Abu Hurairah RA (H. Yudhi)
Abu Hurairah RA (H. Yudhi). Abdurrahman bin Shakhr Al-Azdi ( 603–679 M), yang lebih dikenal dengan panggilan Abu Hurairah , adalah seorang Sahabat Nabi yang terkenal dan merupakan periwayat hadits yang paling banyak disebutkan dalam isnad-nya oleh kaum Islam Sunni. Ibnu Hisyam berkata bahwa nama asli Abu Hurairah adalah Abdullah bin Amin dan ada pula yang mengatakan nama aslinya ialah Abdur Rahman bin Shakhr. #Masa muda# Abu Hurairah berasal dari kabilah Bani Daus dari Yaman. Ia diperkirakan lahir 21 tahun sebelum hijrah, dan sejak kecil sudah menjadi yatim. Ketika mudanya ia bekerja pada Basrah binti Ghazwan, yang kemudian setelah masuk Islam dinikahinya. Nama aslinya pada masa jahiliyah adalah Abdus-Syams (hamba matahari) dan ia dipanggil sebagai Abu Hurairah (ayah/pemilik kucing) karena suka merawat dan memelihara kucing. Diriwayatkan atsar oleh Imam At-Tirmidzi dengan sanad yang mauquf hingga Abu Hurairah.
Abdullaah bin Raafi' berkata, "Aku bertanya kepada Abu Hurairah, "Mengapa engkau bernama kuniyah Abu Hurairah?" Ia menjawab, "Apakah yang kau khawatirkan dariku?" Aku berkata, "Benar, demi Allah, sungguh aku khawatir terhadapmu." Abu Hurairah berkata, "Aku dahulu bekerja menggembalakan kambing keluargaku dan di sisiku ada seekor kucing kecil (Hurairah). Lalu ketika malam tiba aku menaruhnya di sebatang pohon, jika hari telah siang aku pergi ke pohon itu dan aku bermain-main dengannya, maka aku diberi kuniyah Abu Hurairah (bapaknya si kucing kecil)." #Menjadi muslim# Thufail bin Amru ad-Dausi, seorang pemimpin Bani Daus, kembali ke kampungnya setelah bertemu dengan Nabi Muhammad dan menjadi muslim. Ia menyerukan untuk masuk Islam, dan Abu Hurairah segera menyatakan ketertarikannya meskipun sebagian besar kaumnya saat itu menolak. Ketika Abu Hurairah pergi bersama Thufail bin Amru ke Makkah, Nabi Muhammad mengubah nama Abu Hurairah menjadi Abdurrahman (hamba Maha Pengasih) pada 7 H atau ketika Pertempuran Khaibar. Ia tinggal bersama kaumnya beberapa tahun setelah menjadi muslim, sebelum bergabung dengan kaum muhajirin di Madinah tahun 629 M. Abu Hurairah pernah meminta Nabi untuk mendoakan agar ibunya masuk Islam,"Ya Allah, berikanlah petunjuk kepada ibu Abu Hurairah," yang akhirnya ibunya masuk Islam, Abu Hurairah kembali menghadap Nabi dan meminta lagi doanya,"Ya Allah, jadikanlah kedua hambamu ini, dia dan ibunya dicintai hamba-hambaMu yang mukmin dan sebaliknya". Ia selalu menyertai Nabi Muhammad sampai dengan wafatnya Nabi tahun 632 M di Madinah. Abu Utsman An-Nahdi berkata, "Aku pernah bertamu di rurnah Abu Hurairah selama 7 hari. Ketika itu aku melihat dia, istri, dan pembantunya secara bergiliran bangun malam dan membaginya menjadi tiga bagian: yang ini shalat, kemudian membangunkan yang lain, dan jika yang satu shalat, dia membangunkan yang lain." #Peran politik# Umar bin Khattab pernah mengangkat Abu Hurairah menjadi gubernur wilayah Bahrain untuk masa tertentu pada 20 H / 640 M. Saat Umar bermaksud mengangkatnya lagi untuk yang kedua kalinya, ia menolak. Sepulang dari Bahrain, Abu Hurairah membawa setoran zakat 10.000 dirham (sekitar 40 juta rupiah), Umar terkejut dan memeriksa sumber kekayaan Abu Hurairah yang ternyata sesuai dan halal. Dari peristiwa ini kemudian muncul usulan pada Umar untuk memulai administrasi catatan keuangan negara mengikuti cara Bizantium, dan pembagian harta kekayaan rampasan perang dari Persia yang nilainya puluhan ribu dinar (ratusan miliar rupiah) kepada para keluarga Nabi dan sahabatnya. Abu Hurairah mengikuti pertempuran penaklukkan wilayah Persia bagian utara yaitu Jurjan, dipimpin Abdurrahman bin Rabiah bersama Salman al-Farisyi melawan orang-orang Turki yang dimenangkan pasukan muslimin. Saat Utsman bin Affan dikepung dan diserang pemberontak, Abu Hurairah termasuk sahabat yang berupaya melindungi Utsman dan memberi nasihat kepada pihak pemberontak. Ketika perselisihan terjadi antara Ali bin Abi Thalib dan Muawiyah bin Abu Sufyan, ia tidak berpihak kepada salah satu di antara mereka. #Periwayat dan Kesahihan hadis# Abu Hurairah meriwayatkan lebih dari 5.000 hadis, dengan 800 hadis diterima Bukhari, meskipun diketahui dalam biografi sahih Al-Bukhari bahwa Abu Hurairah baru mengenal Nabi Muhammad 3 tahun sebelum Nabi Muhammad meninggal dunia. Bahkan salah satu sahabat paling dekat Nabi Muhammad, Abu Bakar, hanya meriwayatkan 142 hadis. Salah satu kumpulan fatwa-fatwa Abu Hurairah pernah dihimpun oleh Syaikh As-Subki dengan judul Fatawa' Abi Hurairah. Namun begitu, ketidakseimbangan antar jumlah hadis dan waktunya yang terbatas bersama Nabi Muhammad membuat sejumlah penulis mempertanyakan keakuratan hadis dari Abu Huraihah. Abdullah Saeed memaparkan bahwa Khalifah Umar bin Khattab tercatat pernah beberapa kali mengancam Abu Hurairah dengan hukuman apabila ia ditemukan mengutip Nabi Muhammad dengan semena-mena. Memungkinkan juga jumlah besar riwayat Abu Huraihah tidak disebabkan oleh Abu Hurairah sendiri, namun penulis-penulis lain yang setelah masa hidupnya mengatasnamakan Abu Hurairah untuk hadis-hadis tambahan yang kurang kukuh. Imam Dzahabi menuturkan kemampuan menghafal Abu Hurairah yang luar biasa itu termasuk mukjizat kenabian selain karena umurnya yang masih muda. Abu Hurairah mengatakan bahwa Muhammad saw berkata kepadanya, "Tidakkah kamu meminta harta rampasan ini sebagaimana yang diminta oleh sahabatmu?" Aku menjiawab, "Aku hanya memintamu agar engkau mengajariku apa yang telah diajarkan Allah kepadamu." Kemudian beliau mengajariku hadis-hadis hingga aku merasa puas dengannya. Lalu Muhammad saw berkata, "Kumpulkan hadis-hadis itu dan jagalah!" Setelah itu aku tidak lupa satu huruf pun yang beliau sampaikan kepadaku. #Keturunan# Abu Hurairah termasuk salah satu di antara kaum fakir muhajirin yang tidak memiliki keluarga dan harta kekayaan, yang disebut Ahlush Shuffah, yaitu tempat tinggal mereka di depan Masjid Nabawi. Abu Hurairah mempunyai empat anak laki-laki yang bernama Al-Muharrir, Muharriz, Abdurrahman dan Bilal, serta seorang anak perempuan yang menikah dengan Said bin Musayyib, yaitu salah seorang tokoh tabi'in terkemuka. #Kematian# Pada tahun 678 atau tahun 57 H, Abu Hurairah jatuh sakit, meninggal di Madinah, dan dimakamkan di Jannatul Baqi 2 tahun sebelum meninggalnya Muawiyah. (sumber: https://id.wikipedia.org/wiki/Abu_Hurairah) *BIOGRAFI ABU HURAIRAH* Abu Hurairah dilahirkan tahun 19 sebelum Hijriyah. Nama Beliau sebelum memeluk Islam tidaklah diketahui dengan jelas, tetapi pendapat yang masyhur adalah Abdusy Syam. Sedangkan nama Islam nya yaitu Abdur-Rahman. Beliau berasal dari qabilah Al-dusi di Yaman. Beliau memeluk Islam pada tahun ke 7 Hijriyah ketika Rasulullah Berangkat menuju Khaibar. Ketika itu, ibunya belum menerima Islam bahkan menghina Rasulullah. Abu Hurairamenemui Rasulullah, meminta beliau berdo’a agar ibunya masuk Islam. Kemudian Abu Hurairah kembali menemui ibunya lalu mengajaknya masuk Islam. Ternyata ibunya telah berubah pikiran dan bersedia masuk Islam. Setelah pulang dari Perang Khaibar, Rasulullah ingin memperluas masjid Nabawi ke arah barat dengan menambah ruang sebanyak tiga tiang lagi. Ketika Rasulullah mengangkat batu untuk pondasi tiang, Abu hurairah langsung meminta agar beliau menyerahkan batu tersebut tetapi Rasulullah menolak dan berkata “Tiada kehidupan sebenarnya melainkan kehidupan akhirat”. Abu Hurairah sangat mencintai Rasulullah sehingga siapun yang Rasullah cintai, maka iapun ikut mencintainya. Misalnya, Abu Huraira suka menciumi Hasan dan Husein karena beliau melihat Rasulullah suka menciumi kedua cucunya. Beliau diberi gelar dengan nama “Abu Hurairah“ karena kegemarannya bermain dengan anak kucing. Diceritakan pada suatu hari ketika Abu Hurairah bertemu Rasulullah, beliau bertanya pada Abu Hurairah tentang apa yang ada di dalam lengan bajunya, lalu Abu Hurairah memperlihatkan bahwa di dalam lengan bajunya ada seekor anak kucing. Setelah itu beliau diberi gelar oleh Rasulullah` dengan nama “Abu Hurairah” dan semenjak itu beliau lebih suka di panggil nama gelar tersebut. Abu Hurairaha pindah ke Madinah untuk bekerja. Disana, beliau bekerja sebagai pekerja kasar atau kita lebih sering sebut dengan buruh. Beliau sering mengikatkan batu di perutnya untuk menahan rasa lapar, Diceritakan bahwa beliau berbaring menghampar di mimbar masjid sehingga orang-orang menyangka beliau sudah tidak waras lagi. Ketika Rasulullah` mendengar kabar tersebut, beliau langsung menemui Abu Hurairah dan menjelaskan kepada orang-orang bahwa Abu Hurairah berbuat seperti itu karena lapar. Lalu Rasulullah memberinya makanan. Abu Hurairaha adalah sahabat yang sangat dekat dengan Rasulullah. Beliau dikenal sebagai salah satu ahli shuffah, yaitu orang- orang miskin atau sedang menuntut ilmu yang tinggal di halaman masjid. Pada suatu hari beliau duduk di pinggir jalan dimana orang-orang berlalu-lalang. Waktu itu beliau melihat Abu Bakara berjalan, lalu beliau meminta agar dibacakan satu ayat Al-Qur’an. “Saya bertanya begitu supaya beliau mengajakku ikut dengannya dan memberiku pekerjaan”, kata Abu Hurairah. Akan tetapi Abu Bakara hanya membacakan ayat Al-Qur’an lalu kemudian pergi. Lalu melihat beliau melihat Umar ibn Khattaba dan berkata “ tolong ajari saya ayat Al-Qur’an”. Abu Hurairah kecewa lagi karena Umar melakukan hal yang sama dengan yang dilakukan oleh Abu Bakar. Tak lama kemudian datanglah Rasulullah. Nabi tersenyum, Abu Hurairaha berkata dalam hatinya, “beliau tahu apa isi hati saya dengan tepat, beliau bisa membaca raut muka saya dengan tepat,” Nabi memanggil “ya aba Hurairah!” Abu Hurairah menjawab “Labbaik, ya Rasulullah!”. Lalu Rasulullah berkata, “ikutilah aku!” beliau mengajak ke rumahnya. Didalam rumah didapati ada semangkuk susu “darimana datangnya susu ini?” tanya Rasulullah. Beliau telah bahwa seseorang telah memberikan susu itu. Rasullah memanggil, “ya Aba Hurairah!”Abu Hurairah pun menjawab “Labbaik, ya Rasulullah!””tolong panggilkan ahli suffah,” kata Rasulullah. Susu tadi dibagikan kepada ahli suffah, termasuk Abu Hurairah. Sejak itulah, Abu Hurairah mengabdi kepada Rasulullah, bergabung dengan ahli suffah di masjid. Abu Hurairah meriwayatkan banyak Hadits disebabkan karena beliau mendampingi Rasulullah selama tiga tahun, sejak Abu Hurairah memeluk Islam. Abu Hurairah berkata, “…….sesungguhnya saudara kami dari golongan muhajirin sibuk dengan urusan mereka dipasar dan orang-orang Anshar sibuk bekerja diladang mereka, sementara aku seorang yang miskin senantiasa bersama Rasulullah di mil’i batni. Aku hadir di majelis yang mereka tidak hadir dan aku hafal pada saat mereka lupa” (Hadits Riwayat Bukhari). Pada mulanya Abu Hurairah mempunyai ingatan yang lemah, lalu beliau mengadu kepada Rasulullah. Rasulullah` lalu mendo’akan Abu Hurairah agar di beri dengan daya ingat yang kuat. Semenjak itu, Abu Hurairah memiliki daya ingat yang kuat sehingga Abu Hurairah mampu meriwayatkan banyak Hadits bahkan yang terbanyak di kalangan para sahabat. #Kisah Abu Hurairah menjaga Gudang Zakat # Abu Hurairah pernah diberi tugas oleh Rasulullah untuk menjaga gudang hasil zakat. Pada suatu malam, Abu Hurairah melihat orang mengendap-ngendap akan mencuri, lalu ditangkapnya. Orang itupun akan dibawanya kepada Rasulullah, tetapi pencuri itu merayu minta dikasihani seraya menyatakan bahwa dia mencuri untuk memberi makan keluarganya yang kelaparan. Abu Hurairah merasa kasihan lalu melepas pencuri itu dengan syarat orang itu tidak mengulangi perbuatannya lagi. Keesokan harinya, peristiwa tersebut dilaporkan kepada Rasulullah` dan beliaupun tersenyum lalu menyatakan bahwa pencuri itu pasti akan kembali. Ternyata keesokan malamnya pencuri itu datang lagi. Sekali lagi Abu Hurairah menangkap pencuri itu lalu ingin diserahkannya kepada Rasullah`. Sekali lagi, pencuri tersebut merayu sehingga Abu Hurairah merasa kasihan lalu melepaskannya sekali lagi. Kesokan harinya beliau melaporkan kejadian tersebut kepada Rasulullah` dan Rasulullah` pun mengulagi sabda nya bahwa pencuri itu pasti kembali. Apabila pencuri itu ditangkap sekali lagi, Abu Hurairah mengancam akan membawanya kepada Rasulullah. Keesokan malamnya pencuri tersebut tertangkap lagi dan merayu agar dibebaskan sekali lagi. Ketika Abu Hurairah tidak mau membebaskan, pencuri tersebut menyatakan bahwa jika seseorang membaca ayat kursi sebelum tidur, syaitan tidak mengganggunya. Abu Hurairaha merasa tersentuh mendengar perkataan pencuri itu lalu melepaskannya. Keesokan harinya, beliau menceritakan peristiwa tersebut kepada Rasulullah` dan beliau bersabda “pencuri yang ditemuinya itu adalah pembohong besar, tetapi apa yang diajarkannya kepada Abu Hurairah itu adalah suatu perkara yang benar. Sebenarnya pencuri tersebut adalah Syaitan yang dilaknat.”. #Sikap Abu Hurairah terhadap fitnah yang terjadi pada masanya.# Walaupun Abu Hurairah merupakan orang yang miskin, namun pada suatu hari beliau dipinang oleh salah seorang majikannya yang kaya untuk dinikahkan dengan putrinya, Bisrah binti Gazwan. Ini menunjukkan bahwa Islam tidak memandang status sosial seseorang tapi yang dipandang adalah ketaqwaannya. Abu Hurairah dipandang mulia karena ke’aliman dan kesalihannya. Sejak menikah, Abu Hurairah membagi malamnya kedalam tiga bagian yaitu membaca Al-qur’an, istirahat dan keluarga, dan untuk mengulang-ngulang hadits. Beliau dan keluarganya tetap hidup sederhana walaupun telah menjadi orang kaya. Abu Hurairah suka bersedekah, menjamu tamu, bahkan memberikan rumahnya di Madinah untuk pembantu-pembantunya. Rasulullah pernah mengutus Abu Hurairah berdakwah ke Bahrain bersama Al-‘Ala ibnu Abdillah Alhadrami. Beliau juga pernah diutus bersama Quddamah untuk mengambil jizyah di Bahrain dengan membawa surat kepada Amir Al-munzir ibnu Sawa At-Tamimi. Kemudian Abu Hurairaha diangkat sebagai gubernur Bahrain ketika Umara menjadi Amirul Mu’minin. Tetapi pada 23 Hijriyah, Umar memberhentikannya karena Abu Hurairah di tuduh menyimpan uang sebanyak 10.000 dinar. Ketika diperiksa Abu Hurairah banyak memberikan bukti bahwa harta itu diperolehnya dari beternak kuda dan pemberian orang. Khalifah Umar menerima penjelasan itu dan memaafkannya. Lalu Abu Huraiarah diminta menerima jabatan gubernur kembali, tetapi beliau menolak. Khalifah Umar ibnu Khattaba penah melarang Abu Hurairah menyampaikan Hadits dan hanya boleh menyampaikan ayat Al-Qur’an. Ini disebabkan tersebar kabar Abu Hurairah banyak meriwayatkan Hadits palsu. Larangan khalifah kemudian dibatalkan setelah Abu Hurairah menjelaskan Hadits mengenai bahayanya Hadits palsu. “Barang siapa yang berdusta atas padaku (Nabi Muhammad`) secara sengaja, hendaklah mempersiapkan tempat duduknya dalam api neraka.”(Hadits Riwayat Bukhari, Muslim, Abu Dawud, At-Tirmidzi, Ibnu Majah, Ad-Darimi, dan Ahmad). Pada masa Amirul Mu’minin Ali bin Abi Thaliba, Abu Hurairah menolak tawaran menjadi gubernur Madinah. Ketika Mu’awiyah berkuasa, Abu Hurairah diangkat menjadi gubernur Madinah dengan asran dari Marwan ibn Hakam. Di kota yang penuh dengan cahaya (Al-Madinah A-Munawwarah) ini pula beliau menghembuskan nafas terakhirnya pada tahun 57 atau 58 Hijriyah(676-678 Masehi) dengan usia 78 tahun. Abu Hurairah meninggalkan Hadits sebanyak 5.374 Hadits. Hadits Abu Hurairah yang di sepakati oleh Imam Bukhari dan Muslim berjumlah 325 Hadits. Oleh Bukhari sendiri sebanyak 93 hadits dan oleh Muslim sendiri sebanyak 189 hadits. Hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah juga banyak terdapat dalam kitab-kitab hadits lainnya. (sumber: https://dppai.uii.ac.id/biografi-abu-hurairah/). #Rawiyatul Islam, Abu Hurairah# Nama, Kuniyah, Nasab dan Nisbahnya: Beliau adalah Abu Hurairah ‘Abdurrahman bin Shakhr Ad-Dausy Al-Yamany radiyallahu ‘anhu. Ada banyak pendapat lainnya yang disebutkan para ulama perihal nama beliau dan nama ayahnya. Diantaranya bahwa nama beliau sebelum memeluk agama islam adalah ‘Abdusy Syams yang bermakna penyembah matahari, lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengganti namanya menjadi ‘Abdullah. Sedangkan nama ayahnya disebutkan bernama ‘Amir, Namun riwayat yang lebih masyhur dan paling rajih bahwa nama beliau adalah ‘Abdurrahman bin Shakhr sebagaimana disebutkan oleh Al-Hafidz Adz-Dzahabi rahimahullah dalam “Siyar A’lam An-Nubalaa 2/578”. Beliau berasal dari negeri Yaman, suku Daus, olehnya nisbah beliau adalah Al-Yamany Ad-Dausy. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bertanya kepada Abu Hurairah, “Engkau berasal dari mana ?”, beliau menjawab, “Aku berasal dari suku Daus”, maka Rasulullah memberi kabar baik dengan sabdanya, “Aku tak pernah menyangka sebelumnya bahwa akan ada seseorang yang memiliki kebaikan sepertimu dari suku Daus.” Abu Hurairah pernah berkata kepada para sahabat, “Mengapa kalian memanggilku dengan kuniyah Abu Hurairah ? padahal Rasulullah telah memanggilku dengan sebutan “Abu Hirr”. Para sahabat radiyallahu ‘anhum memang lebih sering memanggil beliau dengan julukan Abu Hurairah, sebab beliau punya kebiasaan bermain dengan beberapa anak kucing peliharaannya selagi ia menggembalakan kambing-kambing milik keluarganya. Keislamannya: Beliau telah memeluk agama islam semenjak masih berada di negeri Yaman. Keislaman beliau setelah pulangnya pemimpin suku Daus Thufail bin ‘Amr dari kota Madinah dan menyebarkan islam di negeri Yaman. Pada tahun ketujuh hijriyyah, Abu Hurairah akhirnya melakukan hijrah ke kota Madinah untuk berbakti terhadap agama Allah subhanahu wata’ala. Ketika beliau datang, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabat telah berangkat menuju peperangan khaibar. Kota Madinah yang saat itu sedang kosong, diamanahkan kepada sahabat Siba’ bin ‘Urfuthah yang juga menjadi imam sholat rawatib di masjid nabawi. Abu Hurairah tiba tepat ketika sholat subuh didirikan, maka Siba’ membaca surah Maryam pada raka’at pertama, dan surah Al-Muthoffifin pada raka’at kedua. Usai melaksanakan sholat, Abu Hurairah bergumam, “Celakalah ayahku, karena sangat sedikit dari pedagang di kampung melainkan mereka pasti memiliki dua timbangan penakar, satu untuk keuntungan dirinya, dan yang satu dipakai untuk menipu para pembeli.” #Bentuk Fisik, Akhlak, dan Kehidupannya:# Beliau adalah seorang yang berperawakan baik dan lembut, tubuhnya bidang, rambutnya dikepang dua, janggutnya berwarna merah semir. Dilihat dari keadaannya, setiap orang akan tahu bahwa beliau adalah orang yang tidak memiliki harta. Beliau memang hijrah ke kota Madinah dengan membawa bekal seadanya saja sebab ‘azam yang membulatkan tekadnya untuk hijrah adalah menuntut ilmu dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Diantara bekal yang beliau bawa adalah seorang budak yang seyogyanya akan beliau jual, namun di tengah perjalanan budak itu melarikan diri darinya. Rumah beliau adalah masjid nabawi, ia tinggal bersama kurang lebih 70 orang ahlus suffah di dalamnya. Beberapa kali ia menggeliat bak orang gila atau kesurupan diantara mimbar Rasulullah dengan rumah ‘Aisyah atau yang dikenal dengan raudhah saat ini. Sahabat yang melihatnya kadang duduk di atas dadanya hendak membacakan ayat-ayat ruqyah kepadanya, maka Abu Hurairah lekas mendongak dan berkata, “Aku seperti ini karena rasa laparku.” #Guru-gurunya: # Tentu saja guru beliau yang paling mulia adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Guru dari seluruh guru, penghulu para Nabi dan Rasul Allah subhanahu wata’ala. Hidup di masjid nabawi memiliki keutamaan yang sangat besar bagi beliau. Beliau dapat mengikuti majelis-majelis ilmu Rasulullah, mendengarkan arahan dan nasehatnya, serta bertanya kepada Rasulullah. Namun beliau tidak membatasi diri dengan hanya menimba ilmu dari Rasulullah, sebab telah lewat masa perjuangan yang panjang dalam sejarah islam sedang Abu Hurairah tak berada di sana. Maka selama 4 tahun hidup bersama Rasulullah, Abu Hurairah terus fokus mempelajari Al Quran dan Hadits, serta bertanya kepada para sahabat senior seperti Abu Bakar, Umar, Ubay bin Ka’ab, Usamah bin Zaid, ‘Aisyah, Al-Fadhl bin ‘Abbas, Bashrah bin Abi Bashrah, dan Ka’ab Al-Habr. Hingga beliau mendulang ilmu yang lebih banyak dibandingkan sahabat lainnya bahkan tak seorangpun melebihi ilmu beliau. #Murid-muridnya:# Dengan membawa ilmu yang sangat banyak tersebut maka bukan sebuah hal yang mengherankan apabila beliau menjadi menara ilmu yang dituju oleh para sahabat sendiri dan tabiin yang datang setelah mereka. Berkata Imam Bukhari rahimahullah, “Jumlah murid beliau melebihi 800 orang.” #Menuntut Ilmu dan Khidmat Kepada Hadits:# Abu Hurairah juga digelar sebagai “Rawiyatul Islam” atau perawi agama islam karena beliau meriwayatkan hadits yang sangat banyak dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Bahkan terbanyak dari seluruh sahabat dengan jumlah 5.374 hadits. Menjadi tongkat estafet pertama yang menukilkan secara langsung syariat islam dan secara khusus hadits-hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kepada para ulama yang datang setelahnya. Tentu saja hal ini adalah khidmat dan kontribusi terbesar yang pernah dilakukan oleh seorang ulama hadits
Para sahabat sendiri merasa keheranan dengan hapalan hadits yang dimiliki oleh Abu Hurairah. Maka beliau menjelaskan, “Bahwa ketika orang-orang Muhajirin sibuk dengan ladang mereka, dan orang-orang Anshar sibuk dengan perniagaan mereka, di awktu yang sama aku justru sibuk dengan hadits Rasulullah, aku hadir dalam majelis beliau di saat mereka tak ada”. Memang semangat beliau dalam menuntut ilmu tidak ada duanya, hingga Rasulullah mempersaksikan hal tersebut ketika Abu Hurairah bertanya kepada beliau tentang orang yang paling berbahagia dengan syafaatnya, maka Rasulullah bersabda: “Sungguh Aku telah mengira wahai Abu Hurairah bahwa tidak akan ada seorangpun yang mendahuluimu untuk bertanya tentang hal tersebut karena semangatmu dalam mempelajari ilmu hadits. Orang yang paling berbahagia dengan syafaatku kelak pada hari kiamat adalah orang yang mengucapkan kalimat tauhid, tulus ikhlas dari dirinya.” (HR. Bukhari nomor 99). Abu Hurairah yang miskin dan memfokuskan dirinya pada ilmu dengan menghapal serta murajaah di masjid nabawi juga mendapatkan karunia doa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang mustajab. Seperti permintaan Abu Hurairah kepada Rasulullah untuk diajarkan ilmu yang diberikan Allah kepadanya, lalu Rasulullah menyobek sedikit kain pakaian Abu Hurairah dan membentangkannya, kemudian Rasulullah menyampaikan sebuah kalimat untuk dihapalkan Abu Hurairah, keesokan harinya Abu Hurairah dapat menghapal semua hadits Rasulullah tanpa kesalahan sedikitpun. Berdasarkan doa Rasulullah tersebut, maka para ulama menjadikan ajaibnya kekuatan hapalan Abu Hurairah sebagai salah satu bukti kenabian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. #Wafatnya:# Di akhir hidupnya setelah mengorbankan begitu banyak pengorbanan dan khidmat terhadap agama islam, Abu Hurairah jatuh sakit dan meninggal pada tahun 57 H di kota Madinah, dan dikuburkan di pekuburan Baqi’. (sumber: https://wahdah.or.id/siapakah-abu-hurairah/). Blog ini dibuat dengan tujuan untuk menambah ilmu si Pembaca, tidak ada keuntungan Ekonomi sedikitpun yang diperoleh dari Pembuat. Tulisan diatas merupakan gabungan beberapa artikel dan ditulis juga sumbernya.
Comments
Post a Comment