KH. Wahab Hasbullah RA (H. Yudhi)

KH Wahab Hasbullah RA (H. Yudhi). Abdul Wahab Chasbullah (31 Maret 1888 – 29 Desember 1971) adalah Pahlawan Nasional Indonesia dan salah satu pendiri Nahdatul Ulama (NU). Ia adalah pengarang lagu Yaa Lal Wathan yang banyak dilantunkan warga NU. #Kehidupan Awal# Abdul Wahab Chasbullah lahir pada tanggal 31 Maret 1888 di Jombang. Ia adalah putra dari pasangan KH Hasbullah Said yang merupakan pengasuh Pondok Pesantren (PP) Tambakberas Jombang, dan Nyai Latifah. Ia mengenyam pendidikan di PP Langitan Tubah, PP Mojosari Nganjuk, PP Tawangsari Sepanjang, berguru pada Syekh Kholil al-Bangkalani Madura, dan PP Tebuireng Jombang di bawah kepengurusan KH Hasyim Asy'ari. Ia juga menimba ilmu dari Muhammad Mahfudz at-Tarmasi dan Syekh Said al-Yamani. #Lagu "Syubbanul Wathon"# Lagu "Syubbanul Wathan" atau yang popular disebut lagu "Yaa Lal Wathan" diciptakan oleh KH Abdul Wahab Chasbullah saat mendirikan organisasi gerakan bernama Syubanul Wathan tahun 1916 (sepuluh tahun sebelum Jami’iyyah Nahdlatul Ulama berdiri). ياَ لَلْوَطَنْ ياَ لَلْوَطَن ياَ لَلْوَطَنْ Ya Lal Wathon Ya Lal Wathon Ya Lal Wathon حُبُّ الْوَطَنْ مِنَ اْلإِيمَانْ Hubbul Wathon minal Iman وَلاَتَكُنْ مِنَ الْحِرْماَنْ Wala Takun minal Hirman اِنْهَضوُا أَهْلَ الْوَطَنْ Inhadlu Alal Wathon اِندُونيْسِياَ بِلاَدى Indonesia Biladi أَنْتَ عُنْواَنُ الْفَخَاماَ Anta ‘Unwanul Fakhoma كُلُّ مَنْ يَأْتِيْكَ يَوْماَ Kullu May Ya’tika Yauma طَامِحاً يَلْقَ حِماَمًا Thomihay Yalqo Himama Pusaka Hati Wahai Tanah Airku Cintamu dalam Imanku Jangan Halangkan Nasibmu Bangkitlah Hai Bangsaku Pusaka Hati Wahai Tanah Airku Cintamu dalam Imanku Jangan Halangkan Nasibmu Bangkitlah Hai Bangsaku Indonesia Negeriku Engkau Panji Martabatku Siapa Datang Mengancammu Kan Binasa di bawah durimu. #Keluarga# Ayah KH Abdul Wahab Hasbullah adalah KH Hasbulloh Said, Pengasuh Pesantren Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, sedangkan Ibundanya bernama Nyai Latifah. Kiai Wahab wafat pada 29 Desember 1971 dan dimakamkan di komplek Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, tepatnya di sisi barat Desa Tambakrejo, Kecamatan/Kabupaten Jombang. KH Abdul Wahab Chasbullah merupakan pahlawan Nasional dan Ulama inspirator, sertq salah satu pendiri dan penggerak organisasi masyarakat Nahdlatul Ulama (NU). Ia juga merupakan santri kinasih dari KH M. Hasyim Asyari. Kiai Wahab tercatat pernah menjadi lurah Pesantren Tebuireng. Makam Kiai Wahab terus mengalami renovasi demi kenyaman pengunjung. Pemerintah Kabupaten Jombang juga menaruh perhatian khusus ke sosok Kiai Wahab. Makam ini memiliki parkir yang luas, tempat peristirahatan. Makan dibuka selama 24 jam untuk umum. #Pendidikan# Ia juga seorang pelopor dalam membuka forum diskusi antar ulama, baik di lingkungan NU, Muhammadiyah, Perti dan organisasi lainnya. Ia belajar di Pesantren Langitan Tuban, Pesantren Mojosari Nganjuk, Pesantren Tawangsari Sepanjang, belajar pada Syaikhona R. Muhammad Kholil Bangkalan, Madura, dan Pesantren Tebuireng Jombang di bawah asuhan Hadratusy Syaikh KH. M. Hasyim Asy‘ari. Disamping itu, Kyai Wahab juga merantau ke Mekkah untuk berguru kepada Syaikh Mahfudz at-Tirmasi dan Syaikh Al-Yamani dengan hasil nilai istimewa. #Aktivitas di Nahdatul Ulama# KH. Abdul Wahab Hasbulloh merupakan bapak Pendiri NU Selain itu juga pernah menjadi Panglima Laskar Mujahidin (Hizbullah) ketika melawan penjajah Jepang. Ia juga tercatat sebagai anggota DPA bersama Ki Hajar Dewantoro. Tahun 1914 mendirikan kursus bernama “Tashwirul Afkar”. Tahun 1916 mendirikan Organisasi Pemuda Islam bernama Nahdlatul Wathan, kemudian pada 1926 menjadi Ketua Tim Komite Hijaz yang menemui Raja Arab Saudi. Amalan yang selalu KH Wahab baca yaitu Huwal Habib, bagian dari Salawat Burdah. KH. Abdul Wahab Hasbulloh juga seorang pencetus dasar-dasar kepemimpinan dalam organisasi NU dengan adanya dua badan, Syuriyah dan Tanfidziyah sebagai usaha pemersatu kalangan Tua dengan Muda. #Pelopor Kebebasan Berpikir# KH. A. Wahab Hasbullah adalah pelopor kebebasan berpikir di kalangan Umat Islam Indonesia, khususnya di lingkungan nahdhiyyin. KH. A. Wahab Hasbullah merupakan seorang ulama besar Indonesia. Ia merupakan seorang ulama yang menekankan pentingnya kebebasan dalam keberagamaan terutama kebebasan berpikir dan berpendapat. Untuk itu kyai Abdul Wahab Hasbullah membentuk kelompok diskusi Tashwirul Afkar (Pergolakan Pemikiran) di Surabaya pada 1914. Mula-mula kelompok ini mengadakan kegiatan dengan peserta yang terbatas. Tetapi berkat prinsip kebebasan berpikir dan berpendapat yang diterapkan dan topik-topik yang dibicarakan mempunyai jangkauan kemasyarakatan yang luas, dalam waktu singkat kelompok ini menjadi sangat populer dan menarik perhatian di kalangan pemuda. Banyak tokoh Islam dari berbagai kalangan bertemu dalam forum itu untuk memperdebatkan dan memecahkan permasalahan pelik yang dianggap penting. Tashwirul Afkar tidak hanya menghimpun kaum ulama pesantren. Ia juga menjadi ajang komunikasi dan forum saling tukar informasi antar tokoh nasional sekaligus jembatan bagi komunikasi antara generasi muda dan generasi tua. Karena sifat rekrutmennya yang lebih mementingkan progresivitas berpikir dan bertindak, maka jelas pula kelompok diskusi ini juga menjadi forum pengkaderan bagi kaum muda yang gandrung pada pemikiran keilmuan dan dunia politik. Bersamaan dengan itu, dari rumahnya di Kertopaten, Surabaya, Kyai Abdul Wahab Hasbullah bersama KH. Mas Mansur menghimpun sejumlah ulama dalam organisasi Nahdlatul Wathan (Kebangkitan Tanah Air) yang mendapatkan kedudukan badan hukumnya pada 1916. Dari organisasi inilah Kyai Abdul Wahab Hasbullah mendapat kepercayaan dan dukungan penuh dari ulama pesantren yang kurang-lebih sealiran dengannya. Di antara ulama yang berhimpun itu adalah Kyai Bisri Syansuri (Denanyar Jombang), Kyai Abdul Halim, (Leimunding Cirebon), Kyai Alwi Abdul Aziz, Kyai Ma’shum (Lasem) dan Kyai Cholil (Kasingan Rembang). Kebebasan berpikir dan berpendapat yang dipelopori Kyai Wahab Hasbullah dengan membentuk Tashwirul Afkar merupakan warisan terpentingnya kepada kaum muslimin Indonesia. Kyai Wahab telah mencontohkan kepada generasi penerusnya bahwa prinsip kebebasan berpikir dan berpendapat dapat dijalankan dalam nuansa keberagamaan yang kental. Prinsip kebebasan berpikir dan berpendapat tidak akan mengurangi ruh spiritualisme umat beragama dan kadar keimanan seorang muslim. Dengan prinsip kebebasan berpikir dan berpendapat, kaum muslim justru akan mampu memecahkan problem sosial kemasyarakatan dengan pisau analisis keislaman. Pernah suatu ketika Kiai Wahab didatangi seseorang yang meminta fatwa tentang Qurban yang sebelumnya orang itu datang kepada Kyai Bisri Syansuri. “Bahwa menurut hukum Fiqih berqurban seekor sapi itu pahalanya hanya untuk tujuh orang saja”, terang Kyai Bisri. Akan tetapi Si Fulan yang bertanya tadi berharap anaknya yang masih kecil bisa terakomodir juga. Tentu saja jawaban Kyai Bisri tidak memuaskan baginya, karena anaknya yang kedelapan tidak bisa ikut menikmati pahala Qurban. Kemudian oleh Kyai Wahab dicarikan solusi yang logis bagi Si Fulan tadi. “Untuk anakmu yang kecil tadi belikan seekor kambing untuk dijadikan lompatan ke punggung sapi”, seru kyai Wahab. Dari sekelumit cerita di atas tadi, kita mengetahui dengan jelas bahwa seni berdakwah di masyarakat itu memerlukan cakrawala pemikiran yang luas dan luwes. Kiai Wahab menggunakan kaidah Ushuliyyah “Maa laa yudraku kulluh, laa yutraku julluh”, Apa yang tidak bisa diharapkan semuanya janganlah ditinggal sama sekali. Di sinilah peranan Ushul Fiqih terasa sangat dominan dari Fiqih sendiri. #Seorang Inspirator GP Ansor# Dari catatan sejarah berdirinya GP Ansor dilahirkan dari rahim Nahdlatul Ulama (NU). Berawal dari perbedaan antara tokoh tradisional dan tokoh modernis yang muncul di tubuh Nahdlatul Wathan, organisasi keagamaan yang bergerak di bidang pendidikan Islam, pembinaan mubaligh dan pembinaan kader. KH. Abdul Wahab Hasbullah, tokoh tradisional dan KH. Mas Mansyur yang berhaluan modernis, akhirnya menempuh arus gerakan yang berbeda justru saat tengah tumbuhnya semangat untuk mendirikan organisasi kepemudaan Islam. Dua tahun setelah perpecahan itu, pada 1924 para pemuda yang mendukung KH. Abdul wahab hasbulloh –yang kemudian menjadi pendiri NU– membentuk wadah dengan nama Syubbanul Wathan (Pemuda Tanah Air). Organisasi inilah yang menjadi cikal bakal berdirinya Gerakan Pemuda Ansor setelah sebelumnya mengalami perubahan nama seperti Persatuan Pemuda NU (PPNU), Pemuda NU (PNU), dan Anshoru Nahdlatul Oelama (ANO). Nama Ansor ini merupakan saran KH. Abdul Wahab Hasbullah Diarsipkan 2020-06-10 di Wayback Machine. —ulama besar sekaligus guru besar kaum muda saat itu, yang diambil dari nama kehormatan yang diberikan Nabi Muhammad SAW kepada penduduk Madinah yang telah berjasa dalam perjuangan membela dan menegakkan agama Allah. Dengan demikian ANO dimaksudkan dapat mengambil hikmah serta teladan terhadap sikap, perilaku dan semangat perjuangan para sahabat Nabi yang mendapat predikat Ansor tersebut. Gerakan ANO harus senantiasa mengacu pada nilai-nilai dasar sahabat Ansor, yakni sebagi penolong, pejuang dan bahkan pelopor dalam menyiarkan, menegakkan dan membentengi ajaran Islam. Meski ANO dinyatakan sebagai bagian dari NU, secara formal organisatoris belum tercantum dalam struktur organisasi NU. Baru pada Muktamar NU ke-9 di Banyuwangi, tepatnya pada tanggal 10 Muharram 1353 H atau 24 April 1934, ANO diterima dan disahkan sebagai bagian (departemen) pemuda NU. Dimasukkannya ANO sebagai salah satu departemen dalam struktur kelembagaan NU berkat perjuangan kiai-kiai muda seperti KH. Machfudz Siddiq, KH. A. Wahid Hasyim, KH. Dachlan. (sumber: https://id.wikipedia.org/wiki/Abdul_Wahab_Chasbullah). *Peran dan Kontribusi KH Wahab Hasbullah, Ulama dan Pejuang NU* Abdul Wahab Hasbullah atau biasa disebut dengan Mbah Wahab merupakan salah satu tokoh pelopor pendiri organisasi Nadhdatul Ulama yang ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional pada November 2014. Mbah Wahab ini lahir di Jombang tepatnya di Tambakberas pada tanggal 31 Maret 1888. Beliau wafat pada tanggal 29 Desember 1971 pada usianya yang ke 83 tahun. Mbah Wahab ini dilahirkan pada kalangan Ulama dimana kehidupannya berada pada lingkup pesantren. Ayahnya bernama K.H. Hasbullah Said yang merupakan seorang pengasuh pondok Pesantren Tambakberas Jombang, Jawa Timur. Dan, ibunya bernama Nyai Latifah. #Pendidikan# KH Abdul Wahab Hasbullah adalah pelopor dalam sebuah forum diskusi diantara para ulama, baik organisasi NU, Muhammadiyah maupun organisasi lainnya. KH Abdul Wahab Hasbullah menempuh pendidikan di Pesantren Langitan Tuban, Pesantren Mojosari Nganjuk, Pesantren Tawangsari. Sepanjang di bawah asuhan Syekh Muhammad Kholil Bangkalan Madura dan Pesantren Tebuireng Jombang belajar pada KH Hasyim Asy’ari. Selain itu, Mbah Wahab juga merantau ke Makkah untuk belajar yang berguru pada Syaikh Mahfudz At-Tirmasi dan Syaikh Al-Yamani yang mendapatkan nilai yang bagus. #Peran# Peran KH Wahab Hasbullah dalam perjuangan NU sangat besar. Beliau terlibat dalam perjuangan untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia dari penjajahan Belanda dan juga berperan dalam memperjuangkan hak-hak kaum Nahdliyin, terutama di bidang agama dan sosial. Dalam mengatasi permasalahan bangsa ini, KH Wahab Hasbullah mendirikan organisasi pemuda Islam yang diberi nama Nahdlatul Wathan (Kebangkitan Negeri) pada tahun 1916. Untuk memperkuat organisasi pergerakan ini, Mbah Wahab juga mendirikan Nadhdlatul Tujjar (Kebangkitan Saudagar) yang bertujuan sebagai pusat penggalangan dana bagi perjuangan untuk kemerdekaan Indonesia pada tahun 1918. Sebelum mendirikan NU bersama dengan KH Hasyim Asy’ari, Mbah Wahab mendirikan Madrasah yang bernama Nahdlatul Wathan yang berarti Bangkitnya Tanah Air. Mbah Wahab pada waktu itu mengusulkan untuk mendirikan Nahdlatul Ulama, namun Mbah Hasyim mengatakan untuk akan melakukan istikhoroh terlebih dahulu. Pada tahun 1919, KH Wahab Hasbullah membentuk kelompok diskusi Tashwirul Afkar (Pergolakan Pemikiran) di Surabaya karena permasalahan yang dihadapi oleh bangsa Indonesia semakin pelik. Banyak tokoh Islam dari berbagai kalangan bertemu pada forum tersebut untuk memecahkan permasalahan yang sedang dihadapi oleh bangsa Indonesia. Mbah Wahab memberikan contoh pada generasi muda bahwa kebebasan berpikir dan berpendapat ini dapat menambah nuansa keberagaman. Pada tahun 1926, tanah air Indonesia yang masih terjajah oleh Belanda, Mbah Wahab dan ulama lainnya seperti KH Bisri Syamsuri dan KH Hasyim Asy'ari berusaha untuk memprakarsai berdirinya Nahdlatul ulama atau kebangkitan ulama. KH Wahab Hasbullah dan ulama lainnya melalui NU ini memiliki peran yang sangat besar dalam menyatukan umat Islam serta menyelesaikan persoalan-persoalan nasional. Pada awalnya, misi dari pendirian NU ini bukan sebagai partai politik. Namun dengan adanya campur tangan Belanda pada bidang keagamaan sehingga tidak dapat dibiarkan begitu saja akhirnya tindakan tersebut mendapatkan respon dari berbagai ulama. Sehingga dengan berbagai peran yang dilakukan oleh KH Wahab Hasbullah, Nahdhatul Ulama (NU) berhasil didirikan pada 31 Januari 1926. (sumber: https://www.netralnews.com/peran-dan-kontribusi-kh-wahab-hasbullah-ulama-dan-pejuang-nu/bmM5TFVUc3B6Y0ZXa0t5a1hHMFhBUT09). *KH. Abdul Wahab Chasbullah (1886–1971) Ulama Pejuang, Pendiri Nahdlatul Ulama* KH. Abdul Wahab Chasbullah lahir di Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, pada tahun 1886. Beliau merupakan ulama besar yang turut mendirikan Nahdlatul Ulama (NU) dan menjadi tokoh sentral dalam dunia pesantren serta pergerakan kebangsaan. Sejak kecil, Kiai Wahab dididik langsung oleh ayahnya, Kiai Chasbullah, dalam dasar-dasar Islam, termasuk Al-Qur’an, tauhid, fiqih, tasawuf, dan bahasa Arab. Pendidikan beliau berlanjut di berbagai pesantren ternama, antara lain Langitan (Tuban), Mojosari dan Cepaka (Nganjuk), Tawangsari (Sidoarjo), Bangkalan (Madura) di bawah asuhan Kiai Kholil, serta Tebuireng bersama KH. Hasyim Asy’ari. Pada usia 23 tahun, Kiai Wahab menuntut ilmu di Makkah selama lima tahun (1909–1914), berguru kepada ulama-ulama besar seperti Kiai Mahfudz Termas, Syaikh Ahmad Khatib Minangkabau, dan Syaikh Said Al-Yamani. Kiai Wahab dikenal sebagai sosok alim, aktif berdakwah, serta pemikir strategis. Gagasan-gagasannya dalam membangkitkan kesadaran politik dan sosial umat Islam diwujudkan dalam organisasi Nahdlatul Wathan dan Tashwirul Afkar, yang kelak menjadi cikal bakal berdirinya Nahdlatul Ulama pada 1926. Melalui pendekatan ilmiah dan debat terbuka, beliau berhasil mengajak banyak ulama untuk terlibat dalam perjuangan kebangsaan. Selain dikenal sebagai pejuang intelektual, Kiai Wahab juga seorang ahli qasidah, seni baca Al-Qur’an, bahkan mahir dalam silat. Beliau disegani oleh banyak kalangan karena keilmuannya, kepribadiannya yang bersahaja, serta kemampuannya memadukan tradisi pesantren dengan semangat kebangsaan dan kemodernan. KH. Wahab Chasbullah wafat pada hari Rabu, 11 Dzulqa’dah 1391 H atau 29 Desember 1971 M, dan dimakamkan di kompleks makam keluarga Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang. Warisan perjuangannya tetap hidup dalam semangat Ahlussunnah wal Jama’ah dan gerakan NU hingga hari ini. (sumber: https://www.tambakberas.com/artikel/kh-abdul-wahab-chasbullah-18861971-ulama-pejuang-pendiri-nahdlatul-ulama). Blog ini dibuat dengan tujuan untuk menambah ilmu si Pembaca, tidak ada keuntungan Ekonomi sedikitpun yang diperoleh dari Pembuat. Tulisan diatas merupakan gabungan beberapa artikel dan ditulis juga sumbernya.

Comments

Popular posts from this blog

Ling Tien Kung dan Syari'at Islam (Oleh H. Yudhi)

Kedamaian di Perumahan Cibubur City (Oleh H. Yudhi)

Abu Bakar Siddiq RA (H. Yudhi)