Abdurrahman bin Auf RA (H. Yudhi)

Abdurrahman bin Auf (H. Yudhi). Abdurrahman bin Auf (lahir 10 tahun setelah Tahun Gajah – meninggal 652 pada umur 73 tahun) adalah salah seorang dari sahabat Nabi Muhammad yang terkenal. Ia adalah salah seorang dari delapan orang pertama (As-Sabiqunal Awwalun) yang menerima agama Islam, yaitu dua hari setelah Abu Bakar. Abdurrahman bin Auf berasal dari Bani Zuhrah. Nama lengkapnya Abdurrahman bin Auf bin Abd bin Harits bin Zuhrah bin Kilab bin Murrah. Ia salah satu dari enam anggota syura. Salah seorang sahabat Nabi lainnya, yaitu Sa'ad bin Abi Waqqas, adalah saudara sepupunya. Abdurrahman juga adalah suami dari saudara seibu Utsman bin Affan, yaitu anak perempuan dari Urwa bint Kariz (ibu Utsman) dengan suami keduanya. Kaum muslimin pada umumnya menganggap bahwa Abdurrahman adalah salah seorang dari Sepuluh Orang yang Dijamin Masuk Surga. Ia berkulit putih, tampan, bermata indah, tebal dan panjang bulu matanya, berleher jenjang, besar kedua pundaknya, gigi serinya tanggal karena luka perang uhud sehingga sedikit pincang. #Kehidupan#Hijrah# Abdurrahman bin Auf merupakan salah satu sahabat dari kaum Muhajirin. Abdurrahman bin Auf menjadi salah satu sahabat yang melakukan hijrah ke Abysina (Ethiopia) dan juga hijrah ke Madinah lalu dipersaudarakan dengan Anshar bernama Saad bin Rabi. Ketika hijrah, ia meninggalkan seluruh hartanya di Makkah. Kemudian ia menjadi pebisnis di Madinah yang menguasai pasar dalam sektor riil. Ia lantas menikahi wanita Madinah dengan mahal emas sebesar biji kurma. Adapun saudarinya menikah dengan Bilal bin Rabah. Ketika Nabi mengutus Abdurrahman bin Auf ke Daumatul Jandal, beliau memakaikan surban ke pundaknya dengan kedua tangan beliau. Beliau juga berwasiat agar ia menikahi putri penguasanya yang bernama Tamadhar bin al-Ashbag binTsalabah. Abdurrahman berhasil menjalankan misinya. Sesuai dengan pesan Nabi, Abdurrahman menikahi putri penguasa Daumatul Jandal, dan dari pernikahan itu lahir seorang anak lelaki yang kelak akrab disapa Abu Salamah. Abdurrahman mengikuti semua peperangan bersama Nabi dari Perang Badar dan seterusnya. Nabi sempat solat dengan imam Abdurrahman. Pada masa Abu Bakar, ia memimpin haji di tahun 11 H dan juga di tahun 13 H di masa Umar. Saat Abu Bakar sakit menjelang wafat ia menjadi teman konsultasi untuk pengganti berikutnya yaitu Umar bin Khathab. #Masa Umar bin Khathab# Ketika harta rampasan dari Jalula' dibawa kepada Umar, ia berkata, "Ini tidak boleh disembunyikan di rumah mana pun sampai aku membaginya." Maka Abdurrahman bin Auf dan Abdullah bin Arqam menghabiskan malam itu dengan berjaga di halaman masjid. Ketika pagi tiba, Umar datang dengan banyak orang dan mengambil penutup harta rampasan itu yang menggunakan tikar penutup. Ketika ia melihat batu rubi, keris, peridot, dan permata (lainnya), ia menangis. Kemudian Abdurrahman berkata kepadanya, "Mengapa engkau menangis, Wahai Amirul Mukminin, bukankah ini merupakan kesempatan untuk bersyukur?". Umar berkata, "Tidak, demi Tuhan, bukan itu alasanku menangis. Demi Allah, Dia tidak pernah memberikan (yang seperti itu) kepada suatu kaum tanpa menimbulkan rasa dengki dan benci di antara mereka. Aku berdoa kepada Allah agar mereka tidak bertengkar karenanya, jika tidak, mereka akan berperang." Umar merasa gelisah tentang pembagian semua harta rampasan yang diperoleh di al-Qadisiyyah, sampai ayat Al-Qur'an "Harta rampasan yang telah ditetapkan Allah..." muncul padanya, yaitu tentang harta rampasan yang kelima. Maka Umar menyerahkan seperlima harta rampasan itu kepada orang-orang yang berhak menerimanya, dan ia memperlakukan seperlima harta rampasan dari Jalula sebagaimana ia memperlakukan harta rampasan dari al-Qadisiyyah, yakni dengan mengumpulkan para tetua, meminta nasihat mereka, dan memperoleh konsensus dari kaum Muslim. Akan tetapi, pertama-tama, ia membagikan hadiah-hadiah cuma-cuma kepada sebagian penduduk Madinah dari seperlima harta rampasan itu. Saat serah terima Palestina oleh Bizantium kepada Umar, Abdurrhaman ikut menemani pada 16 H (637 M). Saat wabah menyebar di Syam (Suriah), dan Umar hendak berkunjung, Abdurrahman menasihatkan untuk tidak mendatangi tempat berwabah sebagaimana sabda Nabi, maka Umar mengurungkan kepergiannya menemui Gubernur Abu Ubaidah yang terkepung wabah di Damaskus. Saat Umar ditikam ketika solat oleh Abu Lulu, Abdurrahman maju menggantikan sebagai imam solat. Abdurrahman semasa hidup menyedekahkan 8.000 dinar (sekitar 24 miliar rupiah) untuk perjuangan dakwah Nabi. Suatu hari ia menjual tanahnya pada Utsman bin Affan senilai 40.000 dinar (sekitar 240 miliar rupiah) lalu ia bagikan uangnya pada fakir dari Bani Zuhrah, kaum muhajirin dan Ummul Mukminin (para istri nabi). Abdurrahman bin Auf mewasiatkan 50.000 dinar untuk dakwah (sekitar 150 miliar rupiah) sehingga tiap orang mendapatkan 1.000 dinar (sekitar 3 miliar rupiah), adapun istri-istrinya mendapatkan warisan 320.000 dirham atau sekitar 1,2 miliar rupiah. Ia menikah 16 kali dan meninggalkan 30 anak keturunan. #Wafatnya# Abdurrahman bin Auf sempat pingsan lalu koma karena sakit, sehingga ia ditutupi kain, tiba-tiba kemudan ia terbangun kembali dan bertakbir sehingga mengagetkan orang-orang di sekelilingnya. Ia menceritakan perjalanan ruhiyahnya saat koma tersebut. Sebulan kemudian ia wafat di masa Khalifah Utsman di tahun 32 H pada usia 75 tahun dan dimakamkan di Pemakaman Baqi, Madinah. (sumber: https://id.wikipedia.org/wiki/Abdurrahman_bin_Auf). *Abdurrahman bin Auf, Sahabat Rasulullah yang Muda, Kaya dan Dermawan* Abdurrahman bin Auf adalah salah satu sahabat Rasulullah yang terkenal dengan kedermawanan dan keberaniannya. Ia lahir tahun 581 M, dan termasuk dalam golongan Assabiqunal Awwalun, yaitu orang-orang yang pertama kali masuk Islam, melalui Abu Bakar As-Siddiq di rumah Arqam bin Abi Arqan. Abdurrahman bin Auf adalah salah satu dari sepuluh sahabat yang diberi kabar gembira oleh Nabi Muhammad SAW bahwa ia akan masuk Surga. Ia masuk Islam, pada tahun 614 M. Saat itu usianya masih cukup muda yakni umur 31 tahun. Usia yang masih sangat produktif. Kendati masih muda, sumbangsihnya pada perjuangan Islam dan dakwah Rasulullah cukup besar. Anak muda seperti Abdurrahman bin Auf, seperti sahabat-sahabat Nabi yang masih muda lainnya [Ali bin Abi Thalib, Sa'ad bin Abi Waqqas dan Zaid bin Haritsah], memainkan peran kunci dalam menyebarkan ajaran Islam dan memperkuat komunitas Muslim di masa awal. Ia termasuk salah satu dari mereka yang berperan pada peristiwa-peristiwa penting dalam sejarah Islam, seperti Perang Badar dan Perang Uhud. Pasalnya, ia dikenal sebagai pengusaha kaya dan dermawan. Ia menggunakan hartanya untuk membantu perjuangan Nabi dan kaum Muslimin. Ketika Rasulullah SAW berdakwah di Makkah, Abdurrahman bin Auf adalah salah satu orang yang pertama kali menerima Islam. Ia bersedia meninggalkan harta benda dan keluarganya demi mengikuti Rasulullah. Salah satu kisah yang menunjukkan kedermawanan Abdurrahman bin Auf adalah ketika ia menawarkan seluruh harta bendanya kepada Rasulullah. Baca Juga Kisah Kemuliaan Hati Sayyidina Hasan bin Ali Cucu Rasulullah Hal ini dikisahkan oleh Ibnu Katsir dalam kitab al-Bidayah wa al-Nihayah, halaman 163, yang bersumber dari riwayat Ma'mar dari Az-Zuhri, bahwa Abdullah bin Auf pada masa Nabi SAW bersedekah dengan setengah hartanya, yaitu 4 ribu dinar. Tidak lama kemudian ia bersedekah dengan 40 ribu dinar, selanjutnya ia bersedekah lagi dengan 40 ribu dinar. Jumlah ini sungguh besar di zamannya, yakni berkisar Rp4,5 milyar. Tidak hanya itu, ia juga menyedekahkan 500 kuda untuk keperluan transportasi. Kemudian menambahkan 500 unta untuk berperang di jalan Allah. Kebanyakan harta yang dimiliki Abdurrahman bin Auf berasal dari perdagangan. Abdurrahman juga dijelaskan memerdekakan ribuan budak. Abdurrahman meninggalkan banyak harta setelah meninggal dunia, termasuk emas yang dipotong-potong dengan kapak sehingga membuat tangan orang-orang menjadi lelah. Emas yang sangat banyak itu, ia bagikan ke masyarakat yang luas. Dalam riwayat dikatakan untuk membagi emas itu, harus memotongnya dengan kapak agar bisa dibagi-bagikan kepada orang-orang. Sumber harta Abdurrahman, seperti yang yang telah disebutkan, berasal dari peternakan yang dia miliki. Dia memiliki 1.000 unta, 100 kuda, dan 3.000 domba yang digembalakan di Baqi'. Ini menunjukkan bahwa dia memiliki sejumlah besar hewan ternak yang diurus dan dipelihara untuk mendapatkan keuntungan. Peternakan seperti ini dapat menjadi sumber pendapatan yang signifikan, terutama dalam budaya Arab dan lingkungannya di mana peternakan ternak adalah mata pencaharian utama atau sumber utama harta. “Dia membebaskan beberapa budaknya, kemudian setelah itu meninggalkan harta yang banyak, termasuk emas yang dipotong dengan kapak sehingga melukai tangan para pria. Dia meninggalkan seribu unta, seratus kuda, dan tiga ribu domba yang merumput di Baqi'. Dia memiliki empat istri, dan salah satunya berdamai dari seperempat harga dengan delapan puluh ribu. Ketika dia meninggal, Utsman bin Affan menyalatkan jenazahnya, Saad bin Abi Waqqash mengusung jenazahnya, dan dia dimakamkan di Baqi' pada usia 75 tahun.” [Ibnu Katsir, al-Bidayah wa al-Nihayah, jilid VII, [Beirut; Dar al-Fikr, tt], halaman 164. Meskipun Abdurrahman bin Auf telah menjadi miliarder dan memiliki kekayaan yang luar biasa, dia tidak pernah melupakan kewajibannya sebagai seorang Muslim. Abdurrahman adalah seorang filantropis yang dermawan. Setelah hijrah ke Madinah, dia terkenal karena bersedekah secara besar-besaran. Dengan murah hati ia berikan harta benda dan sumber daya kepada umat Islam yang membutuhkan. Salah satu tindakan mulia Abdurrahman bin Auf adalah ketika Nabi Muhammad SAW mendirikan Baitul Mal (kas negara) di Madinah. Abdurrahman adalah salah satu sahabat yang memberikan kontribusi besar ke Baitul Mal ini. Dia memberikan separuh harta kekayaannya untuk membantu memenuhi kebutuhan umat Islam yang kurang beruntung. Tindakan ini menunjukkan dedikasinya untuk melayani masyarakat dan memastikan bahwa semua Muslim di Madinah mendapat perlindungan dan dukungan yang mereka perlukan. Tindakan Abdurrahman bin Auf ini mencerminkan nilai-nilai solidaritas dan kepedulian sosial antar-umat Islam pada masa itu. Baitul Mal berfungsi sebagai instrumen distribusi kekayaan dan sumber daya untuk memenuhi kebutuhan komunitas, dan kontribusi Abdurrahman bin Auf adalah salah satu contoh penting dari semangat kepedulian yang dijunjung tinggi dalam Islam. (Sumber: https://jateng.nu.or.id/keislaman/abdurrahman-bin-auf-sahabat-rasulullah-yang-muda-kaya-dan-dermawan-RZTeZ). *Kisah Sahabat Nabi Abdurrahman Bin Auf: Pengorbanan dan Keberkahan di Jalan Allah* Di antara para sahabat Rasulullah, Abdurrahman bin Auf adalah salah satu sahabat yang memiliki kedudukan sangat mulia dalam sejarah Islam. Kisah Sahabat Nabi Abdurrahman Bin Auf mencerminkan keteguhan iman, kebesaran jiwa, dan pengorbanan luar biasa di jalan Allah. Sebagai seorang yang kaya raya, Abdurrahman bin Auf tidak hanya dikenal karena kekayaannya, tetapi juga karena dermawannya dalam mendukung dakwah Islam. Artikel ini akan menggali lebih dalam tentang Kisah Sahabat Nabi Abdurrahman Bin Auf, bagaimana perjuangannya, serta pelajaran berharga yang bisa kita ambil dari kehidupan beliau. *Latar Belakang Kisah Sahabat Nabi Abdurrahman Bin Auf* Abdurrahman bin Auf adalah salah seorang sahabat Rasulullah yang berasal dari keluarga kaya dan terhormat di kalangan Quraisy. Sebelum masuk Islam, beliau dikenal sebagai seorang pedagang sukses yang memiliki banyak kekayaan. Namun, meskipun kehidupannya di dunia telah mapan, Kisah Sahabat Nabi Abdurrahman Bin Auf menunjukkan bagaimana beliau memilih untuk mengorbankan segala yang dimiliki demi agama Allah. Abdurrahman bin Auf memeluk Islam pada masa-masa awal dakwah Rasulullah, yang penuh dengan ujian dan tantangan. Seperti banyak sahabat lainnya, ia harus menghadapi tekanan besar dari kaum kafir Quraisy. Meskipun demikian, beliau tetap teguh memilih untuk berada di pihak Rasulullah. Kisah Sahabat Nabi Abdurrahman Bin Auf menunjukkan bahwa keimanan beliau tidak tergoyahkan oleh harta atau kedudukan duniawi, melainkan karena kecintaan yang mendalam kepada Allah dan Rasul-Nya. Setelah memeluk Islam, beliau turut serta dalam hijrah ke Madinah. Di sana, beliau menjadi bagian dari komunitas Muslim yang semakin berkembang. Kisah Sahabat Nabi Abdurrahman Bin Auf juga melibatkan berbagai kontribusi penting dalam memperkuat dakwah Islam, baik dari segi materi maupun moral. #Kisah Hijrah dan Persaudaraan dengan Sa'ad Bin Rabi'# Salah satu momen penting dalam Kisah Sahabat Nabi Abdurrahman Bin Auf adalah saat beliau melakukan hijrah dari Mekah ke Madinah. Sebagaimana diketahui, hijrah adalah peristiwa penting dalam sejarah Islam yang menandai awal dari perkembangan negara Islam di Madinah. Pada saat itu, Rasulullah mempersaudarakan para sahabat Muhajirin (orang-orang yang hijrah) dengan Anshar (penduduk Madinah). Kisah Sahabat Nabi Abdurrahman Bin Auf saat dipersaudakan dengan Sa’ad bin Rabi’ adalah salah satu kisah yang sangat terkenal. Sa’ad bin Rabi’ adalah seorang sahabat Anshar yang sangat kaya dan baik hati. Ketika dipersahabatkan dengan Abdurrahman bin Auf, Sa’ad menawarkan sebagian hartanya dan bahkan rumahnya kepada Abdurrahman. Namun, Kisah Sahabat Nabi Abdurrahman Bin Auf menunjukkan keteguhan hati Abdurrahman. Beliau dengan bijaksana menolak tawaran tersebut dan memilih untuk berdagang sendiri. Abdurrahman bin Auf menunjukkan kecerdasan dan keterampilan bisnisnya yang luar biasa. Dalam waktu singkat, beliau berhasil memperoleh kekayaan kembali, meskipun tanpa bantuan langsung dari Sa’ad. Kisah Sahabat Nabi Abdurrahman Bin Auf ini menggambarkan bagaimana Rasulullah mengajarkan pentingnya bekerja keras dan mandiri, serta menunjukkan keteguhan hati dalam mengambil keputusan yang tepat sesuai dengan prinsip-prinsip agama Islam. #Dermawan dan Kehidupan Sederhana# Salah satu aspek yang paling menonjol dalam Kisah Sahabat Nabi Abdurrahman Bin Auf adalah sifat dermawan beliau. Meskipun dikenal sebagai seorang pedagang kaya, beliau tidak pernah menyimpan kekayaan untuk kepentingan pribadi. Abdurrahman bin Auf sering kali menyumbangkan hartanya untuk perjuangan Islam, termasuk dalam perang-perang besar yang terjadi di masa Rasulullah, seperti Perang Uhud dan Perang Tabuk. Kisah Sahabat Nabi Abdurrahman Bin Auf mengajarkan kita tentang pentingnya keberkahan dalam kehidupan, yang tidak terletak pada banyaknya harta, tetapi pada bagaimana kita membelanjakan harta tersebut di jalan Allah. Pada saat Perang Tabuk, misalnya, beliau memberikan kontribusi besar dengan menyumbangkan 200 uqiyah emas, jumlah yang sangat besar pada waktu itu. Dengan sumbangan ini, Kisah Sahabat Nabi Abdurrahman Bin Auf menunjukkan bagaimana beliau menggunakan kekayaannya untuk mendukung dakwah dan perjuangan Islam. Namun, meskipun beliau kaya, Abdurrahman bin Auf hidup dengan sederhana. Beliau tidak pernah membiarkan kekayaan mengubah sifat rendah hati dan kesederhanaannya. Hal ini menjadi teladan bagi umat Islam bahwa dunia ini hanyalah sementara, dan kekayaan yang dimiliki harus digunakan untuk tujuan yang lebih mulia. #Kisah Keberkahan dalam Perdagangan Abdurrahman Bin Auf# Abdurrahman bin Auf dikenal sebagai seorang pedagang yang sangat sukses. Kisah Sahabat Nabi Abdurrahman Bin Auf dalam bidang perdagangan sangat menginspirasi, karena beliau memulai karir bisnisnya dengan bekerja keras dan tidak mengandalkan kemudahan apapun. Setelah hijrah ke Madinah, beliau memanfaatkan keahlian perdagangan yang dimilikinya dan segera meraih kesuksesan. Dalam Kisah Sahabat Nabi Abdurrahman Bin Auf, kita juga melihat bagaimana beliau menjaga prinsip-prinsip moral dalam bisnis. Ia tidak hanya berusaha untuk memperoleh keuntungan materi, tetapi juga berusaha untuk selalu jujur dan adil dalam setiap transaksi. Keberkahan dalam bisnisnya pun tak lepas dari keberkahan yang datang dari Allah, karena beliau senantiasa menempatkan agama di atas segalanya. Abdurrahman bin Auf juga dikenal sebagai seseorang yang memperhatikan kesejahteraan sesama. Dalam perdagangannya, beliau sering berbagi dengan orang-orang yang membutuhkan. Hal ini menunjukkan bahwa harta yang diperoleh tidak hanya untuk dirinya sendiri, tetapi juga untuk membantu orang lain dan mengangkat derajat umat Islam secara keseluruhan. #Kisah Sahabat Nabi Abdurrahman Bin Auf: Teladan Keimanan dan Pengorbanan# Kisah Sahabat Nabi Abdurrahman Bin Auf adalah contoh nyata dari seorang Muslim yang memiliki keseimbangan antara dunia dan akhirat. Beliau berhasil meraih kekayaan, tetapi tidak terbuai dengan dunia. Sebaliknya, kekayaan yang dimiliki digunakan untuk memperjuangkan agama Allah dan membantu sesama. Dalam hal ini, beliau menunjukkan bahwa kekayaan tidaklah haram, tetapi yang terpenting adalah bagaimana kita menggunakan kekayaan tersebut. Salah satu pelajaran yang dapat kita ambil dari Kisah Sahabat Nabi Abdurrahman Bin Auf adalah pentingnya berkorban untuk agama. Abdurrahman bin Auf mengorbankan hartanya, tenaganya, dan bahkan waktu-waktunya demi kelangsungan dakwah Islam. Semangat beliau untuk berjuang di jalan Allah adalah teladan bagi kita semua, terutama bagi mereka yang diberi nikmat lebih dalam hal materi. Selain itu, Kisah Sahabat Nabi Abdurrahman Bin Auf mengajarkan kita untuk tetap rendah hati meskipun memiliki segala bentuk kemewahan dunia. Beliau tidak pernah memperlihatkan kesombongan, dan selalu menjaga kesederhanaan dalam hidupnya. Kisah Sahabat Nabi Abdurrahman Bin Auf mengajarkan kita tentang kekuatan iman, pengorbanan, dan pentingnya menjaga keseimbangan dalam kehidupan. Sebagai seorang pedagang sukses dan dermawan, beliau menunjukkan bagaimana seorang Muslim seharusnya hidup—dengan hati yang penuh keikhlasan untuk membela agama Allah, serta sikap rendah hati dan dermawan terhadap sesama. Beliau adalah contoh nyata dari seorang Muslim yang memiliki kekayaan duniawi namun tetap menempatkan akhirat sebagai tujuan utama. Kisah Sahabat Nabi Abdurrahman Bin Auf akan selalu menjadi inspirasi bagi umat Islam untuk terus berjuang, bekerja keras, dan menggunakan segala nikmat yang diberikan oleh Allah untuk tujuan yang lebih mulia. (sumber: https://baznas.go.id/artikel-show/Kisah-Sahabat-Nabi-Abdurrahman-Bin-Auf:-Pengorbanan-dan-Keberkahan-di-Jalan-Allah/800). Blog ini dibuat dengan tujuan untuk menambah ilmu si Pembaca, tidak ada keuntungan Ekonomi sedikitpun yang diperoleh dari Pembuat. Tulisan diatas merupakan gabungan beberapa artikel dan ditulis juga sumbernya.

Comments

Popular posts from this blog

Ling Tien Kung dan Syari'at Islam (Oleh H. Yudhi)

Kedamaian di Perumahan Cibubur City (Oleh H. Yudhi)

Abu Bakar Siddiq RA (H. Yudhi)