Dan jika kamu sekalian menghendaki (keredhaan) Allah dan Rasulnya-Nya serta (kesenangan) di negeri akhirat, maka sesungguhnya Allah menyediakan bagi siapa yang berbuat baik diantaramu pahala yang besar.” (QS. Al-Ahzab: 28-29). 5. Dibebaskan dari Tuduhan Bohong (Haditsul Ifki)
Aisyah RA difitnah dalam peristiwa haditsul ifki, namun Allah Ta'ala menurunkan ayat-ayat dalam surah An-Nur (QS. 24: 11-20) yang membebaskannya dari tuduhan tersebut, mengangkat derajatnya, dan menunjukkan kesuciannya. 6. Menjadi Rujukan Fatwa. Aisyah RA sering menjadi rujukan bagi para sahabat dalam permasalahan agama setelah wafatnya Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Ilmunya sangat mendalam karena sering belajar langsung dari Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. 7. Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam Wafat di Pangkuannya. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam wafat di pangkuan Aisyah RA pada malam gilirannya, dan beliau juga dimakamkan di rumahnya. 8. Pernikahannya Diperintahkan oleh Allah. Pernikahan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dengan Aisyah RA bukan pernikahan biasa, tetapi diperintahkan langsung oleh Allah Ta'ala melalui mimpi yang ditunjukkan kepada Rasulullah SAW. Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Aisyah radhiyallahu ‘anha, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda, "Aku diperlihatkan dirimu dalam mimpi selama tiga malam (dalam riwayat Bukhari disebut dua kali). Malaikat datang kepadaku membawa dirimu dengan mengenakan pakaian sutra putih, lalu ia berkata, ‘Ini adalah istrimu.’ Aku pun menyingkap wajahmu, dan ternyata itu adalah dirimu. Kemudian aku berkata,
‘Jika ini adalah ketetapan dari Allah, maka Dia pasti akan mewujudkannya.’" (HR. Bukhari no. 3895 dan Muslim no. 2438). 9. Diberi Hadiah pada Gilirannya. Para sahabat seringkali sengaja memberikan hadiah kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam ketika beliau berada di rumah Aisyah RA, sebagai bentuk penghormatan. 10. Turunnya Ayat Tayammum Karena Aisyah. Ketika Aisyah radhiyallahu ‘anha kehilangan kalungnya dalam perjalanan, para sahabat tidak menemukan air untuk berwudhu. Maka Allah Ta'ala menurunkan ayat tentang tayammum.
Kisah hidup Aisyah radhiyallahu ‘anha mengajarkan kita banyak hal, dari kesetiaan, kecerdasan, hingga keberanian dalam menyampaikan kebenaran. Sebagai umat Islam, sudah sepatutnya kita meneladani sosok beliau dan menjadikan kisahnya sebagai inspirasi dalam kehidupan sehari-hari. Mari kita bersama-sama berbuat baik seperti yang dicontohkan oleh Aisyah RA, [Faqirul Ilmi/2024]. (sumber: https://bmm.or.id/artikel/kisah-hidup-aisyah-ra-istri-rasulullah-saw-dari-lahir-hingga-wafat-cZb). *Tujuh Hal tentang Sayyidah Aisyah yang Jarang Diketahui* Sayyidah Aisyah radhiyallau ‘anha adalah istri ketiga Nabi Muhammad SAW, setelah Sayyidah Khadijah radhiyallau ‘anha dan Sayyidah Saudah binti Zam’ah. Ayahnya adalah Sayyidina Abu Bakar bin Abu Quhafah, sementara ibunya Ummu Ruman. Ia dikenal sebagai orang yang cerdas, berwawasan luas, penuh cinta, dan banyak meriwayatkan hadits Nabi. Sayyidah Aisyah merupakan satu-satunya gadis yang dinikahi Nabi Muhammad. Terjadi perbedaan pendapat di antara ulama mengenai usia pernikahan Sayyidah Aisyah. Ada yang berpendapat, usianya enam atau tujuh tahun ketika dinikahi dan sembilan tahun saat diajak Nabi untuk berumah tangga. Pendapat lain –yang didasarkan pada riwayat Abdurrahman bin Abu Abi Zannad dan Ibnu Hajar al-Asqalani- menyebutkan bahwa usia Sayyidah Aisyah ketika berumah tangga adalah 19 tahun atau 20 tahun. Sayyidah Aisyah pernah menjadi korban hoaks (hadits al-ifki). Yakni, ia difitnah telah melakukan perselingkuhan dengan Shafwan ibn Muaththal. Kabar yang tidak benar itu cukup mengganggu rumah tangga Nabi Muhammad dan Sayyidah Aisyah. Kemudian Allah membela Sayyidah Aisyah dan meluruskan berita tersebut dengan menurunkan QS An-Nur: 11-21. Barangkali ini merupakan salah satu kisah paling masyhur terkait dengan Sayyidah Aisyah. Selain apa yang disampaikan di atas, sebetulnya ada beberapa hal tentang Sayyidah Aisyah yang jarang atau tidak diketahui banyak orang. Seperti diuraikan Ahmad Khalil Jam’ah dan Syaikh Muhammad bin Yusuf ad-Dimasyqi dalam Istri-istri Para Nabi, berikut hal-hal tersebut: Pertama, julukan, nama panggilan, dan nama lain. Sayyidah Aisyah memiliki perangai yang sangat baik, berkulit putih, berparas elok, dan memiliki pipi kemerah-merahan. Karena itu, Nabi Muhammad menjulukinya dengan Humaira. Selain julukan, Sayyidah Aisyah juga memiliki nama panggilan dan nama lain. Dikisahkan bahwa suatu ketika Sayyidah Aisyah meminta Nabi Muhammad untuk membuatkan nama panggilan untuknya. Dia ingin seperti teman-temannya yang memiliki nama panggilan. Nama panggilan yang dimaksud di sini adalah nama panggilan dengan menggunakan nama salah satu anak, biasanya anak pertama. Nabi lantas memberi nama panggilan istrinya itu dengan anak laki-lakinya, Abdullah bin Zubair. Ada kisah tersendiri mengenai hal ini. Jadi, pada saat Abdullah bin Zubair lahir, Sayyidah Aisyah membawanya kepada Nabi Muhammad. Beliau kemudian memberikan ludahnya di bibir Abdullah dan itu merupakan sesuatu yang pertama kali masuk ke dalam perutnya. Atas dasar itu, Nabi kemudian memberi nama panggilan Aisyah dengan Ummu Abdullah. Hingga wafatnya, Aisyah kemudian dipanggil dengan nama panggilan Ummu Abdullah. Sayyidah Aisyah juga memiliki nama lain, yaitu Muwaffaqah (wanita yang diberi petunjuk). Hal ini sesuai dengan hadits riwayat at-Tirmidzi di kitab as-Syamail. Kedua, dinikahi Nabi karena perintah langsung Allah. Dalam sebuah riwayat, Sayyidah Aisyah pernah mengungkapkan bahwa alasan Nabi Muhammad menikahinya adalah 'karena mimpi.' Jadi suatu ketika, Nabi Muhammad bermimpi didatangi Jibril yang membawa secarik kain sutra dengan gambar Sayyidah Aisyah. Jibril mengatakan bahwa wanita dalam gambar itu adalah istrinya. Mimpi Nabi ini berulang hingga tiga kali. “Jika mimpi ini dari Allah, tentu Dia akan mengabulkannya,” kata Rasulullah merespons ucapan malaikat itu. Dan benar saja, akhirnya Allah mengabulkannya. Ketiga, pernah ‘dijodohkan’ dengan Jubair. Beberapa saat setelah Sayyidah Khadijah wafat, Nabi Muhammad disarankan untuk menikah kembali. Adalah Khaulah binti Hakim, sahabat Sayyidah Khadijah, yang meminta Nabi untuk menikah dengan Saudah binti Zam’ah dan juga Aisyah binti Abu Bakar. Singkat cerita, Nabi kemudian mengutus Khaulah untuk melamar Aisyah setelah beliau mempersunting Saudah. Namun Abu Bakar tidak langsung menerima lamaran Nabi. Ia meminta Khaulah untuk menunggu karena sebelumnya Muth’im bin Adi pernah meminta Aisyah untuk anak laki-lakinya, Jubair. Abu Bakar tidak ingin ingkar janji. Karenanya, dia mendatangi Muth’im dan menanyakan kembali perihal anaknya. Ternyata Muth’im tidak jadi mengawinkan anaknya dengan Aisyah. Dia khawatir anaknya akan masuk Islam manakala menikah dengan anak Abu Bakar tersebut. Riwayat lain, sebagaimana dijelaskan M. Quraish Shihab dalam Membaca Sirah Nabi Muhammad SAW (2018), Abu Bakar tidak lagi menghendaki anaknya dinikahi Jubair setelah mengetahui keburukan keluarga Muth’im. Setelah itu, Abu Bakar menerima lamaran Nabi. Keempat, jangka waktu rumah tangga dengan Nabi. Dari beberapa hadits yang diriwayatkannya, Sayyidah Aisyah mengaku hidup bersama Nabi Muhammad selama sembilan tahun. Nabi menikahinya ketika usia Aisyah sembilan tahun dan Nabi wafat ketika usia Aisyah 18 tahun. Kelima, lomba lari dengan Nabi. Sayyidah Aisyah dan Nabi Muhammad beberapa kali melakukan lomba lari. Biasanya lomba lari dilaksanakan ketika dalam perjalanan. Pada satu kesempatan, Nabi Muhammad yang menang. Di kesempatan lain, Sayyidah Aisyah yang menang. Al-Humaid, Abu Syaibah, Abu Daud, dan An-Nasai meriwayatkan satu hadits dari Aisyah bahwa suatu ketika Nabi Muhammad mengajak istrinya itu balapan lari. Maka keduanya berlomba dan Sayyidah Aisyah berhasil mengalahkan Nabi. “Ketika aku (Aisyah) gemuk, Rasulullah berlomba denganku dan berhasil mengalahkanku. Kemudian beliau bersabda, ‘Hai Humaira, ini pembalasan kekalahan yang dulu.” Keenam, menjadi sebab turunnya ayat tentang tayamum. Pada suatu hari Nabi Muhammad, Aisyah, dan para sahabat melakukan satu perjalanan. Pada saat sampai di al-Baida’ atau Daztu al-Jaisy—riwayat lain di al-Abwa’, kalung Aisyah terjatuh. Mengetahui hal itu, Nabi Muhammad berhenti untuk mencarinya. Karena pada saat itu rombongan tidak memiliki air dan di tempat itu tidak ada mata air, maka para sahabat mengadu kepada Abu Bakar perihal sikap Aisyah yang sampai membuat Nabi berhenti. “Engkau menahan Rasulullah dan orang-orang di tempat yang tidak ada mata airnya dan mereka tidak mempunyai air,” kata Abu Bakar kepada putrinya itu, sembari memarahinya. Nabi mencari kalung istrinya hingga malam, namun tidak ketemu juga. Pada pagi esok harinya, Nabi bangun dengan tidak ada air di sampingya. Namun kemudian Allah menurunkan wahyu tentang tayamum. Mereka pun bertayamum setelah menerima wahyu tersebut. Kalung tersebut ditemukan tanpa sengaja oleh Aisyah, ketika dia mencari unta yang dinaikinya dan ternyata kalungnya ada di bawahnya. Demikian lah keberkahan Sayyidah Aisyah sehingga Allah menjadikan jalan keluar darinya. Yakni tayamum untuk bersuci, manakala tidak ada air. Ketujuh, meriwayatkan 2.210 hadits. Sayyidah Aisyah adalah orang yang sangat cerdas, berwawasan luas, dan memiliki ingatan yang kuat. Atas semua itu, maka tidak heran jika ia meriwayatkan ribuan hadits dari Nabi Muhammad. Hadits sanad yang dimiliki Aisyah adalah 2.210 hadits. Bukhari dan Muslim sepakat terhadap 174 hadits dari riwayatnya. Bukhari sendiri meriwayatkan 54 hadits dari Aisyah, sementara Muslim 68 hadits. Aisyah dikenal sebagai orang yang otoritatif dalam hal keagamaan. Makanya, Sayyidah Aisyah bertugas memberi fatwa pada masa kekhalifahan Abu Bakar, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, dan seterusnya hingga ia wafat. Sayyidah Aisyah wafat pada malam Selasa, 17 Ramadhan tahun 58 H—riwayat lain 57 H- dalam usia 63 tahun—riwayat lain 66 atau 70 tahun. Abu Hurairah adalah sahabat yang ditugasi untuk memimpin shalat jenazah Sayyidah Aisyah. Sesuai dengan wasiatnya, Sayyidah Aisyah dimakamkan di Baqi. (
Sumber: https://nu.or.id/sirah-nabawiyah/tujuh-hal-tentang-sayyidah-aisyah-yang-jarang-diketahui-PeGwo). Blog ini dibuat dengan tujuan untuk menambah ilmu si Pembaca, tidak ada keuntungan Ekonomi sedikitpun yang diperoleh dari Pembuat. Tulisan diatas merupakan gabungan beberapa artikel dan ditulis juga sumbernya
Comments
Post a Comment