Sholahuddin al Ayyubi RA (H. Yudhi)

Solahuddin al Ayyubi RA (H. Yudhi). Salahuddin Yusuf Ibn Ayyub (c. 1138 - 4 Maret 1199) adalah seorang panglima perang dan pejuang muslim Kurdi dari Tikrit (daerah utara Irak saat ini). Ia mendirikan Dinasti Ayyubiyyah di Mesir, Suriah, sebagian Yaman, Irak, Mekkah-Medinah Hejaz dan Diyar Bakr Oman Palestina. Dia lebih dikenal dengan nama julukannya yaitu, 'Salah Aladin al-Ayyubi / Saladin / Salah ad-Din'. Salahuddin terkenal di dunia Islam karena memimpin, strategi militer, dan sifatnya yang ksatria dan adil pada saat ia berperang melawan Ksatria Salib. Salahuddin Al Ayyubi juga adalah seorang Ulama. Ia memberikan catatan kaki dan penjelasan kitab sunan hadits Abu Dawud. #Latar belakang# Shalahuddin Al-Ayyubi berasal dari bangsa Kurdi. Ayahnya Najmuddin Ayyub dan pamannya Asaduddin Syirkuh hijrah (migrasi) meninggalkan kampung halamannya dekat Danau Van dan pindah ke daerah Tikrit (Irak). Shalahuddin lahir di benteng Tikrit, Irak tahun 532 H/1138 M, ketika ayahnya menjadi penguasa Seljuk di Tikrit. Saat itu, baik ayah maupun pamannya mengabdi kepada Imaduddin Zanki, gubernur Seljuk untuk kota Mosul, Irak. Ketika Imaduddin berhasil merebut wilayah Balbek, Lebanon tahun 534 H/1139 M, Najmuddin Ayyub (ayah Shalahuddin) diangkat menjadi gubernur Baalbek dan menjadi pembantu dekat Raja Suriah Nuruddin Mahmud. Selama di Baalbek inilah, Shalahuddin mengisi masa mudanya dengan menekuni teknik perang, strategi, maupun politik. Setelah itu, Shalahuddin melanjutkan pendidikannya di Damaskus untuk mempelajari teologi Sunni selama sepuluh tahun, dalam lingkungan istana Nuruddin. Pada tahun 1169, Shalahudin diangkat menjadi seorang wazir (konselor). Di sana, dia mewarisi peranan sulit mempertahankan Mesir melawan penyerbuan dari Kerajaan Latin Jerusalem di bawah pimpinan Amalrik I. Posisi ia awalnya menegangkan. Tidak ada seorangpun menyangka dia bisa bertahan lama di Mesir yang pada saat itu banyak mengalami perubahan pemerintahan di beberapa tahun belakangan oleh karena silsilah panjang anak khalifah mendapat perlawanan dari wazirnya. Sebagai pemimpin dari prajurit asing Syria, dia juga tidak memiliki kontrol dari Prajurit Shiah Mesir, yang dipimpin oleh seseorang yang tidak diketahui atau seorang Khalifah yang lemah bernama Al-Adid. Ketika sang Khalifah meninggal bulan September 1171, Saladin mendapat pengumuman Imam dengan nama Al-Mustadi, kaum Sunni, dan yang paling penting, Abbasid Khalifah di Baghdad, ketika upacara sebelum Shalat Jumat, dan kekuatan kewenangan dengan mudah memecat garis keturunan lama. Sekarang Saladin menguasai Mesir, tetapi secara resmi bertindak sebagai wakil dari Nuruddin, yang sesuai dengan adat kebiasaan mengenal Khalifah dari Abbasid. Saladin merevitalisasi perekonomian Mesir, mengorganisir ulang kekuatan militer, dan mengikuti nasihat ayahnya, menghindari konflik apapun dengan Nuruddin, tuannya yang resmi, sesudah dia menjadi pemimpin asli Mesir. Dia menunggu sampai kematian Nuruddin sebelum memulai beberapa tindakan militer yang serius: Pertama melawan wilayah Muslim yang lebih kecil, lalu mengarahkan mereka melawan para prajurit salib. Dengan kematian Nuruddin (1174) dia menerima gelar Sultan di Mesir. Disana dia memproklamasikan kemerdekaan dari kaum Seljuk, dan dia terbukti sebagai penemu dari dinasti Ayyubid dan mengembalikan ajaran Sunni ke Mesir. Dia memperlebar wilayah dia ke sebelah barat di maghreb, dan ketika paman dia pergi ke Nil untuk mendamaikan beberapa pemberontakan dari bekas pendukung Fatimid, dia lalu melanjutkan ke Laut Merah untuk menaklukan Yaman. Dia juga disebut waliullah yang artinya teman Allah bagi kaum muslim Sunni. Tahun 559-564 H/ 1164-1168 M. Sejak itu Asaduddin, pamannya diangkat menjadi Perdana Menteri Khilafah Fathimiyah. Setelah pamannya meninggal, jabatan Perdana Menteri dipercayakan Khalifah kepada Shalahuddin Al-Ayyubi. Shalahuddin Al-Ayyubi berhasil mematahkan serangan Tentara Salib dan pasukan Romawi Bizantium yang melancarkan Perang Salib kedua terhadap Mesir. Sultan Nuruddin memerintahkan Shalahuddin mengambil kekuasaan dari tangan Khilafah Fathimiyah dan mengembalikan kepada Khilafah Abbasiyah di Baghdad mulai tahun 567 H/1171 M (September). Setelah Khalifah Al-'Adid, khalifah Fathimiyah terakhir meninggal maka kekuasaan sepenuhnya di tangan Shalahuddin Al-Ayyubi. Sultan Nuruddin meninggal tahun 659 H/1174 M, Damaskus diserahkan kepada puteranya yang masih kecil Sultan Salih Ismail didampingi seorang wali. Di bawah seorang wali terjadi perebutan kekuasaan di antara putera-putera Nuruddin dan wilayah kekuasaan Nurruddin menjadi terpecah-pecah. Shalahuddin Al-Ayyubi pergi ke Damaskus untuk membereskan keadaan, tetapi ia mendapat perlawanan dari pengikut Nuruddin yang tidak menginginkan persatuan. Akhirnya Shalahuddin Al-Ayyubi melawannya dan menyatakan diri sebagai raja untuk wilayah Mesir dan Syam pada tahun 571 H/1176 M dan berhasil memperluas wilayahnya hingga Mosul, Irak bagian utara. #Naik ke kekuasaan# Di kemudian hari Salahudin menjadi wazir pada 1169, dan menerima tugas sulit mempertahankan Mesir dari serangan Raja Latin Yerusalem, khususnya Amalric I. Kedudukannya cukup sulit pada awalnya, sedikit orang yang beranggapan ia akan berada cukup lama di Mesir mengingat sebelumnya telah banyak terjadi pergantian kekuasaan dalam beberapa tahun terakhir disebabkan bentrok yang terjadi antar anak-anak Kalifah untuk posisi wazir. Sebagai pemimpin dari pasukan asing Suriah, dia juga tidak memiliki kekuasaan atas pasukan Syi'ah Mesir yang masih berada di bawah Khalifah yang lemah, Al-Adid. Berakhirnya kekuasaan yang dipimpin khalifah al-Adid maka Salahudin pun menguasai mesir dengan sebutan Dinasti Ayyubiyah. #Membebaskan Palestina# Shalahuddin dikenal luas karena pembebasan Palestina dari Pasukan Salib pada tahun 1187 M setelah Pertempuran Hattin mengalahkan Guy Lusignan di wilayah padang luas berumput antara Palestina dan Damaskus pada 24 Rabiul Awal 583 H. Upaya Shalahuddin untuk membebaskan Palestina dipersiapkan selama 15 tahun sejak menjadi Perdana Menteri di Mesir, kemudian memimpin Damaskus dan membuat rekonsiliasi dengan berbagai penguasa muslim di sekitarnya. Tepat pada hari Jumat 27 Rajab 583 H Shalahuddin memasuki Baitul Maqdis membangun kembali kedamaian dengan mengijinkan peziarah Kristiani aman memasuki Palestina. Shalahuddin dikenal dengan kemurahan hatinya dalam pembebasan Palestina dengan damai tanpa ada pertumpahan darah dimana pasukan salib beserta penduduk Krisitani lainnya dipersilahkan dengan aman pindah ke wilayah pesisir (sekarang Lebanon) dipimpin Balian. #Perang Salib ke 3# Jatuhnya Palestina kembali ke tangan muslimin, melahirkan Perang Salib ke 3 pada tahun 1189-1192 dimana Raja Inggris Richard si Hati Singa datang ke pesisir melalui jalur laut. Peristiwa ini juga dikenal di Inggris karena penguasa setempat menaikkan pajak tinggi untuk rakyatnya dengan nama Pajak Shalahuddin (Saladin Tithe). Selama 2 tahun terjadi pertempuran kecil di Arsuf dan Jaffa pada tahun 1191-1992 dimana dikenal dalam sejarah Richard sempat terluka dan mendapatkan tawaran pengobatan oleh Shalahuddin dengan mengirimkan tabib (dokter) ke kemah lawan secara rahasia. Akhirnya kedua pihak berdamai melalui proses negosiasi selama 1 tahun lebih dan Richard kembali ke Eropa. #Kematian# Pada pertengahan bulan Safar 589 H, Salahuddin Ayyubi mengadakan perjalanan kembali dari Baitul Maqdis di Suriah menuju ke Mesir. Namun ia sakit selama 10 hari dalam perjalanannya dan pulang kembali ke Damaskus, Suriah. Setelah menyambut kedatangan jamaah haji, diiringi Qadhi al-Fadhil dan Syekh Abu Jafar, akhirnya Salahuddin Ayyubi akhirnya meninggal pada subuh hari Kamis tanggal 28 Safar 589 H atau 4 Maret 1193 M dalam usia 57 tahun. Ia dimakamkan di lingkungan Masjid Umayyah Damaskus. (sumber: https://id.wikipedia.org/wiki/Salahuddin_Ayyubi). *Biografi Salahuddin Al Ayyubi, Pendiri Dinasti Ayyubiyah* Salahuddin Al Ayyubi adalah seorang jenderal dan pejuang Islam yang berasal dari Tikrit, sebelah utara Irak saat ini. Orang-orang Eropa mengenalnya sebagai Saladin, seorang jenderal hebat yang gagah berani memerangi tentara Salib. Selain itu, Salahuddin Al Ayyubi dikenal sebagai pendiri Dinasti Ayyubiyah, yang kekuasaannya meliputi Mesir, Suriah, Mekkah, Madinah, sebagian Yaman, Irak, dan Palestina. Baca juga: Dinasti Ayyubiyah: Sejarah, Masa Kejayaan, Raja-raja, dan Keruntuhan Kehidupan awal Salahuddin Al Ayyubi lahir di benteng Tikrit, Irak, pada 532 H/1138 M ketika ayahnya, Najmuddin Ayyub, menjadi penguasa Seljuk di Tikrit di bawah Imaduddin Zanki, gubernur Seljuk untuk Kota Mosul di Irak. Ketika Imaduddin berhasil merebut wilayah Baalbek di Lebanon pada 534 H/1139 M, Najmuddin Ayyub diangkat menjadi gubernurnya. Setelah Piala Gothia, Terbit Elite Pro Academy dan Tim U-17 Indonesia Artikel Kompas.id Selama di Baalbek inilah, Salahuddin mengisi masa mudanya dengan menekuni teknik, strategi, maupun politik perang. Ia juga mengenyam pendidikan di Damaskus untuk memelajari teologi Sunni selama sepuluh tahun. Pada 1164, ia dikirim oleh penguasa Damaskus ke Mesir untuk membantu Dinasti Fatimiyah melawan serangan tentara Salib. Baca juga: Penyebab Terjadinya Perang Salib Menjadi Wazir Mesir Di Mesir, Salahuddin diminta untuk mempertahankan wilayah itu dari serbuan Kerajaan Latin Yerusalem di bawah pimpinan Amalrik I. Meski saat itu dinamika politik di Mesir sangat keras dan ia tidak memiliki kuasa atas tentara yang masih di bawah pimpinan Al-Adid, wazir (setara perdana menteri) yang lemah, Salahuddin dan pamannya, Syirkuh, mampu mempertahankan Mesir. Setelah Al-Adid meninggal, Syirkuh diberi kepercayaan menggantikan posisinya sebagai wazir karena telah berhasil memertahankan Mesir. Namun, hanya dalam waktu dua bulan, Syirkuh meninggal dan jabatan Wazir Mesir akhirnya dipegang oleh Salahuddin pada 1169. Begitu menjabat sebagai Wazir Mesir, Salahuddin mulai merevitalisasi perekonomian dan mengorganisir ulang kekuatan militer. Baca juga: Muhammad Ali Pasha, Peletak Dasar Mesir Modern Mendirikan Dinasti Ayyubiyah Sejak awal, Salahuddin Al Ayyubi memiliki ambisi menggantikan Islam Syiah (Dinasti Fatimiyah) di Mesir dengan Sunni dan memerangi orang-orang Franka dalam Perang Salib. Karena posisi Dinasti Fatimiyah semakin lemah, Salahuddin pun mampu menggantikannya dengan Dinasti Ayyubiyah yang didirikannya pada 1171. Setelah resmi mendirikan Dinasti Ayyubiyah, Salahuddin kemudian mengembalikan ajaran Sunni ke Mesir. Ambisi Salahuddin untuk menggeser aliran Syiah dengan Islam Sunni pun tercapai. Segera setelah berkuasa, ia juga melakukan ekspansi wilayah dengan menguasai Yaman pada 1174 dan Suriah pada 1180-an. Salahuddin yang berhasil menyatukan berbagai wilayah Islam membuatnya dikenal sebagai khalifah yang memiliki kerajaan terbesar saat itu. Dengan kekuatannya itu, Salahuddin menggunakannya untuk kampanye menaklukkan Yerusalem. Baca juga: Asal-usul Perpecahan Islam Sunni dan Syiah Menaklukkan Yerusalem Pada masa pemerintahan Salahuddin Al Ayyubi, ia juga berhasil merebut Yerusalem dari Kerajaan Yerusalem. Peristiwa ini terjadi setelah Raja Guy dari Lusignan mendukung Raynald dari Chatillon untuk menyerang peziarah dan pedagang Muslim. Bahkan Raja Guy dari Lusignan mengancam akan menyerang kota Mekkah dan Madinah. Merespons ancaman itu, Salahuddin menyerang Yerusalem pada 4 Juli 1187 yang kemudian dikenal dengan Perang Hattin. Setelah berhasil menguasai daerah sekitar Yerusalem, Salahuddin menangkap Raynald dan mengeksekusinya. Pasukan Salahuddin kemudian bergerak ke Yerusalem dan mengepungnya pada September 1187. Yerusalem akhirnya berhasil dikuasai oleh Salahuddin Al Ayyubi pada 2 Oktober 1187. Setelah berhasil menguasai Yerusalem, Salahuddin kemudian dihadapkan dengan pasukan Salib yang dipimpin oleh Raja Richard dari Inggris. Pertempuran dengan tentara Salib berakhir dengan perjanjian damai antara Salahuddin Al Ayyubi dan Richard dari Inggris. Wafat Beberapa tahun setelah serangan tentara Salib di bawah pimpinan Raja Richard dari Inggris, Salahuddin Al Ayyubi meninggal dunia. Kematian Salahuddin Al Ayyubi terjadi pada 1192, setelah melakukan Perjanjian Ramla dengan Raja Richard. Dalam perjanjian itu, Yerusalem tetap dikuasai Muslim dan terbuka bagi peziarah Kristen. (sumber: https://www.kompas.com/stori/read/2022/01/12/130000979/biografi-salahuddin-al-ayyubi-pendiri-dinasti-ayyubiyah?page=2.). *Sosok Salahuddin Al-Ayyubi, Sang Pejuang Islam Penakluk Perang* Salahuddin Al-Ayyubi adalah nama yang tidak pernah pudar dari lembaran sejarah Islam. Ia dikenal sebagai pemimpin yang tak hanya berjasa dalam medan perang, tetapi juga sebagai simbol kebijaksanaan dan keadilan. Dengan gelar al-Malik al-Nashir yang berarti 'penguasa yang bijaksana'. Salahuddin memimpin umat Islam menghadapi berbagai tantangan besar. Perang Salib yang menjadi salah satu momen paling bersejarah dalam perjuangannya. Sebagai panglima perang ia harus memikirkan taktik, tetapi juga Salahuddin berperan membangun peradaban Islam yang kuat dan berakar pada nilai-nilai keimanan. Salahuddin berasal dari keluarga Kurdish yang memiliki tradisi kepemimpinan. Sejak kecil, ia sudah ditempa dengan ilmu agama dan strategi militer, menjadikannya sosok yang tangguh dan visioner. Keberhasilannya membebaskan Jerusalem dari kekuasaan pasukan Salib tidak hanya menunjukkan kejeniusannya sebagai seorang pemimpin militer, tetapi juga memperlihatkan sisi kemanusiaannya yang penuh kebijaksanaan. #Siapa Salahuddin Al-Ayyubi?# Sosoknya digambarkan oleh Muhammad Ash-Shayim dalam bukunya yang berjudul Shalahuddin Al-Ayyubi. Diceritakan di bagian utara Irak ada sebuah benteng bernama Tekrit, yang dipimpin oleh Najm ad-Din Ayyub atau dikenal Najmuddin. Di bawah kepemimpinan Najmuddin yang baik hati dan peduli pada rakyat, benteng itu begitu aman. Pada tahun 532 H atau 1137 M, lahir anak Najmuddin yang diberi nama Abul Muzhaffar Yusuf bin Najmuddin bin Ayyub bin Syaadi. Ia kemudian dikenal dengan nama Shalahuddin al-Ayyubi. Anak itu kemudian besar dan diasuh oleh sang ayah. Sosok Najmuddin telah menginspirasi generasi demi generasi untuk memperjuangkan keadilan dengan cara yang bermartabat. Shalahuddin sering mendengar cerita-cerita sejarah dan keagungan masa lalu dari ayahnya. Dari situ, terciptalah kecintaaan untuk berjuang dalam hati Shalahuddin. Hal itu juga memupuk semangat patriotisme dalam dadanya. Shalahuddin dididik dengan baik dalam keluarga yang terhormat. Akibatnya ia dapat menghafal Al-Qur'an pada usianya yang kesepuluh. Ia rajin hadir di majelis ilmu, fiqih, hadits, dan tafsir. Salahuddin Al-Ayyubi selalu terlihat sebagai sosok yang menonjol pada banyak bidang. Bahkan setelah akhirnya tahta Najm ad-Din Ayyub kembali, ia terpilih menjadi seorang Gubernur Baalbek. Dalam buku Sejarah Islam oleh Mahayudin Hj. Yahaya disebut masa kecil Salahuddin Al-Ayyubi dihabiskan untuk belajar di Damaskus. Selain belajar agama Islam, Salahuddin Al-Ayyubi juga mendapat pelajaran militer dari pamannya, Asaddin Syirkuh, yang merupakan seorang panglima perang Turki Saljuk. #Awal Mula Kepemimpinan Salahuddin Al-Ayyubi# Bersama dengan pamannya, Salahudin berhasil menguasai Mesir dan mendeposisikan sultan terakhir dari kekhalifahan Fatimiyah di Mesir. Berkat keberhasilannya, Salahuddin diangkat menjadi panglima perang pada 1169 M. Salahuddin dikenal karena kecerdasan dalam menyusun strategi, baik dalam peperangan maupun dalam pemerintahan. Tak membutuhkan waktu lama, Salahuddin mampu memimpin Mesir dengan baik. Salahuddin juga mendirikan dua sekolah besar yang mengajarkan tentang Islam yang benar. Tujuannya adalah untuk menghapus ajaran Syi'ah yang menyebar di Mesir kala itu. Salahuddin kemudian bertarung dalam perang salib. Dikutip dari buku 55 Tokoh Dunia yang Terkenal dan Paling Berpengaruh Sepanjang Waktu oleh Wulan Mulya Pratiwi, et.al, butuh waktu yang panjang bagi Salahuddin mempersiapkan perang salib. Selain persiapan fisik dan strategi jitu, ia juga melakukan persiapan secara rohani. Adapun persiapan lainnya adalah membangun benteng-benteng pertahanan yang kuat, perbatasan-perbatasan yang jelas, membangun markas-markas perang dan menyiapkan kapal-kapal perang terbaik. Persiapan juga dilakukan dengan mendirikan rumah sakit dan menyuplai obat-obatan. Meskipun Salahuddin sakit keras, hal itu tidak menyurutkan niatnya untuk memperjuangkan tanah Nabi, Jerusalem. Justru semakin kuat tekad Salahuddin untuk membebaskan Jerusalem dari kekuasaan kristen. Perjuangan pertama disebut dengan perang Hathin, atau perang pembuka di mana pasukan Salahuddin pada saat itu berjumlah 63.000 prajurit. Pada perang Hathin, pasukan Salahuddin membunuh 30.000 pasukan salib dan menahan 30.000 pasukan salib. Selanjutnya, perjuangan berlanjut ke Al-Quds dan Jerusalem. Di sana, banyak pasukan Salahuddin yang gugur. Namun dengan semangat tinggi, pasukannya akhirnya memenangkan perang salib kedua. #Kebijaksanaan Salahuddin Al-Ayyubi# Kesuksesan Salahuddin dalam perang dan kepemimpinan tidak lepas dari kebijaksanaannya. Tiga hal penting yang mencerminkan kebijaksanaannya adalah: 1. Pemberian Cuti kepada Tentara. Salahuddin memberi waktu istirahat kepada tentaranya untuk memulihkan semangat dan memperkuat motivasi. Ia juga menggunakan kesempatan ini untuk mendekatkan diri dan menyampaikan dakwah. 2. Pemberian Grasi kepada Musuh. Ketika menaklukkan Jerusalem, Salahuddin menunjukkan kemurahan hati dengan memberikan grasi kepada musuh yang tidak melakukan kekejaman terhadap umat Islam, berbeda dari tindakan pasukan Salib saat merebut kota itu sebelumnya. 3. Perjanjian Damai dengan Musuh. Berbeda dengan pendahulunya yang lebih sering menggunakan kekerasan, Salahuddin memilih perjanjian damai bersyarat untuk menghindari korban jiwa yang lebih banyak. Itulah tadi kisah perjuangan Salahuddin Al-Ayyubi. Ia dianggap sebagai teladan kebijaksanaan, keberanian, dan ketinggian moral. Keberhasilannya dalam membela Islam dan membangun peradaban menjadi inspirasi sepanjang masa. (sumber: https://www.detik.com/hikmah/khazanah/d-7715195/sosok-salahuddin-al-ayyubi-sang-pejuang-islam-penakluk-perang). Blog ini dibuat dengan tujuan untuk menambah ilmu si Pembaca, tidak ada keuntungan Ekonomi sedikitpun yang diperoleh dari Pembuat. Tulisan diatas merupakan gabungan beberapa artikel dan ditulis juga sumbernya.

Comments

Popular posts from this blog

Ling Tien Kung dan Syari'at Islam (Oleh H. Yudhi)

Kedamaian di Perumahan Cibubur City (Oleh H. Yudhi)

Abu Bakar Siddiq RA (H. Yudhi)